Cinta Di Langit Senja

Penulis tjen_wati
12 February 2026

Bab 6

  • Dendam Yang Tak Pernah Padam

Di dalamnya, tergeletak sebuah carik kain merah marun, potongan dari gaun yang ia kenakan malam itu.Sari melangkah lebih dalam, mengikuti cahaya remang-remang yang membimbingnya ke sebuah ruang kerja di bagian belakang rumah.

Di sana, ia menemukan dinding yang dipenuhi dengan potongan koran dan foto-foto lama.Matanya membelalak. Itu bukan tentang bisnis Bagas.

Itu adalah arsip kecelakaan beruntun lima tahun lalu, kecelakaan yang diklaim telah merenggut nyawa kakak laki-laki Sari, Harto.

."Dia tidak pernah mati, kan?"Suara itu bukan berasal dari pikirannya.Sari berbalik dan menemukan Adrian berdiri di ambang pintu. Namun, asisten yang biasanya rapi itu kini tampak kacau. Kemejanya bercak darah, dan napasnya tersengal

."Adrian! Apa yang terjadi? Mana Bagas?" teriak Sari histeris.

Adrian menunjuk ke arah ruang bawah tanah. "Bagas sedang berusaha menghentikannya, Sari. Pengirim gaun itu... dia ingin membalas dendam atas apa yang terjadi di Ubud. Dia pikir Bagas yang menyebabkan kecelakaan itu sengaja dilakukan untuk menyingkirkannya."

"Siapa, Adrian? Siapa?!"

"Harto" bisik Adrian. "Kakakmu masih hidup. Tapi dia bukan pria yang kau kenal dulu. Dia adalah orang yang mengirimkan gaun itu untuk menandaimu sebagai umpan agar Bagas datang ke sini."

Tanpa pikir panjang, Sari berlari menuju tangga bawah tanah yang gelap. Di ujung tangga, sebuah ruangan luas yang diterangi puluhan lilin terbentang. Di sana, ia melihat pemandangan yang membuat dunianya runtuh.Bagas terduduk di sebuah kursi, tangannya terikat, kepalanya tertunduk dengan luka di pelipis.

Di hadapannya, berdiri sesosok pria dengan separuh wajah yang hancur akibat luka bakar permanen, memegang sebuah pemantik api perak yang sangat dikenali Sari.

Pria itu menoleh. Senyumnya miring dan mengerikan. "Kau datang tepat waktu untuk tarian terakhir, Adikku sayang."

"Harto..." suara Sari tercekat.

Harto tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menyiramkan bensin ke sekeliling kursi Bagas. "Lima tahun Bagas mencuri hidupku, mencuri cintamu, dan membiarkan dunia menganggapku abu. Sekarang, aku akan mengambil semuanya kembali."

"Harto, hentikan! Bagas tidak bersalah!" Sari mencoba mendekat, namun Harto menodongkan pistol ke arah Bagas.

"Satu langkah lagi, dan aku akan memastikan dia mati sebelum api ini menyentuhnya," ancam Harto.

Tiba-tiba, Bagas mengangkat kepalanya. Matanya yang tajam menatap Sari, bukan dengan ketakutan, melainkan dengan sebuah pesan tersirat.

Ia melirik ke arah saku celananya, tempat kartu akses yang dicuri Sari kemarin seharusnya berada,kartu yang ternyata bukan sekadar akses pintu, melainkan pemicu sistem keamanan darurat rumah ini. Sari meraba saku jaketnya. Kartu itu ada di sana.

Namun, ia harus memilih, mengaktifkan sistem yang mungkin akan meledakkan ruangan ini untuk melumpuhkan Harto, atau membiarkan kakaknya membakar pria yang paling ia cintai.

Saat jemari Harto mulai menekan pemantik api, sebuah suara ledakan keras terdengar dari lantai atas. Pintu ruang bawah tanah didobrak paksa dari luar.Bukan polisi. Bukan pula Reza atau Erik.

Sari terpaku melihat siapa yang muncul di balik kepulan asap.Asap putih mengepul dari pintu yang hancur, dan di antara bayang-bayang itu, melangkah keluar sesosok wanita dengan keanggunan yang dingin.

Dia mengenakan trench coat hitam panjang, rambutnya yang memutih di bagian pelipis tersisir rapi.Siska. Ibu tiri Bagas, wanita yang selama ini dikenal Sari sebagai sosok pendiam yang menghabiskan waktunya di kursi roda di paviliun belakang rumah keluarga Bagas.

Namun sekarang, ia berdiri tegak dengan pistol berperedam di tangannya ."Cukup, Harto," suara Siska datar, namun mematikan.

Harto tertawa parau, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan amplas. "Ibu ratu akhirnya turun tangan? Apakah kau datang untuk menyelamatkan anak emasmu, atau untuk membungkamku lagi?"

Sari membeku di tempatnya. Matanya beralih dari Harto yang penuh luka bakar ke arah Siska, lalu ke Bagas yang masih terikat.

"Sari, jangan dengarkan mereka," bisik Bagas parau, suaranya sarat dengan kepedihan yang mendalam. "Aktifkan sistemnya sekarang. Selamatkan dirimu!"

"Jangan berani-berani, Sari!" bentak Harto. Ia menoleh ke arah adiknya dengan mata yang berkaca-kaca oleh amarah dan pengkhianatan."Kau tahu kenapa Bagas membiarkanku 'mati' dalam kecelakaan itu? Bukan karena dia membenciku. Tapi karena dia mencintaimu! Dia bekerja sama dengan wanita itu untuk melenyapkanku agar dia bisa memilikimu sendirian!"

Dunia Sari seolah berputar. Ia menatap Bagas, mencari bantahan di mata pria itu. Namun, Bagas justru memalingkan wajah "Aku melakukannya untuk melindungimu, Sari," suara Bagas melemah, nyaris menyerupai rintihan. "Harto bukan kakak seperti yang kau kira. Dia terlibat dalam penggelapan dana yang akan menghancurkan hidupmu juga. Aku hanya ingin kau bersih dari semua itu."

"Dengan cara membunuhnya?!" teriak Sari, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. "Cinta macam apa yang dibangun di atas tumpukan mayat dan kebohongan, Bagas?"

Siska melangkah maju, moncong pistolnya kini mengarah tepat ke dahi Harto. "Harto adalah variabel yang seharusnya sudah musnah. Bagas, kau terlalu lembek karena membiarkannya hidup di bayang-bayang selama lima tahun ini. Sekarang, biarkan Ibu yang menyelesaikannya.""

TIDAK!" Sari berteriak, jemarinya mencengkeram kartu akses di sakunya.

Dalam sepersekian detik, Harto menyalakan pemantik apinya. Cairan bensin di lantai mulai menjilat kaki kursi Bagas. Pada saat yang sama, Siska menarik pelatuknya.

Pft!

Suara tembakan teredam itu menggema. Namun, bukan Harto yang tumbang. Bagas, dengan kekuatan yang tersisa, menyentakkan kursinya hingga terguling, membuat peluru itu menyerempet bahunya dan menghantam tabung gas di sudut ruangan

."SARI, SEKARANG!" raung Bagas.

Sari tidak punya waktu lagi untuk berpikir. Di depannya adalah Harto, kakaknya yang telah berubah menjadi monster akibat dendam, dan Bagas, pria yang sangat ia cintai namun ternyata menyimpan rahasia yang mengerikan tentang masa lalu yang tidak di pahami nya.

Sari menempelkan kartu akses itu ke sensor di dinding dekat tangga.

BIP.

Suara sirene memekakakan telinga. Pintu-pintu baja otomatis mulai turun dari langit-langit, mengunci ruang bawah tanah itu. Namun, bersamaan dengan itu, sistem pemadam api otomatis justru tidak mengeluarkan air.

Lampu merah berkedip-kedip, dan sebuah suara mekanis terdengar: "Prosedur Penghancuran Mandiri Diaktifkan. T-Minus 60 Detik."

Bagas membelalak. Ia menatap Siska yang tersenyum tipis. Ternyata, Siska telah menyabotase sistem itu. Ia berniat melenyapkan semua orang di ruangan itu, termasuk anak tirinya sendiri untuk memastikan rahasia keluarga mereka terkubur selamanya.

Api mulai merambat naik ke kemeja Bagas. Harto berdiri di tengah kobaran, tertawa gila seolah api itu adalah rumahnya.

Sari berlari menerjang api, mencoba menggapai tali yang mengikat Bagas. "Pergi, Sari! Ruangan ini akan meledak!" Bagas berteriak, berusaha mendorong Sari menjauh dengan kakinya.

Sari tetap bertahan, jemarinya perih terkena panas, mencoba meraih ikatan tali Bagas. Di depannya, Harto berdiri diam di tengah api, tertawa tanpa suara saat kulitnya mulai melepuh lagi. Dia tidak berniat keluar. Dia hanya ingin semuanya berakhir di sini.

"Aku tidak akan kehilanganmu lagi!" tangis Sari, jemarinya mulai terbakar saat ia mencoba menarik simpul tali Bagas yang panas dengan seluruh sisa tenaganya, sementara langit-langit mulai runtuh satu demi satu.