Hari-hari berikutnya, Luna dan Ray kembali ke kedai kopi itu—tidak bersama, tidak juga sengaja. Kadang selang satu jam, kadang tidak bertemu sama sekali. Ketika bertemu, mereka hanya mengangguk. Duduk terpisah. Sesekali bertukar kalimat pendek.
“Kopi kamu masih dingin.”
“Masih.”
“Kerjaan banyak?”
“Lumayan.”
Tidak ada usaha mendalam. Tidak ada cerita panjang. Tapi ada konsistensi.
Luna menyadari bahwa ia mulai menantikan hujan. Bukan karena hujan itu sendiri, tetapi karena hujan memberinya alasan untuk berhenti. Ray menyadari bahwa ia mulai datang ke kedai itu bahkan ketika tidak hujan.
Di pertemuan sore berikutnya, listrik mati lagi. Lebih lama kali ini. Kali ini barista mengumumkan permintaan maafnya bahwa jaringan listrik kedai ini ada yang korslet. Akan segera diperbaiki.
Orang-orang mulai resah. Beberapa pergi. Luna dan Ray tetap duduk.
“Penyebabnya sudah jelas,” kata Luna.
Ray mengangguk. “Kayak sistem yang kelelahan.”
“Kamu ngomongin listrik atau hidup?” tanya Luna.
Ray tertawa kecil. Tawa pertama yang benar-benar keluar. “Tergantung hari.”
Gelap membuat mereka lebih berani. Wajah tidak sepenuhnya terlihat. Kata-kata tidak perlu disertai ekspresi.
“Kamu tinggal sama siapa?” tanya Ray.
“Ibu dan adik,” jawab Luna, lalu cepat bertanya, “Kamu?”
“Sendiri. Sama kucing.”
“Kucing?”
“Iya. Dua.”
“Namanya?”
“Myro sama Doge.”
Luna tersenyum. “Lucu.”
“Myro cewek. Doge cowok, dia agak menyebalkan,” kata Ray jujur.
“Aku pernah akan punya kucing….,” Luna tak melanjutkan kalimatnya. Sebuah alarm memperingatkan bahwa pernyataan itu akan menjurus ke wilayah yang terlalu personal: ayah. Semur hidupnya ia selalu menghindar dari pertanyaan tentang ayah. Ia tidak menyukai pertanyaan itu.
“Lalu?”
“Tidak jadi. Di keluargaku semua paranoid sama kucing.”
“Kecuali kamu?”
Luna mengankat bahu.
“Aku mengerti.”
Luna tidak melihat ekspresi Ray. Percakapan ini terasa tidak nyaman. Ia takut Ray menanyakan, “Ayahmu menyukai kucing?”.
Beruntung, lampu menyala kembali. Mereka saling melihat lebih jelas. Senyum di wajah Ray tidak hilang.
Hujan turun sore itu dengan cara yang sudah mereka kenal. Tidak deras, tidak pula ringan. Hujan yang membuat orang berhenti sebentar, lalu memutuskan untuk tidak ke mana-mana.
Ray memperhatikan tangan Luna yang memeluk cangkir, jari-jarinya sedikit memerah karena dingin. Ada jeda panjang sebelum salah satu dari mereka bicara.
“Aku sering ke sini sejak hujan jadi alasan yang cukup,” kata Luna akhirnya.
Ray mengangguk. “Alasan paling aman.”
Luna tersenyum tipis. “Tidak perlu menjelaskan.”
Hujan di luar memburamkan jalan. Orang-orang lewat cepat, seperti tidak ingin tertangkap oleh apa pun yang terlalu lama.
“Aku suka tempat ini,” kata Ray. “Tidak ada yang nanya kamu kenapa sendirian.”
Luna menatap keluar. “Atau kenapa datang berdua tapi diam.”
Kalimat itu menggantung sebentar, lalu jatuh pelan di antara mereka. Tidak menuntut respons.
Ray mengaduk kopinya yang sudah dingin. Ia ingin mengatakan sesuatu yang lebih personal, tapi ia belajar dari pasar yang sering runtuh tanpa peringatan: jangan terburu-buru membuka posisi.
Sebaliknya, ia bertanya, “Kamu biasa pulang jam segini?”
“Kadang-kadang. Kalau macet,” jawab Luna.
Ray mengangguk. “Bandung nggak pernah benar-benar sepi, ya.”
“Yang sepi itu rumah,” kata Luna, datar.
Ray menoleh. Ia tidak bertanya lebih jauh. Ia mulai mengerti bahwa Luna tidak sedang mencari orang yang bisa memperbaiki apa pun.
Hujan belum berhenti ketika Ray meletakkan ponselnya di meja. Tidak menghadap ke Luna. Tidak juga menjauh. Hanya ada.
“Kalau hujan lagi,” katanya, “kita nggak harus kebetulan ketemu.”
Luna melihat ponsel itu. Lalu mengeluarkan ponselnya sendiri. Gerakannya tenang, tanpa drama.
“Biar nggak tergantung cuaca,” katanya.
Nomor dan nama bertukar seakan terjadi secara alamiah, tanpa campur tangan algoritma. Tidak ada senyum lebar. Tidak ada penegasan apa pun. Tapi sesuatu bergeser.
Pesan-pesan mereka setelah itu pendek. Tentang hujan. Tentang kopi yang terlalu asam. Tentang kucing Ray yang menjatuhkan pot bunga.
Ray pernah mengirim foto Myro yang tidur di atas router. Luna membalas dengan emoji sederhana. Tidak lebih.
Suatu malam, Ray mengirim pesan lagi.
Doge sama Myro ribut kecil tadi.
Luna membalas cepat kali ini.
Mereka baik-baik saja?
Ray menjawab:
Dua kucing di satu rumah. Belum saling sepenuhnya cocok. Tapi sejauh ini aman.
Kata aman itu terasa penting.
Syukurlah. Salamkan aku pada Myro.
Pada Doge tidak? Dengan emotikon tertawa.
Ya, boleh juga. Minta Doge jangan terlalu egois. Dengan emotikon tertawa.
Beberapa hari kemudian, hujan turun lagi. Lebih deras. Ray menulis:
Kapan kamu bisa bertemu Myro? Luna membaca lama. Ada jeda sebelum ia membalas. Ia tahu bahwa Ray mengundangnya. Ini bukan lagi ruang netral. Ini ruang pribadi.
Undangan itu masih ada, menunggu seperti banyak hal lain dalam hidupnya. Ia menundanya—bukan karena tidak ingin, melainkan karena itulah cara ia bergerak sejak lama. Ia teringat ayahnya, Uyan, yang sering menunda dengan keyakinan samar: menunda keputusan, menunda penjelasan, menunda keberanian, seolah waktu akan merapikan sendiri apa yang ia acak. Pada ayahnya, penundaan menjadi kebiasaan yang menggerogoti; pada Luna, ia tumbuh sebagai rem—cacat kecil yang kadang menyelamatkan.
Cavin dan Dewa datang dalam ingatan sebagai dua ujung yang berbeda: satu terlalu cepat ingin sampai, satu terlalu rapi mengatur jarak. Keduanya runtuh karena Luna pernah percaya sebelum siap. Ray terasa lain. Ia mengundang tanpa menutup jalan keluar, hadir tanpa memadatkan makna. Justru karena itu, Luna ragu. Ia takut penundaannya kali ini salah tempat—bahwa jeda yang dulu menyelamatkan, bisa berubah menjadi pengulangan warisan yang sama.
Ia kembali menatap layar, menimbang bukan jawabannya, melainkan kebiasaannya sendiri. Menunda sudah lama menjadi caranya bertahan—cara yang dulu terasa cerdas, kini terasa mencurigakan. Apakah ini kewaspadaan yang jujur, atau gema lama yang menyamar sebagai kehati-hatian? Cavin pernah ia biarkan pergi tanpa penjelasan yang cukup. Dewa pernah ia sambut dengan ragu yang tak pernah selesai. Semua berakhir menggantung, seperti pintu yang tidak benar-benar ditutup, tapi juga tidak dibuka lagi. Ia belum membalas. Ia ingin memastikan satu hal dulu—apakah ia sedang melindungi diri, atau sedang mengulangi ayahnya dengan cara yang lebih halus: menghilang sebelum diminta tinggal.
Boleh, akhirnya ia mengetik. Sempat terpikir menambahkan dengan senang hati, tapi ia hapus lagi. Terlalu terang. Terlalu membuka.
Aku jemput, ya?
Luna kembali lama tak menjawab. Ia tidak sadar di seberang sana layar kecil itu sudah memunculkan Luna is typing…, menghilang, lalu muncul lagi—ritme ragu yang bisa dibaca siapa saja. Ia membayangkan Ray menunggu, seperti orang-orang sebelumnya menunggu kepastian yang tak pernah utuh ia beri. Tidak. Aku bisa mencari rumahmu sendiri. Shareloc aja.
Jawaban itu terkirim lebih cepat daripada yang ia niatkan, seolah didorong oleh sesuatu yang ingin segera selesai. Peta alamat menyusul. Titik biru berkedip di layar, menawarkan arah.
Luna menatapnya lama. Pergi berarti melangkah. Tidak pergi berarti mengulang. Ia belum bergerak.