Bab 12
- Kunci Keabadian
Bau hangus dari api unggun yang baru saja diinjak padam oleh Johan masih menyisakan asap tipis yang menyesakkan. Namun, rasa sesak itu kalah oleh sensasi panas yang tiba-tiba membakar kulit leher Sari
Flashdisk itu. Logam kecil yang menggantung di lehernya mendadak berdenyut, suhunya naik drastis seolah mesin di dalamnya baru saja dipicu secara jarak jauh.
Sari meringis, mencoba melepaskan kalung itu, namun jemarinya justru gemetar melihat apa yang terjadi di depan matanya.Sepasang mata kuning itu bukan milik satu makhluk. Saat cahaya biru dari bangunan asing di seberang sungai berdenyut lebih terang, siluet-siluet lain mulai bermunculan dari balik pohon pakis raksasa.
Mereka ramping, jangkung, dengan kulit sewarna lumut yang basah, bergerak tanpa suara seolah kaki mereka tidak menyentuh tanah
"Sar... itu bukan hewan," bisik Bagas. Suaranya yang baru pulih terdengar bergetar hebat. Ia mencengkeram lengan Sari, menariknya mundur perlahan.
Bukan hanya makhluk itu yang mengerikan, tapi bagaimana mereka berhenti tepat di batas cahaya biru bangunan tersebut. Mereka tidak menyerang. Mereka justru berlutut, kepala-kepala panjang mereka tertunduk ke arah bangunan logam cair tersebut.
"Mereka nggak nunggu kita," desis Bagas, matanya liar mencari celah untuk lari."Mereka lagi menyambut sesuatu."
Tiba-tiba, rasa panas di leher Sari memuncak. Ia terpaksa menyentak flashdisk itu hingga rantainya putus. Saat benda itu jatuh ke telapak tangannya, permukaannya tidak lagi hitam, melainkan berpendar kemerahan, menampilkan sebuah garis koordinat yang terus berubah dengan cepat.
Sari teringat satu paragraf tersembunyi dalam dokumen yang sempat ia baca sekilas di ruang server. 'Data ini bukan sekadar bukti korupsi. Ini adalah sinyal. Jika kunci ini diaktifkan di titik nol, ia tidak akan memanggil polisi, ia akan membangunkan pemilik aslinya.'
"Apa... apa yang sebenarnya kita temukan?" gumam Sari dengan bibir pucat.Bangunan di seberang sana, si Kunci Keabadian mulai bergeser.
Logam cairnya mengalir, membentuk sebuah pintu gerbang yang memancarkan udara dingin yang sangat kontras dengan suhu tropis lembah itu.
Getaran frekuensi rendah yang tadi membuat gigi ngilu kini berubah menjadi suara dengung yang memekakkan telinga, mirip jutaan lebah yang mengamuk.
Lalu, dari kegelapan hutan di belakang mereka, sebuah suara manusia yang sangat mereka kenal memecah ketegangan."Bagus, Sari. Kamu sudah membukakan pintunya untuk Paman."
Sari berbalik dan membeku. Aris berdiri di sana, di atas gundukan tanah, dikelilingi oleh sisa-sisa pasukannya yang tampak babak belur. Sebelah wajahnya yang melepuh kini terbalut perban kotor, tapi matanya berkilat penuh kegilaan yang jauh lebih menakutkan daripada makhluk-makhluk bermata kuning itu.
"Kalian pikir kalian selamat karena keberuntungan?" Aris tertawa, tawa yang berakhir dengan batuk berdarah. "Paman membiarkan arus menyeret kalian. Paman membiarkan flashdisk itu memandu kalian ke sini. Karena hanya flashdisk itu yang dapat membuka pintu itu"
Aris mengarahkan senjatanya, bukan ke arah Sari, tapi ke arah bangunan biru tersebut."Sekarang, berikan flashdisk itu, atau aku biarkan anak buahku memastikan Bagas mati untuk kedua kalinya di tempat ini."
Sari menatap ke depan, pada Aris yang gila harta. Ia melirik ke samping pada makhluk-makhluk purba yang masih bersujud. Dan ia menatap ke bawah pada flashdisk di tangannya yang kini mulai mengeluarkan suara detak pelan, persis seperti bom waktu yang hitungan mundurnya baru saja menyentuh angka satu.
Tanah di bawah mereka merekah. Sesuatu yang sangat besar, sesuatu yang jauh lebih tua dari sejarah manusia, mulai merayap keluar dari pintu gerbang logam cair itu, menanggapi detak di tangan Sari.
"Paman..." suara Sari tercekat. "Paman salah. Ini bukan kunci keabadian."Sari melihat ke arah pintu gerbang yang terbuka lebar, di mana sesosok bayangan raksasa mulai menutupi cahaya biru."Ini undangan makan malam."
Udara di lembah itu mendadak menjadi sangat berat, seolah oksigen telah dihisap keluar dan digantikan oleh partikel logam yang tajam. Di telapak tangan Sari, flashdisk itu bukan lagi sekadar alat penyimpan data. Benda itu berdenyut panas, detaknya seirama dengan guncangan di bawah tanah yang semakin menjadi-jadi.
"Berikan, Sari! Sekarang!" teriak Aris. Suaranya pecah, bersaing dengan suara logam yang bergeser dari gerbang raksasa di seberang sana.
Sari menatap Aris. Pamannya itu tampak menyedihkan sekaligus mengerikan. Wajahnya yang setengah hancur berkilat karena keringat dan kerak darah. Di belakang Aris, anak buahnya memegang senapan dengan tangan gemetar, mereka mungkin tentara bayaran yang tangguh, tapi mereka tidak dilatih untuk menghadapi apa pun yang saat ini sedang merayap keluar dari pintu gerbang logam cair itu.
"Paman mau ini?" Sari mengangkat flashdisk yang berpendar merah itu tinggi-tinggi. "Paman pikir ini peta harta karun? Paman pikir ini tiket menuju kekayaan?" Sari tertawa getir.
Air matanya mengalir, tapi tatapannya tajam seperti pisau. "Ini bukan kunci menuju emas, Paman. Ini adalah suara. Dan Paman baru saja membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tidur."
Dari gerbang biru itu, sebuah lengan muncul. Panjangnya mungkin tiga meter, tanpa sendi yang jelas, tertutup sisik halus berwarna hitam yang menyerap semua cahaya di sekitarnya. Makhluk-makhluk bermata kuning yang tadi bersujud kini mulai mengeluarkan suara desisan yang panjang dan seragam, sebuah kidung penyambutan yang memilukan.
"Sari, jangan!" Bagas merintih, mencoba menggapai tangan Sari, tapi tenaganya habis.
"Sari, lari!" teriak Johan, tangannya sudah memegang lengan Adrian yang masih linglung, bersiap untuk menyeretnya pergi.
Sari mengambil napas panjang. Ia tidak menatap Aris, melainkan menatap makhluk raksasa yang kepalanya kini mulai menyembul dari balik gerbang, sebuah kepala berbentuk pipih dengan deretan sensor cahaya yang berkedip-kedip seperti bintang mati.
"Ambil ini!" teriak Sari sekuat tenaga.Ia melemparkan flashdisk tersebut, tapi bulan melemparkannya ke arah Aris, Sari justru melemparkan flashdisk itu ke arah seberang sungai, tepat ke arah kaki makhluk raksasa tersebut.
Benda kecil itu melayang di udara, membelah kabut dengan cahaya merahnya yang redup, sebelum akhirnya mendarat di atas pasir perak di depan gerbang.
"TIDAK! AMBIL BENDA ITU!" raung Aris.
Kekacauan pecah seketika. Anak-anak buah Aris yang serakah dan panik langsung menghambur ke arah sungai, mengabaikan peringatan alam di sekitar mereka. Mereka melompat ke air, berebut ingin menjadi yang pertama mendapatkan kunci yang mereka pikir akan mengubah nasib mereka.
Aris pun tak tinggal diam. Ia berlari tertatih-tatih, matanya hanya tertuju pada titik merah di atas pasir. Ia tidak melihat atau mungkin menolak melihat bagaimana makhluk raksasa itu membungkuk.
Gerakannya sangat cair, hampir elegan, saat tangan panjangnya memungut flashdisk kecil tersebut."SEKARANG! JALAN!" perintah Sari.
Sari menyambar bahu Bagas, memaksanya berdiri meski pria itu mengaduh kesakitan. Johan sudah lebih dulu bergerak, memanggul Adrian seperti karung beras. Mereka tidak lari kembali ke arah hutan tempat Aris datang, melainkan memutar, memanjat dinding tebing yang licin di belakang mereka, sebuah celah sempit yang tertutup oleh tirai pakis raksasa yang menjuntai.
Saat Sari menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, ia melihat pemandangan yang akan menghantuinya selamanya.Aris dan anak buahnya sudah sampai di tepi pasir. Di sana, mereka membeku.
Makhluk raksasa itu berdiri tegak, memegang flashdisk milik Sari di antara ujung jari-jarinya yang tajam. Dari celah di kepala makhluk itu, keluar suara yang bukan suara manusia, melainkan frekuensi yang menghancurkan gendang telinga.
Makhluk-makhluk bermata kuning yang tadi bersujud mendadak bangkit. Mereka tidak lagi tenang. Dengan kecepatan yang mustahil diikuti mata, mereka menerjang ke arah pasukan Aris.
Suara tembakan senapan mesin menyalak, namun pelurunya seolah hanya memantul di kulit makhluk-makhluk itu.Jeritan Aris adalah suara terakhir yang Sari dengar sebelum ia masuk lebih dalam ke celah tebing.