“Adek diam di sini, ya,” ucap Naufal, suaranya sedikit meninggi untuk mengatasi suara riuh restoran. Ia harus mengejar sosok wanita yang menelpon tadi secepatnya. Ia melirik jam tangannya; waktu terus berlalu.
“Abang mau ke mana?” tanya Akhzam, suaranya nyaris tenggelam oleh hiruk pikuk di sekitarnya.
“Abang keluar sebentar,” jawab Naufal singkat, berusaha agar suaranya terdengar jelas di tengah keramaian. Ia merasa sedikit bersalah meninggalkan Akhzam sendirian, namun ia perlu tahu siapa wanita yang emngancam lewat telpon itu.
“Ok,” sahut Akhzam, kembali asyik dengan mainannya. Ia tampak tenggelam dalam dunia imajinasinya, seakan-akan suara riuh restoran tak mengganggunya sama sekali.
Naufal bergegas menuju pintu keluar, namun langkahnya terhenti. Ia kembali melirik Akhzam yang duduk di tengah keramaian. Benarkahblangkah yang ia ambil? Apa tak beresiko meninggalkan Akhzam sendiri? Ia memutuskan kembali ke meja mereka, dan saat itu juga, seorang wanita memasuki restoran. Wanita itu, dengan anggun, berjalan menuju meja kosong. Namun, tanpa sengaja, Naufal menyenggol tangan wanita itu.
“Maaf,” ucap Naufal, sedikit gugup.
Clara!
“Naufal? Wah, tak disangka bertemu lagi di sini,” sapa Clara, senyumnya ramah menerobos hiruk pikuk restoran. Ia tampak cantik dengan jilbab berwarna Lila dan mengenakan kemeja putih yang bersih dan terlihat mahal. Aroma parfumnya yang lembut menambah daya tariknya.
Naufal tersenyum. “Hai… Sendirian?”
“Iya, tadi bersama teman. Dia bilang ada urusan sebentar, jadi aku pikir biar pesan dulu saja,” jawab Clara. "Kamu?"
Tiba-tiba, Akhzam memanggil Naufal. “Abang! Mama telepon!”
“Adikku,” kata Naufal, bergegas menghampiri Akhzam.
"Adek angkat telpon dari mama?" tanya Naufal.
"Iya. Kata mama abang nanti suruh telpon. Oya, nanti kita beli mainan baru ya, Bang?” pinta Akhzam, matanya berbinar penuh harap. Ia tahu abangnya itu selalu sulit menolak permintaannya.
“Iya, tapi nanti malam ya? Abang balik ke kantor dulu setelah mengantar adek ke rumah kakek.” jawab Naufal, tersenyum. Ia tak tega menolak permintaan adiknya.
Clara memperhatikan interaksi Naufal dan Akhzam. Ia terpesona oleh kehangatan hubungan mereka. “Duniamu sepertinya dipenuhi anak-anak? Ini siapa?” tanyanya, penasaran.
“Adikku. Akhzam, salam kenal ya sama Kak Clara,” kata Naufal, memperkenalkan Akhzam. Akhzam hanya mengangguk malu-malu, masih asyik dengan mainannya.
Akhzam menatap Clara dengan rasa ingin tahu. “Kak Clara siapa? Pacar Abang juga?" tanyanya polos, membuat Naufal dan Clara terkejut. Pertanyaan polos Akhzam membuat suasana sedikit tegang.
“Bukan,” jawab Clara cepat, pipinya sedikit memerah. Ia merasa sedikit canggung dengan pertanyaan tiba-tiba itu.
Ponsel Naufal berdering lagi. Kali ini dari Chintya. “Titip Akhzam sebentar boleh ya, Clara?” pinta Naufal. “Aku harus angkat telepon ini.” Ia merasa sedikit tidak enak hati meninggalkan Clara dan Akhzam sendirian, namun panggilan telepon dari Chintya jika tidak diangkat pastinya akan terus berdering.
“Ok,” jawab Clara, tersenyum. Ia merasa sedikit penasaran dengan adik Naufal.
Naufal meninggalkan meja mereka. Clara menoleh pada Akhzam. “Kamu suka gambar?” tanyanya, berusaha memulai percakapan baru. Ia mengeluarkan pensil dan kertas dari tasnya.
Akhzam mengangguk antusias. Mereka mulai menggambar bersama, Clara menggambar pemandangan alam, Akhzam menggambar robot.
Sementara di luar, Naufal mengangkatvtelpon Chintya.
"Ada apa, Tante?"
"Aku lembur, Naufal. Bisakah kamu membantuku menjemput Raisya ke sekolah."
"Tidak bisa, aku kerja," jawab Naufal datar.
"Tolonglah.. Suaramu seperti sedang berada di luar. Kamu tidak sedang di kantor kan?"
Naufal tak menjawab.
"Naufal.."
"Aku sedang menemani adikku makan siang, Mama sedang ada urusan."
"Kamu bawa Raisya sekalian bersama Azam. Mungkin mereka bisa berteman."
"Aku harus mengantar Azam ke rumah kakek lalu kembali ke kantor. Titipkan saja pada tetanggamu, Tante. Bukankah biasanya begitu??"
"Tolonglah Naufal. Tidak apa-apakan jika dibawa sebentar ke kantor?" pinta Chintya setengah memaksa. "Yang biasa menjaga Raisya sedang pulang kampung."
"Tidak."
"Raisya juga adikmu," Chintya mengingatkan.
Naufal tak menjawab. Ia mematikan telepon dari Chintya. Berjalan kembali masuk ke dalam restoran.
Di hampirinya meja dimana Akhzam yang sedang menggambar bersama Clara sambil bercerita demgan penuh keceriaan.
Naufal menarik nafas sebelum duduk di samping Akhzam tepat di hadapan Clara.
"Maaf sudah merepotkan," ucap Naufal.
"Tidak apa-apa. Aku senang menemani azam."
"Kamu tidak makan?" tanya Naufal. "Mau aku pesankan?"
"Eh, tidak usah repot-repot."
"Tidak apa-apa."
Naufal bergegas memesan makanan untuk Clara. Tak lama ia kembali dengan membawa makanan untuk wanita itu.
"Silakan."
"Terima kasih," Clara tersenyum.
"Abang.." panggil Akhzam sambil duduk di pangkuan Naufal. "Besok kita berenang?"
"Iya. Hari minggu ya?"
"Besok?"
"Besok masih jumat. Abang masih kerja."
"Abang tidak usah kerja."
"Kalau abang tidak kerja, nanti siapa yang beliin jajan adek sama mainan adek?"
"Mama?"
"Masa uang mama?"
"Kakek? Om Revan? Om Kevin?"
"Tidak boleh ya?"
"Iya."
Akhzam kembali melanjutkan gambarnya.
Clara yang sedang makan tersenyum. Naufal memandang Clara.
"Temanmu belum datang?"
"Belum..ku telpon tidak diangkat.Padahal tadi katanya cuma sebentar dan pasti ke sini lagi."
Clara tertawa kecil.
"Sepertinya aku ditinggal. Entah aku dianggap tidak penting atau dia lupa."
"Kamu pulang ke rumah?"
"Iya."
"Rumahmu dimana?"
"Kompleks perumahan bidadari."
"Searah dengan kantorku. Nanti aku antar pulang."
"Eh, tidak usah. Nanti malah merepotkan."
"Tidak apa-apa."
Clara tersenyum. Dalam hatinya berbunga-bunga. Pria yang mencuri hatinya akan mengantarnya pulang ke rumah.
Selang beberapa saat kemudian, usai mengantar Akhzam ke rumah kakeknya, Ikhwan. Naufal langsung memacu mobilnya melintasi kantor. Clara duduk di sampingnya dengan hati yang tak karuan menahan debar di jantungnya.
"Sebelumnya tinggal dimana?"
"Aku tinggal dengan papa di Kalimantan. Tapi setelah pensiun papa memutuskan pulang ke Jakarta. Papa sendirian, jadi aku tidak mungkin tidak ikut."
"Mama meninggal?"
"Ya."
"Maaf," Naufal tak bertanya.
"Tidak apa-apa. Pesawat yang ia tumpangi jatuh, begitu sedihnya sehingga papa mengubur semua tentang mama termasuk semua photo mama," cerita Clara
Naufal diam.
"Maaf, aku tidak bermaksud kamu harus tahu tentang hidupku. Aku tidak ingat wajah mamaku. Kadang rindu, tapi untuk bertanya pada papa tidak mungkin. Usia 16 tahun, aku tak sengaja mendengar dari salah satu saudara papa, kalau mama pergi untuk mengejar cinta lama. Dari situ aku mencoba menghargai hati papa."
Ponsel Naufal berdering. Sebuah telpon masuk dari orang yang tidak ia kenali.
"Maaf, aku terima telpon dulu."
"Ya."
Naufal memghentikan mobilnya.
"Hallo.."
"Selamat siang Bapak Naufal Hasbi, Saya Bripda Ari dari pihak kepolisian ingin menyampaikan sebuah kabar duka."
"Kabar duka?"
"Ibu Chintya."
"Tante? Ada apa dengannya?"
"Ibu Chintya ditemukan tewas gantung diri di dalam rumahnya."
"Apa??" kabar yang ia terima benar-benar membuat Naufal tak percaya akan pendengarannya.