Bab 17
- Gema di Balik Tirai Putih
Bagas terpaku. Ia menggenggam tangan Sari begitu erat, seolah-olah jika dilepaskan, gadis itu akan jatuh ke dalam jurang kegelapan yang tak berdasar.
Ia melihat ketakutan dimata Sari, bukan ketakutan pada kematian, melainkan ketakutan pada sesuatu yang lebih mengerikan.
"Gas, jangan panggil dokter," bisik Sari, suaranya parau terdengar "Paman Aris... dia di luar, kan? Dia sedang menunggu saat yang tepat untuk memasang kabel-kabel itu lagi."
Bagas mengernyitkan dahi. Ia mengusap punggung tangan Sari dengan ibu jarinya, mencoba menyalurkan kehangatan yang nyata, dan lembut.
"Sar, bicara apa kamu? Paman Aris ada di luar bersama orang tuamu, ya, tapi tidak ada kabel. Kamu kecelakaan, Sayang. Mobil kita terguling di tebing sebulan yang lalu. Kamu koma."
Sari menggeleng kuat-kuat. Baginya, rasa logam di lidah dan pemandangan langit yang retak itu terlalu nyata untuk sekadar disebut bunga tidur. "Dia psikopat, Gas. Dia mau kita jadi data. Jangan percaya dia!"
Tepat saat itu, pintu kamar berderit terbuka. Seorang perawat masuk membawa nampan berisi peralatan medis. Sari tersentak, tubuhnya menegang di balik selimut rumah sakit.
Matanya melebar, memindai wajah perawat itu dengan intensitas yang mengerikan.Wajah itu... tulang pipi yang tinggi, mata sipit yang dingin, dan tahi lalat kecil di sudut bibir."Maya,atau Sska?" desis Sari.
Perawat itu menghentikan langkahnya, tampak terkejut. "Maaf, Mbak Sari? Nama saya Suster Rina. Wah, syukurlah Mbak sudah sadar!" Sari tidak mendengar keramahan itu.
Di otaknya, wajah perawat itu terus berubah-ubah. Sedetik menyerupai Maya, asisten ayahnya yang ambisius, detik berikutnya menyerupai Siska, ibu tiri Bagas yang misterius dan serakah.
Keduanya adalah sosok yang dalam bayangannya tadi bekerja sama dengan Aris."Jangan mendekat!" Sari mencoba bangkit, namun selang infus di tangannya tertarik, menimbulkan rasa perih yang nyata.
"Tenang, Mbak. Saya cuma mau memeriksa tekanan darah dan memberikan obat," ujar perawat itu dengan senyum yang menurut Sari terasa sangat mekanis.
Bagas berdiri, mencoba menenangkan situasi. "Sar, tenang. Ini Suster Rina. Dia yang menjagamu selama ini." Sari menatap nanar ke arah perawat itu. Ia memperhatikan gerakan tangan sang suster saat menyiapkan suntikan ke saluran infus.
Apakah itu obat bius agar aku kembali ke simulasi? pikirnya liar. Di mata Sari, gerakan perawat itu tampak terlalu presisi, terlalu halus, seperti robot yang diprogram dengan sempurna.
"Dokter harus tahu Mbak Sari sudah bangun," kata perawat itu setelah selesai mencatat sesuatu di papan jalan.
Ia menghubungi dokter, mendengarkan penjelasan dokter. Ia keluar, dan ketika kwmbali membawa segelas air putih dan obat. Ia memberikan segelas air dan sebutir pil obat pada Bagas. "Tolong pastikan diminum ya, Mas. Ini agar pasien tidak syok setelah bangun dari koma panjang."
Setelah perawat itu keluar, suasana kamar kembali hening, hanya menyisakan bunyi bip dari monitor jantung yang berirama konstan."Minum dulu, Sar," Bagas menyodorkan obat itu.
Sari menatap pil tersebut seolah itu adalah racun. Namun, rasa lelah yang luar biasa mendadak menyerangnya. Efek dari trauma fisik dan mental yang tumpang tindih mulai mengambil alih.
Ia menatap Bagas, wajah pria yang ia cintai, yang kini tampak begitu hidup dengan rona merah di pipi dan napas yang hangat.
"Kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku lagi dengan rasa sakit," bisik Sari sebelum akhirnya menelan pil itu.
Bagas duduk kembali di sampingnya, membelai rambut Sari dengan penuh kasih sayang. Perlahan, mata Sari mulai memberat. Namun, sesaat sebelum ia benar-benar jatuh ke alam bawah sadar, pintu kamar kembali terbuka sedikit.
Dari celah pintu yang sempit, Sari melihat siluet seorang pria paruh baya berdiri di koridor yang remang. Dia mengenali siluet itu, pria itu mengenakan jas rapi, tangan kanannya memegang sebuah ponsel, sementara tangan kirinya mengenakan jam tangan.
Namun pandangan Sari mulai kabur, dan ia jatuh terlelap. Di sampingnya, Bagas tetap menggenggam tangannya, tidak menyadari bahwa Sari akan tertidur panjang.
Sari terbangun dalam kesendirian. Tak ada lagi selang yang membelit tubuhnya. Dengan perlahan, ia bangkit dan duduk di tepi ranjang. Begitu menapakkan kaki ke lantai, ia langsung melangkah pergi mencari keberadaan Bagas.
Ia menyusuri koridor rumah sakit yang sepi. Tidak ada seorangpun yang berjaga dan tidak ada yang lewat, semua terasa menyeramkan dalam rasa sepi ini. Sari tidak pernah membayangkan bahwa suara langkah kaki bisa terasa begitu penting.
Di dalam lorong putih itu, setiap detak jantungnya terasa seperti palu yang menghantam dada. Ia terus berlari, mengabaikan rasa perih di pergelangan tangannya tempat bekas jarum infus tadi menancap.
"Sari! Berhenti! Kamu merusak segalanya!"
Suara Paman Aris tidak lagi terdengar seperti paman yang bijak. Ada nada panik yang kasar di sana, seperti nada seorang ilmuwan yang melihat mikroskopnya pecah. Sari berlari sampai di ujung koridor.
Tembok marmer itu terasa dingin di punggungnya, tidak ada lagi lorong tempatnya bisa berlari. Buntu. Dalam keputusasaannya, ia merayap meraba-raba dinding, kuku-kukunya mencakar permukaan batu hingga terasa ngilu.
Dan di sanalah tanpa sengaja ia menekan sebuah dinding yang membawanya masuk kedalam ruang gelap. Dengan sekali tekan, keseimbangannya hilang. Dinding itu berputar, dan Sari jatuh terjerembap ke dalam kegelapan yang berbau oli dan debu.
Ia mendarat di atas tumpukan kabel yang berpilin seperti usus raksasa. Suasana di bawah teraa mencekam. Tidak ada tembok putih dan botol infus yang digantung, hanya lampu neon biru yang berkedip sekarat, memantul di genangan air yang entah dari mana.
Sari berjalan, menyeret kakinya yang terasa berat. Di ujung lorong bawah tanah itu, sebuah ruangan terbuka lebar. Matanya menangkap deretan tabung kaca silindee.
Di dalamnya, manusia-manusia mengapung dengan masker oksigen, mata mereka bergerak-gerak di balik kelopak yang tertutup seolah-olah mereka sedang tertidur dan bermimpi.
Lutut Sari lemas saat membaca label di tabung kesembilan. Sari Wicaksono.
"Jadi... aku memang tidak pernah bangun?" bisiknya.
Suaranya pecah, hilang ditelan dengung mesin."Kamu bangun, Sar. Hanya saja tidak di tempat yang kamu bayangkan." Sari tersentak. Di sudut ruangan, duduk seorang pria di depan deretan monitor yang menampilkan grafik gelombang otak yang kacau.
Johan.Ia memakai jaket lusuh, matanya merah karena kurang tidur, dan tangannya gemetar hebat saat memegang sebuah tablet kendali.
"Joh... apa-apaan ini?" Sari mendekat, suaranya antara marah dan ketakutan."Tabung itu... Paman Aris... kamu bagian dari mereka?"
Johan menoleh. Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua. "Aku bagian dari mereka agar aku bisa menjagamu, Sar! Aris ingin menghapus memorimu sepenuhnya karena kamu melihat apa yang tidak seharusnya kamu lihat di tebing itu. Dia ingin menjadikanmu subjek kontrol. Aku pura-pura kerja sama supaya aku bisa menulis ulang duniamu di atas sana. Supaya kita bisa punya akhir kehidupan yang bahagia, meski cuma dalam simulasi.
""Bahagia?" Sari tertawa getir, air mata mulai mengalir. Kamu membiarkan mereka memasang kabel di kepalaku sementara kamu bermain menjadi Tuhan di depan layar ini?"
BRAK!
Pintu besi di atas tangga berdentang keras. Suara sepatu bot menghantam lantai logam. Paman Aris dan dua orang pria bertubuh tegap muncul di ambang pintu.
"Cukup sandiwaranya, Johan,!" Paman Aris melangkah maju, jam tangannya berkilat di bawah lampu neon. "Sari adalah aset perusahaan. Kamu bukan penjaganya, kamu hanya penerjemah datanya. Berikan tablet itu, atau aku akan mencabut nyawanya dari server sekarang juga."
Johan berdiri, menghalangi jalan Aris. Ia menatap Sari, sebuah tatapan yang penuh keputusasaan. "Sar, kalau aku matikan saklar utama ini, simulasi di atas akan runtuh. Tapi aku tidak tahu apakah tubuhmu di tabung itu cukup kuat untuk menerima kejutan listriknya. Kamu bisa bangun di dunia nyata... atau kamu tidak akan pernah bangun lagi."
Sari menatap tabung kacanya, lalu menatap Aris yang semakin dekat dengan wajah predatornya. Ia tidak lagi peduli pada rasa takut. Ia hanya ingin kebenaran, seberapa pun sakitnya.
"Lakukan, Joh" desis Sari tajam. "Aku lebih baik mati sebagai manusia daripada hidup selamanya sebagai deretan angka di layar itu