Perjamuan Darah Leluhur

Penulis djoedo
11 February 2026

Dunia Nyata: Pelataran Pohon Beringin

Hujan bukan lagi air. Hujan adalah jarum-jarum es yang menghunjam bumi, miring, deras, menusuk kulit hingga tulang.

Di tengah kubangan lumpur setinggi mata kaki, Andi berdiri. Sendirian.

Napas memburu. Uap putih mengepul dari mulut tiap kali ia menghembuskan udara. Belati berkarat di tangan kanannya tak lagi berwarna besi. Merah pekat. Amis.

Lima sosok berdiri membentuk setengah lingkaran di hadapannya. Warga desa. Tetangga yang dulu menyapanya ramah saat beli rokok di warung. Kini, mata mereka putih sepenuhnya. Kosong. Mulut menganga, meneteskan liur bercampur air hujan.

"Minggir," geram Andi. Suaranya parau, tenggelam oleh dentum guntur.

Hening. Pagar tidak bicara.

Pak Tejo-penjual bakso di ujung jalan-menerjang. Gerakannya kaku namun cepat, persis wayang kulit yang digerakkan dalang gila. Tangan kanannya mengayunkan cangkul berkarat.

Andi membuang badan ke kiri. Besi cangkul menghantam lumpur, muncratkan tanah basah ke wajah.

Tanpa pikir panjang, Andi menusuk. Belati amblas ke bahu Pak Tejo.

JLEBBB...

Tak ada teriakan. Pak Tejo bahkan tak berkedip. Sosok itu justru menoleh, menatap Andi dengan leher terpuntir tak wajar, lalu bibirnya menyunggingkan senyum miring. Tangan kirinya mencengkeram leher Andi.

Kuat. Seperti cengkeraman tang besi.

"Gusti..." batin Andi. Napas tercekat.

Ia menendang lutut Pak Tejo. Terdengar bunyi krak-tulang patah-namun orang tua itu tak jatuh. Mereka tak merasakan sakit. Di bawah kendali Sumirah, tubuh-tubuh ini hanyalah pupuk berjalan.

Di belakang barisan pagar, Nenek Sumirah berdiri dekat pasak tempat Maya terikat. Wajah rentanya diterangi kilat. Ia tak melihat perkelahian. Matanya terpejam, mulut komat-kamit merapal kidung rendah yang menyatu dengan desau angin.

Tangan keriput Sumirah memegang bokor kuningan. Asap kemenyan mengepul, melawan deras hujan, meliuk-liuk masuk ke hidung Maya yang terkulai lemas.

"JANGAN SENTUH DIA!!!" Andi berteriak.

Ia memutar belati di luka bahu Pak Tejo, menariknya paksa. Cairan merah menyembur. Andi mendorong tubuh kaku itu ke arah penyerang lain, lantas berlari menerjang lumpur menuju Sumirah.

Tiga langkah. Sesuatu menghantam punggungnya.

BUKK!

Kayu balok.

Dunia berputar. Andi tersungkur. Wajah mencium tanah anyir. Rasa asin cairan merah memenuhi mulut.

Belum sempat bangkit, sebuah kaki menginjak kepala. Menekan pipinya ke dalam lumpur.

"Anjing hutan," suara Sumirah terdengar. Dekat. Dingin. "Sudah dibilang, Le. Kau cuma tamu. Tamu harus tahu diri."

Andi meronta. Mencoba mengangkat tubuh, namun injakan itu makin kuat. Dua warga lain memegangi tangan dan kakinya. Mereka menahan tubuhnya ke tanah.

Dari sudut mata yang tertutup lumpur, Andi melihat Maya.

Tubuh gadis itu mengejang hebat. Punggung melengkung ke atas, seolah ada tangan gaib menarik tulang belakangnya. Mulut Maya terbuka lebar. Jeritan tanpa suara.


Dunia Belakang: Lorong Akar

Maya mengayunkan tulang di tangannya. Melompat. Menghunjamkan senjata itu tepat ke tengah Jantung Eyang Sukma.

JLEB!

Ujung tulang menembus selaput hitam.

Maya tersenyum getir. Kemenangan.

Namun senyum itu lenyap dalam hitungan detik.

Tak ada ledakan. Tak ada cairan tumpah.

Selaput jantung itu justru... meleleh.

Lubang yang ia buat tak membesar, melainkan menyempit, mencengkeram tulang di genggaman Maya. Bukan hanya tulang. Selaput hitam itu merambat naik cepat, laksana lumpur hidup, melilit pergelangan tangan.

Maya tersentak. Mencoba menarik tangan.

Terkunci.

"Apa..."

DUNG-DUNG!

Detak jantung itu berubah cepat. Agresif.

Minyak hitam dari dalam jantung merembes keluar melalui pori-pori selaput, menjalar ke lengan Maya. Panas luar biasa. Serasa dicelup aspal mendidih.

"LEPAS!" Maya berteriak panik. Ia memukul permukaan jantung dengan tangan kiri.

Kesalahan fatal.

Tangan kirinya ikut tertangkap. Selaput itu menyedot seketika.

Kini, kedua tangan tertanam di dalam Jantung Eyang Sukma.

Tubuh Maya tersentak ke depan, ditarik gaya gravitasi mustahil. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari permukaan transparan berminyak itu.

Dari dalam cairan hitam, ribuan janin cahaya berhenti berenang. Mereka menoleh. Ribuan wajah kecil dengan ekspresi sedih, marah, dan lapar.

Mereka mendekat. Menempelkan wajah-wajah cahaya ke selaput, tepat di depan wajah Maya.

"Selamat datang..." bisik ribuan suara itu serentak di dalam kepala.

Cairan hitam terus merambat naik. Ke bahu. Ke leher.

Maya mencoba berteriak, tapi suara tercekat. Ia merasakan sesuatu masuk ke dalam aliran darah astralnya. Sesuatu yang asing. Memori purba.

BUMMM!!!

Ia melihat hutan ini ratusan tahun lalu. Ia melihat darah pertama tumpah. Ia melihat nenek moyangnya-Sumirah muda-menandatangani perjanjian dengan sosok bayangan di bawah pohon ini.

"Bukan..." Maya menggeleng lemah. Air mata menetes, langsung menguap jadi asap saat menyentuh kulit jantung.

Sebuah suara berat, purba, berwibawa menggema. Bukan lewat telinga, tapi langsung menggetarkan otak.

"Wadah..."

Suara Eyang Sukma.

"Kau pikir datang untuk membunuhku? Tidak, Nduk... Kau datang untuk memberiku makan. Kau lapar akan kebenaran, dan akulah kebenaran itu."

Kaki Maya terangkat dari lantai. Tubuh melayang, tersedot perlahan ke dalam jantung.

Ia tak sedang menghancurkan jantung ini. Ia sedang dicerna.

Cairan hitam mencapai dagu. Menutup mulut. Rasa aspal dan besi karat memenuhi lidah.

Maya menatap nanar ke depan. Di dalam sana, di antara ribuan cahaya, ia melihat satu pendar berbeda. Siluet wanita dewasa.

Ibu.

Roh Ratna ada di sana. Terperangkap di pusat jantung. Wajahnya sedih, tangan terulur mencoba meraih Maya dari balik kaca, namun terhalang arus minyak hitam.

Mata Maya membelalak.

Jadi selama ini... Ibu tak pernah lari. Ibu tak pernah berhasil menipu. Ibu sudah di sini selama 25 tahun. Menjadi bahan bakar utama.

Dan sekarang, bahan bakar itu habis. Perlu diganti.

Cairan hitam menutup hidung. Lalu mata.

Gelap.

Hanya ada suara detak jantung. Dan sekarang, detak itu seirama dengan detak jantungnya sendiri.

DUNG... DUNG...


Dunia Nyata: Di Bawah Cengkeraman

"AAAAAAAAAAKKKH!"

Andi meraung saat melihat tubuh Maya melenting kaku di tiang pasak.

Dari mata, hidung, dan telinga gadis itu, keluar cairan hitam pekat. Cairan itu tak menetes ke bawah, melainkan menguap ke atas, membentuk asap yang menyatu dengan akar gantung beringin.

"Sudah masuk," gumam Sumirah. Senyum tipis terukir di bibir keriput. "Penyatuan dimulai."

"LEPASKAN DIA, NENEK SIHIR!" teriak Andi.

Sisa tenaga terakhir dikumpulkan. Adrenalin membanjiri, mengalahkan nyeri di punggung dan kepala.

Hentakan liar. Andi menggigit betis orang yang menginjak kepalanya.

"ARGH!" Warga itu menjerit, refleks menarik kaki.

Kesempatan.

Andi berguling. Menyapukan kaki, menjegal dua orang yang memegangi. Mereka jatuh terjerembab di lumpur licin.

Andi bangkit. Terhuyung. Pandangan kabur, satu mata bengkak menutup.

Ia melihat Sumirah mengangkat bokor kuningan tinggi-tinggi, hendak menyiramkan sisa bara kemenyan ke wajah Maya.

"TIDAK!"

Andi tak punya senjata. Belati hilang di lumpur.

Ia berlari menabrakkan tubuhnya sendiri. Menjadikan diri peluru daging.

BRAKK!

Tubuh Andi menghantam tubuh ringkih Sumirah.

Wanita tua itu terpental. Bokor kuningan terlempar, menumpahkan bara api ke jubah batiknya sendiri.

"Kurang ajar!" pekik Sumirah. Suara melengking, mirip gagak.

Api mendesis saat bertemu kain basah, tapi bara itu tetap menyala, membakar kulit. Sumirah berguling di tanah, memadamkan api, wajah menyeringai marah.

Andi tak peduli. Ia merangkak menuju Maya.

"May... May..."

Ia menyentuh pipi Maya.

Dingin. Sedingin jasad kaku yang baru keluar dari lemari pendingin kamar jenazah.

Kulit Maya pucat pasi. Urat-urat hitam kini terlihat jelas menjalar dari leher naik ke wajah, membentuk pola akar pohon yang mengerikan.

Andi mencoba melepas ikatan tali ijuk di tangan Maya. Jari gemetar hebat, licin oleh darah dan lumpur. Tali itu simpul mati. Keras bak kawat.

"Bangun, May! Demi Tuhan, bangun!"

Andi mengguncang bahu Maya.

Kedua kelopak mata Maya terbuka.

Andi tercekat. Jantung serasa berhenti.

Itu bukan mata Maya.

Bola mata itu hitam total. Tak ada putih. Tak ada iris. Hanya kegelapan pekat berputar seperti pusaran air.

Saat bibir itu terbuka, suara yang keluar bukanlah suara Maya. Itu suara ganda. Suara Maya yang bergaung, ditumpuk suara berat ribuan orang lain.

"Andi..." ucap sosok itu. Nada datar. Tanpa emosi. "Sakit... Enak..."

"May?" Andi mundur selangkah. Bulu kuduk meremang.

Tangan Maya yang terikat bergerak.

KREK.

Suara serat tali putus.

Dengan kekuatan mustahil, Maya memutus ikatan tali ijuk setebal jempol hanya dengan merenggangkan pergelangan tangan.

Ia jatuh berlutut di lumpur. Tapi tak ambruk. Ia bertumpu pada empat kaki, seperti binatang. Kepala menunduk, rambut panjang menutupi wajah.

Hujan makin deras. Guntur meledak tepat di atas pohon beringin.

Warga desa yang tadi menyerang kini berhenti. Mundur perlahan. Ketakutan. Bahkan pagar tak berotak pun tahu kapan harus takut.

Sumirah bangkit, baju hangus sebagian. Ia menatap Maya dengan mata berbinar gila.

"Sempurna..." bisik Sumirah. Merentangkan tangan. "Sugeng rawuh, Eyang... Wadah sudah siap."

Maya-atau makhluk yang kini memakai tubuh Maya-mengangkat kepala perlahan.

Menatap Andi.

Andi merasakan darahnya dingin. Tatapan itu... mengenalinya, tapi tak sebagai teman. Tatapan itu melihat Andi seperti manusia melihat semut. Kecil. Tak berarti.

"Lari, Andi," suara Maya terdengar tipis, terjepit di antara suara gemuruh gaib yang keluar dari tenggorokan. Sisa kesadaran Maya yang terakhir.

"LARI!!!"

Teriakan itu meledak. Gelombang angin melempar Andi ke belakang hingga punggung menabrak batang beringin.

Dari punggung Maya, bayangan hitam merembes keluar, membentuk sayap-sayap akar yang menggeliat di udara.

Andi merosot duduk. Napas habis.

Ia gagal.

Maya sudah tak ada.

Yang ada di depan kini hanyalah Ratu dari Desa Kalimati yang baru.

Dan dia lapar...