Cinta Di Langit Senja

Penulis tjen_wati
12 February 2026

Bab 15

  • Pertarungan Di Lembah Hijau

Sari tidak bisa berhenti gemetar. Jemarinya mencengkeram gagang belati begitu erat hingga telapak tangannya terasa kebas.

Bau amis logam dan aroma busuk dari sisa muntahan tadi masih melekat di ujung hidungnya, bercampur dengan udara rawa yang lembap dan pengap.

Di depannya, di atas geladak kapal yang angkuh, Aris berdiri. Pria itu, pamannya sendiri, orang yang dulu sering memberinya cokelat saat kecil yang kini menatapnya dengan penuh nafsu permusuhan.

"Jangan bodoh, Sari," suara Aris dingin, membelah suara mesin kapal yang menderu. "Taruh pisaumu. Kamu itu aset. Jangan rusak kulitmu sendiri."

"Persetan dengan aset!" Sari berteriak, suaranya parau.Di belakangnya, Johan dan Adrian sudah siap meledak.

Johan memegang patahan kayu dengan otot lengan yang menegang, matanya liar melirik ke arah Bagas. Bagas masih di sana, di tengah sungai, tapi penampilannya membuat nyali mereka ciut.

Benda-benda hitam menyerupai laba-laba mekanis itu merayap masuk ke pori-pori kulit Bagas, seolah-olah pria itu adalah sebuah mesin yang sedang dirakit ulang.

"Johan..." Adrian berbisik, giginya bergemeletuk. "Kalau dia bergerak ke arah kita, jangan ragu. Hantam saja. Itu bukan Bagas lagi. Itu cuma cangkang."

Aris menghela napas pendek, lalu menekan sebuah tombol di alat kendali kecil di tangannya. "Bagas, ambil mereka. Lumpuhkan subjek tambahan, bawa Sari hidup-hidup."

Namun, tidak ada serangan. Bagas justru diam mematung, kepalanya miring ke samping dengan sudut yang tidak alami. Sebuah bunyi bip terdengar ditelinga mereka. Semua mata memperhatikan Bagas, terlihat bahwa ia berusaha melawan sesuatu.

Tiba-tiba, mata Bagas yang tadinya redup menyala dengan warna perak yang berpendar hebat. Dia tidak melihat ke arah Sari. Dia menatap langsung ke arah Aris.

."A-apa yang kau lakukan?" Aris memencet tombolnya berkali-kali.

"Bagas! Ini perintah!"

Bagas membuka mulutnya. Bukan suara manusia yang keluar, melainkan sebuah bunyi yang menyakitkan telinga. Dalam sekejap, puluhan robot laba-laba yang tadi mengelilingi perahu Sari berbalik arah. Mereka melesat di atas air, melompati lambung kapal patroli seperti sekumpulan serangga kelaparan.

"Tidak! Tidak! Tembak mereka!" teriak Aris panik.

Suasana berubah menjadi neraka. Pasukan Aris yang tadi tampak tak terkalahkan kini kocar-kacir. Senjata api mereka tak berarti melawan gerombolan logam kecil yang merayap cepat ke dalam helm, menyusup ke sela-sela pakaian taktis, dan menyengat saraf mereka.

Ledakan demi ledakan mengguncang sungai, mengirimkan bola api ke langit malam yang pekat. Dalam kekacauan itu, Aris menyadari posisinya kalah telak.

Tanpa memedulikan anak buahnya yang menjerit kesakitan, dia melompat ke sebuah sekoci cepat di balik kabut. Mesinnya menderu, dan dalam hitungan detik, bayangannya tertelan kabut rawa yang tebal.

Perahu kayu mereka kini terombang-ambing pelan menuju tepian yang penuh akar pohon. Johan segera melompat ke lumpur, menarik perahu agar tidak hanyut lebih jauh.Sari melihat ke arah Bagas. Pria itu berdiri di atas dahan pohon tumbang, siluetnya tampak mengerikan dengan kabel-kabel halus yang menjuntai dari lengannya.

"Bagas... kita harus pergi," panggil Sari, suaranya pecah oleh tangis. "Ayo, selagi mereka kacau."

Bagas menoleh pelan. Wajahnya masih Bagas, tapi tatapannya... kosong. Seperti ada layar digital di balik selaput matanya. "Pergilah," suara Bagas terdengar seperti gema di dalam gua. "Aku bisa mendengar mereka, Sari. Aku bisa mendengar pembicaraan satelit di atas kita. Aku bisa merasakan setiap aliran listrik dalam radius lima kilometer."

"Bagas, kumohon.."

"Aku bukan lagi bagian dari pelarian ini, Sari," Bagas melangkah mundur ke dalam kegelapan pepohonan. "Mereka akan datang lebih banyak lagi. Bukan untuk membunuh, tapi untuk menjemput senjata mereka. Kalau kalian bersamaku, kalian hanya akan mati."

Sari ingin mengejarnya, tapi tangannya mendadak terasa dingin. Dia melihat ke bawah kuku jempolnya. Di sana, sebuah bintik perak kecil tidak lagi diam. Bintik itu merayap, membentuk garis tipis seperti sirkuit yang mulai menjalar ke pergelangan tangannya.

Dia tidak benar-benar keluar dari sana. Dia membawa lembah itu di dalam darahnya sendiri.Di atas mereka, suara gemuruh helikopter kembali terdengar, kali ini dalam jumlah yang jauh lebih banyak.

Lampu-lampu sorot mulai membelah langit, mencari-cari sisa kehidupan di rawa yang mematikan.Sari meludah berkali-kali ke tanah. Ludahnya tidak lagi bening, ada bercak kelabu seperti oli yang tercampur di sana. Rasanya pahit.

"Sar, berhenti menggaruk! Kamu mau kulitmu copot?!" Johan membentak, tapi suaranya sendiri gemetar.

Ia mencengkeram bahu Sari, namun sedetik kemudian ia menarik tangannya kembali karena ngeri. Ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak di bawah kulit leher perempuan itu seperti cacing yang terbuat dari kawat perak.

"Tidak bisa, Jo! Panas banget! Kayak ada api yang lagi jalan di uratnya!" Sari menjerit. Kuku-kukunya sudah membuat luka lecet yang mengeluarkan cairan bening berbau alkohol.

Bagas berjalan terus di depan tanpa menoleh sedikit pun. Jalannya aneh, satu kakinya agak menyeret dan setiap kali ia bernapas, muncul suara tit... tit... pendek dari balik tenggorokannya. Ia bukan lagi manusia yang menyelamatkan mereka, ia lebih mirip barang rusak yang sedang berjalan menuju tempat rongsokan.

Adrian hanya bisa mengekor di belakang sambil memegangi lengannya yang kebas karena kesetrum tadi. "Kita ke mana sih, Gas? Ini bukan hutan lagi. Lihat pohonnya, kok tidak ada daunnya sama sekali? Isinya cuma serat-serat plastik!"

Mereka sampai di sebuah muara. Airnya tidak mengalir tenang, melainkan kental dengan warna kelabu, bergerak berputar-putar membentuk lingkaran yang bergerak -gerak di tengahnya. Tidak ada suara burung maupun desir angin.Yang ada hanya suara dengungan rendah yang membuat dada sesak dan gigi mereka mendadak linu semua.

"Naik ke rakitnya," kata Bagas. Suaranya datar, mirip suara robot pada layanan operator telepon."Tidak! Aku tidak mau masuk ke lubang itu, Gas! Itu hanya pembuangan sampah!"

Johan berusaha mundur, tapi arus muara itu tiba-tiba menguat, menarik rakit mereka seperti magnet raksasa. Sari hanya bisa memejamkan mata, tangannya mencengkram tepian rakit kencang-kencang sampai jarinya terasa sakit.

Dunianya seolah diputar balik. Perutnya serasa naik ke tenggorokan. Gelap. Bukan gelap karena mati lampu, tapi gelap yang mencekam, seolah-olah otak mereka baru saja dicabut dari kabelnya.

Saat Sari terbangun, ia sudah tersungkur di atas pasir. Namun, pasirnya berbeda. Pasirnya hitam, lengket, dan kalau dipegang rasanya dingin seperti serbuk besi. Ia mendongak, lalu seketika lupa caranya bernapas.Langitnya tidak punya awan ataupun matahari.

Di atas sana hanya ada garis-garis cahaya putih yang melintang kaku dari ujung ke ujung, persis seperti jeroan komputer raksasa yang digantung di angkasa. Semuanya steril. Terlalu bersih.

Di ujung pantai itu, berdiri gedung-gedung tinggi tanpa jendela. Bangunan itu terbuat dari tumpukan kabel raksasa yang berdenyut warna merah redup. Kota itu seolah-olah bernapas."Kita di mana, Gas?" bisik Sari. Suaranya parau dan tenggorokannya kering.

Bagas berdiri di sampingnya, menatap lurus ke arah kota kabel itu. Jejak kakinya di pasir hitam meninggalkan bekas cahaya perak yang tidak mau hilang.

"Ini bukan laut, Sar," kata Bagas, suaranya terdengar seperti gema dari balik tembok beton. "Kita baru saja masuk ke tempat Aris memulai mimpi dan cita-cita nya."

Sari menyentuh lehernya. Garis perak itu sekarang berdenyut seirama dengan gedung-gedung merah di depan mereka. Ia menyadari satu hal: Mereka tidak sedang melarikan diri. Mereka baru saja kembali terjebak.