Bab 20
- Wadah Yang Retak
"Tunggu," Lukas berbisik, jemarinya yang kasar menekan lengan Sari saat moncong drone itu mulai berputar, membidik tepat ke arah jantung mereka.Lukas tidak menembak. Matanya justru terpejam sedetik, seolah sedang memanggil ingatan yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.
"Aris tidak pernah melihat manusia sebagai manusia, Sari," suara Lukas nyaris tak terdengar, tenggelam dalam dengung mesin drone yang kian meninggi.
"Dulu, di laboratorium inti, aku melihatnya menyuntikkan serum kegelapan itu ke tubuhnya sendiri. Dia terobsesi pada keabadian. Saat itu, dia berteriak bahwa maut hanyalah masalah teknis yang bisa dipecahkan dengan baris kode." Lukas menoleh ke arah Sari, matanya berkaca-kaca oleh amarah masa lalu.
"Suatu malam, sepuluh tahun lalu, dia membawaku ke sebuah ruangan steril. Di sana ada seorang anak kecil yang sedang tidur. Dia memaksaku memasang sensor sinkronisasi pertama pada saraf anak itu. Aku menolak. Itulah saat dia menyulut api di wajahku, dia membakar laboratoriumnya sendiri hanya untuk melenyapkan saksi mata. Anak itu... anak itu meninggal dalam kebakaran." Sari merasa isi perutnya bergejolak.
Merasakan kesadisan Aris, melenyapkan satu nyawa yang tak berdosa, seorang anak kecil."Jadi aku... aku hanya eksperimen baginya?" suara Sari tercekat.
"Lebih buruk dari itu," jawab Lukas parau. "Kau adalah cadangan nyawanya. Aris tahu tubuhnya akan membusuk, maka dia menanamkan separuh data otaknya ke dalam sarafmu, sejak gagal di anak kecil. Itulah kenapa dia bisa berbicara di dalam kepalamu. Kau bukan keponakannya, Sari. Kau adalah wadah yang dia persiapkan untuk menampung jiwanya yang busuk."
Tiba-tiba, suara whirrr... yang memekakkan telinga itu terhenti. Lampu hijau pada drone itu berkedip-kedip tidak stabil, lalu meredup. Cahaya merah yang tadinya tajam kini berubah menjadi kuning pucat yang bergetar.
Drone itu tampak limbung, menabrak dinding beton sebelum akhirnya mendarat kasar di atas air yang menggenang.Hening. Sunyi yang sangat ganjil."Apa yang terjadi?" Sari memberanikan diri untuk bersuara.
Lukas mengernyit, tangannya masih waspada pada pelatuk pistol. Ia melirik sebuah panel kontrol tua di dinding yang mendadak mengeluarkan percikan api." Sinyal interferensi. Sesuatu atau seseorang di luar sana baru saja memutus gelombang transmisi Aris secara paksa. Ini tidak mungkin dilakukan oleh tim kita yang tadi.
"Lukas melihat celah. Drone itu membutuhkan waktu sekitar tiga puluh detik untuk melakukan reboot sistem otomatis."Ini satu-satunya kesempatan kita, Sari," Lukas menarik tangan Sari, memaksa gadis yang masih syok itu untuk bergerak.
"Jika kita bisa mencapai terowongan pembuangan di sektor timur sebelum drone itu bangun kembali, kita punya peluang untuk menghilang dari radarnya selamanya." Mereka berlari menembus air yang menciprat ke mana-mana, langkah kaki mereka bergema di lorong yang gelap.
Di belakang mereka, suara mesin drone itu mulai terdengar lagi, suara putaran baling-baling yang mencoba hidup kembali.Namun, saat mereka hampir mencapai tikungan lorong, langkah Sari terhenti.
Di dinding lembap tepat di depan mereka, sebuah proyektor kecil dari drone cadangan yang tersembunyi menyorotkan gambar statis ke dinding.Bukan pesan teks kali ini.
Melainkan sebuah foto tua yang buram, seorang pria muda yang sangat mirip dengan Aris, sedang menggendong bayi kecil di depan sebuah rumah yang sudah lama runtuh. Di bawah foto itu tertulis sebuah kalimat pendek yang membuat darah Sari membeku.'LUKAS TIDAK MENCERITAKAN SELURUHNYA, SARI. TANYAKAN PADANYA, SIAPA YANG MENYULUT API MALAM ITU.'
Sari melepaskan pegangan tangan Lukas. Ia menatap pria di sampingnya itu dengan tatapan penuh keraguan yang baru. Drone di belakang mereka mulai terangkat kembali dari air, sensor merahnya menyala lebih terang dari sebelumnya, namun Sari tidak lagi tahu siapa yang sebenarnya harus ia takuti.
Lukas terengah-engah, menatap Sari dengan wajah pucat." Sari, jangan dengarkan dia! Kita harus lari!"Suara mesin drone semakin mendekat, namun keraguan di mata Sari jauh lebih mematikan daripada senjata laser apa pun.
"Lari, Sari! Sekarang atau tidak sama sekali!" Lukas membentak, suaranya pecah oleh kepanikan yang nyata. Sari menatap foto di dinding itu sekali lagi. Mata pria di foto itu, mata Aris muda seolah menatapnya balik dengan seringai kemenangan.
Aris ingin dia berhenti. Aris ingin dia ragu. Dan di dunia yang sudah hancur ini, keraguan adalah cara tercepat untuk mati.Sari menarik napas tajam, lalu menyambar kembali tangan Lukas yang kasar. "Jangan mati di sini," desis Sari.
Mereka memutar tubuh, memacu tungkai sekuat tenaga menembus kegelapan. Di belakang mereka, drone itu mengeluarkan suara chirp nyaring, sistemnya telah reboot. Kilatan laser merah menyapu dinding tepat di atas kepala Sari, menghanguskan beton dan menebarkan bau sangit yang tajam.
"Masuk ke sana!" Lukas menunjuk sebuah lubang pembuangan sempit yang ditutupi jeruji besi yang sudah karatan. Dengan satu tendangan keras, Lukas menghancurkan jeruji yang rapuh itu.
Ia mendorong Sari masuk lebih dulu ke dalam lorong pipa yang lembap dan licin. Tepat saat Lukas menarik kakinya masuk, sebuah ledakan kecil menghantam bibir pipa, mengirimkan gelombang panas dan serpihan besi ke dalam.
Mereka merangkak dalam sunyi yang mencekam selama beberapa menit, hanya ditemani suara napas yang memburu dan gesekan baju dengan logam pipa.
Setelah menempuh jarak yang terasa seperti satu kilometer, lorong itu berakhir di sebuah ruang teknis kecil yang tersembunyi di balik dinding bendungan tua.Lukas ambruk ke lantai beton yang kering, punggungnya bersandar pada tangki air raksasa.
Ia memegangi dadanya, mencoba mengatur napas yang tersenggal. Di luar sana, suara dengung drone perlahan menjauh, kehilangan jejak karena tebalnya dinding timbal di ruangan ini.
Sari duduk di hadapannya, memeluk lutut. Tangannya yang terluka masih berdenyut, namun pikirannya jauh lebih bising. "Foto itu..." suara Sari serak. "Aris bilang kau yang menyulut api itu."
Lukas mendongak. Di bawah cahaya lampu darurat yang berkedip redup, bekas luka di pipinya tampak lebih mengerikanmerah dan berkerut.
Ia tertawa kecil, sebuah tawa getir yang tidak sampai ke mata." Itu senjatanya yang paling mematikan, Sari. Bukan laser, bukan chip, tapi kebohongan," Lukas menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang kotor.
"Dia ingin kau merasa sendirian. Jika kau tidak percaya padaku, kau akan menyerahkan diri padanya karena kau pikir tidak ada tempat aman di dunia ini. Dia pembunuh, tapi dia juga seorang manipulator ulung."
Lukas menatap matanya dalam-dalam. "Aku memang menyulut api itu, Sari. Tapi bukan untuk membunuh. Aku membakar laboratorium itu agar data sinkronisasinya hancur, agar tidak ada lagi korban-korban selanjutnya. Tapi ternyata aku salah, ia benar-benar monster, bajingan, penjahat sadis dan ulung. Dia mampu menyulap semua yang hancur menjadi bisa terpakai kembali. Dan sepuluh tahun lalu, aku gagal melakukannya dengan sempurna. Bekas luka ini adalah harga yang harus kubayar karena mencoba melawannya."
Sari terdiam. Kebenaran di dunia ini terasa seperti pecahan kaca, setiap bagian yang kau ambil akan melukaimu. Namun, melihat sorot mata Lukas yang lelah, Sari tahu pria ini tidak sedang berakting.
"Kita tidak bisa lama di sini," Lukas bangkit dengan susah payah, mengulurkan tangannya pada Sari. "Sinyal interferensi tadi tidak akan bertahan lama. Kita harus bergerak ke Sektor Gamma. Tim yang lain sudah menunggu di sana."
Sari menyambut tangan itu. Kekakuan di hatinya sedikit mencair, meski bayangan foto itu masih membekas di benaknya.Mereka kembali menyusuri labirin bawah tanah, kali ini menuju jalur evakuasi yang lebih dalam. Perjalanan itu sunyi, hanya diiringi langkah sepatu boot yang beradu dengan lantai kerikil.
Sari menatap punggung Lukas yang tegap namun ringkih, menyadari bahwa perjalanan ini bukan lagi sekadar pelarian dari kejaran pasukan laser. Ini adalah perjalanan menuju pusat badai, menuju tempat di mana tim Lukas para pemberontak yang tersisa sedang menyusun rencana untuk mengakhiri kegilaan Aris
Di kegelapan terowongan yang seolah tak berujung, Sari bertanya-tanya, apakah mereka sedang berlari menuju kebebasan, atau justru menuju perang yang akan menghanguskan sisa-sisa kemanusiaan mereka.