Cinta Di Langit Senja

Penulis tjen_wati
12 February 2026

Bab 7

  • Rahasia Lereng Semeru

Suara denting pisau Harto di lantai beton terdengar lebih nyaring daripada ledakan yang baru saja mengguncang plafon. Sari tidak sempat berpikir. Ia menarik lengan Bagas, menyeret pria itu menjauh dari reruntuhan yang mulai menghujani mereka seperti kerikil panas.

"Harto, jangan!" teriak Sari.

Suaranya pecah, tenggelam oleh deru api.Di seberang sana, Siska masih menjerit di balik jeruji yang macet. Wajahnya yang biasa angkuh kini hancur oleh kepanikan.

"Dia mau membunuhmu, Harto! Bagas itu parasit!" teriak Siska.

Sari meremas kertas lecek di sakunya. Ia tidak membacakannya seperti naskah drama. Ia hanya melempar pandangan penuh luka pada kakaknya. "Adrian menemukan manifesnya, Mas," bisik Sari, namun cukup tajam untuk menembus kebisingan.

"Rem itu... Mas sendiri yang merusaknya lima tahun lalu, kan? Mas mau Bagas mati, tapi Mas malah ikut terjebak di dalam mobil itu."

Harto mematung. Kobaran api terpantul di matanya yang mulai basah. Keheningan singkat di antara mereka jauh lebih menyakitkan daripada hawa panas yang membakar kulit. "Bagas tahu semuanya," lanjut Sari, suaranya gemetar.

"Dia menyembunyikanmu selama lima tahun bukan untuk menyiksamu. Dia cuma tidak mau aku melihat kakakku sendiri masuk penjara sebagai pembunuh." Akhirnya rahasia Ubud terkuak.

Bagas terbatuk hebat, cairan kental kemerahan keluar dari sudut bibirnya. Ia hanya menggeleng pelan, seolah meminta Sari berhenti bicara. Tidak ada kata-kata puitis. Hanya tatapan mata yang lelah, seolah berkata, 'sudahlah, yang penting kau selamat'.

T-Minus 20 Detik.

Suara mesin itu terdengar seperti lonceng kematian. Siska mencoba memanjat, namun sebuah balok kayu yang terbakar jatuh tepat menghantam kakinya. Suara tulang patah terdengar mengerikan.

Harto menatap Sari untuk terakhir kalinya. Bukan senyum pahlawan, melainkan tatapan permintaan maaf yang tak sempat terucap. Tanpa aba-aba, ia berlari menerjang api. Bukan ke arah pintu keluar, tapi ke arah Siska.

"Mas Harto!" Harto tidak menoleh. Ia mengangkat balok panas itu dengan tangan telanjang demi wanita yang telah menghancurkan hidupnya.

Ia menunjuk ke arah lubang pembuangan di bawah lantai kayu, satu-satunya jalan yang belum tertutup ai. "Lari, Sari! Bawa dia pergi!" raung Harto.

Itu adalah kalimat terakhir yang Sari dengar sebelum Bagas mendekapnya, menariknya jatuh ke dalam saluran air yang dingin dan berbau lumut.

Sedetik kemudian, dunia di atas mereka seolah tumpah. Ledakan itu memekakkan telinga, mengubah rumah kolonial itu menjadi kuburan api dalam sekejap.Sari tersedak air sungai. Paru-parunya terasa terbakar saat ia merangkak ke tepian yang penuh kerikil tajam.

Di sampingnya, Bagas terbaring diam. Napasnya pendek-pendek, tersengal di antara sisa asap yang masih melekat di pakaian mereka.Rumah itu sudah rata. Hanya ada bara dan asap yang terbang ke langit malam Malang.

"Harto..." bisik Sari. Ia tahu kakaknya tidak akan pernah keluar. Harto memilih untuk terbakar bersama rahasia dan dosanya.

Namun, rasa aman itu hanya bertahan sekejap. Saat Sari mencoba mengusap wajahnya yang kotor, ia merasakan sesuatu yang salah. Hutan pinus di depan mereka tidak sunyi.Ada beberapa pasang lampu senter yang bergerak tak beraturan, membelah kabut.

Di tengah jalan setapak, berdiri seorang wanita dengan gaun merah marun yang berkibar pelan ditiup angin gunung. Di sampingnya, Adrian berlutut dengan tangan terikat, kepalanya tertunduk lesu.

Bagas berusaha duduk, meski bahunya bersimbah darah. Wajahnya mendadak pucat pasi saat melihat orang-orang di sekitar wanita itu, pria-pria tegap dengan seragam hitam tanpa lencana.

"Itu bukan polisi, Sari," bisik Bagas, suaranya parau dan penuh ketakutan yang belum pernah Sari dengar sebelumnya.

"The Gentry. Mereka sudah di sini."

"Siapa?""Orang-orang yang menginginkan akses perusahaan ayah mu. Harto dan Siska cuma gangguan kecil bagi mereka." Bagas mencengkeram tangan Sari, kukunya memutih.

"Maya... sekretaris ayahmu. Dia dalangnya. Ini bukan akhir, Sari. Mereka cuma menunggu kita keluar dari lubang itu untuk memulai fase yang sebenarnya."

Sari menoleh ke arah wanita bergaun merah itu. Wanita itu tidak bergerak, hanya menatap mereka dari kejauhan seperti burung nazar yang menunggu bangkai.

Malam di lereng Semeru belum berakhir. Dan kali ini, tidak ada lagi dinding rumah tua yang bisa melindungi mereka.Sari tidak lagi merasakan dinginnya air sungai. Adrenalin telah membakar habis rasa takutnya, menyisakan kemarahan yang dingin.

Ia berdiri, mengabaikan perih di lututnya, dan menatap Maya, wanita yang selama ini ia anggap sebagai bayangan setia ayahnya.Maya melangkah maju. Suara sepatunya di atas tanah hutan yang lembap terdengar seperti ketukan palu hakim.

"Sari, sayang," suara Maya lembut, namun tidak mencapai matanya yang sedingin es."Kau selalu punya bakat untuk bertahan hidup di tempat yang salah. Ayah mu juga begitu. Sayangnya, dia tidak tahu kapan harus melepaskan kuncinya."

"Kunci apa, Maya?" Sari meludah ke samping, darah bercampur lumpur.

"Semua sudah terbakar di sana. Harto, Siska... semuanya."

Maya tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar asing di tengah sunyinya lereng Semeru. Ia memberi isyarat pada salah satu pria berseragam hitam. Pria itu menarik rambut Adrian, memaksa pemuda itu mendongak.

"Manifes itu bukan soal rem mobil, Sari," bisik Bagas di belakangnya, suaranya semakin melemah. "Itu koordinat. Ladang gas... atau sesuatu yang jauh lebih besar di bawah tanah warisan keluargamu. Harto merusak rem itu karena dia pikir dia bisa menghentikan ayah mu menjualnya pada orang-orang ini."

Maya berhenti tepat tiga langkah di depan Sari. Ia mengeluarkan sebuah pemantik emas, memainkannya hingga apinya menari-nari.

"Bagas benar," ujar Maya. "Tapi ada satu hal yang dia salah sangka. Kuncinya bukan ada di kertas itu. Kuncinya ada di memorimu, Sari. Prosedur enkripsi suara yang ayahmu tanamkan lewat lagu pengantar tidur yang selalu dia nyanyikan padamu."

Dunia Sari terasa berputar. Kenangan tentang ayahnya yang duduk di tepi tempat tidur, menyanyikan baris-baris nada yang tidak masuk akal, tiba-tiba menghantamnya

."Satu kata saja, Sari," Maya menodongkan moncong pistol ke arah kepala Adrian. "Atau asisten mu, Bagas. Akan menyusul Harto dalam hitungan tiga."

Sari melirik Bagas yang sudah tak berdaya, lalu ke arah Adrian yang gemetar. Ia menyadari satu hal. Rumah tua itu mungkin sudah hancur, tapi penjara yang sebenarnya baru saja dimulai.

"Aku lupa," ucap Sari datar. Suaranya serak, nyaris hilang. "Lagi pula, Ayah menyanyi dengan suara sumbang. Nada-nada itu sudah hilang bersamaan dengan bertambahnya usia ku."

Wajah Maya mengeras. Kedutan kecil di sudut matanya menunjukkan bahwa kesabarannya sudah habis. "Bawa mereka, jaga jangan dampai mereka lolos. Tahan sampai mereka mengakuinya."

Mereka dibawa kesebuah bangunan ditengah hutan, yang ternyata adalah sebuah gudang. Mereka disekap disana.Ketika malam tiba, saat Bagas dan Sari hampir saja tertidur. Sebuah suara mengagetkan mereka, berasal dari depan pintu gudang.

"Cepat keluar, lari!" Suaranya memerintah.

Bagas dan Sari terdiam sesaat, takut ini hanya sebuah jebakan untuk mereka. Johan, pria yang tadi berdiri kaku di belakang Maya, membuka lebar pintu gudang dan menyuruh mereka pergi.

Ia datang bukan untuk menembak Sari atau Bagas, tapi datang untuk membebaskan mereka. Baru saja ia meminta mereka pergi. Seorang penjaga menghampirinya. Johan menghantamkan popor senjatanya ke tengkuk rekan di sebelahnya. Suara tulang beradu dengan logam terdengar tumpul dan mengerikan di kesunyian hutan itu.

"Lari! Ke timur!" teriak Johan. Suaranya pecah oleh urgensi.Tak lama kemudian, Johan mengarahkan pistolnya.

Pfft

Dua rekannya yang berjaga tergeletak tak bernyawa, ia menyeretnya memasuki gudang dan menguncinya kembali dari luar.Sari tidak lagi bertanya kenapa. Ia menyambar lengan Bagas yang sudah lunglai dan memaksa kakinya yang gemetar untuk menembus lebatnya semak berduri.

Di belakang mereka, umpatan Maya pecah, disusul suara gesekan sepatu bot di atas tanah basah. Pelarian mereka telah diketahui. Mereka berlari tanpa arah yang jelas.

Ranting-ranting pohon pinus menyabet wajah Sari, meninggalkan luka perih yang terasa panas. Napas Bagas terdengar pendek-pendek, tersedak, dan penuh penderitaan.

Adrian di sisi lain berusaha tetap tegak meski wajahnya seputih kertas.Hingga akhirnya, tanah di bawah kaki mereka habis.Sari nyaris terjungkal ke depan jika Bagas tidak menarik bajunya.

Di depan mereka adalah jurang. Sebuah lembah curam yang dasarnya tidak terlihat, hanya terdengar suara gemuruh air yang menghantam batu di bawah sana. Suaranya begitu keras hingga getarannya terasa di telapak kaki.

"Sari, berhenti!" teriak Maya dari kejauhan. Lampu-lampu senter mereka mulai mengepung, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di antara batang pohon.

"Kau tidak punya tempat untuk lari lagi!"

Sari menoleh ke arah Bagas. Pria itu tidak mengatakan apa-apa, tapi genggaman tangannya yang berlumuran darah mengerat di jemari Sari. Ada semacam pengertian tanpa kata di antara mereka.

Kematian di bawah sana mungkin dingin, tapi setidaknya itu milik mereka sendiri, bukan milik Maya.Sari memejamkan mata sejenak. Potongan melodi dari masa kecilnya tiba-tiba muncul, bukan sebagai kode, tapi sebagai bisikan selamat tinggal.

"Kita tidak akan memberikan apa pun pada mereka," bisik Sari pada Bagas dan Adrian.

Tanpa menunggu aba-aba kedua, Sari mengambil satu langkah mundur menuju kehampaan. Rasanya seperti gravitasi mendadak hilang.

Detik pertama adalah keheningan yang memekakkan telinga saat tubuh mereka terjatuh, sebelum akhirnya angin dingin lereng Semeru menelan jeritan mereka bulat-bulat.