Pada sisa pelayaran di tengah samudra ini saya sempatkan membuat refleksi diri tentang apa yang telah terjadi dan apa yang harus dipersiapkan sebelum melangkah ke depan. Seperti petuah bijak yang pernah disampaikan Albert Einstein, “Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop asking.” Saya menjadi lebih punya waktu untuk akrab dengan catatan harian. Kembali saya baca ulang catatan yang telah saya buat selama pelayaran ini. Di sana tergambar jelas pahit getir kehidupan, ditingkah senyum dan tawa yang bisa jadi dipaksakan. Tapi sebagai seorang pemuda yang masih panjang menggengam dunia, saya tak sudi berlarut dalam duka nestapa. Banyak orang bijak berkata, ”the life must go on!”
Dalam catatan kehidupan itu ternyata banyak menyimpan sisi-sisi unik kemanusiaan. Saya mencoba memotretnya semampu saya. Pada satu sisi, saya mencoba menjadi pelaku yang baik, tapi pada sisi yang lain saya mencoba untuk bisa keluar dari kungkungan korban pelaku dan menjadi seorang komentator, mencoba membuat analisa kecil-kecilan tentang polah tingkah perilaku manusia yang ada di kapal pesiar ini.
Di antara penatnya kerja yang seolah tiada habisnya itu, ada satu kesempatan saya mendapat tugas untuk meramaikan acara yang berjudul Indonesian crew show. Judul yang keren, seperti layaknya acara di TV yang sekarang banyak hadir di setiap malam, dengan mengumbar hadiah lewat SMS, dan sanggup membuat jebol kantong karena terbawa nafsu mengejar undian berhadiah.
Indonesian crew show adalah salah satu episode pertunjukan yang digelar di kapal pesiar buat menghibur para tamu. Kapal pesiar memang diciptakan untuk memanjakan seluruh indera manusia dengan kesenangan dunia. Hiburan atau biasa disebut entertainment menjadi magnet yang kuat untuk mendulang pundi-pundi dolar. Ada pertunjukan lain yang juga digelar di waktu yang sama, macam cabaret, comedian, sulap, dan juga Philippino crew show. Pokoknya semua segala jenis hiburan dikeluarkan semua.
Kontingen Indonesia biasanya mengeluarkan andalan tari Kecak dari Bali, tari Saman dari Aceh, tari Kasatrian dari Jawa, pertunjukan musik Angklung dari Sunda, atau paduan suara menyanyikan lagu dolanan sampai Indonesia Raya. Jenis pertunjukan yang digelar disesuaikan dengan asal daerah dari kru Indonesia yang waktu itu sedang berada di atas kapal pesiar.
Saya ikut rombongan musik angklung bambu, khas Sunda, meskipun sejatinya saya berasal dari Jawa Tengah. Beberapa kali kami latihan yang bertempat di dinning room di luar jam kerja. Lagu andalan yang dibawakan adalah ”Es Lilin” yang legendaris itu. Kalau boleh jujur sepanjang latihan itu, saya menemukan kedamaian, tidak hanya karena suara-suara merdu yang berasal dari alunan musik bambu angklung, tapi juga suasana yang jauh dari hiruk pikuk kerja.
Kegiatan kesenian semacam ini membuat hati kita jadi lembut, tak lagi keras apalagi membatu. Kerasnya beban kerja di kapal pesiar kalau dibawa ke hati bakal bikin sesak napas. Kegiatan kesenian ini bisa disebut sebagai katarsis yang menyejukkan hati.
Ketika malam pentas Indonesian crew show benar-benar digelar, dalam suasana yang serba extravaganza itu, muncul rasa bangga dengan semangat keindonesiaan yang terlanjur mengalir di pembuluh darah. Indonesia adalah warna yang memancar melalui tembang dan tari tradisional, yang berada di tengah-tengah heterogenitas bangsa dunia. Satu persatu kami naik ke panggung.
Saya pegang alat musik angklung erat-erat, bukannya takut jatuh, tapi karena sedikit grogi plus bangga, karena sebentar lagi kami akan menjadi pusat perhatian. Di bawah sorot lampu terang benderang yang tepat meghujam seluruh tubuh, saya masih sempat melihat para penonton sudah mulai penasaran dengan alat musik yang kami bawa. Saya rasa hanya sedikit yang tahu mengenai alat musik angklung bambu itu.
Acara dibuka oleh Master of Ceremony, Kristian, yang bisa menghidupkan suasana. Satu persatu kami diperkenalkan, termasuk profesi kami. Bahwa kami para waiter masih sempat menghibur para tamu meskipun sekujur badan sudah terasa letih lesu. Namun demikian, Kristian tetap memompa semangat kami, melambungkan kebanggaan kami sebagai warga Indonesia. Inilah saatnya menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia punya sesuatu untuk dipersembahkan malam itu. Sang conductor, Jeffry Sebastian, dengan lincah menarik mulai mengangkat tongkat kecil di tangan kanan. Tangan kiri mengepal, mata terpejam. Pada ayunan ketiga, serentak kami mengayun angklung bambu, melantunkan tembang ”Es Lilin.”
Di tengah gemuruh suara angklung dan alunan lagu merdu khas Sunda itu, saya bisa merasakan getaran keindonesiaan itu. Di balik sorot lampu, saya masih sempat melihat wajah-wajah para tamu duduk terpaku, takjub pada kehebatan permainan kami malam itu. Ketika pertunjukan usai, penonton berdiri sambil bertepuk tangan. Standing ovation adalah bukti hidup yang tidak dapat dibantah bahwa pertunjukan angklung bambu memang benar-benar hebat malam itu.
Rasa letih lesu terangkat ke langit-langit, menguap bersama asap keringat yang keluar setelah bersemangat mengayun angklung bambu. Rasanya segala dendam dan resah gelisah selama kerja di kapal pesiar ikut menguap pergi. Tak lagi saya rasakan suasana kerja yang tidak seimbang, sistem gaji yang jelas mengenal diskriminasi warna kulit, tempat makan kru yang dibedakan untuk kulit berwarna dan kulit putih, termasuk jenis menu yang dihidangkan.
Kegemasan untuk segera mengejar karir juga pergi bersama gaung angklung bambu, menyelinap di balik koridor kapal, terbang keluar, atau mungkin tenggelam ke dasar samudera. Padahal sebelumnya saya masih sering memikirkan betapa banyak sumber daya dari Indonesia yang sangat mampu memegang pangkat Maitre’d Hotel hingga Hotel Manager, namun hanya segelintir yang bisa mencapainya. Itupun harus ditebus dengan sabar bertahun-tahun untuk mendapatkannya. Padahal, banyak orang kulit putih yang masih bau kencur, anak lulusan perhotelan kemarin sore, sudah diberi kesempatan menduduki jabatan tinggi. Para penonton yang melakukan standing ovation, tentu tidak pernah tahu, betapa kami yang kru Indonesia ini harus menerima nasib seperti ini. Mereka juga tidak pernah tahu, betapa kami sebenarnya sudah kehabisan waktu untuk beristirahat, namun tetap diminta untuk menghibur mereka.
Pulang dari pertunjukan ada rasa yang membuncah di dada karena bangga menjadi warga Indonesia. Uang bayaran US $ 5 untuk sekali tampil pentas malam itu saya selipkan di balik saku celana. Saya tidak begitu peduli, apakah bayaran US $ 5 itu pantas untuk sebuah pertunjukan hebat malam itu? Sebandingkah dengan waktu yang telah dikorbankan? Tepuk tangan itu seolah mengajak saya untuk berdiri dan manatap mereka dengan tegap. Meskipun di dalam hati, masih ada sebersit tanya, hanya beginikah nasib anak bangsa Indonesia di tengah percaturan dunia? Menjadi bahan hiburan dalam pentas kehidupan atau bahkan dalam pentas betulan. Jangan-jangan inikah yang sering disebut sebagai bangsa paria? Pertanyaan itu terus berputar di kepala hingga rebah di pembaringan malam itu.