Cinta Di Langit Senja

Penulis tjen_wati
12 February 2026

Bab 10

  • Bau Cendana dan Mesiu

Gedoran di pintu itu bukan lagi suara peringatan. Itu adalah suara logam yang terasa dihantam secara brutal yang membuat telinga Sari berdengung hebat. Debu semen rontok dari langit-langit, mengotori luka di bahu Bagas yang masih terkapar tak berdaya.

"Sialan! Cepat, Sar! cepat!" Adrian berteriak, suaranya pecah karena panik. Ia memegangi perutnya yang rembes oleh darah segar, matanya terus melirik ke pintu yang mulai melengkung masuk.

Tangan Sari gemetar hebat. Keringat dingin membuat jarinya terpeleset berkali-kali di atas keyboard yang berkerak.

Layar monitor itu seperti mengejeknya, berkedip merah terang dengan hitungan mundur yang tak kenal ampun.10... 9... 8...

"Ayo, ayo, kumohon..." Sari terisak. Ia memindai barisan data di flashdisk itu dengan mata yang perih dan mulai kabur. Di detik-detik terakhir, ia menemukan deretan angka yang terselip di balik file foto masa kecilnya.

Sebuah tanggal.20041992 ia mengetik secepat kilat. Jarinya menekan tombol Enter seolah-olah itu adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup.

Hening...Sirine yang tadinya terdenger panjang dan menakutkan, tiba-tiba mati total. Sunyi yang datang begitu mendadak itu justru terasa mencekam, seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habis.

Di layar, teks merah itu berganti menjadi hijau pucat, PROSES DIBATALKAN.Sari ambruk di kursi. Paru-parunya terasa terbakar saat ia mencoba menghirup udara apek itu dalam-dalam.

"Kita... kita selamat," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri.Tapi tepat saat itu, ia merasakan sesuatu yang salah. Sebuah kehadiran.

Sebuah tangan mendarat di pundaknya. Tepukannya ringan, penuh kasih sayang, persis seperti cara ayahnya yang menenangkannya saat ia takut akan petir. Dan baunya... bau sabun cendana yang sangat akrab. Bau rumah. Bau masa kecil.

"Pekerjaan bagus, Sari. Paman selalu tahu kau anak yang paling cerdas di keluarga ini." Sari membeku.

Darahnya rasanya berhenti mengalir. Ia perlahan menoleh dan melihat wajah yang sering ia rindukan di setiap doa malamnya. Paman Aris.Pria itu berdiri di sana, sangat rapi dengan kemeja safarinya yang bahkan tidak kusut sedikit pun.

Kontras sekali dengan Sari yang terlihat sangat berantakandan, kotor. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah pistol kecil berlapis perak yang berkilat cantik di bawah lampu merah ruangan itu.

"Paman?" Sari tersedak oleh ludahnya sendiri. "Pintu itu... Johan dan Adrian lewat pintu itu..."

Aris terkekeh pelan. Suara tawa yang dulu terasa hangat, kini terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca yang terasa menyakitkan. "Sari sayang, tikus punya banyak lubang. Paman masuk lewat jalur lift pribadi di belakangmu saat kau sibuk bermain jadi pahlawan."

Aris membungkuk, wajahnya mendekat ke telinga Sari. Bau cendana itu sekarang bercampur dengan bau mesiu yang tajam."Terima kasih sudah membatalkan penghancuran ini," bisiknya lembut, nyaris seperti belaian.

"Lembah ini terlalu mahal untuk diledakkan. Paman hanya butuh alasan agar kau menghubungkan flashdisk itu ke server ini. Kau tahu kenapa?" Sari menggeleng, air matanya jatuh membasahi punggung tangan Aris.

"Karena di dalam sana ada perintah transfer saham otomatis. Begitu kau tekan Enter tadi, kau baru saja menyerahkan seluruh kepemilikan perusahaan ayahmu ke tangan Paman."

Sari terlonjak kaget, kengerian terpancar diraut wajahnya. Ia telah melakukan kesalahan yang tidak diketahuinya. Ia telah membuat ayahnya mengalami kebangkrutan secara finansial.

Aris berdiri tegak, wajahnya berubah dingin seolah topeng manusianya baru saja lepas. "Sekarang, kalian semua sudah tidak ada gunanya lagi."

Aris mengarahkan pistol peraknya tepat ke dahi Sari. Laras perak itu terasa dingin di dahi Sari, tapi hawa di sekelilingnya mendadak panas. Paman Aris berdiri di sana tanpa setitik pun debu di bajunya,sementara Sari kotor dan berdebu.

"Selamat tinggal, Sari sayang. Jangan benci Paman, salahkan ayahmu yang terlalu percaya pada keluarga," bisik Aris. Jarinya mulai menegang di pelatuk.

"BAJINGAN!" Bagas tidak bangkit seperti pahlawan di film. Dia merangkak, menyeret tubuhnya yang berat, lalu dengan sisa tenaga yang membuatnya muntah darah, dia menerjang kaki Aris.

Di saat yang sama, Johan yang tadinya tersembunyi di balik bayangan mesin, melompat dengan raungan kalap.

BRAKK!

Ketiganya berguling di lantai yang penuh debu semen. Pistol perak itu terlepas, berdentang di lantai besi, memicu suara gema yang menyakitkan telinga.

"Sari! Lari ke layar! Sekarang!" teriak Adrian. Dia memegangi perutnya yang rembes, wajahnya meringis menahan usus yang terasa seperti diaduk pisau.

Sari tidak berdiri. Dia merangkak. Lututnya perih menghantam baut-baut yang berserakan. Matanya terpaku pada monitor yang masih berkedip hijau pucat. Di pojok bawah, ada satu baris kode yang terus bergerak. INTERNAL GATE 04 - STANDBY.

"Adrian! Pintunya! Ada pintu lain!" jerit Sari, suaranya serak karena terlalu banyak menghirup asap. Adrian menyeret langkahnya, meninggalkan jejak darah di lantai. Dengan tangan gemetar, dia menyambar keyboard."

"ukan cuma pintu, Sar... ini jalur pembuangan gas. Kalau ini terbuka, kita punya peluang."

Di sudut ruangan, perkelahian itu terlihat brutal dan berantakan. Bagas dipukuli habis-habisan oleh Aris yang ternyata jauh lebih tangguh dari kelihatannya.

Johan mencoba mengunci leher Aris, tapi pria tua itu menyikut ulu hati Johan hingga ia membungkuk kesakitan.

"Kalian pikir bisa menang dariku di rumahku sendiri?" Aris berteriak, wajahnya merah padam, topeng sopannya sudah tanggal sepenuhnya.

KLIK-SSSHHH!

Dinding di ujung ruangan bergetar. Sebuah celah sempit terbuka, mengeluarkan hembusan angin dingin dari luar. Itulah jalan keluar.

"SARI! MASUK!" Adrian memberi isyarat cepat.

Dia menoleh ke arah Johan dan Bagas. "JOHAN! BAWA BAGAS SEKARANG ATAU KITA MATI SEMUA!"

Johan bangkit, meraih kerah baju Bagas yang setengah sadar, dan menyeretnya seperti karung beras menuju celah itu. Sari sudah berada di ambang pintu, tangannya terjulur keluar, mencoba meraih mereka.

Namun, saat Bagas hampir mencapai ambang pintu, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan kakinya.

Aris. Pria itu merayap di lantai, wajahnya penuh dendam, tidak mau membiarkan mangsanya lepas."Tidak akan ada yang keluar!" raung Aris.Adrian, yang masih bertahan di depan monitor, menatap Aris untuk terakhir kalinya.

Tidak ada rasa takut lagi di matanya, hanya kelelahan yang amat sangat. "Makan itu saham, Paman." Adrian menekan kencang tombol ENTER dengan jarinya.

Sreeet!

Adrian Langsung berlari menuju pintu itu, bergabung bersama yang lain. Tapi sebelum ia masuk, ia sempat menginjak tangan paman Aris, yang menjerit kesakitan sehingga melepaskan cengkraman tangannya pada Bagas.

Ketika sekali lagi tangannya hendak meraih kaki Bagas. Pintu baja meluncur turun secepat kilat. Aris terpaksa menarik tangannya jika tidak ingin tangannya putus tergilas baja

DUM!

Pintu tertutup rapat, mengunci Aris di dalam kegelapan bunker.Sedetik kemudian, suara ledakan kencang terdengar dari balik dinding baja. Monitor di luar menunjukkan status. CRITICAL OVERLOAD.

Tekanan udara dari ledakan di dalam ruang server menciptakan gelombang dorong yang luar biasa. Pintu di depan mereka terlempar terbuka, dan mereka berempat terdorong paksa keluar, menggelinding jatuh ke semak-semak hutan yang basah oleh embun malam.

Sari terbaring telentang, menatap langit malam yang hitam. Paru-parunya terasa meledak saat menghirup oksigen murni, bukan lagi bau cendana atau mesiu. Hanya bau tanah basah.

Dia menoleh ke samping. Adrian pingsan dengan napas pendek-pendek. Bagas dan Johan terkapar lemas. Mereka hampir kehilangan nyawa. Tapi kini detak jantung di dada Sari terasa jauh lebih berharga dari semua angka di flashdisk itu.