Urban #Ojol #Taksol

Mimpi yang Dicambuk Notifikasi

Penulis djoedo
17 February 2026

Tring! Tring! Tring!

Bunyi itu bukan sekadar notifikasi. Itu cambuk digital.

Suara denting artifisial dari ponsel pintar murah buatan Tiongkok itu membelah mimpi Bams. Padahal, dalam tidur yang baru berlangsung tiga jam itu, ia hampir berhasil menagih sisa pesangon dari pabrik tekstil di Cikarang yang memecatnya dua tahun lalu. Di alam bawah sadar, manajer HRD yang licin itu sudah membuka laci brankas, siap menyerahkan amplop cokelat tebal. Namun, realitas Jakarta tahun 2026 tidak mengenal belas kasih pada bunga tidur.

Tring! Tring! Tring!

Bams tersentak. Jantungnya memompa darah lebih cepat dari yang seharusnya diperlukan untuk sekadar bangun tidur. Refleks tubuhnya bukan lagi meregangkan otot atau menguap, melainkan menyambar benda pipih retak di samping bantal. Cahaya biru dari layar smartphone menyembur, menusuk pupil matanya yang masih lengket.

Pukul 05.30 WIB.

Di layar, sebuah kotak dialog mendesak dengan warna hijau neon yang menyakitkan mata: “Verifikasi Wajah Diperlukan. Lakukan sekarang untuk mulai menerima order.”

Bams mendengus. Aroma apek menguar dari bantal busa yang sudah kehilangan daya pegasnya. Udara di dalam kontrakan petakan di Gang Kelinci ini terasa berat, campuran dari bau lembap tembok yang tidak pernah kering sempurna, sisa uap mi instan semalam, dan aroma minyak telon yang mulai pudar.

Ia duduk di tepi kasur lantai. Punggungnya berbunyi kretek. Usia 35 tahun di Jakarta terasa seperti 50 tahun di kota lain. Tulang-tulangnya seperti engsel pintu karatan yang dipaksa membuka paksa.

Di sebelahnya, Gendis masih meringkuk. Tubuh kecil delapan tahun itu tenggelam dalam selimut motif Frozen yang warnanya sudah memudar menjadi abu-abu kusam. Napas anak itu teratur, tenang, satu-satunya ritme damai di tengah kekacauan hidup Bams. Bams menatap putrinya sejenak. Ada rasa nyeri yang menjalar di ulu hati-bukan karena lapar, tapi karena rasa bersalah yang persisten. Gendis seharusnya bangun dengan aroma nasi goreng mentega, bukan bau apek keringat ayahnya yang bersiap perang di aspal.

Bams mengalihkan pandangan kembali ke ponsel. "Tuan Algoritma" sedang menagih setoran wajah.

Ia bangkit, kakinya menyentuh lantai ubin dingin yang retak di beberapa sudut. Langkahnya gontai menuju satu-satunya cermin di ruangan itu-pecahan kaca rias bekas yang ia tempel di dinding dekat pintu kamar mandi dengan lakban hitam.

Wajah di cermin itu tampak asing. Kantung mata menggantung hitam seperti mendung di langit Jakarta. Kulit wajahnya kusam, terbakar matahari dan debu knalpot yang menempel permanen seperti lapisan cat dasar. Ia meludah sedikit ke telapak tangan, lalu mengusapkannya ke rambut yang mencuat kaku. Sebuah usaha menyedihkan untuk terlihat rapi.

"Ayo, Sayang. Jangan rewel pagi ini," gumam Bams pada ponselnya.

Ia mengangkat ponsel sejajar wajah. Aplikasi ojek online itu membuka fitur kamera. Lingkaran putus-putus muncul di layar, membingkai wajah Bams yang lelah.

“Posisikan wajah di dalam bingkai.”

Bams menurut. Ia mematung.

“Cahaya kurang memadai. Geser ke tempat terang.”

"Ah, bangsat," umpat Bams lirih. Ia lupa bohlam kamar mandi sudah putus dua hari lalu dan belum ia ganti karena harus memilih antara beli lampu atau beli beras literan.

Ia bergeser ke tengah ruangan, tepat di bawah lampu gantung 5 watt yang cahayanya kuning suram dan berkedip-kedip seperti nyawa sekarat. Ia mendongak, membiarkan cahaya menyinari wajahnya, menciptakan bayangan-bayangan tajam di cekungan pipinya.

“Kedipkan mata Anda.”

Bams mengedip. Seperti boneka mekanik.

“Buka mulut Anda.”

Bams membuka mulut. Memperlihatkan gigi yang jarang tersentuh perawatan dokter mahal. Ia merasa konyol. Ia teringat buku Jean Baudrillard yang ia temukan di lapak loak Jatinegara minggu lalu. Simulacra and Simulation.

"Ini gila," batinnya. "Wajah asliku di sini, daging dan tulang, tidak punya kuasa apa-apa. Yang dianggap 'nyata' dan 'sah' oleh sistem hanyalah citra digital yang ditangkap lensa kamera buram ini. Aku menjadi simulakra bagi diriku sendiri. Jika algoritma bilang wajahku ini palsu, maka Bambang Sulistyo si manusia tidak berhak makan hari ini."

Loading...

Lingkaran di layar berputar. Detik-detik yang menyiksa. Bams menahan napas. Di kepalanya, bayangan suspend (pembekuan akun) menari-nari. Jika verifikasi gagal tiga kali, akun mati 24 jam. Itu artinya tidak ada uang saku buat Gendis, tidak ada uang untuk token listrik.

Centang Hijau.

“Verifikasi Berhasil. Selamat bekerja, Mitra Juara!”

Bams menghela napas panjang. Bahunya turun. Ia baru saja lolos dari lubang jarum birokrasi algoritma. Ia masih diizinkan menjadi sekrup kecil dalam mesin raksasa ekonomi gig hari ini.

Ia meletakkan ponsel di atas galon air mineral kosong yang berfungi sebagai meja. Sekarang, ritual kedua. Membangunkan Gendis.

Bams berlutut di samping kasur. Tangannya yang kasar, kapalan bekas memegang setang motor dan dulu memegang kunci inggris pabrik, mengusap pipi Gendis dengan kelembutan yang kontras.

"Nduk... Gendis... Bangun, Nak."

Gendis menggeliat. Matanya mengerjap, berjuang melawan kantuk. "Bapak? Udah pagi?"

"Udah, Nduk. Mandi bebek aja ya, cuci muka sikat gigi. Nanti telat nitip ke Mpok Hindun."

Gendis tidak membantah. Anak itu seolah mengerti posisi mereka. Tidak ada drama merengek minta tidur lima menit lagi seperti anak-anak orang kaya di sinetron yang sering ditonton tetangga sebelah. Gendis bangun, menyeret langkah kecilnya ke kamar mandi. Suara gayung beradu dengan ember plastik pecah terdengar kemudian.

Bams memanfaatkan waktu itu untuk menyeduh kopi saset. Air panas dari termos tua yang ia isi semalam masih menyisakan sedikit uap. Ia menuang bubuk hitam itu ke gelas belimbing. Aromanya artifisial, manis menyengat, menutupi rasa kopi yang sebenarnya nyaris tidak ada. Tapi cairan hitam pekat ini adalah bensin bagi otaknya.

Sambil menyeruput kopi panas yang membakar lidah, Bams menatap tumpukan buku di sudut ruangan. The Precariat karya Guy Standing tergeletak paling atas. Bams tersenyum masam.

"Prekariat," desisnya. "Kelas sosial baru yang hidup dalam ketidakpastian. Tidak punya identitas kerja, tidak punya jaminan sosial, hidup dari satu gig ke gig lain. Gue banget, Guy. Gue banget."

Dulu, saat masih jadi mandor line produksi, Bams punya seragam. Punya jam kerja pasti. Punya rasa bangga saat menegur operator yang salah jahit. Sekarang? Identitasnya hanya jaket hijau yang mulai luntur warnanya, dan angka rating bintang di aplikasi. Ia adalah hantu yang gentayangan di jalanan Jakarta, terlihat mencolok dengan warna hijaunya, tapi tidak pernah benar-benar dianggap ada oleh mereka yang duduk di dalam mobil ber-AC.

"Pak, udah siap."

Suara Gendis membuyarkan lamunan sosiologisnya. Anak itu sudah rapi dengan seragam merah putih yang agak kebesaran-warisan dari anak sepupu Bams yang sudah SMP. Rambutnya dikuncir kuda, meski sedikit miring. Bedak bayi cemong di pipinya.

Bams tersenyum, membersihkan sisa bedak di pipi anaknya dengan ibu jari. "Cantik anak Bapak. Yuk, berangkat. Tas udah?"

"Udah."

Mereka keluar dari kamar petakan itu. Udara pagi Gang Kelinci menyambut mereka. Bukan udara segar, melainkan udara lembap yang terperangkap di antara tembok-tembok tinggi rumah bertingkat yang tidak beraturan. Gang ini sempit, hanya cukup untuk dua motor berpapasan jika salah satunya mau mengalah dan memiringkan badan.

Langit di atas masih biru gelap, tapi kehidupan di gang ini sudah berdenyut sejak subuh. Terdengar suara penggorengan mendesis dari rumah Bu RT yang jualan nasi uduk. Bau terasi bakar bertarung dengan bau got yang menguap. Tikus got seukuran lengan orang dewasa melintas santai di depan kaki mereka, masuk ke lubang drainase tanpa rasa takut.

Bams menggandeng Gendis menuju rumah utama di ujung gang. Rumah Mpok Hindun.

Rumah itu paling besar di antara yang lain, dengan pagar besi setinggi dua meter yang dicat emas norak-simbol status feodal kecil-kecilan di kerajaan kumuh ini. Mpok Hindun bukan sekadar pemilik kontrakan; dia adalah bank berjalan, tempat penitipan anak, sekaligus pusat informasi (gosip) terakurat di kelurahan.

Pintu gerbang sedikit terbuka. Mpok Hindun sudah berdiri di teras, mengenakan daster batik cokelat yang warnanya sudah pudar di bagian ketiak dan punggung. Rambutnya digelung asal-asalan dengan jepit badai. Di tangannya ada gelas besar berisi teh kental yang uapnya masih mengepul.

"Pagi, Mpok," sapa Bams. Nadanya ia atur sedemikian rupa-hormat, sedikit merendah, tapi tetap menjaga jarak. Ini adalah diplomasi.

Mpok Hindun menyeruput tehnya, matanya menyipit menilai penampilan Bams dan Gendis. Tatapan itu seperti sinar X yang memindai dompet Bams.

"Pagi, Bams. Tumben agak siang. Biasanya subuh buta udah manasin motor yang suaranya kayak kaleng rombeng itu," sahut Mpok Hindun. Mulutnya pedas, tapi tangannya terulur mengambil tas sekolah Gendis.

"Iya, Mpok. Tadi verifikasi muka agak susah. Biasa, sistem," jawab Bams sambil menyenggol bahu Gendis pelan.

Gendis menyalim tangan Mpok Hindun. "Pagi, Uwak."

"Pagi, Neng. Udah makan belom?" tanya Mpok Hindun, nadanya melunak drastis saat bicara pada Gendis. Sisi keibuan yang tersembunyi di balik lapisan lemak kapitalisme kontrakan.

"Belum, Wak," jawab Gendis jujur.

Mpok Hindun mendengus, melirik tajam ke arah Bams. "Bapak lu emang kebangetan. Udah sana masuk, ada nasi uduk sisaan cucu gue. Makan dulu sebelum berangkat sekolah."

Gendis menatap Bams, meminta persetujuan. Bams mengangguk cepat. "Makasih, Mpok. Maaf ngerepotin lagi."

"Emang idup lu ngerepotin, Bams," Mpok Hindun mengibaskan tangan, mengusir Gendis masuk ke dalam rumah. Setelah Gendis hilang di balik pintu jati, Mpok Hindun kembali menatap Bams. Kali ini tanpa senyum.

"Eh, Bams. Lu inget kan tanggal berapa ini?"

Bams menelan ludah. Kerongkongannya tiba-tiba kering. "Inget, Mpok. Tanggal 20."

"Lima hari lagi jatuh tempo. Gue nggak mau tau ya, bulan ini jangan telat lagi kayak bulan lalu. Listrik token lu juga udah bunyi tit-tit-tit dari kemaren, berisik tau nggak? Ganggu tidur gue."

"Iya, Mpok. Hari ini saya usahain gacor. Begitu cair dompet tunai, langsung saya transfer."

"Jangan cuma janji manis kayak caleg. Usaha tuh yang bener. Jangan kebanyakan baca buku tebel-tebel di pos ronda, kagak bikin kenyang," sindir Mpok Hindun, matanya melirik saku celana Bams yang menonjol karena buku saku filsafat.

Bams hanya tersenyum kecut. Guy Debord menyebut ini Society of the Spectacle-Masyarakat Tontonan. Di hadapan Mpok Hindun, Bams harus mementaskan peran sebagai "Penyewa yang Tahu Diri dan Pekerja Keras". Ia tidak boleh terlihat lemah, tidak boleh terlihat intelektual, karena itu tidak sesuai dengan skrip sosial yang diharapkan dari seorang tukang ojek yang menunggak sewa.

"Siap, Mpok. Saya jalan dulu. Titip Gendis ya."

"Iye. Inget, gerbang depan gembok lagi kalau lu keluar. Jangan sampe maling motor masuk. Motor lu ilang sih nggak apa-apa, butut. Motor anak gue yang NMAX itu lho."

Bams mengangguk, lalu berbalik badan. Ia berjalan cepat meninggalkan teras Mpok Hindun sebelum harga dirinya terkikis lebih banyak lagi.

Ia sampai di tempat parkir motor-sebidang tanah sempit di ujung gang yang dipadati belasan motor berbagai merek. Motor Honda Beat tahun 2018 miliknya terjepit di antara Vario baru dan Scoopy mentereng milik penghuni kos lain yang kerjanya mungkin admin judi online atau reseller kosmetik.

Bams memasukkan kunci. Lubang kuncinya sudah longgar, perlu goyangan khusus agar bisa memutar. Ia menyalakan mesin.

Brum... prepet... prepet...

Suara knalpotnya batuk-batuk, berasap tipis. Bams menepuk dashboard motornya. "Sabar ya, Jendral. Jangan minta jajan dulu minggu ini. Kita lagi paceklik."

Ia mengenakan helm hijau yang busa dalamnya sudah kempes, membuat helm itu terasa longgar dan sering merosot menutupi alis. Jaket hijaunya ia kancingkan sampai leher. Jaket ini adalah zirah perangnya. Meski warnanya sudah kusam dan ada bekas jahitan di lengan kiri akibat srempetan dengan Kopaja bulan lalu, jaket ini adalah satu-satunya penanda bahwa ia punya "kantor".

Bams memutar gas pelan, melajukan motor keluar dari Gang Kelinci.

Di mulut gang, pemandangan Jakarta pagi hari langsung menampar indranya. Jalanan aspal basah sisa hujan semalam memantulkan cahaya lampu jalan yang oranye. Asap knalpot menggantung rendah, menciptakan kabut racun yang harus dihirup jutaan paru-paru.

Bams menghentikan motor sejenak di pinggir jalan raya, menunggu celah untuk masuk ke arus lalu lintas.

Di sekelilingnya, ia melihat mereka.

Pasukan Jaket Hijau.

Mereka melesat seperti peluru-peluru nyasar. Ada yang membawa kotak makanan besar di punggung, ada yang membawa penumpang wanita kantoran yang sibuk membedaki wajah di boncengan, ada yang membawa paket kardus setinggi helm mereka sendiri.

Bams mengenali taksonomi jalanan ini.

Itu, yang melaju kencang sambil menunduk melihat peta, adalah The Newbie. Terlihat dari jaketnya yang masih hijau terang dan helm yang mengilap. Mereka masih punya harapan, masih percaya pada janji manis bonus insentif. Mereka memacu motor seolah nyawa ada serepnya di bengkel.

Lalu di sana, yang duduk santai di atas trotoar sambil merokok dan tertawa-tawa dengan sesama ojol, adalah The Anyep Club. Mereka yang sudah menyerah pada algoritma pagi ini, menunggu "pecah telor" (orderan pertama) yang tak kunjung datang sambil membicarakan konspirasi server pusat.

Dan yang baru saja menyalip Bams dengan manuver zig-zag berbahaya, itu adalah The Gacor Hunter. Spesies predator. Mata mereka merah kurang tidur, motor mereka dimodifikasi untuk kecepatan, dan mereka tidak peduli pada lampu merah atau rambu dilarang putar balik. Bagi mereka, setiap detik adalah rupiah. Mereka adalah tentara terdepan prekariat yang mengejar fatamorgana kesejahteraan.

"Dan aku?" Bams bertanya pada bayangannya di spion. "Aku cuma bapak-bapak yang mencoba tidak tenggelam."

Ponsel di stang motornya bergetar hebat.

Tring!

Layar menyala. Orderan masuk. Go-Ride. Jemput: Stasiun Gondangdia. Tujuan: SCBD Sudirman. Jarak: 8.5 KM. Tarif: Rp 24.000.

Bams tidak berpikir dua kali. Jarinya menekan tombol "Terima" dengan gerakan otomatis yang sudah dilatih ribuan kali.

"Dua puluh empat ribu," gumamnya. "Dikurang potongan aplikasi dua puluh persen, sisa sembilan belas ribu dua ratus. Bensin seliter sepuluh ribu. Sisa sembilan ribu perak. Cukup buat beli beras setengah liter."

Hitungan matematika kemiskinan itu berputar cepat di kepalanya, lebih cepat dari prosesor ponselnya.

Ia menarik gas. Motor tua itu mengerang, seolah protes karena dipaksa berlari sebelum olinya panas. Bams bergabung ke dalam arus sungai besi dan karet yang mengalir menuju pusat kota.

Angin pagi menampar wajahnya yang tidak tertutup kaca helm. Dingin, tapi berbau solar.

"Guy Standing benar," batin Bams, suaranya tenggelam dalam deru mesin bus Transjakarta yang lewat di sebelahnya. "Kami adalah kelas yang kehilangan kendali atas waktu. Pagi ini, waktu saya terbagi dua: sepertiga untuk meyakinkan server pusat bahwa saya masih manusia, sepertiga untuk memastikan Mpok Hindun tidak mengusir kami, dan sepertiga sisanya... entahlah. Mungkin sudah digadaikan ke aspal ini."

Ia melirik jam di dasbor motor. 06.15 WIB.

Matahari mulai merangkak naik di ufuk timur, sinarnya malu-malu menembus polusi Jakarta yang abadi. Gedung-gedung pencakar langit di kejauhan tampak seperti siluet raksasa yang sombong, menatap angkuh ke bawah pada semut-semut yang merayap di kaki mereka.

"Selamat pagi, Jakarta," bisik Bams sarkastik. "Mari kita lihat, siapa yang akan diisap energinya lebih dulu hari ini: baterai ponselku yang sudah bocor ini, atau harga diriku yang baru saja kutitipkan di daster pemilik kontrakan."

Ia memutar gas lebih dalam. Motornya melesat, membelah kemacetan, menjadi satu titik hijau kecil di antara jutaan titik lain yang berjuang untuk sekadar bertahan hidup satu hari lagi.

Di layar ponselnya, titik penjemputan berkedip-kedip. Seperti detak jantung yang tidak stabil.

Perburuan hari ini pun dimulai.