Bab 11
- Iblis Berbaju Safari
Sari merasa dunianya baru saja seperti dihantam palu raksasa. Suara ledakan itu bukan cuma merusak pendengaran, tapi juga mengacak-acak kesadarannya.Saat ia mencoba menarik napas, yang masuk ke paru-parunya bukan oksigen, melainkan campuran busuk antara tanah basah dan sisa belerang yang terasa mencekik tenggorokan.
Ia terbatuk, memuntahkan cairan pahit ke tanah. Pandangannya kabur, hanya ada gradasi warna hitam dan merah di bawah remang cahaya bulan.
"Gas... Bagas...." suaranya parau, pecah dan terdengar pelan.
Dengan sisa tenaga yang ada, Sari merangkak. Ia tidak peduli lagi pada lututnya yang mungkin sudah koyak terhantam batu tajam. Di depannya, Bagas tergeletak tak berdaya.
Pria yang biasanya paling banyak omong itu kini diam membeku. Bajunya sudah tidak jelas warnanya, basah oleh gumpalan merah gelap yang terus merembes.
"Gas, bangun, brengsek! Jangan mati di sini!" Sari menekan luka itu dibahunya dengan tangannya yang kotor penuh tanah.
Darah Bagas terasa hangat di jemarinya yang dingin, sebuah pengingat yang mengerikan bahwa nyawanya sedang dipertaruhkan.
Bagas membuka mata sedikit, hanya bagian putihnya yang terlihat. "Sar... p-pergi..." bisiknya nyaris tak terdengar.
"Mereka... di belakang kita..."Sari menoleh ke arah kegelapan hutan. Benar saja, berkas lampu senter mulai menari-nari di antara batang beringin raksasa. Suara sepatu lars yang menghantam ranting kering terdengar semakin dekat.
Mereka tidak sedang mencari, mereka sedang berburu.
"Sari?" Johan muncul dari balik semak dengan napas memburu. Bahu kirinya miring sebelah, lepas saat terjatuh tadi sementara ia menyeret Adrian yang masih pingsan tidak bergerak.
"Kita harus gerak, Jo. Bagas dan Adrian nggak bakal tahan lama," desis Sari sambil memaksa Bagas dan Adrian untuk duduk.
Namun, baru saja mereka akan beranjak, sebuah suara menghentikan detak jantung Sari. Suara yang tenang, dingin, dan membawa aroma sabun cendana yang kini terasa mual di perut.
"Mau ke mana, Sari sayang? Paman belum selesai dengan kalian."
Aris melangkah keluar dari bayangan pohon. Pria itu tampak seperti setan yang merangkak keluar dari neraka. Sebelah wajahnya melepuh, kulitnya mengelupas akibat hawa panas ledakan di bunker, namun ia tetap berdiri tegak.
Di tangannya, sebuah senapan laras panjang terarah tepat ke wajah Sari. "Paman... kenapa?" Sari mundur selangkah, nyaris terjungkal ke jurang di belakangnya.
"Paman sudah dapat hartanya. Semua sudah hancur! Mau apa lagi?!"
Aris tertawa, suara yang pecah dan rusak karena asap. "Harta itu cuma angka di layar, Sari. Tapi flashdisk yang melingkar di leher kamu itu... itu bukti semua dosa Paman selama dua puluh tahun. Kamu pikir Paman bakal membiarkan saksi hidup berkeliaran di hutan ini?"
Sari meraba lehernya. Liontin itu. Ia hampir lupa bahwa liontin itulah yang ia gunakan untuk menyalin data rahasia saat di ruang server tadi. Itulah kartu as-nya, satu-satunya alasan mengapa ia masih bernapas saat ini.
"Ambil saja!" teriak Sari, melepaskan kalung itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas mulut jurang. "Maju satu langkah lagi, saya lempar ini ke bawah, dan Paman akan membusuk di penjara tanpa bukti!" Aris terhenti.
Matanya yang merah karena iritasi menatap Sari dengan penuh kebencian "Jangan main-main, Sari. Kamu tidak punya nyali untuk mati."
Sari melirik ke arah Bagas dan Adrian yang semakin lemas, lalu ke Johan yang hanya bisa menatap pasrah. Dendam untuk ayahnya dan insting bertahan hidup mendadak meledak di kepalanya.
Sari tidak melempar flashdisk itu. Sebaliknya, ia menarik pistol milik Adrian yang tadi sempat ia kantongin.Tangan Sari gemetar hebat, ia tahu ia tidak akan bisa menembak Aris dengan tepat.
Maka, ia mengarahkan larasnya ke tangki bensin motor trail milik pengejar yang baru saja sampai di belakang Aris.
DUARR!
Ledakan kedua itu jauh lebih dekat dan panas. Di tengah kobaran api yang mendadak membubung, Sari berteriak sekuat tenaga."LARI KE JURANG! LOMPAT!"
Tanpa pikir panjang tentang seberapa dalam air di bawah sana, Sari menarik kerah baju Bagas dan menjatuhkan dirinya ke kegelapan, meninggalkan raungan kemarahan Aris yang tertutup suara deburan air sungai di bawah.
Air sungai itu tidak membawa mereka dengan aliran yang tenang, tapi ternyata arusnya sangat deras. Sari merasa tubuhnya seperti dilempar ke dalam mesin cuci raksasa yang penuh dengan batu kali. Setiap kali ia mencoba mendongak untuk meraup udara, gelombang keruh kembali menekan kepalanya masuk ke dalam kegelapan yang dingin.
Entah berapa lama mereka dipermainkan arus, sampai akhirnya daratan menyentuh punggungnya dengan kasar. Sari merangkak di atas pasir yang bercampur lumpur, memuntahkan air yang terasa pahit dan berbau lumut.
"Jo... Bagas..." suaranya hilang, hanya berupa bisikan parau yang kalah oleh suara gemuruh jeram di belakangnya.
Di bawah temaram sisa cahaya bulan, ia melihat Johan. Pria itu nampak menyedihkan. Bahu kirinya aneh, posisinya terlalu turun, dan ia hanya bisa menyeret Adrian yang separuh sadar dengan satu tangan.
Tapi yang paling mengerikan adalah Bagas. Orang yang dicintainya itu tergeletak diam, wajahnya sepucat kertas, dengan rembesan darah yang mulai mengencer karena air sungai namun tak kunjung berhenti dari bahunya.
"Kita nggak punya apa-apa, Sar," rintih Johan sambil mencoba mengatur napasnya yang putus-putus. Ia memegangi bahunya yang lepas, wajahnya mengkerut menahan sakit yang luar biasa.
"Kita punya ini," Sari merobek ujung kausnya yang sudah compang-camping. Ia merogoh saku jaketnya, menemukan satu set alat pancing kecil yang ia bawa sejak dari desa bawah. "
Pegang Bagas. Jangan sampai dia gerak." Sari tidak punya pilihan. Ia tidak punya bius, tidak punya alkohol. Hanya ada korek api yang pemantiknya harus ia gesek puluhan kali sampai jarinya lecet sebelum akhirnya memercikkan api kecil.
Ia membakar ujung jarum pancing yang sudah ia luruskan paksa.Saat ujung logam panas itu menyentuh kulit Bagas, sebuah lengkingan tertahan keluar dari sela gigi Bagas yang bergemeletuk.
Sari menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah untuk menahan tangis. Tangannya yang berlapis lumpur dan darah gemetar hebat saat menusukkan jarum itu menembus daging.
Satu tusukan. Dua tusukan."Maaf, Gas... maaf," bisik Sari berkali-kali. Bau daging terbakar dan amis darah yang menguap di udara dingin membuatnya ingin muntah, tapi ia terus menjahit.
Ia mengikat pembuluh darah yang pecah itu dengan senar pancing tipis, sebuah tindakan nekat yang antara akan menyelamatkan Bagas atau justru membunuhnya karena infeksi.
Lalu ia melihat Adrian yang perutnya juga terluka, mengeluarkan rembesan darah. Tapi bersyukurnya tidak harus melalui jahitan seperti Bagas.
Ia mencari tanaman obat untuk luka Adrian. Ia menemukan Lumut Sphagnum, untuk menghentikan pendarahan di perut Adrian.
Esok paginya, saat kabut mulai tersibak, mereka baru menyadari bahwa mereka tidak sedang berada di hutan yang mereka kenal.
Mereka terperangkap di dasar sebuah depresi geologi raksasa, sebuah lembah yang seolah tertelan bumi. Tebing-tebing di sekeliling mereka terlalu tegak untuk dipanjat, ditutupi oleh vegetasi yang aneh.
Pohon-pohon pakis di sana berukuran raksasa, dengan batang-batang yang melilit seperti otot manusia. Dua minggu berlalu dalam ketidakpastian. Mereka bertahan hidup dengan memakan umbi-umbian yang rasanya hambar dan air rembesan tebing.
Anehnya, luka-luka mereka membaik dengan kecepatan yang tidak wajar. Luka jahitan Bagas yang seharusnya bernanah justru mengering dengan cepat, meninggalkan bekas luka yang tampak perak di bawah kulit. Demikian juga dengan luka Adrian hanya meninggalkan bekas luka.
"Tempat ini... nggak bener," gumam Bagas suatu malam. Ini pertama kalinya ia bisa bicara lancar setelah kepalanya terhantam batu. "Aku merasa seperti ada yang terus-terusan memperhatikan kita dari balik pakis-pakis itu. Dan itu bukan orang-orangnya Aris."
Sari hanya diam, jemarinya memainkan liontin flashdisk di lehernya. Ia merasakan hal yang sama. Keheningan di lembah ini terlalu berat, seolah udara di sini mengandung beban sejarah yang sangat tua.
Malam itu, saat api unggun mereka hampir padam, sebuah getaran halus muncul dari bawah tanah. Bukan gempa, melainkan frekuensi rendah yang membuat gigi mereka ngilu.
Sari berdiri, berjalan ke arah bibir sungai yang kini tenang. Di seberang sana, di balik rimbunnya pohon purba yang menjulang, sebuah cahaya biru pucat mulai berdenyut.
Cahaya itu bukan berasal dari api, melainkan dari sebuah struktur bangunan yang puncaknya meruncing, membelah kabut malam."
"Itu apa?" Johan berdiri di sampingnya, tangan kanannya mencengkeram tombak kayu buatannya sendiri.
Bangunan itu tidak terbuat dari semen atau batu. Permukaannya tampak berkilau seperti logam cair, dan di dindingnya, terukir simbol yang membuat darah Sari membeku. Itu adalah simbol yang sama dengan yang ada di dokumen yang a dapatkan, simbol yang Aris sebut sebagai Kunci Keabadian.
Tiba-tiba, dari arah hutan di depan mereka, terdengar suara patahan ranting yang sangat besar. Sesuatu yang berat sedang melangkah menuju mereka.
Bukan langkah kaki manusia, tapi sesuatu yang lebih banyak, lebih cepat, dan terdengar seperti bunyi yang menakutkan.
"Matikan apinya," desis Sari, suaranya tercekat di tenggorokan. "Matikan sekarang!"
Tapi terlambat. Sepasang mata berwarna kuning pucat sedalam sumur tiba-tiba muncul di antara pepohonan, menatap mereka dengan kecerdasan yang sangat dingin. Sepertinya mereka baru saja berpindah dari kejaran manusia ke sesuatu yang lebih purba.