“Tidak, hanya ada kau dan Akhzam!” Ucapan Ikhwan, sang kakek, terus bergema di kepala Naufal. Kata-kata itu menusuk seperti duri, sebuah misteri yang membayangi setiap langkahnya. Ia mengusap wajahnya, lelah. Ponselnya bergetar, menampilkan nama “Chintya”. Nafas Naufal tersengal. Sudah beberapa kali wanita itu menelepon, setiap deringnya seperti tamparan yang mengingatkannya pada pengkhianatan yang telah dilakukan Chintya terhadap ibunya. Ia enggan mengangkatnya, tapi akhirnya, dengan berat hati, ia menjawab panggilan itu.
“Ya, Tante,” jawab Naufal, suaranya dingin. Ia sengaja menggunakan panggilan formal, menjaga jarak.
“Apakah kamu sibuk?” Suara Chintya terdengar lembut, namun di telinga Naufal, itu terdengar palsu, manipulatif.
“Tidak. Sedang jam istirahat siang. Kenapa?”
“Bisakah kamu membantu menjemput Raisya? Gurunya menelpon, katanya Raisya sakit. Aku tidak bisa keluar. Sedang ada acara di hotel ini.”
Naufal terdiam sejenak. Permintaan Chintya terasa seperti beban yang dipaksakan. Ia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan wanita itu, wanita yang telah menghancurkan ibunya.
“Maaf, aku tidak bisa. Minta saja gurunya untuk menemani sampai tante bisa menjemputnya,” jawab Naufal, suaranya tegas, mencoba menahan amarah yang mulai membuncah.
“Dia rewel,” rengek Chintya. “Dia tidak mau ditinggal sendirian.”
“Aku juga belum tentu bisa menghentikan rewelnya. Sudah ya?” Naufal menutup telepon dengan kasar. Ia melempar ponselnya ke atas meja, suara benturan itu terasa seperti pelepasan amarah yang terpendam.
Tok… tok… tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
“Masuk,” ucapnya, suaranya masih terdengar berat.
Pintu terbuka, memperlihatkan Aretha, melangkah masuk dengan wajah ceria yang kontras dengan suasana hati Naufal.
“Bang,” sapa Aretha.
“Ya.”
“Abang mau makan apa? Wisnu mau beli makan siang.”
“Kalian saja. Aku mau keluar.” Naufal menjawab singkat, tanpa menatap Aretha.
“Oh… Abang mau ke mana?” Aretha bertanya dengan sedikit kekhawatiran.
“Pulang,” jawab Naufal sambil mengambil kunci mobil dari laci mejanya. Ia merasa perlu menjauh, mencari sedikit ketenangan dari tekanan yang terus menerus ia rasakan.
Ia meraih kunci mobil, kemudian menoleh pada Aretha.
“Aku pergi ya?”
“Ya, hati-hati, Bang.” Aretha menjawab dengan lembut.
Naufal bergegas keluar ruangan. Baru beberapa langkah, ia mendapat pesan singkat dari Chintya.
"Naufal. Raisya benar-benar sakit, Aku mohon, tolong dijemput. Dia menangis terus."
Sejenak Naufal terdiam, merasa terbebani. Ia tidak ingin terlibat dengan drama Chintya, tapi ia juga tidak tega membiarkan Raisya sendirian di sekolah dalam kondisi sakit. Ia menghela nafas panjang. Ia memutuskan untuk menjemput Raisya, meskipun ia tahu ini akan merepotkan.
Ia berjalan menuju parkiran, masuk ke mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan cepat.
Sesampainya di sekolah, Naufal langsung menuju ruang guru. Bu Anita, seorang wanita paruh baya dengan wajah ramah, sudah menunggu di depan ruang kelas. Raisya terlihat lemas, terbaring di tempat tidur kecil yang disediakan di ruang kelas.
“Selamat siang, Pak Naufal,” sapa Bu Anita.
“Siang, Bu,” jawab Naufal. “Bagaimana keadaan Raisya?”
“Demamnya cukup tinggi, Pak,” jawab Bu Anita. “Saya sudah memberikan obat penurun panas, tapi dia masih rewel dan terus menangis.”
Naufal menghampiri Raisya, melihat kondisi Raisya yang pucat dan lemas. Ia merasa iba. Meskipun ia tidak menyukai Chintya, ia tidak tega melihat Raisya menderita.
“Saya akan membawa Raisya ke klinik terdekat, Bu,” kata Naufal.
“Baiklah, Pak,” jawab Bu Anita. “Semoga lekas sembuh.”
Naufal menggendong Raisya dengan hati-hati, membawanya ke mobil. Perjalanan menuju klinik terasa berat.
Dokter bernama Clara Maharani itu memandang Naufal usai memeriksa Raisya. Wajahnya cantik dengan jilbab yang menutupi rambutnya.
"Maaf dengan bapak siapa?"
"Naufal."
"Untuk saat ini, Raisya aman."
"Dia punya riwayat Leukimia," ucap Naufal sambil memandang Raisya yang sudah berhenti menangis.
Raisya mengulurkan tangannya pada Naufal yang langsung menggendongnya. Clara tersenyum melihat Raisya yang langsung memeluk Naufal.
"Anak bapak mirip sekali dengan bapak," ucap Clara hati-hati, sedikit ragu menyebutkan Raisya sebagai anak Naufal yang ia rasa seusianya.
"Bukan Anak saya," jawab Naufal.
"Oya? mirip sekali dengan bapak."
Naufal hanya tersenyum. Tak ingin membahas siapa sebenarnya Raisya untuknya.
"Lanjutkan pengobatannya di rumah sakit yang biasa menangani Raisya."
"Siap."
"Bapak kerja dimana?" tanya Clara.
"Polresta, unit satuan Narkoba," jawab Naufal.
"Oh.." Ia melirik pin reskrim yang tersemat di kemeja Naufal.
Pekerjaan impian yang diinginkan Clara saat lulus SMA tapi tak mendapat izin dari ayahnya.
Clara mengelus kepala Raisya.
"Dia cantik."
"Ok, terima kasih Dokter," ucap Naufal.
"Saya siapkan obatnya. Bapak tunggu di depan."
"Baik," Naufal berjalan keluar ruangan.
Clara tersenyum, ada ketertarikan di dalam hatinya melihat wajah tampan Naufal.
"Dok," panggil perawat yang berdiri di belakangnya.
Diana, perawat senior yang berusia 43 tahun.
"Sudah hilang dia dok, dari pandangan," canda Diana.
Clara tersipu malu.
"Namanya Ipda Naufal Hasbi," ucap Diana.
"Kok kakak tahu?"
"Dulu pernah menangkap pengedar narkoba di sebelah rumahku. Masih muda. Dan sepertinya belum menikah."
"Kakak tahu dari mana?"
"lihat saja, tidak ada cincin melingkar di jari manisnya," Diana tertawa. "Mau aku cari tahu infonya, Dok? kebetulan tetanggaku ada yang bekerja di polresta."
"Ah, kakak ini," Clara tersipu malu.
Setelah menyiapkan obat, Clara memanggil Naufal kembali ke ruangan. Ia menyerahkan resep dan menjelaskan secara detail tentang pengobatan Raisya, termasuk dosis obat dan jadwal pemberiannya. Ia juga memberikan beberapa saran tambahan untuk menjaga kesehatan Raisya, seperti menjaga pola makan dan istirahat yang cukup.
"Pak Naufal," Clara memulai pembicaraan, "Saya sarankan untuk selalu memantau kondisi Raisya. Jika ada perubahan yang signifikan, segera hubungi saya atau bawa Raisya ke rumah sakit."
"Baik, Dokter," jawab Naufal, matanya masih tertuju pada Raisya yang tertidur pulas di gendongannya. "Nanti saya sampaikan pada Mamanya."
"Oh, Mama Raisya masih ada?"
"Sedang ada pekerjaan. Ok, Terimakasih dokter."
"Semoga Raisya cepat pulih ya?" Clara tersenyum sebelum Naufal keluar dari ruangan.
Setelah Naufal dan Raisya pergi, Diana kembali menghampiri Clara. "Gimana Dok? Ada yang menarik?" Diana bertanya dengan nada bercanda, namun matanya berbinar-binar penuh arti.
Clara tersipu malu. "Kakak ini… Aku harus fokus pada pasienku."
"Buruan Dok. Nati keburu diambil orag.Gatrng begitu, pasti banyak yang suka. Sudah Perwira pula."
"Kakak," Ckara tersipu malu.
"Iya iya, aku cuma bercanda," jawab Diana sambil tertawa. "Tapi serius, aku bisa bantu cari tahu informasinya. Tetanggaku, Pak Andri, kan kerja di bagian personalia Polresta. Mudah kok dapat datanya."
Clara kembali tersipu malu. "Ah, Kak Diana… Aku harus fokus bekerja." Namun, di dalam hatinya, ia tak bisa sepenuhnya menolak tawaran Diana. Ia penasaran dengan Naufal, dengan kehidupan pria tampan yang telah berhasil mencuri perhatiannya itu.