Drama

Sebuah Dilema

Penulis sanzfy
12 February 2026

“Terima kasih, Naufal. Sudah mengantar Raisya,” ucap Chintya, suaranya terdengar manis, namun di telinga Naufal, suara itu terasa seperti racun. Ia hanya diam, matanya terpaku pada Raisya yang berdiri di samping Chintya. Naufal memandang Raisya, kemudian menatap Chintya, wanita yang telah menghancurkan keluarganya.

Chintya mengulurkan tangan, menyentuh lengan Naufal. “Hatimu baik, Nak,” katanya, suaranya sedikit bergetar, namun getaran itu tak mampu menyentuh hati Naufal. “Kamu mewarisi sifat ibumu.”

“Lain kali jangan menelponku lagi, Tante,” potong Naufal, suaranya datar, tanpa emosi. “Aku seperti mengkhianati Mama.”

Chintya menarik tangannya. Ia terdiam sesaat, memandang Naufal dengan tatapan yang sulit diartikan. Penyesalan? Atau hanya kepura-puraan? Naufal tak peduli. Ia hanya tahu bahwa wanita ini telah menghancurkan hidupnya dan keluarganya.

Setelah beberapa saat hening, Chintya akhirnya berkata, suaranya terdengar sedikit getir, “Lalu akan kemana Raisya minta tolong jika bukan pada kamu yang adalah kakak kandungnya sementara ayahnya.” Kalimat terakhirnya terucap lirih, menunjukkan sedikit penyesalan, namun itu tak cukup untuk meredakan amarah Naufal.

Pertanyaan itu seperti tamparan keras bagi Naufal. Ia tahu, Chintya benar. Bagaimanapun Raisya adalah adiknya, dan ia bertanggung jawab atas kesejahteraan adiknya itu. Namun, rasa bersalah dan sakit hati karena perbuatan Chintya masih menghantui hatinya. Ia merasa terjebak di antara kewajibannya sebagai kakak dan luka batin yang tak kunjung sembuh. Ia merasa dirinya terpecah menjadi dua: sebagian membenci Chintya, sebagian lagi merasa bertanggung jawab pada Raisya.

“Aku pulang,” jawab Naufal singkat. Ia menyalakan mesin mobilnya, meninggalkan Chintya dan Raisya di depan rumah kontrakan yang sederhana itu. Mobilnya melaju cepat, meninggalkan rumah itu di belakangnya, meninggalkan bayangan masa lalu yang kelam.

Perjalanan menuju rumah ibunya, Adelia, terasa sangat panjang. Sepanjang perjalanan, Naufal hanya mendengarkan musik dari MP3 playernya, mencoba untuk mengusir pikiran-pikiran yang mengganggu. Namun, bayangan wajah Chintya dan Raisya, serta wajah ibunya terus menghantuinya.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nomor Razak terpampang di layar.

“Ya…” sahut Naufal, suaranya terdengar lelah.

“Pak, Pak Dimas kan ulang tahun, Pak. Kita mau merayakan di cafe Daun,” ucap Razak dari seberang sana, suaranya terdengar riang. "Tadi mau membicarakan ini, tapi bapak kata Aretha sedang ada urusan diluar."

Naufal terdiam sejenak. Ia ragu untuk pergi. Ia merasa tak bersemangat untuk ikut merayakan ulang tahun Aipda. Dimas. Namun, ia juga tak ingin mengecewakan lelaki yang banyak memberinya nasehat ketika ada masalah baik masalah kantor ataupun pribadi.

“Ok, saya kesana,” jawab Naufal akhirnya. Ia memutuskan untuk pergi, untuk sejenak melupakan masalahnya, untuk sejenak menghibur diri di tengah hiruk pikuk kehidupan malam.

“Siap, Pak,” balas Razak.

Naufal meletakkan ponselnya. Ia menghela napas panjang. Ia tahu, ia tak bisa terus-menerus lari dari masalahnya. Ia harus mencari solusi, ia harus menemukan cara untuk mengatasi beban tanggung jawabnya terhadap Raisya tanpa harus mengorbankan perasaannya sendiri dan tanpa mengkhianati kenangan akan ibunya.


Setibanya di Cafe Daun, suasana ramai menyambut Naufal. Lampu-lampu remang, musik yang mengalun lembut, dan aroma makanan yang menggugah selera memenuhi ruangan. Cafe Daun bukanlah tempat mewah, tetapi tempat yang nyaman dan familiar bagi tim Naufal. Tempat ini menjadi tempat berkumpul rutin mereka, suasana yang akrab dan penuh canda tawa sudah menjadi ciri khas pertemuan mereka di sini. Anggota tim sudah berkumpul di dua meja panjang yang disatukan, menunggu kedatangan atasan mereka.

Naufal mendekati Dimas. Ia menyalami lelaki itu dan menepuk pundaknya singkat.

“Selamat ulang tahun, Aipda Dimas. Sehat selalu,” ucap Naufal. Nada suaranya menunjukkan rasa hormat yang tulus kepada Dimas, meskipun ia adalah atasannya.

“Terima kasih, Pak Naufal,” jawab Dimas, senyum ramah terkembang di wajahnya. Ia terlihat bahagia dikelilingi teman-teman dan rekan kerjanya.

Naufal melirik sekeliling, mencari tempat duduk. Matanya tertuju pada sebuah kursi kosong di samping Aretha. Ia memutuskan untuk duduk di sana.

“Pak Naufal sudah datang. Ayo, kita makan,” ucap Dimas, suaranya lantang, menarik perhatian semua orang. Para anggota tim langsung mengambil makanan yang telah disiapkan di atas meja. Suasana makan malam terasa hangat dan penuh keakraban. Canda dan tawa memenuhi ruangan, namun di balik itu semua, Naufal masih merasa terbebani oleh masalahnya. Bayangan wajah ibunya, Adelia, yang selalu terlihat sedih, dan wajah Raisya yang polos, terus menghantuinya. Beban tanggung jawab sebagai seorang pemimpin dan kakak masih membebani pikirannya.

Naufal bangkit dari kursinya. Ia ingat tadi menyempatkan diri membelikan kado untuk Dimas.

"Aku ke parkiran dulu mengambil kado untuk Aipda Dimas, tertinggal di mobil," bisiknya pada Aretha.

"Siap, Bang."

Naufal segera meninggalkan meja itu.

"Kemana dia?" tanya Dimas.

"Mengambil kado untuk bapak di mobil."

"Wah, sempat sempatnya dia," Dimas merasa kagum.

Di parkiran, Naufal baru saja selesai mengambil bungkusan untuk Dimas ketika seseoramg memanggil namanya.

Naufal menoleh. Clara, dokter cantik yang tadi siang ia temui saat mengantar Raisya berobat berjalan menghampirinya.

"Dokter Clara?"

"Iya, kebetulan sekali kita bertemu disini, Pak Naufal sendirian?"

"Jangan panggil bapak," Naufal tertawa.

"Kenapa? Terkesan tua?" Ejek Clara sambil tertawa.

"Sepertinya kita seumuran. Apa tidak sebaiknya panggil nama saja kalau bertemu di luar?"

"Tapi kamu juga harus memanggilku Clara. Ah iya. Kita belum berkenalan. Aku Clara Maharani."

Clara mengulurkan tangannya.

"Naufal Hasbi," Naufal menyambut jabat tangan Clara.

Kulit Clara terasa sangat halus.

"Sendirian?" tanya Clara.

"Tidak, dengan tim. Merayakan ulang tahun salah satu anggota kami," Naufal menjelaskan. "Kamu?"

"Sendirian. Aku baru berada di kota ini. Baru 2 minggu. Kadang sepulang praktek kucoba berjalan sendiri, mencari tempat kuliner yang mungkin cocok dengan lidahku," Clara berjalan beriringan masuk bersama Naufal.

"Ayo, ikut saja dengan kami."

"Mana mungkin. Aku ini kan bukan tim kalian."

"Tidak apa-apa. Biar kamu punya banyak tempat untuk bertanya seputar kota ini."

Clara tersenyum di antara debar jantungnya yang tiba tiba berdetak kencang saat jalan bersama Naufal.

Mereka tiba di meja tim Naufal yang sedang menikmati hidangan.

"Buat abang," Naufal menyerahkan bungkusan.

"Wah, repot-repot Dan. Terimakasih."

"Sama-sama."

Dimas memandang Clara.

"Ini?"

"Perkenalkan, ini dokter Clara . Dia baru 2 minggu disini. Tidak apa ya jika aku ajak Clara makan bersama kita? Biar Aretha juga ada teman bicara."

"Tidak apa-apa, Pak," Razak yang menjawab.

"Duduk."

Clara memandang tim Naufal sebelum duduk.

"Salam kenal semuanya," ucap Clara.

Ia duduk di samping Aretha sementara Naufal pindah ke samping Wisnu.

Clara tersenyum tipis.Tak ingin ada yang menyadari kalau hatinya sedang berbunga-bunga.

"Apakah pertemuan tak terduga ini pertanda Jodoh? Ah, mikir apa sih aku ini," batin Clara.