Bab 22 Tubuh

Penulis Iman-ha
15 February 2026

Setelah jauh dari Cavin, lelaki kedua Dewa.

Dewa dosen muda. Usianya tidak terlalu jauh dari mahasiswa, tapi cukup jauh untuk membuatnya tampak seperti orang yang sudah selesai dengan kebingungan. Rambutnya rapi tanpa terlihat berusaha. Cara bicaranya pelan, seolah setiap kalimat telah melewati sensor moral pribadi.

Dewa tidak banyak bercanda saat mengajar di kelas. Ia tidak mencoba menjadi akrab. Justru itu yang membuat Luna merasa aman. Tidak ada pujian berlebihan. Tidak ada candaan murahan. Tidak ada tatapan yang berlama-lama—setidaknya tidak yang terlihat.

Dibanding Cavin, Dewa terasa seperti jeda.

Cavin selalu ingin segera sampai. Ke inti. Ke kepemilikan. Dewa sebaliknya: ia menunda. Ia membiarkan jarak tumbuh, lalu mengisinya dengan kalimat-kalimat yang terdengar dewasa. Tentang buku. Tentang etika. Tentang bagaimana dunia tidak adil, tapi harus dihadapi dengan kepala dingin. Luna mendengarkan. Bukan karena ia butuh nasihat, tapi karena tidak ada yang memaksanya menjadi apa pun di hadapan Dewa.

Ia merasa dilihat sebagai pikiran. Itu, belakangan, yang paling melukai.

Awalnya pertemuan mereka terjadi secara wajar. Konsultasi tugas. Diskusi topik makalah. Dewa selalu menutup pintu ruangannya, katanya agar tidak terganggu. Di kampus, pintu tertutup tidak pernah terdengar mencurigakan. Ia hanya bagian dari prosedur.

“Duduk saja,” kata Dewa suatu sore, sambil menunjuk kursi yang terlalu dekat dengan mejanya.

Luna duduk. Membuka catatan. Berusaha fokus pada tugas yang sudah ia kerjakan berhari-hari. Dewa membaca sambil sesekali mengangguk. Mengernyit. Menghela napas kecil, seperti orang yang peduli.

“Kamu punya cara berpikir yang rapi,” katanya.

Kalimat itu terdengar profesional. Aman. Luna tersenyum kecil.

Pujian-pujian datang pelan, menetes. Tentang cara Luna menulis. Cara ia menyusun argumen. Cara ia melihat persoalan dari sudut yang “tidak biasa”. Dewa tidak pernah menyentuh lebih dulu. Ia membiarkan rasa istimewa tumbuh sendiri, seperti sesuatu yang wajar.

Luna mulai datang lebih sering. Bukan karena diminta, tapi karena merasa dibutuhkan. Setiap kali keluar dari ruangan itu, ia merasa lebih utuh. Lebih pintar. Lebih tenang. Ia membandingkan Dewa dengan Cavin, dan perbandingan itu selalu memenangkan Dewa tanpa usaha.

Namun Luna masih membawa kebiasaan yang tidak pernah selesai ia rapikan—warisan kecil dari ayahnya. Ia sering salah jam. Salah tanggal. Salah membawa buku. Pernah membatalkan janji karena membaca kalender terbalik. Kecerobohan ringan, nyaris tak terlihat, tapi konsisten. Uyan juga begitu: keputusan besar lahir dari persiapan setengah, keyakinan mendahului cek ulang. Bedanya, pada ayahnya, kesalahan itu menumpuk. Pada Luna, ia muncul sebagai jeda.

Beberapa kali Luna tiba terlalu awal. Beberapa kali terlambat. Kadang ia datang ketika ruangan belum sepenuhnya sepi; kadang masuk saat pintu belum ditutup. Ia jarang hadir dalam keadaan rapi yang sempurna—tidak sepenuhnya siap untuk diarahkan.

Dewa tetap sabar. Terlalu sabar.

“Kamu tahu,” katanya suatu hari, “banyak mahasiswa tidak seberani kamu.”

“Kamu punya potensi. Sayang kalau tidak diarahkan.”

Kata diarahkan terdengar lembut. Hampir seperti perhatian. Hari itu jarak menyempit. Masih tanpa sentuhan. Masih dalam batas yang bisa dibela jika ditanya. Terlalu dekat untuk dosen. Terlalu jauh untuk teman.

“Dunia ini keras,” kata Dewa. “Kadang perempuan harus lebih pintar membaca situasi.”

Luna mengangguk, setengah paham. Ia merasa sedang belajar sesuatu yang penting, tapi tidak tahu apa.

Garis itu bergeser bukan oleh ledakan, melainkan oleh pergeseran kecil: tatapan yang bertahan, jeda kalimat yang memanjang, nama Luna yang diulang lebih sering dari perlu. Keheningan menjadi terlalu rapi—dan justru di situlah kekacauan kecil Luna bekerja.

Ponsel bergetar keras karena notifikasi yang lupa ia matikan. Luna tersentak sampai tasnya terguling.

Keheningan pecah.

Luna menunduk, berusaha mengejar tasnya dengan gerakan kikuk. Tidak anggun. Tidak siap. Ia berdiri terlalu cepat, mengucapkan terima kasih terlalu singkat, dan keluar tanpa menutup pembicaraan dengan rapi. Seperti ayahnya yang sering keluar dari rapat sebelum semua sepakat—bukan karena tahu jalan, tapi karena merasa ada yang salah tanpa bisa menunjuknya.

Ia baru menyadari napasnya memburu ketika sudah di koridor.

Belakangan Luna mengerti: Dewa bekerja dengan keteraturan. Dengan ritme. Dengan kontrol halus yang membutuhkan kehadiran penuh—datang tepat waktu, duduk rapi, mendengarkan sampai akhir, dan percaya bahwa semuanya menuju sesuatu yang “baik”.

Luna tidak pernah sepenuhnya seperti itu.

Ia lolos bukan karena lebih cerdas, melainkan karena tidak cukup patuh pada skenario. Karena ada cacat kecil yang ia warisi—kebiasaan salah langkah setengah detik—yang cukup untuk mengganggu alur. Cukup untuk keluar. Pada Uyan, cacat yang sama membawa runtuh. Pada Luna, ia menjadi celah.

Keselamatan itu tidak terasa seperti kemenangan. Lebih seperti keberuntungan yang tidak bisa diulang. Seperti ayahnya yang beberapa kali selamat bukan karena tahu harus ke mana, melainkan karena tersandung sebelum jatuh terlalu jauh.

Di situ Luna memahami warisan yang ambigu itu: apa yang merusak bisa juga menyelamatkan; apa yang memalukan bisa menjadi jeda. Ia tidak mewarisi kegagalan ayahnya, tapi ia mewarisi cara yang sama untuk tidak pernah sepenuhnya rapi—dan kali ini, ketidakrapian itu menjadi perlindungan.

Beberapa hari kemudian, potongan-potongan cerita mulai muncul. Bukan dalam bentuk pengakuan resmi, tapi bisik-bisik di kantin. Obrolan yang terputus ketika seseorang datang. Nama Dewa disebut pelan, seperti menyebut penyakit yang belum punya obat.

“Aku juga pernah,” kata seorang teman, sambil menatap gelas kopinya terlalu lama.

Yang lain mengangguk. Tidak kaget. Tidak heran.

Luna mendengarkan. Tidak berkata apa-apa. Ada kelegaan kecil karena ia tidak sendirian. Ada rasa bersalah yang lebih besar karena ia selamat.

Dewa tetap mengajar. Tetap rapi. Tetap dewasa. Tidak ada skandal besar. Tidak ada laporan resmi. Dunia akademik menyukai kebersihan yang bisa disapu ke bawah karpet. Mengendap demi nama baik.

Luna tidak dipanggil korban. Ia tidak disebut apa pun. Ia hanya pernah dekat dengan Dewa. Itu saja sudah cukup untuk mengubah cara orang memandangnya. Beberapa tatapan berubah. Beberapa senyum menjadi lebih tipis. Seolah tubuh Luna kini membawa catatan kaki yang tidak pernah ia tulis sendiri.

Ia dicap—tidak secara resmi, tapi cukup kuat untuk terasa.

“Bekas Dewa,” seseorang pernah berbisik, setengah bercanda.

Luna tertawa kecil saat mendengarnya. Tertawa yang tidak sampai ke dada. Tertawa yang lahir dari kelelahan.

Sejak itu, Luna menjadi lebih waspada pada laki-laki yang terlalu tenang. Terlalu sabar. Terlalu mengerti. Ia belajar bahwa tidak semua kedewasaan berarti aman. Bahwa kekuasaan sering menyamar sebagai perhatian.

Ia melanjutkan kuliah. Menyelesaikan tugas. Duduk di kelas seperti biasa. Tidak ada yang runtuh secara dramatis. Tidak ada klimaks yang layak dijadikan cerita heroik.

Hanya satu kesadaran yang menetap dan tidak pergi: bahwa menjadi perempuan di ruang-ruang berkuasa berarti selalu membawa tubuh, bahkan ketika hanya ingin membawa pikiran.

Dan itu, bagi Luna, adalah pelajaran paling mahal yang tidak pernah tertulis di silabus mana pun.