Bab 19
- Sinyal di Bawah Kulit
Sari menatap tangannya yang kini mulai mengeluarkan cahaya biru redup dari bawah kulit. "Matikan ini. Tolong, cabut benda ini dari tubuhku!""Kami bisa melakukannya," kata pria yang membawanya tadi sambil membuka masker gasnya, menampakkan bekas luka bakar yang melintang di pipinya.
"Tapi begitu sinyalnya hilang, Aris akan tahu tepat di mana lubang tikus ini berada. Dia akan meratakan tempat ini dalam hitungan menit."
Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar hebat. Debu jatuh dari langit-langit. Suara dentuman keras terdengar dari atas kepala mereka, suara bor hidrolik yang mulai menembus lapisan beton perlindungan mereka.
Di layar monitor, muncul sebuah pesan teks berwarna merah yang memenuhi seluruh layar, menutupi data-data lainnya.'SARI, AKU BISA MELIHATMU DARI DALAM SANA. JANGAN BIARKAN MEREKA MENYAKITIKU DENGAN MEMUTUS KITA.
'Itu bukan sekadar pesan. Sari merasakan kepalanya dihantam gelombang vertigo yang hebat. Suara Aris kini bergema langsung di dalam tengkoraknya, bukan lewat telinga, tapi lewat sarafnya."Dia sudah masuk..."
Sari mengerang, jatuh berlutut sambil memegangi kepalanya yang terasa seperti mau pecah. "Dia sudah ada di dalam kepalaku!"
Pria berbekas luka itu menghunus pisau bedah karatan dan memandang ke arah tangga darurat yang mulai retak dihantam pasukan dari atas. "Waktu kita habis. Sari, kau ingin kami memutus chip itu sekarang dan membiarkan kita semua bertarung di sini, atau kau ingin menyerahkan diri agar kawan-kawanku punya kesempatan untuk lari?"
Sari menatap pintu baja di ujung ruangan yang mulai penyok akibat ledakan dari luar. Di antara rasa sakit yang luar biasa dan bayangan Aris yang tersenyum di dalam benaknya, ia menyadari satu hal pahit, di dunia yang sudah hancur ini, kebebasan selalu meminta bayaran berupa nyawa.
"Potong tangan ini," desis Sari sambil meletakkan pergelangan tangannya di atas meja besi. "Sekarang!"Gedoran di pintu utama meledak. Pintu itu terlempar ke dalam, menampakkan moncong senjata laser yang sudah menyala merah di tengah kabut asap.
"Tangan ini harus tetap utuh," kata pria berbekas luka, suaranya tegas di tengah riuhnya dentuman di atas. Dia menyingkirkan pisau bedah, lalu mengambil sebuah alat yang tampak seperti tang kecil namun runcing.
"Kita hanya akan mengeluarkan sumber sinyalnya."
Sari mengangguk, napasnya tersengal. Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi, seolah ada ribuan jarum menusuk-nusuk otaknya. Di monitor, tulisan merah "MENYAKITIKU" berkedip-kedip, memenuhi pandangannya.
"Cepat!" teriak seorang wanita dari arah tangga darurat, serpihan beton berjatuhan di dekatnya. "Mereka hampir masuk!"
Pria itu menekan pergelangan tangan Sari dengan kuat, mengisolasi area yang bercahaya biru. Dengan gerakan cepat dan presisi mengerikan, tang kecil itu menembus kulit Sari.Sari menjerit tertahan, tubuhnya menegang, tetapi dia tidak menarik tangannya.
Cairan biru kehitaman menyembur keluar bersama sedikit darah, dan sebuah benda kecil seukuran biji jagung dengan kilauan metalik tercabut dari pergelangan tangannya.
Cahaya biru di tangan Sari meredup, lalu padam sepenuhnya. Bersamaan dengan itu, keheningan menyerbu kepalanya. Suara Aris, tulisan merah di monitor, semuanya lenyap. Sari merasakan kelegaan yang luar biasa, diikuti oleh kelemahan yang mendera.
"Sekarang!" Pria itu berteriak kepada timnya. "Pencar! Bertemu di sektor Gamma dalam tiga jam!" Detik berikutnya, pintu baja utama meledak dengan suara memekakkan telinga. Asap tebal dan debu mengepul, menyusul kilatan cahaya laser yang mematikan.
"Sari, ikut aku!" Pria berbekas luka itu menarik Sari berdiri, tangannya menekan luka di pergelangan tangan Sari dengan kain kotor.
Mereka berlari menyusuri lorong gelap yang sempit, suara tembakan dan ledakan semakin mendekat di belakang mereka.Kelompok itu tercerai-berai.
Sari melihat beberapa rekannya berpencar ke arah yang berbeda, memanfaatkan lorong-lorong tikus dan celah sempit di dalam kompleks bawah tanah.Mereka adalah penyintas, terbiasa bergerak cepat dan tak terduga.
"Kita harus lebih dalam," gumam pria itu, membimbing Sari menuju sebuah pintu jebakan tersembunyi di lantai.Mereka turun ke dalam kegelapan yang lebih pekat, menembus lapisan-lapisan reruntuhan yang pernah menjadi jantung kota.
Bau apak tanah basah, besi berkarat, dan sesuatu yang busuk menusuk hidung Sari. Lampu senter kecil yang dipegang pria itu sesekali menyorot dinding-dinding yang retak, menampakkan kabel-kabel putus menjuntai seperti urat nadi yang tercabik.
"Dulu ini adalah jalur kereta bawah tanah," bisik pria itu, langkah kakinya berhati-hati di atas puing-puing. "Sekarang hanya labirin yang bisa membunuhmu."
Suasana persembunyian bawah tanah ini mencekam. Udara terasa berat dan pengap. Di beberapa titik, rembesan air menetes dari langit-langit, menciptakan genangan di lantai yang memantulkan cahaya senter redup, menambah kesan menyeramkan. Bayangan mereka menari-nari di dinding, memanjang dan memendek mengikuti gerak maju mereka.
Sesekali, suara tikus berlarian atau reruntuhan yang bergeser menambah ketegangan. Mereka seperti masuk ke dalam perut bumi yang dingin dan tak berbelas kasihan, tempat di mana manusia hanya bisa berharap untuk bertahan hidup di antara puing-puing masa lalu yang kelam.
Pria itu mendadak berhenti di sebuah persimpangan lorong yang terendam air setinggi mata kaki. Ia mematikan senternya. Kegelapan total langsung menyergap, menyisakan suara tetesan air yang menggema ritmis, seperti detak jantung yang sedang sekarat.
"Kenapa berhenti?" bisik Sari, suaranya gemetar. Tangannya yang baru saja 'dioperasi' terasa berdenyut nyeri, panas, dan kaku.
"Diam," tukas pria itu. "Dengar."Di kejauhan, terdengar suara mekanis halus. whirrr...Disusul denyut cahaya merah yang memindai dinding-dinding lembap.
Drone pelacak Aris sudah masuk ke dalam sistem drainase. Mereka tidak punya banyak waktu.Pria itu menarik Sari ke sebuah ceruk sempit di balik trafo listrik yang sudah mati. Tubuh mereka berimpitan dalam ruang yang sangat terbatas.
Bau keringat, mesiu, dan karat bercampur menjadi satu."Siapa kau sebenarnya?" tanya Sari, menatap siluet wajah pria itu yang hanya diterangi pantulan cahaya merah pucat dari kejauhan.
"Kau tahu terlalu banyak tentang chip itu. Kau bukan sekadar penyintas biasa."Pria itu menghela napas berat. Ia menyentuh bekas luka bakar di pipinya, sebuah gerakan refleks yang sepertinya sering ia lakukan saat gelisah.
"Namaku Lukas," ucapnya lirih. "Sepuluh tahun lalu, aku adalah kepala tim pengembang bio-integrasi di bawah perintah Aris. Akulah yang merancang prototipe awal sensor yang baru saja kucabut dari tanganmu."Sari tersentak, mencoba menjauh, namun punggungnya membentur dinding beton yang dingin.
"Kau... kau yang menciptakan penjara ini?"
"Aku menciptakan alat komunikasi, Sari. Aris yang mengubahnya menjadi belenggu," Lukas memegang bahu Sari, memaksa gadis itu menatap matanya.
"Aris tidak mengejarmu karena dia menyayangimu karena kamu keponakan nya, atau karena kau aset berharga perusahaan. Dia mengejarmu karena kau adalah satu-satunya manusia yang sistem sarafnya tidak menolak sinkronisasi total. Kau adalah pintu yang dia butuhkan."
"Kenapa kamu tau riwayat ku? Pintu untuk apa?"
Lukas terdiam sejenak. Suara drone semakin dekat. Cahaya merahnya mulai menyapu lorong di depan mereka."Aris sedang sekarat, Sari. Tubuh fisiknya hancur karena penyakit degeneratif. Dia ingin memindahkan kesadarannya secara utuh ke dalam jaringan saraf orang lain agar bisa hidup selamanya. Dan dia memilihmu bukan karena kebetulan. Dia memilihmu karena kau adalah satu-satunya bagian dari dirinya yang masih tersisa di dunia ini."
Dunia Sari seolah runtuh lebih cepat daripada beton di atas kepala mereka. "Apa maksudmu?"Lukas menelan ludah, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi bising mesin drone yang kini berada tepat di balik dinding persembunyian mereka.
"Aris bukan sekadar obsesif, Sari. Dia...dia.. seperti seorang monster."
Tepat saat kata-kata itu terucap, sebuah laser pemindai berhenti tepat di depan celah persembunyian mereka. Lampu drone yang tadinya merah berubah menjadi hijau terang.
Sebuah suara statis keluar dari pengeras suara drone tersebut, suara yang sangat dikenal Sari, dingin, tenang, dan penuh otoritas."Sari... kau tidak bisa lari dari darahmu sendiri. Kembalilah, atau aku akan menghancurkan setiap inci tanah tempatmu berpijak."L
ukas menarik pelatuk pistolnya, bersiap untuk konfrontasi terakhir, sementara Sari hanya bisa terpaku. Rasa sakit di pergelangan tangannya mendadak hilang, digantikan oleh kedinginan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Aris tidak hanya ingin menangkapnya; Aris ingin menjadi dirinya.