Bab 23 Pertemuan tidak Berniat

Penulis Iman-ha
15 February 2026

Pertemuan itu terjadi bukan karena takdir, bukan pula karena rencana. Ia terjadi karena dua jadwal yang bertabrakan secara malas, di tempat yang tidak dimaksudkan untuk apa pun selain lewat.

Luna datang lebih awal dari biasanya. Hujan turun sejak siang, membuat jalanan basah dan waktu melambat. Ia memilih berteduh di sebuah kedai kopi kecil dekat halte—bukan karena ingin kopi, tetapi karena tubuhnya butuh jeda sebelum kembali bergerak atau mencicil pekerjaan.

Ia membuka kardigan yang warna hitamnya sedikit memudar. Rambutnya basah. Ia lupa tidak membawa payung kecil pemberian ibunya, yang kesekian kalinya. Jika membawa payung, ia sering meninggalkannya di kantin kampus, di kosan teman, atau ia tidak ingat ada di mana. Ia tersenyum kecut mengingat kelalaian-kelalaiannya sendiri.

Luna duduk di kursi dekat jendela setelah memesan minuman paling murah di menu. Lalu-lintas di luar masih sibuk, lampu kendaraan bergerak ke sana ke mari.

Kedai itu tidak ramai, bahkan mungkin mau tutup karena pelanggannya terus berkurang, kalah saing dengan kedai atau kafe-kafe lain yang menjamur. Luna sering melewatinya selama pulang-pergi kuliah.

Ray datang belakangan, dengan jaket yang sedikit kebesaran dan ransel setengah kosong. Ia masuk sambil mengibaskan air hujan dari sepatu, memandang sekeliling sejenak sebelum memesan. Tidak ada niat bertemu siapa pun. Ia hanya ingin tempat duduk, koneksi internet yang stabil, dan waktu yang tidak menuntut.

Mereka duduk terpisah. Jarak dua meja. Tidak saling melihat.

Luna membuka laptop. Ray membuka ponsel. Dua layar, dua dunia, dua cara bertahan.

Barista menyalakan musik pelan—lagu lama yang tidak terlalu dikenali, hanya cukup untuk mengisi ruang. Hujan di luar menambah lapisan suara. Dunia terasa terbungkus, seperti sedang menunggu sesuatu, meski tidak tahu apa.

Luna membaca ulang catatan kuliahnya. Ia menandai kalimat-kalimat yang terasa penting, meski ia tahu ia mungkin tidak akan membacanya lagi. Tangannya bergerak otomatis. Kepalanya kosong. Ia suka keadaan itu—ketika tubuh bekerja dan pikiran tidak perlu memberi makna.

Ray memeriksa grafik kripto. Tidak intens, tidak emosional. Ia sudah belajar menjaga jarak dari layar itu. Ia tidak lagi percaya pada lonjakan tiba-tiba. Ia lebih tertarik pada pola kecil: naik sedikit, turun sedikit, bertahan di tengah.

Ia menyesap kopi. Dingin.

Luna berusaha mengubah posisi duduknya, tapi kursinya bergeser terlalu cepat. Bunyi kaki kursi menggesek lantai terdengar jelas di sela musik. Ray menoleh refleks. Pandangannya bertemu wajah Luna—sekilas, cepat, tanpa maksud.

Tidak ada senyum. Tidak ada ekspresi khusus. Hanya pengakuan singkat bahwa ada manusia lain di ruang itu.

Ray kembali ke ponselnya. Luna kembali ke layar laptop.

Beberapa menit berlalu.

Hujan semakin deras. Air mengalir di kaca jendela, membentuk garis-garis tidak beraturan. Luna memandang keluar, bukan karena ingin melihat hujan, tetapi karena matanya lelah. Ia menutup laptop, memijat pelipis.

Ray memperhatikan itu tanpa sadar. Gerakan kecil, sederhana. Ia mengenali kelelahan itu—bukan kelelahan fisik, tetapi lelah karena terus hadir.

Ia berdiri untuk mengambil tisu di dekat kasir. Ketika kembali, kursinya sedikit terlalu dekat dengan meja Luna karena ruang sempit. Ia ragu sejenak, lalu duduk saja.

“Maaf,” katanya singkat.

“Iya,” jawab Luna. Tidak keberatan. Tidak juga mengundang.

Mereka kembali diam.

Ray menyadari bahwa ia tidak sedang ingin pergi. Luna menyadari bahwa ia tidak sedang ingin sendirian. Kesadaran itu tidak mereka ucapkan.

Beberapa menit kemudian, listrik mati.

Lampu padam serentak. Musik berhenti. Suara hujan menjadi lebih jelas. Beberapa orang di kedai mengeluh pelan. Barista berkata sesuatu tentang “sebentar lagi”.

Ray dan Luna tidak bereaksi berlebihan. Mereka duduk dalam gelap yang tidak sepenuhnya gelap—cahaya dari luar masih masuk, abu-abu dan basah.

“Kayak biasa ya,” kata Ray tiba-tiba, suaranya rendah.

Luna menoleh. “Apa?”

“Listrik mati,” lanjut Ray. “Selalu mati pas lagi butuh.”

Luna mengangguk. “Iya.”

Tidak ada tawa. Tidak ada kelanjutan.

Tapi sesuatu terbuka.

“Sering ke sini?” tanya Ray, lebih karena sunyi terlalu lama.

“Kadang,” jawab Luna. “Kalau hujan.”

Ray mengangguk. “Sama.”

Mereka diam lagi. Tapi diam yang berbeda. Tidak canggung, tidak juga akrab. Hanya ruang yang tidak lagi kosong sepenuhnya.

“Kerja atau kuliah?” tanya Ray.

“Dua-duanya,” jawab Luna. “Kamu?”

“Kerja,” kata Ray. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut. Luna tidak bertanya.

Lampu menyala kembali. Musik kembali terdengar. Barista bersorak kecil. Dunia kembali ke bentuk semula, tapi percakapan sudah terlanjur dimulai.

Luna membuka tasnya, mengambil botol minum. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena dingin, tetapi karena ia tidak terbiasa berada di situasi yang tidak terdefinisi. Ray memperhatikan, lalu mengalihkan pandangan.

“Kopi kamu dingin,” kata Luna tiba-tiba, menunjuk cangkir Ray.

Ray melihat. “Iya. Kebiasaan.”

“Kebiasaan minum dingin?”

“Kebiasaan lupa,” jawab Ray.

Luna tersenyum tipis. Senyum pertama, kecil, hampir tidak terlihat.

Mereka tidak saling bertanya nama. Tidak ada kebutuhan mendesak untuk itu. Identitas terasa terlalu besar untuk momen sekecil ini.

Hujan mulai reda. Orang-orang mulai berdiri, membayar, pergi. Kedai menjadi lebih lengang.

Luna menutup laptop, memasukkannya ke tas. Ray melakukan hal yang sama dengan ponselnya.

“Kamu mau ke mana?” tanya Ray, lalu menyesal telah bertanya. Tapi kalimat itu sudah keluar.

“Ke rumah,” jawab Luna. “Kamu?”

“Ke rumah,” kata Ray.

Mereka berdiri bersamaan. Hujan tinggal rintik. Jalanan masih basah.

“Ya sudah,” kata Ray.

Luna mengangguk.

Tidak ada jabat tangan. Tidak ada tukar kontak. Mereka berjalan ke arah berbeda, lalu berhenti hampir bersamaan.

Ray menoleh. “Eh.”

Luna menoleh juga.

“Kalau hujan lagi,” kata Ray, ragu, “biasanya kamu ke sini, kan?”

Luna mengangguk. “Kadang.”

Ray tersenyum singkat. “Oke.”

Itu saja.

Mereka berpisah.

Ray berjalan ke rumahnya dengan langkah yang sedikit lebih ringan, meski ia tidak tahu kenapa. Ia memikirkan kucing oren di gang, Myro yang menunggu, Doge yang mudah sekali tertidur. Ia tidak menghubungkan apa pun, tapi tubuhnya menyimpan pertemuan itu sebagai sesuatu yang tidak mengganggu.

Luna berjalan ke rumah dengan pikiran yang tidak penuh, tapi juga tidak kosong. Ia memikirkan suara Ray—bukan isinya, tapi nadanya. Netral, tidak menuntut. Ia menyadari betapa jarangnya ia berbicara tanpa peran.

Ia teringat Cavin dan Dewa. Apakah lelaki sama saja?

Di rumah, Dewi sudah pulang. Terra belum.

“Kamu basah,” kata Dewi.

“Sedikit,” jawab Luna.

“Payungmu?”

“Ketinggalan, Bu.”

Dewi hanya menggeleng.

Luna masuk kamar, mengganti pakaian. Ia duduk di ranjang, menatap dinding. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia tidak langsung membuka laptop atau ponsel. Ia hanya duduk. Ray pergi ke arah sekolahnya dulu, satu arah dengan wilayah ‘kekuasaan’ Durov.

Tiba-tiba ia teringat Durov. Sudah lama ia tidak menemuinya. Apakah dia masih di sana? Apakah dia masih hidup?

Di tempat lain, Ray membuka pintu rumah. Myro menyambutnya dengan mengeong pendek. Doge mengangkat kepala sebentar, lalu tidur lagi.

Ray duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding. Ia tidak membuka grafik malam itu. Ia membiarkan waktu lewat tanpa intervensi.

Durov melintas di bawah lampu jalan yang berkedip. Seharian ia berkeliling di antara rumah-rumah padat kampung kota. Ia sempat berkelahi dengan si Paus sebentar, lalu berhasil menyelinap kabur ke dalam rumah warga dan keluar melalui jendela yang terbuka.

Dunia tetap keras, tetap dingin. Dunia manusia lebih keras lagi. Tapi ia bergerak dengan sedikit lebih percaya diri, seolah sesuatu di udara berubah.

Tidak ada yang tahu ke mana pertemuan itu akan membawa. Bahkan mereka yang mengalaminya.

Dan mungkin memang tidak perlu tahu.

Karena beberapa hal tidak datang untuk menjanjikan masa depan— hanya untuk membuktikan bahwa hidup masih bisa bergerak ke arah yang tidak sepenuhnya sunyi.