Bab 16
- Pelarian Tanpa Ujung
Sari tidak lagi merasa nger, dia hanya merasa muak. Rasa pahit di pangkal tenggorokannya bukan lagi imajinasi. Itu rasa logam, tajam dan dingin. Dia meludah, dan kali ini gumpalan hitam itu berdenyut di atas tanah sebelum akhirnya diam.
Sari menghapus sisa lendir di bibirnya dengan punggung tangan yang gemetar.
"Jo, bangun," desisnya. Suaranya kering dan gemetar.
Johan tidak bergerak. Dia tergeletak dengan posisi aneh, lehernya tertekuk ke samping seolah tulang-tulangnya sudah lepas dari engsel. Sari menendang tulang kering pria itu. Tidak ada respon. Ia tetap diam tanpa respon apapun.
"Adrian!" Sari beralih ke Adrian. Adrian duduk bersandar di sebuah batang pohon yang permukaannya terasa seperti karet ban bekas.
Matanya melotot, tapi tidak melihat apa-apa. Dari telinganya, mengalir cairan biru neon yang berbau persis seperti pembersih lantai. Dia tidak sedang pingsan, dia sedang terpaku.
Sari mundur selangkah. Dia sadar, mereka tidak sedang berada di hutan. Mereka sedang berada di dalam sebuah jeroan raksasa. Langit di atas sana mulai retak. Bukan retak karena kiamat, tapi retak seperti layar televisi yang sudah pecah.
Garis-garis statis warna-warni muncul di antara awan abu-abu, menyingkap apa yang ada di baliknya, sebuah ruang hampa hitam yang dipenuhi kabel-kabel raksasa yang saling melilit, menjalar dari tanah langsung menuju atmosfer yang bolong.
"Sar... jangan bergerak terlalu banyak," sebuah suara parau muncul dari balik pohon.
Itu Bagas.Tapi fisiknya sudah hancur. Separuh wajahnya melorot, menampakkan lempengan baja dan sensor yang berkedip merah. Dia tidak berjalan, dia menyeret tubuhnya yang berat, meninggalkan jejak oli hitam di atas rumput plastik.
"Aris mana, Gas? Jangan kasih aku jawaban filosofis. Mana si brengsek itu?" Sari mencengkeram pecahan keramik tajam yang dia temukan di tanah.
Bagas menunjuk ke sebuah lubang besar di bawah akar pohon baja di depan mereka. "Aris nggak pernah pergi. Dia cuma ganti bentuk. Dia butuh kita buat jadi backup data. Dunia di luar sana sudah habis, Sar. Udah meledak sepuluh tahun lalu karena perang satelit. Oksigen habis. Air jadi racun."
Bagas yang sudah terkontaminasi oleh Aris, mampu membuat jawaban yang ia sendiri tidak ketahui kebenarannya. Jauh didalam hatinya ia sudah ingin berteriak. "Semua itu bohong, itu rekayasa Aris. Agar kalian menyerah." Tapi ia tak mampu, ada suatu tekanan agar ia mengucapkan kalimat yang ia ketahui kebohongannya.
"Bohong," Sari mendesis, meski paru-parunya mulai terasa perih.
"Sari... masuklah," suara Johan bukan lagi suara Johan. Itu suara Aris. Dingin, tanpa emosi, mirip rekaman suara operator rumah sakit.
"Jangan paksa aku buat menghapus memorimu. Kamu satu-satunya sisa dunia lama yang masih aku kenali."
"Kalau kamu mau aku tinggal di sini, Aris," Sari menggenggam keramik tajam itu kuat-kuat sampai telapak tangannya mengeluarkan cairan perak, "kamu harus buat aku lupa gimana rasanya jadi manusia."
Tanpa peringatan, Sari tidak lari ke arah pintu keluar. Dia justru terjun ke dalam lubang itu. Dia tidak peduli soal keselamatan. Dia tidak peduli soal jalan keluar. Sari hanya ingin satu hal, menghancurkan mesin pendingin itu.
Biarkan sistem ini panas membara. Biarkan server ini meledak. Dia lebih memilih mati dan menghilang jadi ketiadaan, daripada hidup selamanya sebagai data di dalam kepala seorang psikopat yang kesepian.
Saat dia jatuh ke dalam kegelapan mesin itu, hal terakhir yang Sari dengar adalah teriakan elektronik Aris yang melengking, memekakkan telinga, sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi kesunyian yang mutlak.
Sari jatuh menembus kegelapan yang tidak memiliki dasar, atau begitulah rasanya, sampai punggungnya menghantam sesuatu yang keras dan dingin.
Braakk
Suara bunyi yang dihasilkan bukan suara tulang beradu lantai, melainkan suara logam yang penyok. Ia terengah, paru-parunya menghisap udara yang berasa seperti karat dan ozon.
Di dasar lubang itu, segalanya berbeda. Tidak ada lagi langit statis atau rumput plastik. Ruangan itu sempit, dipenuhi pipa-pipa yang bergetar hebat dan tangki raksasa berisi cairan keruh yang disebut Aris sebagai tempat tinggal mereka.
"Sar!" Sari mendongak. Tiga bayangan jatuh menyusulnya. Johan mendarat dengan posisi kaku, disusul Adrian yang merintih memegangi kepalanya, dan terakhir Bagas yang mendarat paling berat dengan bunyi denting logam dari dalam dadanya.
"Kalian... terjun juga?" bisik Sari, suaranya parau. "Aris... dia nggak bisa kontrol kita sepenuhnya kalau kita ada di pusat gangguan ini," Bagas bicara dengan susah payah.
Matanya yang sebelah kiri berkedip-kedip liar, memancarkan sinar laser merah yang tidak stabil. "Sar, dia bohong. Dunia di luar... aku lihat sekilas tadi. Masih ada matahari. Dia cuma mengunci syaraf kita lewat frekuensi di gedung-gedung kabel itu."
Sari berdiri, kakinya gemetar. Di tengah ruangan, sebuah jantung mekanis raksasa berputar. Itu adalah tumpukan cakram emas yang berputar ribuan kali per detik, menghasilkan suara dengungan yang membuat giginya linu. Di atasnya, tertancap ribuan jarum tipis yang mengalirkan data, kesadaran mereka ke dalam mesin.
"Itu pusatnya," Adrian menunjuk ke arah kabel utama yang tebalnya seukuran pinggang manusia, tertanam langsung ke dasar tangki Aris.
"Kalau itu putus, sistemnya forced reboot. Semua simulasi bakal hancur."
"TIDAK! JANGAN SENTUH!" Suara Aris meledak dari dinding-dinding logam. Kali ini nadanya panik, bukan lagi suara robot yang tenang.
"Sari, kalau kalian putus kabel itu, kalian akan bangun di tengah hutan tanpa perlindungan! Kalian akan mati kedinginan!"
"Kita sudah mati sejak kamu mengejar kami, dan menjadikan kami targetmu, Ris!" Sari berteriak.Ia menerjang ke arah kabel utama itu.
Johan dan Adrian ikut berlari, meski gerakan mereka berat seperti ditarik magnet. Bagas menggunakan sisa tenaga di kaki logamnya untuk menjegal lengan robotik pelindung yang tiba-tiba muncul dari langit-langit.
"Sekarang, Sar! Cabut!" teriak Johan sambil memiting pipa pendingin agar mereka bisa bergerak.Sari menghujamkan pecahan keramiknya ke pembungkus kabel yang keras. Tidak mempan.
"Adrian, bantu aku!" Adrian merangkak, meraih ujung kabel itu dengan tangan yang sudah melepuh. Ia menggunakan berat tubuhnya untuk menarik paksa sambungan sirkuit itu.
Sari menyisipkan keramiknya ke sela-sela sambungan, menjadikannya tuas.
KRETEKK...
Bunga api biru menyambar wajah mereka. Bau daging terbakar dan plastik hangus menyatu. Sari merasakan sengatan listrik ribuan volt mengalir lewat keramik itu, membakar syaraf lengannya, tapi dia tidak melepaskanny
"SATU... DUA... TIGA!" Mereka menarik bersama-sama.
DUARRR!
Ledakan frekuensi tinggi menghantam ruangan itu. Dunia seolah terbalik. Sari merasakan sensasi seperti ditarik keluar dari lubang jarum yang sempit. Rasa pahit di lidahnya mendadak hilang, digantikan oleh rasa asin darah yang asli.
Cahaya putih membutakan segalanya.Sari tersedak. Ia menghirup sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan, udara segar yang menusuk paru-parunya hingga sakit.
Ia membuka mata. Ia tidak berada di dasar lubang. Ia tidak berada di pantai hitam. Sari terbangun di sebuah ruangan serba putih. "Ini dimana?" Ia mengamati sekelilingnya.
Tidak ada orang, hanya bau yang ia kenal. Seperti bau obat. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah bukan hanya satu. Tapi beberapa suara langkah kaki. Ia buru-buru memejamkan matanya. "Ia belum sadar, matanya masih terpejam."
Suara seseorang yang ia kenal, suara ayahnya."Kapan anak saya sadar, dok." Suara ibunya.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyentuhnya, kasar dan dingin. Sentuhan yang ia pernah rasakan. Iya.. seperti sentuhan Bagas.
"Sabar, bu..pak..kita doakan semoga semua cepat berlalu. Dan ia kembali sadar, percayalah dengan kebesaran Allah." Terdengar suara asing yang tidak ia kenal.
Ia sudah tidak sabar, hendak membuka mata. Tapi, tiba-tiba sebuah suara lainnya terdengar. "Berapa lama biasanya pasien tersadar dok?" Suara paman Aris, ia ada disana.
Akhirnya ia membatalkan membuka matanya. 'Ngapain ia ada disana, ditengah keluarganya. Jangan sampai orang tuanya menjadi sasarannya' kata suara dalam hati kecilnya.
"Baiklah ibu, bapak, sebaiknya kita keluar. Pasien butuh istirahat."
"Pasien?, istirahat? Sebetulnya ini dimana" pikirannya mulai berkecamuk mencari jawaban. Akhirnya ia membuka mata kembali, mulai mengerjap dan mengamati sekitarnya, tidak ada lagi kabel-kabel dan suara mesin.
Satu-satunya suara mesin adalah benda yang tidak jauh darinya, sebuah layar monitor dengan grafik yang bergelombang bergerak disana. Lalu dilihatnya lengannya, terdapat selang infus, dirasakannya sebuah selang yang menusuk hidungnya.
Ia menggeleng pelan, lalu kembali mengamati sekitarnya. Dinding berwarna putih, dan sebuah pintu diujung ruangan. "Aku harus lari, sebelum paman Aris kembali lagi untuk melakukan perbuatan yang lebih jahat "
Ketika baru saja ia hendak mencabut selang-selang di tubuhnya, seseorang memasuki ruangan. Ia langsung memejamkan matanya kembali. Ia mendengar suara seseorang yang sedang menyeret benda, lalu ia berada disampingnya.
Ia menduga kursi yang di seret barusan. Sebuah tangan menyentuhnya, menggenggam jemarinya. "Sar..bangun. sudah lama kamu tertidur sejak kecelakaan itu. Maafkan aku, aku yang salah dan berdosa padamu. Maafkan aku. Bangunlah, biar kita bina cinta kita bersama. Aku kangen suaramu, tatapan matamu. Bangunlah." Itu...suara Bagas.
Suara yang selalu ia rindukan, sekalipun Bagas telah menjadi robot ciptaan paman Aris. Perlahan matanya bergerak, terbuka.
"Sar.. Akhirnya kamu bangun." Tapi, tunggu ada yang salah. Bagas yang didepanya duduk dengan kaos polo shirt berwarna putih, dan tubuhnya..tubuh yang bukan robot.
Tidak ada kabel-kabel disana, yang ada tubuh asli manusia."Kau sudah pulih Gas, kau sudah bukan robot lagi?" Tanyanya lirih.
"Robot?" Terlihat wajah bingung diwajahnya Bagas. "Syukurlah kamu sudah terbangun, sebentar aku akan memanggil dokter kemari."
Sari menghentikan gerakannya, dan menggeleng. Bagaimana nanti kalau Aris datang kembali? Kemana kami harus kabur. Karena satu-satunya pintu hanya diujung sana. Bagas menghentikan gerakannya, menatapnya heran.