Cinta Di Langit Senja

Penulis tjen_wati
12 February 2026

Bab 13

  • Lembah Tersembunyi

Mereka merangkak melalui lorong sempit yang dipenuhi lumut bercahaya selama berjam-jam. Bagas sudah hampir kehilangan kesadaran berkali-kali, sementara napas Johan terdengar pendek-pendek.

Namun, saat mereka keluar dari ujung celah tersebut, langkah mereka terhenti.Di depan mereka terbentang sebuah lembah rahasia. Berbeda dengan lembah purba di luar yang terasa mengancam, tempat ini tenang secara magis.

Langit di atasnya tidak hitam, melainkan berwarna ungu gelap dengan jutaan bintang yang tampak sangat dekat. Udara di sini tidak berbau belerang atau darah, namun baunya seperti tanah setelah hujan dan bunga yang belum pernah ada dalam buku botani mana pun

"Aris... dia nggak akan bisa ke sini," bisik Adrian, suaranya gemetar saat kakinya menyentuh rumput yang lembut seperti beludru.

Sari jatuh terduduk. Ia melihat ke arah tangannya yang masih ternoda darah Bagas dan lumpur sungai. Di kejauhan, di balik dinding batu raksasa yang baru saja mereka lewati, suara ledakan dan jeritan masih terdengar samar, namun kian menjauh.

"Kita belum selesai," gumam Sari, matanya berkaca-kaca menatap teman-temannya yang mulai terlelap karena kelelahan.

"Sesuatu yang lebih buruk dari Aris sedang menuju ke sini."

Dan di tengah kesunyian lembah baru itu, sebuah suara bisikan lembut muncul dari balik pepohonan di depan mereka.

"Sari... kau membawa mereka ke rumah yang salah."Sari ingin muntah. Bau di lembah ini benar-benar memuakkan, terlalu wangi, terlalu manis, persis seperti aroma bunga kamboja di pemakaman yang baru saja diguyur hujan.

Di depannya, wanita itu berdiri kaku. Elora. Kulitnya pucat pasi, hampir transparan, sampai-sampai urat-urat di lehernya terlihat menonjol seperti akar pohon yang dipaksa menjalar di bawah kulit manusia.

"Rumah yang salah," ulang wanita itu. Suaranya kering dan pecah, seolah tenggorokannya sudah berabad-abad tidak tersentuh air.

"Apa maksudmu?" Adrian maju selangkah. Suaranya parau, tangannya masih gemetar hebat sambil menggenggam belati yang belepotan lumpur hitam.

Elora tidak menjawab. Dia hanya mengangkat jemarinya yang kurus, menunjuk ke arah langit ungu yang tampak begitu rendah, begitu dekat sampai rasanya mereka bisa memetik bintang hanya dengan menjulurkan tangan.

Di sana, di tengah kedamaian yang palsu itu, ada satu titik merah yang diam. Kecil, tidak berkedip, dan mematikan."Satelit itu," bisik Sari.

Jantungnya serasa berdetak cepat. "Mereka masih mengunci posisi kita."

Tidak ada waktu untuk terpana. Selama tiga jam berikutnya, mereka bekerja seperti orang kesetanan di bawah instruksi Elora. Adrian harus membenamkan pelacak yang ia temukan di saku jaket Bagas ke dalam dasar kolam air raksa di tengah lembah.

Cairan perak itu dinginnya seperti es, menghisap sinyal apa pun sampai habis. Mereka harus benar-benar hilang dari radar, atau lembah ini akan berubah jadi kawah api dalam hitungan detik.

Tiga Minggu Kemudian...Sari terbangun dengan rasa takut yang berbeda. Bukan lagi takut pada Aris atau senapan, tapi takut melihat cermin. Luka di tangan Bagas tidak kunjung sembuh. Bukannya mengering, lubang luka itu justru mulai diisi oleh serat-serat halus berwarna keperakan yang berdenyut lembut.

Bagas tidak lagi merintih kesakitan. Dia justru lebih sering duduk diam, tersenyum sendiri sambil menatap pepohonan, seolah-olah sedang mendengarkan lelucon rahasia yang dibisikkan angin.

"Sar, aku lupa apa warna mobilku," bisik Bagas pada suatu malam. Dia duduk meringkuk di sudut gua, terus-menerus menggaruk bahunya yang mulai terasa kaku dan mati rasa. "Aku ingat aku punya mobil. Aku ingat aku sering menyetirnya. Tapi warnanya aku lupa. Hilang begitu saja, seperti dihapus pakai penghapus karet di dalam kepalaku."

Sari menggigit bibirnya sampai berdarah. Dia pun merasakannya. Lembah ini bukan sekadar tempat untuk bersembunyi, ini adalah sesuatu yang ingin merubah mereka semua, hingga terlahir kembali sebagai sesuatu yang bukan manusia.

Buah yang mereka makan, air yang mereka minum, semuanya perlahan mengikis memori tentang dunia luar yang bising.Tantangannya bukan lagi soal perut lapar. Tantangannya adalah bagaimana caranya agar tetap merasa benci pada Aris, tetap merasa sedih, tetap merasa menjadi manusia.

Karena di sini, kesedihan dianggap sebagai racun yang harus dibuang oleh alam. Jika kau berhenti merasa sedih, kau akan kehilangan dirimu sendiri.

"Sesuatu datang," gumam Bagas tiba-tiba.

Dia berdiri tegak, matanya yang kini berpendar biru elektrik menatap lurus ke arah celah masuk lembah.Bukan Aris. Bukan tentara. Itu adalah dengungan rendah yang membuat tulang belakang Sari terasa linu.

Satelit di atas sana mungkin kehilangan koordinat mereka, tapi mereka tidak bodoh.Mereka menjatuhkan pasak-pasak besi raksasa yang menghantam bumi di sekitar lembah, mengirimkan getaran frekuensi tinggi untuk memancing apa pun yang tertidur di bawah tanah agar terbangun.

Lembah itu mulai berguncang. Dari balik kegelapan pohon, makhluk-makhluk yang dulunya mungkin manusia mulai merayap keluar. Tanpa wajah. Hanya lubang hitam di tempat yang seharusnya menjadi mulut.

"Kita harus keluar, Adrian!" teriak Sari sambil mengguncang bahu Adrian yang mulai tampak melamun. "Persetan dengan satelit! Persetan dengan Aris! Kalau kita tetap di sini, kita tidak akan pernah ingat jalan pulang!"

Sari menyambar lengan Bagas, tapi pria itu bergeming. Bagas menepis tangan Sari dengan kekuatan yang tidak masuk akal. "Aku sudah pulang, Sari," bisik Bagas.

Elora muncul dari balik kabut. Wajahnya yang kaku kini menunjukkan gurat penyesalan yang mendalam, sebuah trauma lama yang ia simpan rapat-rapat sejak ia terjebak di sini berpuluh-puluh tahun lalu.

"Dulu aku juga punya teman," suara Elora bergetar. "Aku membiarkan mereka tinggal karena aku takut sendirian. Sekarang lihat aku. Aku sudah menjadi bagian dari akarnya."Dengan tangan gemetar, Elora menunjukkan sebuah celah sempit di balik dinding mineral hitam.

"Pergi! Itu satu-satunya jalan yang tersisa sebelum lembah ini mengunci kalian selamanya!"

Suatu jalan keluar yang tidak sama dengan jalan masuk dicelah sempit tebing. Sari menarik Adrian yang menangis histeris karena melihat Bagas mulai berlutut dan membiarkan akar-akar perak merambat naik ke kakinya.

Sari tidak menoleh lagi. Dia merangkak menembus celah itu, mengabaikan teriakan Adrian yang kini terdengar seperti nyanyian. Sari dan Johan membawa paksa Adrian dan Bagas keluar lembah.

Saat Sari dan Johan berhasil keluar ke hutan luar yang gelap dan kotor, sebuah dentuman dahsyat mengguncang gunung.

Elora, dengan sisa-sisa kesadarannya sebagai manusia, melakukan sesuatu yang tak terduga.Dia meruntuhkan seluruh langit-langit lembah itu, menyegel jalan masuk dan keluar dengan ribuan ton batu.Sari terjerembap di atas tanah berlumpur.

Dia menoleh ke belakang, tapi yang ada hanya dinding tebing yang tebal tanpa celah. Lembah itu sudah hilang. Di atas sana, titik merah satelit itu masih mengintai.

Sari meraba dadanya, mencoba mengingat nama ibunya. Dia terdiam. Matanya membelalak. Kosong.Namanya sendiri pun... dia mulai ragu.