Cinta Di Langit Senja

Penulis tjen_wati
12 February 2026

Bab 9

  • Nafas di Ambang Maut

Suara raungan mesin helikopter di atas lembah itu bukan lagi sekadar bising, itu bagai sebuah lonceng Kematian. Cahaya merah dari sensor termal drone Maya yang sedang dicengkeram olehnya hingga jari-jari tangannya memutih, menari-nari di dinding gua seperti mata iblis yang haus darah."

Lompat, Sari! Sekarang!" teriak Bagas.

Mereka tidak punya waktu untuk ragu. Sari mendekap flashdisk dan foto usang itu di balik pakaiannya, lalu mereka terjun.Tubuh mereka menghantam permukaan kolam di bawah air terjun dengan dentuman yang memekakkan telinga.

Air dingin langsung menyergap, mencoba membekukan paru-paru mereka seketika.Di bawah air yang keruh dan gelap, Sari teringat pesan di balik foto. 'Kuncinya ada di bawah air, jangan pernah lihat ke atas.

'Ia membuka matanya. Terasa perih. Namun, di antara pusaran air, ia melihat sesuatu yang ganjil. Di dasar kolam, ada sebuah cahaya biru redup yang berpendar dari balik celah batu purba. Itu bukan cahaya alami. Itu adalah lampu indikator dari sebuah katup baja yang tertanam di dasar sungai.

Sari menarik tangan Bagas, menunjuk ke bawah. Bagas mengangguk meski wajahnya meringis menahan sakit di bahunya yang kembali terasa sangat nyeri. Mereka berenang turun, melawan tekanan air yang ingin melemparkan mereka ke hilir.

Sementara itu, beberapa ratus kaki di atas mereka, suasana di dalam helikopter jauh lebih mencekam. Maya berdiri di pintu yang terbuka, rambutnya berkibar liar diterjang angin kencang.

Ia memegang remote kendali drone dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyeret Adrian ke tepi pintu.

"Sepuluh detik, Johan," suara Maya dingin, hampir tanpa emosi. "Katakan padaku di mana koordinat cadangan itu, atau Adrian akan tahu bagaimana rasanya terbang tanpa sayap."

Adrian, yang wajahnya sudah babak belur, menatap Johan. Tidak ada perlawanan hanya ketakutan yang membeku di matanya. Johan berdiri kaku. Di balik jasnya yang rapi, tangannya meraba sebuah pemantik gas tua di saku celananya, bukan pemantik biasa, melainkan pemicu muatan termit kecil yang ia pasang diam-diam di tangki bahan bakar cadangan helikopter sebelum mereka lepas landas.

"Maya, kau tidak akan mendapatkan apa-apa jika dia mati," suara Johan tenang, namun ada getaran di dalamnya.

"Aku sudah punya Sari dan Bagas di radar termalku." Maya tersenyum kejam.

"Dorong dia."

Saat tangan anak buah Maya mulai mendorong Adrian, Johan bergerak. Bukan untuk menyerang Maya, melainkan untuk melakukan sesuatu yang gila. Ia menerjang Adrian, memeluknya, dan dengan satu gerakan kaki yang kuat, ia menendang tangki bahan bakar cadangan di lantai helikopter hingga terlepas.

"Matilah dalam ambisimu, Maya!" teriak Johan.

Dua detik sebelum helikopter itu terguncang hebat karena ledakan kecil di bagian belakang, Johan meloncat keluar bersama Adrian ke kegelapan lembah.

Sementara di dasar kolam, Sari berhasil memasukkan jari-jarinya ke celah katup baja tersebut. Bagas membantunya memutar tuas itu dengan sisa tenaga terakhirnya.

Krrrkkkk.

Suara gesekan logam di bawah air terdengar seperti geraman raksasa. Tiba-tiba, tekanan air berubah. Sebuah lubang pembuangan besar terbuka di dasar kolam, menyedot mereka masuk ke dalam sebuah terowongan beton kedap air yang tersembunyi selama puluhan tahun.

Mereka terseret dalam kegelapan total. Oksigen di paru-paru Sari habis. Kepalanya terasa ingin pecah. Ia hanya bisa merasakan genggaman tangan Bagas yang semakin melemah.

Sesaat sebelum kesadarannya hilang, Sari merasakan tubuhnya terlempar ke sebuah ruang hampa yang kering. Ia terbatuk hebat, memuntahkan air dan menghirup udara yang berbau apek dan besi.

Suara tetesan air yang jatuh bergema dikeheningan. Membuat merinding bulu tengkuk Sari."Bagas..." bisiknya parau, ia mengguncang tubuh Bagas rasa takut menghantuinya. Ia mengamati detak jantung Bagas, masih berdetak.Tak ada jawaban. Di sampingnya, Bagas tergeletak diam.

Darah dari bahunya merembes, membasahi lantai ruang bawah tanah yang dipenuhi monitor tua dan kabel-kabel yang masih berdengung pelan.Tiba-tiba, suara ledakan hebat terdengar dari arah pintu masuk terowongan. Bukan air yang masuk, melainkan suara langkah kaki sepatu laras yang berat.

Sari mencengkeram flashdisk itu erat-erat. Ia menyadari satu hal yang mengerikan, tempat yang ia kira sebagai perlindungan ini, ternyata adalah sebuah brankas raksasa yang tidak memiliki jalan keluar lain.

Dan di layar monitor, terdapat kalimat yang membuat jantung Sari berhenti berdetak."Satu hal yang tidak pernah disadari, kunci yang kau bawa bukan untuk membuka pintu ini. Kunci itu adalah pemicu kehancuran lembah ini."

Lampu ruangan berubah menjadi merah pekat. Suara sirine mulai melolong. Sari menatap Bagas yang masih tak sadarkan diri, lalu menatap ke arah pintu baja yang mulai digedor dari luar.

Gedoran di pintu baja itu terdengar kasar, dan penuh keputusasaan. Sari merangkak mundur, menjauhi pintu, sambil menyeret tubuh Bagas yang terkulai lemas. Pikirannya kalut. Jika itu anak buah Maya, ia tamat.

Namun, sebuah teriakan parau menembus tebalnya logam."Tolong bukakan pintu, siapun yang didalam." Sari tertengun. suara itu mirip suara Johan dan Adrian.

Sekali lagi suara gedoran itu terdengar kencang. "Siapa?" Jawabnya penuh ketakutan.Ada jeda sejenak sebelum ada suara jawaban. "Johan dan Adrian, kalau ini Sari tolong bukakan pintu."

Jantung Sari melonjak. Bagaimana mungkin? Ia melihat helikopter itu meledak di angkasa. Dengan tangan gemetar, ia meraba dinding di samping monitor yang berkedip merah, mencari tuas manual.

Begitu kunci magnetik terbuka, pintu baja itu terayun berat, menampakkan Johan yang memapah Adrian. Keduanya tampak seperti mayat hidup, pakaian robek, wajah penuh luka bakar, dan basah kuyup.

"Cepat masuk!" desis Johan pada Adrian, ia membanting pintu hingga tertutup rapat saat suara helikopter lain mulai menderu di kejauhan.

Dengan langkah kaki yang gemetar, johan melangkah masuk."Kalian... bagaimana bisa?" suara Sari tercekat.

"Keberuntungan," sahut Adrian pendek, nafasnya tersengal. "Tapi kita tidak punya waktu. Sari, flashdisk itu... kau harus melihatnya sekarang."Sari menoleh ke arah meja kontrol yang masih berdengung. Kalimat peringatan tentang 'Pemicu Kehancuran' masih berkedip di layar, seolah mengejek mereka.

Dengan jemari yang dingin, ia menancapkan flashdisk usang itu ke satu-satunya port yang masih aktif.Layar monitor tua itu bergetar, lalu menampilkan deretan dokumen digital bertahun 1998.

Di sana, bukan wajah Maya atau musuh-musuh yang selama ini mereka kenal yang muncul. Muncul sebuah foto keluarga besar Sari pada sebuah pesta kebun yang megah. Di tengah foto itu, orang tua Sari tersenyum bahagia, tampak lugu dan tak menyadari apa pun.

Namun, di sudut foto, paman kandung Sari, Aris Subrata tengah bersalaman dengan seorang jenderal asing."P a m a n A ris?" bisik Sari terbata tak percaya, rasa mual mengaduk isi perutnya melihat kenyataan dihadapannya.

Terbayang kenangan ketika ia kecil, paman Aris yang sering memberinya permen dan bernyanyi untuknya. Rekaman suara mulai terputar. Suaranya jernih, dingin, dan penuh kalkulasi. Itu adalah suara Aris."Proyek Lembah ini bukan untuk konservasi. Ini adalah deposit limbah kimia ilegal berskala global. Jika pemerintah tahu, keluarga Subrata akan hancur. Kakakku, ayah Sari, terlalu jujur untuk mengetahui hal ini. Biarkan dia mengira ini adalah proyek bendungan. Jika suatu saat rahasia ini terancam, aktifkan protokol pembersihan."

Sari membeku. Pengkhianatan itu bukan datang dari luar. Keluarganya, darah dagingnya sendiri telah menjadikan lembah ini sebagai bom waktu demi kekayaan haram.

Orang tuanya hanyalah pion yang dijadikan tameng moral agar proyek ini terlihat bersih di mata publik. "Maya bukan bosnya, Sari," Johan berkata pelan, matanya menatap iba. "Maya hanyalah an jing pembersih' yang dibayar pamanmu untuk melenyapkan siapa pun yang memegang flashdisk ini. Termasuk kau."

Di layar, sebuah grafik menunjukkan bahwa katup yang dibuka Sari tadi bukan jalan keluar, melainkan mekanisme untuk mengalirkan air sungai ke dalam tangki reaktor limbah di bawah mereka.

Tekanan air akan memicu ledakan kimia yang akan menghapus seluruh bukti di lembah ini, termasuk mereka berempat. "Kita harus membatalkan protokolnya," teriak Adrian sambil memukul meja kontrol. "Sari, cari kode pembatalannya di dalam file itu!"