Cinta Di Langit Senja

Penulis tjen_wati
13 February 2026

Bab 18

Cahaya Jingga yang Beracun

Sari memaksakan dirinya berdiri, berpegangan pada pinggiran tabung kaca yang tajam hingga telapak tangannya berdarah. Darah itu terasa hangat. Perih. Nyata.

"Setidaknya..." Sari terbatuk, darah merah segar menetes dari bibirnya. "Aku mati sebagai manusia."Langkah kaki berat mulai terdengar dari balik pintu besi. Bukan langkah kaki manusia, melainkan suara mekanis yang sistematis.

Pembersih otomatis sedang datang untuk menghapus kesalahan terakhir di fasilitas ini.Sari mengambil sepotong kaca tajam dari lantai, menatap pintu yang perlahan terbuka, dan bersiap untuk satu-satunya pertarungan nyata dalam hidupnya.

Pintu besi itu berderit, engselnya yang berkarat dipaksa terbuka oleh hidrolik tua yang haus pelumas. Sari mencengkeram pecahan kaca tabung nomor sembilan hingga telapak tangannya terasa panas oleh darah. Ia tidak merasakan sakit, adrenalin telah mematikan sarafnya, menyisakan insting untuk bertahan hidup.

Klang. Klang. Klang.

Suara langkah itu bukan sepatu bot Paman Aris. Itu adalah bunyi logam bertemu logam. Dari balik debu yang tersingkap, sebuah unit pembersih otomatis, robot pemelihara dengan sensor inframerah yang berdenyut merah muncul.

Lengan mekaniknya yang berbentuk capit berlumuran oli hitam."Subjek 09. Anomali terdeteksi. Netralisasi dimulai," suara monoton itu bergema di dinding bungker.Sari tidak menunggu. Sebelum mesin itu mengunci target, ia melemparkan potongan kaca ke arah lensa sensornya dan merosot di antara celah tumpukan kabel.

Ia memanjat tangga besi menuju celah cahaya jingga di atas sana dengan sisa tenaga yang mustahil.Di belakangnya, ledakan listrik menghantam lantai tempat ia berdiri tadi.

Begitu kepalanya menyembul keluar dari lubang palka, Sari tertegun. Paru-parunya mendesis saat menghirup udara yang terasa seperti menelan pasir panas.

Dunia bukan lagi tempat yang ia kenal.Langit bukan biru, melainkan warna tembaga yang membusuk. Matahari hanya tampak seperti cakram putih pucat di balik kabut polusi yang tebal.

Di kejauhan, gedung-gedung pencakar langit Jakarta atau apa pun kota ini dulunya, berdiri seperti nisan raksasa yang sudah keropos. Tidak ada lampu, tidak ada klakson, hanya siulan angin yang membawa bau belerang.

Pohon-pohon menghitam, rantingnya kering tanpa daun, seolah diserap hidup-hidup oleh tanah yang beracun.Sari menyeret tubuhnya keluar dari lubang bungker yang tersembunyi di balik reruntuhan sebuah gereja tua.

Ia jatuh terduduk di atas tanah yang tertutup abu putih halus."Ini... nyata?" bisiknya, menatap tangannya yang kotor dan bergetar.Saat ia mulai putus asa, sebuah pantulan cahaya mengenai matanya dari balik reruntuhan pilar di depannya.

Sari menegang, mengira itu adalah mesin pembersih lain. Namun, matanya menangkap sesuatu yang lebih manusiawi.Sebuah simbol dicat dengan warna merah terang di dinding beton yang runtuh, S-31. NYALA. Di bawah simbol itu, terdapat sebuah kotak kecil dari seng yang terkubur separuh di dalam abu. Dengan jari-jari yang perih, Sari membukanya.

Di dalamnya bukan emas atau makanan, melainkan sebuah masker gas usang dan sebuah catatan kecil yang ditulis tangan dengan tinta yang sudah hampir pudar."Jika kau bisa bangun tanpa bantuan mesin, kau adalah evolusi yang mereka takuti. Ikuti jejak matahari terbenam. Jangan percaya pada suara di udara."Sari mengenakan masker gas itu.

Suara napasnya sendiri kini terdengar berat dan teredam, mirip seperti saat ia berada di dalam simulasi, namun kali ini ada detak kehidupan yang nyata di sana.Tiba-tiba, dari arah balik kabut jingga, terdengar suara frekuensi radio yang statis. Bukan dari pengeras suara, tapi dari arah pergelangan tangannya sendiri. Sari terbelalak.

Di bawah kulit pergelangan tangannya, ada sesuatu yang berdenyutsebuah chip pelacak yang masih aktif.

Tit. Tit. Tit.

Suara itu semakin cepat. Dan dari kejauhan, di atas reruntuhan gedung, sebuah drone pengintai dengan logo perusahaan "AETERNA" logo yang sama dengan jam tangan Paman Aris mulai mengarahkan moncong sensornya ke arah posisi Sari.

Sari menyadari satu hal, Keluar dari tabung hanyalah awal dari pelarian yang lebih besar. Ia bukan satu-satunya yang tersisa, tapi ia adalah buruan yang paling dicari.Ia mulai berlari menembus badai abu, menuju ufuk jingga, sementara bayangan-bayangan manusia berpakaian pelindung lengkap mulai muncul dari balik kabut dengan senjata terkokang.

Langkah kaki Sari menghantam abu tebal, menciptakan awan putih yang mencekik setiap kali ia melompat melewati puing-puing beton.

Di belakangnya, suara dengungan drone AETERNA semakin nyaring, seperti sekumpulan lebah raksasa yang haus darah.Sensor laser merah menyapu jalanan di sampingnya, membakar sisa-sisa ban mobil yang sudah menjadi fosil di aspal."Jangan menoleh, terus lari!" Sari membatin, dadanya terasa seperti terbakar di balik masker gas usang itu.Ia melesat masuk ke dalam bangkai sebuah mal megah yang kini hanya berupa kerangka besi berkarat.

Di dalam sana, kegelapan menjadi kawan sekaligus lawan. Sari bersembunyi di balik pilar yang miring, menahan napas hingga paru-parunya sakit. Melalui celah beton, ia melihat tiga siluman berbaju pelindung hitam pasukan taktis AETERNA, turun dari kendaraan taktis yang melayang tanpa suara.

Mereka bergerak dengan presisi mesin."Target terdeteksi di koordinat sektor 4. Jangan rusak jaringan otaknya, Aris menginginkannya utuh," suara itu muncul dari radio komunikasi salah satu pengejar, dingin dan tanpa ampun.Sari meraba pergelangan tangannya.

Chip di bawah kulitnya berdenyut semakin panas, seolah-olah benda itu mencoba meledakkan nadinya sendiri. Ia harus mematikan benda ini, atau ia akan menjadi lilin yang menyala di tengah kegelapan bagi mereka.Saat ia mencoba mundur perlahan, sebuah tangan kasar tiba-tiba membungkam mulutnya dari belakang.

Sari meronta, pecahan kaca di tangannya siap menghujam leher sosok tersebut, namun sebuah bisikan serak menghentikan gerakannya."Kalau kau ingin hidup, berhenti bergerak. Darahmu terlalu berisik bagi sensor mereka."Sari membeku. Sosok itu mengenakan jubah kumal yang senada dengan warna abu di luar, wajahnya tertutup kain lusuh dengan kacamata pelindung yang retak.

Tanpa menunggu persetujuan, orang asing itu menarik Sari masuk ke sebuah lubang sempit di bawah eskalator yang hancur, sebuah celah yang tampak seperti tumpukan sampah namun ternyata adalah pintu rahasia.

Mereka merosot turun ke dalam kegelapan total, meluncur di pipa drainase yang kering selama beberapa detik sebelum mendarat di lantai semen yang lembap.Sari segera bangkit, mengarahkan kacanya ke arah sosok tadi.

"Siapa kau? Dimana ini?"Cahaya senter yang redup menyala satu per satu, menyingkap sebuah ruangan luas di bawah tanah yang dipenuhi dengan monitor tua yang berkedip-kedip dan kabel-kabel yang menjalar berantakan.

Ada sekitar belasan orang di sana, wajah mereka kuyu namun mata mereka memancarkan tatapan tajam yang waspada."Selamat datang di sisa-sisa kenyataan, Subjek 09," ujar seorang wanita tua yang duduk di depan deretan layar komputer, jemarinya yang keriput menunjuk ke arah pergelangan tangan Sari.

"Chip itu bukan cuma pelacak. Itu antena. Aris sedang mencoba mengunduh kesadaranmu kembali ke server saat kita bicara."