24 Cairan

Penulis Iman-ha
15 February 2026

Durov sudah lama berhenti percaya bahwa manusia belajar dari pengulangan. Jika mereka benar-benar belajar, pikirnya, gang-gang kota tidak akan terus berfungsi sebagai ruang latihan untuk kesalahan yang sama. Tapi manusia justru tampak paling tekun ketika mengulang kebodohan, terutama kebodohan yang bisa disembunyikan di tempat sempit, lembap, dan kurang cahaya—tempat yang tidak pernah dianggap layak dicatat.

Malam itu, gang tempat Durov berkeliaran tidak berbeda dari malam-malam lain. Lampu pijar di ujung gang berkedip seperti mata tua yang terlalu malas untuk benar-benar menutup. Bau sampah, bensin, dan sisa hujan bercampur tak karuan. Di sinilah manusia menyimpan apa yang tidak ingin mereka lihat di siang hari—bukan karena gelap, melainkan karena gelap memberi dalih.

Durov duduk di atas reruntuhan rumah yang digusur, ekornya melingkar rapi, tubuhnya menempel pada bata berdebu yang masih menyimpan sisa panas siang. Ia tidak sedang menunggu siapa pun. Ia hanya ada. Keberadaan yang perlahan berubah menjadi kebiasaan, lalu menjadi saksi. Ia belajar bahwa bertahan hidup di kota berarti menguasai jeda: kapan diam, kapan bergerak, kapan pura-pura tidak ada.

Dari sudut gang terdengar musik dari ponsel—lagu murahan yang volumenya terlalu kecil untuk disebut hiburan, terlalu besar untuk diabaikan. Dua manusia muncul dari ujung gang. Durov mengenali pola langkah mereka bahkan sebelum wajah mereka jelas. Perempuan itu berjalan lebih dulu. Langkahnya terukur, bahunya kaku, seolah tubuhnya sudah menyiapkan diri untuk ditimbang. Lelaki di belakangnya mengikuti dengan jarak yang terlalu dekat untuk disebut sopan, terlalu jauh untuk disebut ragu.

Perempuan itu seorang pelacur. Bukan karena pakaian—pakaian sering menipu—melainkan karena cara ia membawa tubuhnya: siap tapi tidak hadir sepenuhnya. Seperti barang yang sudah tahu akan dipilih, tapi tetap berharap tidak diperiksa terlalu lama. Wajahnya dirias secukupnya untuk menipu malam, bukan siang. Bibirnya bergerak pelan, mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti kesepakatan awal, seperti daftar harga yang sudah dihafal.

Si lelaki jelas bukan pacarnya itu konsumennya. Bukan karena uang di tangannya—uang selalu bisa berpindah peran—melainkan karena nadanya. Nada orang yang merasa sedang membeli, bukan meminta. Kata-katanya pendek-pendek, diselipkan tawa yang terlalu cepat, seolah ingin memastikan dirinya terlihat santai. Ia berbicara seperti seseorang yang percaya bahwa transaksi tubuh adalah bentuk kejujuran paling sederhana.

Mereka berhenti di sudut yang lebih gelap. Lelaki itu mendekat. Terlalu dekat. Bau rokok dan keringat bercampur di udara. Perempuan itu mundur setengah langkah. Gerakan kecil, nyaris sopan, tapi cukup jelas bagi siapa pun yang mau melihat. Durov melihat.

Ia selalu melihat hal-hal yang manusia anggap remeh. Perubahan napas. Jari yang menegang. Cara kaki mencari pijakan tambahan. Mata kuningnya mengukur jarak—bukan jarak fisik, melainkan jarak aman yang mulai menyusut tanpa izin.

Perempuan itu menggeleng. Sekali. Lalu lagi. Suaranya tetap rendah, profesional, berusaha menjaga nada netral yang diajarkan oleh pengalaman: tidak menantang, tidak mengundang. Tangannya terangkat, bukan untuk menyentuh, melainkan untuk menjaga garis yang sudah disepakati sebelumnya. Garis yang bagi perempuan seperti dia bukan sekadar aturan, melainkan satu-satunya bentuk kendali yang tersisa.

Lelaki itu tidak berhenti bicara. Kata-katanya mengalir seperti negosiasi yang merasa berhak naik level. Ia menyebut uang. Ia menyebut waktu. Ia menyebut tubuh perempuan itu seolah menyebut fitur tambahan. Setiap kalimatnya disusun untuk menutup satu kemungkinan: penolakan.

Durov memiringkan kepala. Ia teringat sesuatu yang jauh, kabur, tapi akrab. Ia pernah mendengar nada seperti itu sebelumnya—nada orang dewasa yang menjelaskan sesuatu kepada anak dengan asumsi bahwa penjelasan cukup untuk membungkam keberatan. Nada yang percaya bahwa volume dan pengulangan bisa mengubah batas menjadi formalitas.

Kesabaran lelaki itu menipis. Kesabaran manusia memang selalu tipis ketika mereka merasa haknya tertunda. Tangan yang tadinya hanya terlalu dekat kini berubah menjadi pegangan. Tidak keras. Tidak langsung menyakitkan. Tapi cukup untuk menguji. Tarikan kecil, seperti percobaan awal. Seperti memastikan apakah tubuh di depannya benar-benar milik dirinya sendiri.

Perempuan itu bersuara. Bukan jeritan. Lebih seperti suara yang ditahan di antara malu dan takut. Suara yang terlalu sering tidak dianggap darurat. Durov mendengar suara itu dan tahu: suara seperti itu jarang sampai ke tempat yang tepat. Kota punya kebiasaan memakan suara sebelum maknanya tiba.

Ia berdiri.

Bukan karena berani. Bukan karena tahu harus apa. Tubuhnya bergerak lebih dulu, seperti refleks lama yang tersisa dari kehidupan sebelumnya. Satu langkah. Dua. Tidak berarti apa-apa. Kucing tidak punya bahasa untuk menghentikan transaksi manusia. Mereka hanya punya kehadiran—dan kehadiran sering kali justru dianggap gangguan.

Lelaki itu mendorong. Perempuan itu kehilangan keseimbangan. Ada bunyi tamparan—kering, pendek, seperti pintu yang dibanting karena emosi yang terlalu kecil untuk dijelaskan. Suara itu memantul di gang sempit, menemukan dinding-dinding yang sudah kebal.

Durov membeku.

Ia mengenal suara itu. Ia sudah mengenalnya sejak lama. Dari kontrakan sempit dengan dinding tipis. Dari televisi yang dibiarkan menyala untuk menutup pertengkaran. Dari masa ketika ia masih manusia—Uyan—yang lebih sering menunda daripada campur tangan. Dari malam-malam ketika suara itu datang tanpa undangan dan pergi tanpa permintaan maaf.

Perempuan itu menjerit. Kali ini tidak tertahan. Jeritan yang berlari lebih dulu dari tubuhnya. Ia melepaskan diri dan berlari ke arah ujung gang lain. Sandalnya terlepas. Kakinya menghantam aspal tanpa perlindungan. Napasnya terpotong-potong, tapi ia berlari. Ada keputusan yang diambil terlalu cepat untuk dipikirkan, tapi cukup cepat untuk bertahan.

Lelaki itu mengumpat dan mengejar. Air genangan memercik, seolah gang ikut tersentak. Durov tertinggal di sudut, bersama bau ketakutan yang menggantung seperti asap. Ia berdiri di sana, merasa bodoh karena sempat berharap dunia akan berhenti hanya karena ia melihatnya.

Ia ingin berbuat sesuatu. Pikiran itu selalu datang terlambat, tapi tetap datang. Ia ingin mengganggu. Menggigit. Melompat. Apa saja yang bisa memecah ritme. Kucing sering bertahan hidup dari gangguan kecil—kesalahan ritme, kejutan yang tidak penting. Tapi kali ini ritmenya terlalu besar, terlalu manusia.

Lelaki itu berhenti berlari.

Ia berbalik.

Matanya menemukan Durov.

“Oh,” katanya, napasnya masih kasar. “Kucing garong.”

Nada itu berubah. Bukan lagi marah pada perempuan yang kabur, tapi jengkel pada saksi yang tidak seharusnya ada. Saksi selalu merepotkan, apalagi yang tidak bisa diajak bicara, tidak bisa dibeli, dan tidak punya posisi hukum.

“Kucing kampung sialan,” katanya, seperti menyebut sampah yang menghalangi jalan.

Durov menegang. Ia mengenali nada itu dengan sangat baik. Nada orang yang kehabisan target utama dan butuh pelampiasan. Nada yang mencari substitusi kekuasaan. Mata lelaki itu menilai tubuh kecil Durov, menghitung seberapa jauh kekerasan bisa dipraktikkan tanpa konsekuensi.

Lelaki itu membungkuk, mengambil batu. Tidak besar. Tidak kecil. Cukup untuk melukai, cukup untuk membuat dirinya merasa menang. Batu selalu menjadi alat favorit: murah, tersedia, dan memberi ilusi bahwa kekerasan adalah reaksi spontan, bukan pilihan sadar.

Durov berlari.

Ia tidak menunggu. Ia tahu batasnya. Ia berlari seperti kucing yang paham perbedaan antara keberanian dan kebodohan. Cakar-kakinya mencengkeram aspal basah. Napasnya berat, bukan karena jarak, melainkan karena tubuhnya mengingat sesuatu yang lama: bagaimana rasanya dikejar oleh kemarahan yang tidak butuh alasan.

Batu itu melesat dan menghantam tembok. Suaranya keras, seperti ingin memastikan ada bekas. Serpih kecil memantul. Salah satunya nyaris menyentuh ekor Durov. Nyaris. Kota penuh dengan nyaris yang tidak pernah masuk laporan.

Ia menyusup ke gang sempit di samping—celah yang bahkan manusia jarang perhatikan. Di sanalah ketidakrapian menjadi keuntungan. Rangka kursi patah. Seng berlubang. Kardus basah berbau tikus. Tubuhnya merapat ke tanah dingin. Jantungnya memukul dada dengan ritme liar.

Langkah lelaki itu mendekat. Umpatan. Napas kasar. Kata-kata yang tidak ditujukan pada siapa pun, hanya untuk menjaga amarah tetap hangat. Durov menahan diri. Bergerak satu detik terlalu cepat bisa menjadi akhir. Kucing hidup dari detik-detik yang salah—dan bertahan dari yang nyaris tepat.

Lelaki itu berhenti tepat di dekat celah kardus dan tembok tempat Durov menahan tubuhnya. Ia tampak ragu sesaat, lalu menyerah pada lelahnya sendiri. Resleting ditarik turun. Bunyi air jatuh ke tanah yang sudah basah, merembes ke karton, hangat dan memalukan. Bau pesing naik perlahan, menutup sisa-sisa malam. Durov membeku. Ingatan datang tanpa diminta: pagi lama ketika ia masih Uyan, terbangun di sudut kontrakan dengan celana basah—seekor kucing telah menandainya, tanpa niat, tanpa sadar. Kini manusia mengulanginya. Bukan karena lapar atau takut, melainkan sebagai sisa kuasa terakhir: gagal menemukan, tapi tetap meninggalkan tanda.

Langkah itu menjauh.

Gang kembali sepi. Lampu pijar tetap berkedip, setia pada perannya sebagai saksi yang tidak pernah dipanggil. Durov menunggu lama, sampai bau amarah menipis, sampai malam kembali pada dengung normalnya. Ia menjilat kakinya yang gemetar. Ada goresan kecil. Tidak dalam. Nyaris apa-apa. Nyaris segalanya.

Ketika ia keluar, dunia terasa sedikit berubah. Di sudut gang, hanya tersisa satu sandal. Durov mendekat, mencium baunya: keringat, panik, tubuh yang tidak sempat dilindungi. Bau yang akan hilang ketika hujan berikutnya turun, seperti banyak cerita lain.

Ia naik ke tembok dingin tempat ia biasa mengamati. Dari sana, gang tampak seperti garis panjang tanpa tanda baca. Ia teringat Luna. Ia teringat Terra. Anak-anak perempuannya. Dunia yang terus mengajarkan mereka untuk berhati-hati, seolah bahaya adalah tugas mereka untuk dihindari.

Ingatan datang tanpa izin: pintu yang ditutup terlalu keras, televisi yang dibiarkan menyala, kopi instan di pagi hari. Uyan dulu terlalu sering menunda—menunda bertanya, menunda bertindak, menunda mengakui bahwa kekerasan jarang datang sebagai kejutan. Durov menggeleng, seolah bisa menggugurkan kenangan dengan gerakan kecil.

Yang menyelamatkannya malam ini bukan keberanian. Bukan moral. Melainkan kekonyolan kecil: celah sempit, kardus basah, langkah yang tidak rapi. Kebetulan-kebetulan yang tidak akan pernah disebut kepahlawanan.

Ia tahu, besok akan ada versi lain. Lelaki itu akan merasa disalahpahami. Perempuan itu akan dianggap mengambil risiko. Gang akan tetap menjadi gang. Bandung akan tetap menjadi kota yang membersihkan dirinya dengan lupa.

Durov berjalan pergi. Kota berdengung. Malam berlanjut. Ia selamat, meskipun ada rasa kecut dan bau tajam di mulut dan hidungnya.