Cinta Di Langit Senja

14 February 2026

Bab 21

  • Jantung Sektor Gamma

Langkah kaki mereka bergema hampa saat memasuki pintu baja hidrolik yang berdecit ngilu. Sektor Gamma bukan sebuah markas megah, itu adalah tempat yang terbengkalai dan bau oli mesin, keringat manusia, dan aroma apek kabel yang terbakar menyambut indra penciuman Sari.

Di ruang utama yang remang-remang, tiga sosok berdiri tegak di balik meja peta digital yang berpendar biru pucat."Kau terlambat, Lukas. Dan kau membawa... dia ke sini," suara seorang wanita memecah keheningan.Namanya Raina, dengan rambut cepak dan tatapan sedingin es yang seolah bisa membedah isi kepala Sari.

Lukas tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi besi. "Drone Aris hampir menguliti kami di gorong-gorong. Ada interferensi eksternal yang menyelamatkan kami. Siapa?"

Seorang pria tambun dengan kacamata retak bernama Bimo mengangkat tangan tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. "Bukan kami. Sinyal itu terlalu kuat, terlalu bersih. Seolah-olah seseorang di dalam sana sengaja mematikan saklar untukmu."

Sari merasakan bulu kuduknya meremang. Seseorang di dalam? Apakah Aris sedang bermain kucing-kucingan lagi?

"Duduklah, Sari," ujar pria ketiga, Jono, yang tampak paling tua dan tenang.Namun, Sari menyadari satu hal, Jono terus-menerus memutar-mutar sebuah koin logam di jemarinya, sebuah gestur kegelisahan yang coba disembunyikan.

Raina mendekati Sari, jaraknya sangat dekat hingga Sari bisa melihat pantulan dirinya di mata wanita itu. "Kau tahu apa yang ada di kepalamu, Nak? Lukas mungkin bilang kau cadangan nyawa. Tapi bagi kami, kau adalah bom waktu. Jika Aris berhasil memicu perintah sinkronisasi penuh, kau bukan lagi Sari. Kau adalah dia. Dan saat itu terjadi, aku tidak akan ragu untuk melubangi kepalamu".

"Raina, cukup!" bentak Lukas, suaranya parau.

"Kenapa? Kau takut dia tahu bahwa rencanamu juga tidak sepenuhnya bersih?" Raina terkekeh sinis, lalu melemparkan sebuah folder usang ke atas meja.Sari memberanikan diri membuka folder itu. Di dalamnya terdapat denah Markas Inti Aris yang berada tepat di atas koordinat mereka saat ini, sebuah gedung pencakar langit yang menyamar sebagai pusat riset energi.

""Apa ini?" tanya Sari, suaranya bergetar.

Lukas terdiam, menatap lantai. Elias-lah yang menjawab, suaranya berat dan penuh penyesalan. "Rencana sebelumnya, tadinya kami bukan hanya menghancurkan Aris, Sari. Rencananya adalah menggunakanmu sebagai pintu masuk. Kami akan mengunggah virus lewat sarafmu saat Aris mencoba mengambil alih tubuhmu. Itu akan menghancurkan kesadarannya secara total... tapi itu juga akan menghapus seluruh memori dan kepribadianmu. Kau akan menjadi cangkang kosong."

Dunia seolah runtuh di bawah kaki Sari. Di satu sisi ada Aris yang ingin mencurinya, di sisi lain ada tim ini yang ingin menjadikannya tumbal demi kemenangan.Rencana Gila.

"Kita tidak punya pilihan lainnya, tapi kini aku berpikir lain untuk rencana ini," Lukas akhirnya bicara, matanya merah karena kelelahan.

"Aris sedang mempersiapkan protokol Keabadian malam ini. Jika kita tidak menyerang markasnya sekarang, dia akan menyebarkan datanya ke seluruh jaringan satelit. Dia akan ada di mana-mana. Di setiap ponsel, setiap komputer, setiap otak yang memiliki chip." Bimo menekan sebuah tombol, dan peta digital itu berubah menjadi simulasi serangan.

"Markas Aris dikelilingi oleh perimeter laser kelas empat. Tapi, ada satu titik buta di lift pembuangan limbah kimia. Kita masuk dari sana, kita langsung ke ruang server utama."

"Lalu apa?" Sari bertanya, menantang maut dengan suaranya yang kini mengeras. "Kalian akan 'menghapus' aku? Atau apa rencana lainnya?"

Lukas berdiri, mendekati Sari, dan memegang bahunya. "Aku sedang mencari cara lain, Sari. Sumpah. Tapi sekarang, kita harus bergerak. Aris sudah tahu kita di sini."

Tiba-tiba, lampu di Sektor Gamma berkedip merah. Suara sirine yang melengking memekakkan telinga. Layar monitor Bimo meledak dalam percikan api, menampilkan satu pesan singkat dalam huruf kapital yang berulang-ulang.'AKU SUDAH DI SINI.'

Pintu baja yang tadi mereka lalui mulai bergetar hebat, seperti ada sesuatu yang sangat besar sedang mencoba mendobraknya dari luar. Bukan drone, tapi sesuatu yang lebih berat, lebih masif.

"Mereka menemukan kita!" teriak Raina sambil mengokang senjatanya.Di tengah kepanikan itu, Sari merasakan denyut aneh di belakang telinganya. Suara Aris kembali terdengar, namun kali ini bukan sebuah bisikan, melainkan sebuah tawa yang tenang dan penuh kemenangan di dalam benaknya.

"Sari sayang... kau pikir mereka kawanmu? Lihatlah ke bawah mejamu."Sari menunduk. Di bawah meja tempat Lukas duduk, terdapat sebuah alat pelacak kecil dengan lampu merah yang berkedip seirama dengan detak jantungnya.

Pelacak itu bukan milik Aris. Juga bukan milik Lukas. Ada pengkhianat disini. Sari menatap Lukas dengan horor saat pintu baja itu hancur berantakan, debu mengepul menutupi sosok yang masuk.

Sebelum ia sempat berteriak, sebuah ledakan cahaya membutakan ruangan itu.Asap putih pekat dari granat kejut memenuhi ruangan, membuat paru-paru Sari terasa seperti terbakar.

Di tengah sisa denging telinga yang memekakkan, penglihatan Sari kabur, namun satu hal yang tertangkap matanya tetap jelas, lampu merah di bawah meja itu.Pelacak itu bukan milik Aris. Alat itu dipasang oleh seseorang yang sangat dekat dengannya beberapa saat lalu.

"Tiarap!" teriak Lukas, namun suaranya terdengar jauh, teredam oleh dentuman sepatu bot militer yang menghantam lantai besi.Pintu baja yang hancur kini menjadi lubang masuk bagi pasukan elit Aris.

Mereka bukan drone; mereka adalah manusia-manusia tanpa jiwa dengan baju zirah taktis hitam legam. Tembakan laser membelah kabut, menyambar bahu Jono hingga pria tua itu terpental, koin logamnya jatuh dan menggelinding di lantai yang berlumur oli.

"Raina, lindungi sisi kiri! Bimo, hancurkan server cadangan!" perintah Lukas sambil menarik pistolnya.Sari merayap di bawah meja, jemarinya gemetar menyentuh alat pelacak itu. Ia menariknya paksa. Di balik alat kecil itu, terukir sebuah inisial kecil yang hampir tak terbaca: B.M.

Darah Sari membeku. Ia menoleh ke arah Bimo yang sedang mengetik panik di monitornya."Bimo! Apa yang kau lakukan?!" teriak Sari di tengah desing peluru.

Bimo tersentak. Wajahnya yang tambun kini pucat pasi, peluh mengucur deras di balik kacamatanya yang retak. Ia tidak menjawab, tangannya terus menari di atas kibor, bukan untuk menghancurkan data, melainkan untuk membuka akses gerbang internal bagi pasukan Aris.

"Mereka memegang istri dan anakku, Sari!" raung Bimo tiba-tiba, suaranya pecah oleh isak tangis yang histeris. "Aris mengirim video mereka pagi ini... mereka diikat di atas tangki pembuangan! Aku tidak punya pilihan!"

"Kau menjual kami semua?!" Raina meraung, ia memutar moncong senjatanya ke arah Bimo, namun sebelum pelatuk ditarik, sebuah ledakan dari langit-langit meruntuhkan beton besar tepat di antara mereka.

Ruangan itu berubah menjadi neraka. Aris tidak berniat menangkap mereka hidup-hidup, kecuali Sari. Pasukannya menembak membabi buta ke arah Raina dan Lukas.

"Sari, lari ke lift limbah! Sekarang!" Lukas menerjang ke arah Sari, menggunakan tubuhnya sebagai perisai saat rentetan peluru menghantam meja besi di atas mereka.

"Tapi Bimo..."

"Sudah terlambat bagi dia!" Lukas menarik lengan Sari dengan kasar.

Sari menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Ia melihat Bimo duduk bersimpuh di depan monitor yang kini menampilkan wajah Aris yang tersenyum dingin. Detik berikutnya, salah satu prajurit Aris tanpa ragu melepaskan tembakan tepat ke dada Bimo.

Pengkhianatan itu tidak membelinya keselamatan itu hanya memberinya kematian yang sedikit lebih cepat. Raina terkepung, ia melemparkan granat terakhirnya ke arah tangki bahan bakar di sudut ruangan.

"Pergi, Lukas! Bawa bocah itu keluar atau aku sendiri yang akan meledakkan tempat ini!"

"Raina, jangan!"

"PERGI!"

Ledakan dahsyat mengguncang Sektor Gamma. Kobaran api membubung tinggi, menciptakan dinding api yang memisahkan Sari dan Lukas dari kejaran pasukan Aris, sekaligus memutus harapan mereka untuk menyelamatkan rekan-rekan yang lain.

Dalam keremangan lorong pembuangan yang sempit dan berbau sulfur, Sari dan Lukas berlari bagai kesetanan. Dinding-dinding logam di sekitar mereka bergetar hebat.

Suara Aris kembali menggema di kepala Sari, kali ini lebih tajam, seolah kuku besi sedang menggaruk dinding tengkoraknya."Kau lihat, Sari? Kesetiaan adalah mata uang yang tidak laku di dunia baru. Lukas pun akan menjualmu jika waktunya tepat. Kembalilah padaku... sebelum kau kehilangan segalanya."

"Jangan dengarkan dia!" bentak Lukas, seolah bisa membaca apa yang terjadi di dalam pikiran Sari.

Mereka sampai di pintu lift pembuangan limbah. Lukas menghantam panel kontrol dengan gagang pistolnya, memaksa pintu terbuka. Di bawah mereka, kegelapan pekat menuju antah berantah menanti.

"Kita harus melompat ke saluran pipa udara di bawah," ujar Lukas, napasnya tersengal-sengal.

Darah merembes dari luka gores di dahinya.Sari menatap Lukas dengan penuh keraguan. Inisial di pelacak itu memang milik Bimo, tapi pengakuan Lukas soal rencana virus tadi masih terngiang-ngiang.

Siapa yang benar-benar bisa dipercaya saat semua orang memperlakukannya seperti alat?

"Kenapa kau menyelamatkanku, Lukas? Jika aku hanya bom waktu bagi kalian, kenapa tidak biarkan aku mati di sana?" tanya Sari di ambang pintu maut itu.

Lukas berhenti sejenak, matanya menatap Sari dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara rasa bersalah dan tekad yang nekat. "Karena jika kau mati, Aris menang. Dan jika aku membiarkanmu menjadi cangkang kosong, aku tidak lebih baik dari monster itu."

Di ujung lorong, langkah kaki pasukan Aris kembali terdengar, lebih cepat dan lebih banyak. Cahaya senter mereka mulai membelah kegelapan lorong.

"Lompat, Sari! Sekarang!" Sari memejamkan mata, membiarkan tubuhnya jatuh ke dalam kegelapan yang dingin, tepat saat pintu lift di atas mereka meledak diterjang rudal bahu.

Mereka berhasil keluar dari Sektor Gamma, namun mereka kini berada di jantung wilayah musuh, tanpa teman, tanpa senjata yang memadai, dan dengan musuh yang sudah berada di dalam pikiran Sari sendiri.