"Kapan kita nikah?" Pertanyaan itu, sederhana namun menggetarkan, menghantam Naufal yang sedang bergelut dengan tumpukan berkas di meja kerjanya. Ia mengusap wajahnya, lelah.
Naufal kembali menatap tumpukan berkas di atas meja—laporan penangkapan, data tersangka, analisa kasus narkoba yang sedang ia tangani. Semuanya seakan menjadi penghalang antara dirinya dan Sinta, antara impiannya untuk membina rumah tangga dan tanggung jawabnya di Satuan Narkoba. Bahaya mengintai di setiap sudut pekerjaannya, ancaman dari jaringan pengedar yang licik dan berbahaya. Ia seringkali pulang larut malam, badan lelah, pikiran penat, dan hanya ditemani secangkir kopi pahit. Ia merindukan Sinta, namun kesibukannya selalu menjadi penghalang. Ia merasa terjebak di antara dua dunia yang berbeda: dunia tugas dan tanggung jawabnya, dan dunia cinta dan kerinduannya.
“Kuliahmu kan belum selesai, sayang… Perjanjiannya kan kamu mau selesaikan kuliahmu lebih dulu,” ucap Naufal, suaranya terdengar berat. Ia mencoba menjelaskan, mencari alasan yang logis untuk menunda pembicaraan serius tentang pernikahan. Ia ingin Sinta memiliki bekal pendidikan yang cukup sebelum mereka melangkah ke jenjang yang lebih serius. Namun, kali ini, alasan itu terasa kurang memadai. Bahaya pekerjaannya juga menjadi pertimbangan besar. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? Bagaimana jika Sinta harus menghadapi semua itu sendirian? Pikiran itu membuatnya semakin gelisah.
“Kuliah kan bisa diselesaikan setelah menikah. Kamu datang dulu ketemu papa,” rengek Sinta, suaranya terdengar manja namun tegas. Naufal membayangkan ekspresi wajah Sinta, mata yang berbinar-binar, bibir yang sedikit manyun. Rayuan maut Sinta, yang biasanya ampuh, kali ini terasa kurang efektif. Jarak dan bahaya pekerjaannya menjadi penghalang. Ia merasa tak mampu memberikan kepastian yang Sinta harapkan.
“Tanggung loh sayang… Bisa yuk, 1 semester lagi. Aku janji akan lebih sering menghubungimu. Main-mainnya dikurangi. Jangan kebanyakan libur,” nasehat Naufal. Ia mencoba mencari jalan tengah, kompromi yang bisa diterima oleh keduanya. Satu semester lagi, itu waktu yang cukup singkat, namun cukup untuk membuat Sinta fokus menyelesaikan kuliahnya. Ia harus meyakinkan Sinta bahwa ia serius.
“Ayolah, sayang… Pekerjaanmu memang berbahaya. Aku takut… Aku ingin selalu ada di dekatmu, menjagamu,” kata Sinta, suaranya terdengar sedikit sendu, dibumbui kekhawatiran yang tulus. “Aku ingin menjadi sandaranmu, tempatmu berteduh setelah berjuang melawan bahaya. Pulang kantor, aku ingin ada yang menyiapkan makan malam hangat untukmu, menunggu ceritamu, menenangkan lelahmu.”
Kalimat Sinta itu menusuk hati Naufal. Ia terdiam. Ia menyadari, kesibukannya sebagai penyidik telah membuatnya mengabaikan Sinta. Ia terlalu fokus pada pekerjaannya, hingga melupakan kebutuhan Sinta akan kehadirannya, akan kasih sayang dan perhatiannya. Ia lelah, ya, tapi Sinta juga lelah menunggunya, khawatir akan keselamatannya. Ia merasa bersalah.
“Iya… Tapi menikah itu untuk seumur hidup, sayang. Bukan satu atau dua minggu. Yakin sudah siap ikut aku pindah ke sini? Beberapa hari kamu kemarin berada di sini tidak sama dengan bertahun-tahun kamu akan mengikutiku? Hidup di sini berbeda. Ada risiko yang harus kita hadapi bersama. Aku tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari.” Naufal mencoba menjelaskan, suaranya terdengar berat. Ia bukannya tidak ingin menikah dengan Sinta, tapi ia ingin mereka berdua siap menghadapi segala konsekuensi. Ia ingin pernikahan mereka dibangun di atas fondasi yang kuat, bukan hanya didorong oleh rasa rindu sesaat.
“Terus buat apa kita pacaran kalau endingnya tidak untuk menikah??” Nada suara Sinta terdengar emosi, terluka. Kerinduan dan kekhawatirannya telah mencapai puncaknya. Kata-kata itu menusuk Naufal. Ia menyadari, ia telah gagal berkomunikasi dengan baik.
“Yang bilang endingnya tidak menikah siapa? Aku hanya bilang, menikah itu juga butuh proses… Yang? Sayang…” Naufal menghela napas. Ia mencoba menenangkan Sinta, tapi sudah terlambat. Sinta sudah memutuskan panggilan video.
Naufal terdiam, menatap layar ponselnya yang kini gelap. Ia merasa gagal. Ia gagal menjelaskan perasaannya, gagal meyakinkan Sinta, dan gagal menjadi kekasih yang baik. Ia menyadari, kesibukannya telah membuatnya mengabaikan Sinta, mengorbankan hubungan mereka demi pekerjaannya. Ia merasa bersalah, khawatir, dan kehilangan. Ia menyesal karena terkesan tidak menghargai perasaan Sinta.
Ia menyesap kopi dinginnya, rasa pahitnya seakan mencerminkan perasaannya saat ini. Ia harus melakukan sesuatu. Ia harus menghubungi Sinta, bukan hanya untuk meminta maaf, tapi untuk menjelaskan semuanya dengan lebih detail dan empati. Ia harus menunjukkan keseriusannya, meyakinkan Sinta bahwa ia akan selalu ada untuknya, bahwa ia menghargai perasaannya, dan bahwa ia akan selalu mengutamakan keselamatan dan kebahagiaannya.
Pintu ruangan itu diketuk. "Masuk," ucap Naufal. Pintu dibuka. Aipda Dimas melangkah masuk. "Nanti gelar perkara selesai makan siang ya, Pak?" tanya Dimas. "Oh, Iya.. Ok."
Dimas memandang Naufal. "Yang kemarin itu siapa, Pak? Tim sedikit kepo." "Yang kemarin mana?" "Dokter cantik yang katanya baru 2 minggu disini." "Oh, Clara?" "Pacar bapak? Itu yang hari itu bikin bapak galau setelah ditelpon?" "Bukan. Yang menelpon hari itu Sinta. Pacar saya. Di Jakarta." "Oh, saya pikir pindah ke sini." "Sinta masih kuliah."
Ponsel Naufal berdering. Sebuah panggilan masuk dari Adelia. "Ya, Ma," jawab Naufal. "Jemput adek di sekolah nanti ya? Ajak makan siang. Mama masih di acara anaknya tante Dewi." "Oh, ok." "Terimakasih ya, Nak." "Ya, Mama." Naufal menyimpan ponselnya. Melihat jam dinding. Pukul 12.10 menit. "Saya jemput Azam dulu." Ia berdiri. "Azam aman, Pak?" tanya Dimas, teringat peristiwa pengancaman terhadap Akhzam waktu itu. "Aman. Tapi saya masih belum tahu, siapa para preman yang berhadil diusir oleh orang bersenjata waktu itu." "Yang penting Azam aman, pak." "Iya. Ok, saya pergi dulu." "Siap. Hati-hati, Pak."
Beberapa saat kemudian, di sebuah restoran cepat saji. "Habiskan makannya, jangan nonton dulu.. Nanti saja di rumah kakek. Abang harus balik ke kantor." "Gak mau lagi," rengek Akhzam sambil meraih ponsel Naufal. "Buka kuncinya, Bang. Adek mau main game." "Makannya dihabiskan!" "Abang aja." "Abang suapkan," ucap Naufal sambil memberikan ponselnya pada Akhzam usai membuka kunci layar. Akhzam mengangguk sembari membuka mulutnya agar nasi dan ayam yang disuapkan Naufal masuk ke dalam mulutnya.
Ponsel Naufal bergetar. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Akhzam menyerahkan ponsel pada Naufal yang segera memgangkatnya. "Hallo.." "Hallo, Ipda Naufal Hasbi. Apa kabar? Sudah cukup lama aku beri waktu untukmu bersantai tanpa ancaman dariku ya?" "Siapa ini?" "Nanti kau akan tahu. Ternyata, kau kakak lelaki yang baik. Aku melihatmu tadi menyuapi adikmu makan. Sungguh pria muda yang hebat."
Naufal memandang sekeliling restoran itu. Seorang wanita berkaca mata hitam mengenakan masker berdiri di pintu hendak keluar. Di tangannya memegang ponsel. Ia melambaikan tangan pada Naufal. "Sampai bertemu di waktu yamg akan aku tentukan, perwira muda!" Wanita itu keluar dari restoran.