Bab 8
- Melody Yang Tersembunyi
Sari tidak ingat lagi kapan tepatnya mereka berhenti terseret arus. Yang ia tahu, dunia tiba-tiba menjadi sangat sunyi dan paru-parunya terasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum saat ia mencoba menghirup udara.
Di sampingnya, Bagas tergeletak tak bergerak wajahnya terlihat pucat, membuat ia mengira bahwa Bagas telah tiada.
"Bagas... bangun..." Sari terbatuk, memuntahkan air keruh. Ia memukul dada Bagas dengan sisa tenaga yang ada, sampai pria itu tersedak dan mulai bernapas tersengal.
Mereka selamat, tapi mereka hanya berdua. Adrian hilang. Sungai itu telah memuntahkan mereka ke sebuah lembah yang terjepit di antara dinding tebing tinggi, tempat di mana cahaya matahari pun seolah enggan singgah terlalu lama.
Tiga hari mereka telah berada di lembah itu. Sari menemukan sebuah ceruk di balik air terjun kecil yang cukup kering untuk dijadikan tempat berlindung. Ia menarik Bagas, menunjuk ke sebuah kegelapan pekat di balik tirai air.
Itu bukan gua, itu celah sempit yang tersembunyi. Di sanalah ia merawat Bagas dengan keterbatasannya.Ia berusaha mencari tanaman obat yang ia mengerti untuk menghentikan pendarahan dibahu Bagas, agar tidak merengut nyawanya.
Luka tembak di bahu Bagas sudah mengeluarkan bau yang tidak sedap, kalau tidak cepat diobati itu akan membahayakan nyawanya. Dengan tanaman obat yang didapatnya, ia dengan telaten merawat luka itu.
"Sari, berhenti," bisik Bagas pada malam ketiga. Suaranya serak, matanya yang biasa tajam kini tampak kuyu dan sayu.
"Simpan tenagamu. Kalau besok aku tidak bisa bangun... kau harus terus ke arah hilir."
"Diamlah," potong Sari.
Tangannya gemetar saat ia menempelkan lumut dan daun obat yang sudah dikunyahnya ke luka Bagas.Ia harus menahan mual melihat daging yang mulai membusuk itu.
"Kita sudah sampai sejauh ini. Mas Harto mati agar kita punya kesempatan. Jangan sia-siakan itu."
Malam itu, suhu udara di lereng Semeru seolah jatuh ke titik nadir. Angin bertiup kencang di sela-sela tebing, terdengar seperti suara tangisan manusia.
Di dalam goa yang hanya diterangi bara api kecil, Sari bisa merasakan napas Bagas yang pendek dan panas. Pria itu demam tinggi. Sari menggeser duduknya, merapatkan tubuhnya ke tubuh Bagas untuk membagi kehangatan.
Saat itulah, mata mereka bertemu. Dalam keremangan itu, tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi ketakutan akan Maya atau The Gentry. Hanya ada dua orang yang hancur, mencoba mencari alasan untuk bertahan hidup satu hari lagi.
Tangan Bagas yang panas karena demam perlahan naik, menyentuh rahang Sari. "Kau sangat mirip dengan ayahmu saat sedang marah," gumamnya dengan senyum tipis yang pedih.
"Tapi matamu... matamu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa masih punya jiwa."
Sari merasakan tenggorokannya tercekat. Rasa sakit, kehilangan, dan ketegangan selama berhari-hari meledak begitu saja. Ia tidak tahu siapa yang memulai, tapi tiba-tiba saja jarak di antara mereka hilang.
Ciuman Bagas terasa seperti campuran antara rasa putus asa dan kerinduan yang sudah lama dipendam. Awalnya lembut, seolah ia takut Sari akan pecah jika disentuh terlalu keras. Namun, saat Sari membalasnya dengan tarikan napas yang dalam, ciuman itu berubah menjadi tuntutan yang membara.
Di atas alas daun-daun kering dan sisa kain yang kotor, mereka mencari pelarian. Sari melepaskan semua beban di pundaknya, membiarkan sentuhan tangan Bagas membakar rasa dingin yang selama ini membekukannya.
Erangan kecil keluar dari bibir Sari saat ia merasakan kulit Bagas yang panas bersentuhan dengan miliknya, sebuah kontras yang menyakitkan namun sekaligus memabukkan.
Saat penyatuan itu terjadi, Sari mencengkeram bahu Bagas yang sehat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu. Desah napas mereka beradu dengan suara gemericik air di luar gua.
Di momen itu, mereka tidak sedang melarikan diri dari siapa pun. Mereka sedang merayakan keberadaan satu sama lain.Kenikmatan itu datang secara tulus, sebuah pelampiasan atas segala luka yang tak sempat mereka tangisi.
Lembah itu tidak lagi terasa seperti penjara. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak rumah tua itu meledak, Sari merasa benar-benar hidup.Tujuh hari di dalam gua telah mengubah banyak hal.
Hari-hari mereka tidak lagi membosankan, panas api gairah mereka setiap malam membawa getaran tersendiri di seluruh tubuh mereka.Suara air terjun yang tadinya terdengar seperti ancaman, kini berubah menjadi nina bobo yang akrab.
Sari terbangun dengan sisa kehangatan tubuh Bagas yang masih menempel di kulitnya. Bau tanah basah dan sisa api unggun memenuhi indranya. Ia duduk, menatap punggung Bagas yang sedang mencoba mengenakan kemeja koyaknya. Gerakan pria itu masih kaku, namun rona merah sudah kembali ke wajahnya.
Sesaat, mata mereka bertemu, ada sebuah pengertian yang tak perlu diucapkan tentang apa yang terjadi beberapa malam ini. Sebuah penyatuan yang bukan sekadar nafsu, melainkan cara mereka meyakinkan diri bahwa mereka saling membutuhkan dan masih bernapas.
"Kita tidak bisa selamanya di sini, Sari," suara Bagas berat, memecah kesunyian.Sari mengangguk.
Ia mulai bersenandung. Bukan lagu yang utuh, hanya serangkaian nada sumbang yang terasa ganjil di telinga. Ia berjalan ke mulut gua, matanya menyisir dinding tebing yang berlumut.
"Ayahku tidak pernah bisa menyanyi, Gas. Tapi dia selalu mengulang baris yang sama setiap malam sebelum aku tidur," bisik Sari. "Aku baru sadar sekarang. Itu bukan lagu. Itu adalah instruksi ritme."
Sari merasa akrab dengan situasi dinding ceruk itu, seperti pengulangan dongeng menjelang tidur, yang suka ia dengar dari ayahnya menjelang tidur.
Sari melangkah mendekati tirai air terjun. Tangannya meraba dinding batu di balik derasnya air, mencari sesuatu yang tidak rata. Di sana, tersembunyi oleh lumut tebal, ada sebuah tonjolan logam yang dingin.
"Satu ketuk panjang, dua ketuk pendek," gumam Sari.Ia menekan logam itu sesuai irama lagu ayahnya. Terdengar suara gesekan batu yang berat, diikuti oleh denting mekanis yang sudah berkarat.
Sebuah celah sempit terbuka, bukan menuju keluar, melainkan semakin dalam ke jantung tebing, Di tempat yang berbeda, kegelapan yang lain sedang mengintai. Maya berdiri di tepi helipad darurat.
Wajahnya yang pucat tampak kaku di bawah sorotan lampu sorot. Di depannya, Johan berdiri tegak, namun rahangnya mengeras.
Di antara mereka, Adrian berlutut dengan tangan terikat, napasnya terdengar parau dan tersengal."Kau pikir aku bodoh, Johan?" Maya mengitari pria itu seperti predator. "Kau menyelundupkan anak ini bukan untuk mencari bantuan, tapi untuk mencari cara agar The Gentry tidak mendapatkan akses ke ladang gas itu, kan?"
Johan tetap diam. Matanya lurus menatap ke depan, tak sedikit pun melirik ke arah Adrian yang sudah hampir pingsan."Kau tahu apa yang terjadi pada pengkhianat," lanjut Maya lembut, jarinya menyentuh pipi Johan dengan gerakan yang hampir terlihat sayang, namun mematikan.
"Bawa anak ini ke helikopter. Jika Sari dan Bagas tidak muncul dalam dua belas jam, jatuhkan dia di titik terdalam sungai. Kita lihat apakah air bisa membuat mereka bicara."Johan hanya mengangguk kecil, namun tangannya yang tersembunyi di balik punggung mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia punya satu kartu tersisa, tapi itu berarti ia harus mengorbankan nyawanya sendiri. Di dalam celah tebing, Sari dan Bagas menemukan sebuah ruangan kecil yang lembap.
Di tengahnya, terdapat sebuah meja besi berkarat dengan sebuah kotak hitam kecil di atasnya.Sari membuka kotak itu. Isinya hanya sebuah flashdisk tua dan selembar foto usang yang sudah menguning.
Di dalam foto itu, ayah Sari sedang merangkul seorang pria lain. Keduanya tampak muda dan penuh harapan."Itu... ayahku," suara Bagas tercekat. Sari membalik foto itu. Ada tulisan tangan yang mulai pudar di baliknya.
'Untuk masa depan yang tak bisa kita miliki. Kuncinya ada di bawah air, jangan pernah lihat ke atas.'Tepat saat itu, sebuah getaran hebat mengguncang gua.
Suara desingan drone terdengar dari luar, sangat dekat. Cahaya merah laser mulai menyapu dinding gua, mencari tanda-tanda kehidupan."Mereka sudah di sini,"
Bagas menarik Sari ke belakang punggungnya, pisau di tangannya berkilat tertimpa cahaya merah drone."Mas, foto ini... Ayah tidak bilang kunci ini ada di dalam kotak," Sari menatap ke arah dasar kolam air terjun yang gelap di bawah mereka melalui celah batu.
"Kuncinya adalah airnya."Suara helikopter kini meraung tepat di atas mereka, menekan udara lembah menjadi sangat berat.
Maya tidak lagi bersembunyi. Ia telah datang untuk menagih hutang masa lalu yang dibayar dengan darah.Sari menatap Bagas, lalu menatap flashdisk di tangannya.
Ia tahu, jalan keluar satu-satunya adalah terjun kembali ke dalam kegelapan yang hampir membunuh mereka seminggu yang lalu.
"Kau percaya padaku?" tanya Sari.Bagas menggenggam tangan Sari, mengunci jemari mereka dengan erat. "Sampai napas terakhir, Sari."
Di atas mereka, pintu helikopter terbuka. Maya menatap ke bawah dengan teleskop termal, senyum kemenangan mulai terkembang di bibirnya saat melihat dua titik panas di balik air terjun.