Bab 14
- Aset Yang Tersisa
Di belakang mereka, Bagas berjalan dengan langkah yang kaku. Matanya yang berpendar biru mulai meredup, meninggalkan pupil yang melebar dan kosong.
Johan, yang paling kuat secara fisik, menarik kerah jaket Adrian agar tidak tertinggal, meski Johan sendiri terus-menerus bergumam tentang angka-angka koordinat yang tidak masuk akal. Tiba-tiba, lampu sorot dari langit membelah pepohonan
Wuuush!
Suara baling-baling helikopter menderu di atas kepala mereka. Tim darat pasti sudah mendarat di sisi lain tebing. Cahaya laser merah mulai menyapu dedaunan kering di sekitar kaki mereka.
"Lari..." suara Sari tercekat di tenggorokan. "Jangan... jangan sampai mereka menangkap kita."
Mereka bergerak dalam kabut tebal. Setiap langkah terasa seperti mengarungi lumpur hisap, terasa berat. Memori Sari tentang masa kecilnya, wajah ibunya, aroma dapur, nama sekolahnya terasa seperti butiran pasir yang ditiup angin.
Hilang. Dia hanya tahu satu hal, bergerak atau mati. Mereka menembus semak berduri, mengabaikan kulit yang tersayat, hingga suara gemuruh air menulikan telinga.
Di depan mereka, sebuah sungai besar mengalir deras dengan warna cokelat pekat. Dan di sana, terikat pada sebuah akar pohon tua yang mencuat, sebuah perahu kayu kecil bergoyang-goyang dihantam arus.
Tanpa berpikir, Johan mendorong mereka semua masuk ke dalam perahu. Saat tali dilepaskan, perahu itu melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya, terbawa arus deras yang menuju ke jantung kegelapan hutan.
Satu jam berlalu. Jarak antara mereka dan lembah terkutuk itu semakin menjauh.Tiba-tiba, Adrian tersedak hebat. Dia membungkuk ke pinggir perahu dan memuntahkan cairan kental berwarna perak metalik ke dalam air sungai.
Bau busuk yang luar biasa menyengat keluar dari perutnya. Tak lama kemudian, Johan dan Bagas melakukan hal yang sama.Sari merasa perutnya diperas habis-habisan. Dia memuntahkan sesuatu yang tampak seperti serat-serat akar halus yang masih berdenyut.
Begitu cairan itu keluar, rasa sakit yang menusuk di belakang kepalanya perlahan sirna.Warna-warna di dunia kembali normal. Langit tidak lagi ungu, tapi biru jernih yang akrab. Ingatan-ingatan itu...nama mereka, ketakutan mereka pada Aris, alasan mengapa mereka berlari, kembali menghantam seperti tamparan keras.
"Sari..." Bagas berbisik. Suaranya tidak lagi dingin. Dia menarik Sari ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat seolah takut perempuan itu akan menguap menjadi kabut.
"Kita keluar. Kita benar-benar keluar." Sari menangis sesenggukan di dada Bagas. Adrian dan Johan terduduk lemas di ujung perahu, wajah mereka pucat pasi namun mata mereka kembali menunjukkan binar manusia.
Perahu itu terus melaju, membawa mereka menjauh dari neraka hijau tersebut. Namun, saat suasana mulai tenang, Johan yang duduk di bagian depan perahu mendadak menegang.
"Sari... Bagas..." suara Johan gemetar. Dia menunjuk ke arah hilir sungai.Di balik kabut tipis di depan mereka, bukan cahaya kota yang terlihat, melainkan barisan lampu sorot yang statis.
Ada sebuah blokade besar yang menutup seluruh lebar sungai. Kapal-kapal militer dengan persenjataan berat berdiri diam, menunggu.
Namun, bukan itu yang membuat jantung Sari berhenti berdetak. Di salah satu kapal induk di depan mereka, sebuah pengeras suara berderit, memecah kesunyian sungai dengan suara yang sangat mereka kenal.
"Selamat datang kembali, teman-teman. Aku sudah menyiapkan tempat tidur yang hangat untuk kalian." Itu suara Aris.
Dan kali ini, dia tidak terdengar sedang memburu mereka. Dia terdengar seperti seseorang yang sedang menyambut properti miliknya yang sempat hilang.
Sari melihat ke arah tangannya. Di bawah kuku jempolnya, sebuah bintik kecil berwarna perak masih berdenyut pelan. Dia terus mengusap tangan nya yang kini terdapat luka parut yang aneh, seolah-olah ada sesuatu yang pernah berusaha tumbuh keluar dari bawah kulitnya.
Johan, dengan sisa tenaganya, memegang dayung kayu tua, mencoba mengarahkan perahu agar tidak menghantam batu kali. Mengikuti arus, menghindari Aris didepan. Yang menyerang mereka melalui serentetan tembakan.
Aliran sungai bercabang, Johan mengarahkan perahu ke arus sungai yang sempit. Sungai ini liar. Airnya cokelat berlumpur, menghantam sisi perahu dengan suara debum yang keras. Tapi bagi mereka, lumpur ini adalah keselamatan. Lumpur ini nyata.
"Kita menjauh," gerutu Johan, giginya bergemeletuk karena kedinginan. "Satelit itu... mereka nggak akan bisa melihat kita di bawah kanopi hutan yang serapat ini. Kita punya waktu."
Tapi waktu adalah kemewahan yang tidak mereka miliki. Saat perahu meluncur melewati tikungan sungai yang tajam, hutan mendadak senyap. Suara serangga yang tadinya memekakkan telinga hilang seketika.
"Sstt. Dengar?" Sari menegakkan punggungnya. Bukan suara air. Bukan suara mesin helikopter. Itu adalah suara frekuensi rendah, seperti dengungan lebah dalam jumlah yang banyak, yang bergetar tepat di dalam gendang telinga mereka.
Di depan, sungai itu melebar, masuk ke dalam sebuah rawa yang berkabut tebal. Di tengah kabut itu, berdiri tiga buah tiang pancang hitam setinggi sepuluh meter yang ditancapkan langsung ke dasar sungai.
Tiang-tiang itu tidak bergerak, tapi permukaan air di sekitarnya mendidih karena getaran ultrasonik."Sensor getar," ucap Johan. Dia menjatuhkan dayungnya.
"Kalau kita lewat, mereka tahu berat beban perahu ini sampai ke gram terakhir."..Sari melihat ke belakang. Di kejauhan, cahaya lampu sorot mulai menyapu permukaan air dari arah mereka datang.
Tim darat tidak menyerah. Mereka menggiring seperti tikus menuju jebakan di rawa ini."Kita nggak bisa lewat air lagi," kata Sari sambil melihat ke arah tepi sungai yang berupa tebing batu licin.
Namun, perhatian Adrian teralih pada sesuatu yang lain. Dia meraba lubang luka di perutnya yang tadi diisi serat perak. Meski serat itu sudah dimuntahkan, kulit di sekitar luka itu mulai berubah warna menjadi transparan.
Dia bisa melihat organ dalamnya sendiri yang kini berdetak dengan ritme yang... berbeda.Bagas menatap Sari dengan tatapan yang membuat bulu kuduk Sari merinding.
"Sar," kata Bagas pelan, tangannya menunjuk ke arah tiang hitam di depan. "Aku bisa... aku bisa merasakan kabelnya di bawah air. Aku bisa mendengar bahasa mereka."
Sari mundur selangkah. "Bagas, jangan mulai lagi. Kita sudah keluar!"
"Belum," Bagas berdiri, membuat perahu itu oleng. "Lembah itu nggak cuma merubah ingatan kita, Sari. Mereka mengejar kita bukan karena kita lari, tapi karena kita adalah aset yang paling berharga sekarang."
Tepat saat itu, sebuah titik merah kecil mendarat di dahi Adrian.
Pfft.
Satu detik kemudian, sebuah peluru kaliber besar menghantam air tepat di samping perahu, menciptakan ledakan air yang membasahi mereka semua.
"Tiarap!" teriak Johan.
Dari balik kabut rawa, sebuah kapal patroli ramping tanpa lampu muncul perlahan. Di atasnya, berdiri sesosok pria dengan setelan taktis hitam lengkap. Dia tidak memegang senjata. Dia hanya memegang sebuah alat kendali jarak jauh.
Aris...dia tidak berteriak. Dia hanya mengangkat tangan, dan dari dalam air di sekeliling perahu Sari, muncul puluhan robot penyelam berbentuk seperti laba-laba yang menempel di lambung perahu
"Bagas!" teriak Sari saat dia melihat tangan Bagas kembali mengeluarkan cahaya perak yang redup. Bagas tidak takut. Dia justru mengulurkan tangannya ke arah robot-robot itu seolah-olah mereka adalah peliharaan yang pulang ke rumah.
"Selamatkan diri kalian," bisik Bagas. "Aku bukan lagi bagian dari rencana pelarian ini."
Bagas melompat ke dalam air yang mendidih karena getaran ultrasonik itu, dan anehnya, dia tidak tenggelam. Dia berdiri di atas air, sementara robot-robot itu mulai merayap naik ke tubuhnya, menyatu dengan kulitnya.
Sari hanya bisa terpaku saat perahu mereka ditarik paksa oleh arus menuju kapal Aris, sementara Bagas berdiri diam di tengah sungai, perlahan berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia, namun senjata.
Sari meraih belati di pinggangnya, tapi dia tahu, yang akan dia hadapi bukan lagi pasuka Aris, melainkan kekasihnya sendiri.