Brumm! Brumm! Brumm!
Suara itu bukan sekadar bising mesin; itu detak jantung monster. Jakarta pagi ini tidak sedang bangun tidur, ia sedang tersedak.
Aku menahan gas, membiarkan mesin Honda Beat matic tua ini menderu rendah, seolah menggerutu karena dipaksa minum pertalite eceran yang kadar oktannya meragukan. Di depan, lautan helm dan atap mobil membentang sejauh mata memandang di Jalan Raya Casablanca. Asap knalpot mengepul, naik ke udara, membentuk kabut abu-abu tipis yang memeluk gedung-gedung kaca pencakar langit layaknya selimut beracun. Matahari pukul tujuh pagi bahkan tidak terasa hangat; ia terasa menusuk, tajam, dan penuh tuntutan.
Kurasakan getaran stang motor menjalar ke lengan, naik ke bahu, hingga bersarang di leher belakang yang mulai kaku. Kretek. Bunyi kecil dari persendianku kalah telak oleh klakson tronton di jalur kanan.
Aku menyelip. Kiri. Kanan. Celah sempit di antara bumper Alphard hitam dan bodi bus Transjakarta yang mendesis garang. Jaraknya tak lebih dari sejengkal. Jika aku meleng sedikit saja, spionku akan jadi tumbal peradaban, dan dompetku akan berdarah-darah mengganti rugi cat mobil orang kaya itu.
Guy Debord, filsuf Prancis yang bukunya kutebus murah di loakan Kwitang, pernah bilang soal Society of the Spectacle-masyarakat tontonan. Tapi, kalau si Guy pernah nyangkut di kolong jembatan Casablanca jam segini, dia pasti merevisi teorinya. Ini bukan tontonan. Ini Society of the Squeeze. Masyarakat Himpitan.
Kami adalah sarden dalam kaleng panas yang diberi label "Bonus Demografi". Terjepit di antara cicilan motor yang mencekik dan performa aplikasi yang menuntut kesempurnaan artifisial. Di sini, di aspal yang mulai memuai karena panas, ruang pribadi adalah mitos. Keringatku menetes, jatuh ke tangki bensin. Aroma solar busuk bercampur dengan wangi parfum murah dari pengendara di sebelahku. Bau Jakarta yang jujur.
Ponsel di penyangga berkedip. Layar retak di sudut kanan bawah itu menyala menampilkan peta buta dan satu titik penjemputan.
"Perburuan dimulai," gumamku, mengulang mantra pagi, meski rasanya lebih mirip doa orang yang mau masuk medan perang tanpa peluru.
Target pertama hari ini: Lobi Apartemen Bassura.
Seorang perempuan muda berdiri di sana. Kemeja putihnya terlalu licin, terlalu rapi untuk dunia yang berantakan ini. Di lehernya tergantung lanyard biru dongker khas budak korporat SCBD. Rambutnya-hitam, lurus, berkilau-jatuh sempurna di bahu, kontras dengan helmku yang baret sana-sini.
Aku menepikan motor. Standar turun. "Mbak Rara?"
Dia tidak menoleh. Matanya terpaku pada layar iPhone seri terbaru. Jempolnya menari lincah, scroll, scroll, scroll. Mungkin Instagram, mungkin TikTok, atau mungkin email dari bos yang menyuruh revisi presentasi jam segini.
"Mbak Rara?" ulangku, sedikit lebih keras, mencoba menembus tembok invisible yang dia bangun.
Dia tersentak sedikit, lalu menoleh. Tatapannya kosong, seolah aku adalah tiang listrik atau tong sampah yang kebetulan bisa bicara. Dia mengangguk pelan, lalu naik ke boncengan tanpa sepatah kata pun.
Aku mengenali spesies ini. Dalam taksonomi jalanan Jakarta yang kubuat sendiri, dia masuk kategori The Silent Commuter.
Ciri-ciri fisik: TWS (True Wireless Stereo) putih menyumbat kedua telinga sejak detik pertama. Tas bermerek dipangku erat di depan dada sebagai tameng sosial. Perilaku: Bisu. Tuli selektif.
"Ke SCBD ya, Mbak? Lewat bawah atau mau naik Flyover Tebet?" tanyaku, mencoba menjalankan SOP pelayanan prima demi bintang lima.
Hening. Hanya suara bass samar yang bocor dari earbuds-nya. Dia tidak mendengar. Atau memilih tidak mendengar. Baginya, aku hanyalah ekstensi dari algoritma. Aku adalah fungsi, bukan entitas biologis. Aku adalah kursor yang bergerak di peta Google Maps-nya. Jika motor ini bisa jalan sendiri, dia pasti lebih bahagia karena tidak perlu bersentuhan dengan punggung jaket ojol yang-harus kuakui-mulai bau apek karena belum dicuci tiga hari.
Aku menghela napas panjang, menghirup residu karbon monoksida. Kutarik gas perlahan. Motor melaju, membelah kemacetan. Di spion, kulihat dia kembali menunduk. Masuk lagi ke dalam layar 6 incinya.
Jean Baudrillard pasti tertawa melihat ini. Hyperreality. Perempuan ini fisiknya ada di boncenganku, merasakan guncangan polisi tidur dan panasnya udara knalpot lalu lintas Jakarta, tapi kesadarannya sedang tamasya di dunia piksel yang steril. Dia lebih hadir di grup WhatsApp kantornya daripada di jalanan Basuki Rahmat yang berlubang ini.
Lampu merah Kuningan. Neraka bocor di dunia nyata.
Panasnya sudah tidak sopan. Matahari seolah punya dendam pribadi pada siapa saja yang tidak punya atap mobil. Aku menyeka keringat di dahi dengan punggung sarung tangan yang kasar. Debu hitam menempel di sana.
Di sebelah kiri, sebuah baliho raksasa menjulang angkuh, menutupi pandangan langit. Iklan apartemen superblok baru. Gambarnya: Sebuah keluarga bahagia (ayah, ibu, dua anak, anjing Golden Retriever) berlarian di taman hijau yang luas. Tulisannya: "Oasis di Tengah Kota. Hunian Asri untuk Masa Depan Hijau."
Cuih...
Aku meludah ke aspal-tindakan yang tidak higienis, aku tahu, tapi ludahku terasa pahit. Ironi itu terlalu tebal. Baliho "Oasis" itu berdiri tepat di atas pemukiman kumuh di bantaran kali yang atap sengnya berkarat. Kita membangun simulakra-citra palsu tentang kenyamanan-untuk menutupi realitas kota yang membusuk. Mal-mal dingin dibangun agar kita lupa bahwa di luar sana pohon-pohon ditebang demi beton.
Dan aplikasi di ponselku ini? Sama saja. Ini peta yang menjajah wilayah. Ding! Notifikasi masuk. "Area Senopati sedang ramai! Menuju ke sana untuk peluang order lebih besar!"
Ramai apanya? Kemarin aku nongkrong di sana dua jam, anyep. Kosong melompong. Algoritma menciptakan ilusi permintaan (demand) untuk memobilisasi kami, para pasukan jaket hijau, seperti pion catur. Kami mengejar bayangan data, sementara server pusat tertawa melihat kami menghabiskan bensin mengejar fatamorgana "Surge Pricing".
"Mas, jangan ngerem mendadak dong," suara Mbak Rara tiba-tiba terdengar. Datar. Dingin.
Aku tersadar. Rupanya aku mengerem terlalu dalam saat angkot di depan memotong jalur seenaknya. "Maaf, Mbak. Angkotnya motong," jawabku. Dia tidak menyahut. Sudah kembali ke dunianya.
BRAAAKK!
Suara benturan logam dan plastik keras memecah lamunanku tentang Baudrillard. Tiga meter di depanku. Sebuah Pajero putih, gagah dan mengkilap, menyerempet stang motor seorang rekan ojol-bapak tua dengan jaket yang warnanya sudah pudar menjadi hijau lumut.
Motor si bapak oleng. Dia menahan beban dengan kaki kirinya yang gemetar. Spion kanannya patah, menggelinding tragis di aspal panas.
"Woi! Liat-liat dong!" Bapak itu berteriak. Suaranya serak, kalah oleh deru bunyi mobil-mobil di sekitarnya.
Kaca Pajero itu tidak turun. Mobil itu bahkan tidak berhenti. Hanya melambat sedikit-mungkin pengemudinya sedang mengecek spion apakah mobil mahalnya lecet-lalu kembali tancap gas, kabur ke jalur cepat, meninggalkan bapak tua itu memungut spionnya dengan tangan gemetar.
Darahku mendidih. Ada dorongan purba untuk mengejar, menggedor kaca mobil itu, dan memaksa si pengemudi turun. Solidaritas aspal. One hurt, all hurt.
Tapi lampu hijau menyala. Klakson di belakangku mulai bersahutan. Tin! Tin! Tiiinnnn! "Maju woi! Jangan bengong!" teriak seseorang.
Aku menelan ludah yang terasa makin pahit. Bapak tua itu menepi, melambaikan tangan tanda dia baik-baik saja, meski aku tahu hatinya pasti remuk.
Dulu, saat aku masih jadi mandor di pabrik tekstil Cikarang, aku punya kuasa. Jika ada mesin yang error atau membahayakan buruh, aku bisa tekan tombol merah besar. EMERGENCY STOP. Produksi berhenti. Semua diam. Masalah diselesaikan.
Di sini? Di pabrik terbuka tanpa atap bernama Jakarta ini? Tidak ada tombol stop. Produksi kemarahan harus terus berjalan. Roda ekonomi tidak peduli pada spion patah atau harga diri yang lecet. Kami harus terus bergerak, karena jika berhenti, kami mati kelaparan. Algoritma tidak mentolerir keterlambatan, bahkan untuk kemanusiaan sekalipun.
Menjelang masuk kawasan SCBD, kemacetan kembali mengunci kami di dekat terowongan.
Di sebelah kananku, sebuah mobil Low MPV hitam berhenti. Platnya hitam, tapi ada stiker kecil di kaca belakang: Kode taksi online. Kaca jendela pengemudinya perlahan turun. Mungkin mau buang abu rokok.
Tapi tidak. Sebuah wajah familiar muncul. Wajah yang bersih, sedikit berminyak, tapi tidak kusam seperti wajahku. Rambutnya disisir rapi ke belakang dengan pomade.
"Bams?"
Aku menoleh. Menyipitkan mata di balik visor helm yang buram. "Sandi?"
Itu Sandi. Teman satu angkatan saat daftar ojol motor tiga tahun lalu. Dia 'hilang' dari grup WhatsApp Paguyuban Aspal sekitar enam bulan lalu. Desas-desus bilang dia pulang kampung, atau mungkin akunnya kena suspend permanen.
Ternyata dia ada di sini. Di dalam kotak besi ber-AC.
"Masih narik motor lo, Bams?" tanyanya. Senyumnya lebar, memamerkan gigi yang tampak lebih putih dari terakhir kali kami ngopi bareng di warkop.
Hembusan udara dingin dari kabin mobilnya menerpa wajahku yang basah oleh keringat. Rasanya seperti surga yang mengejek neraka. Aroma pewangi Little Trees rasa Black Ice menguar keluar, membunuh bau asap knalpot sejenak.
"Ya beginilah, San. Irit bensin," jawabku, mencoba terdengar santai, meski nada sarkasme menyelip keluar. "Lo... upgrade?"
Sandi menepuk setir mobilnya dengan bangga. "Pindah mobil, Bro. Taksol. Gue dapet bersih tiga kali lipat dari jaman motor dulu. Capeknya beda."
Dia mencondongkan tubuh sedikit. "Emang birokrasinya ribet, Bams. Verifikasinya kayak mau jadi agen intel BIN. Muka harus jelas, SKCK baru, deposit... tapi liat nih..."
Dia menunjuk dasbornya yang bersih. Ada botol minum tumblr mahal di sana, bukan botol air mineral bekas yang diisi ulang air galon. "Gak ada debu. Gak ada hujan. Gak ada masuk angin. Lo pikirin deh, Gendis makin gede kan? Butuh biaya sekolah yang bener, bukan recehan."
Kalimat itu menohok ulu hatiku. Gendis. Nama anakku disebut di tengah bising klakson rasanya seperti ada jarum yang menusuk paru-paru.
"Mobil sewaan?" tanyaku, skeptis. Aku tahu jebakan utang sewa mobil. Banyak yang hancur karena itu.
"Sewa lepas kunci. Tapi ketutup, Bams. Asal rajin. Rating gue udah Platinum," katanya, seolah Platinum adalah gelar bangsawan baru di abad 21.
Lampu lalu lintas berubah hijau. "Pikirin, Bams! Sayang badan lo!" serunya sambil menaikkan kaca jendela.
Mobil hitam itu melaju mulus, tanpa suara, tanpa getaran. Meninggalkan aku yang masih harus menghentak kaki untuk menyeimbangkan motor, merasakan panas mesin menjalar di antara paha, membakar celana jinsku yang mulai tipis.
"Sayang badan lo..." Suara Sandi terngiang, bercampur dengan deru knalpot bajaj di sebelah kiri.
Lobi Gedung Treasury Tower, SCBD. Kawasan ini beda negara. Aspalnya mulus tanpa tambalan. Trotoarnya lebar dan bersih dari pedagang kaki lima. Satpam-satpam bertubuh tegap dengan seragam safari menatap setiap motor ojol dengan tatapan curiga, seolah kami adalah bakteri yang hendak menginfeksi kesterilan wilayah mereka.
"Kiri aja, Mas. Jangan masuk lobi, nanti dimarahin sekuriti," kata Mbak Rara. Akhirnya dia bicara kalimat panjang.
Aku menepi di dekat gerbang. Dia turun, merapikan roknya yang sedikit kusut. Melepas helm tanpa melihatku, lalu menyerahkannya. "Makasih," gumamnya pelan. Sangat pelan. Tanpa senyum. Tanpa kontak mata.
Dia berjalan cepat, heels-nya berbunyi tak-tak-tak di atas paving block mewah, lalu menghilang di balik pintu kaca otomatis yang menyemburkan udara dingin. Dia kembali ke habitatnya. Ke dalam akuarium raksasa yang nyaman.
Aku melirik ponsel. Orderan Selesai. Pendapatan: Rp 14.000. (Belum dipotong komisi aplikasi 20%).
Aku menatap telapak tanganku. Kapalan menebal di pangkal jari-jari. Kulit mengelupas di sela ibu jari. Kuku hitam terselip debu jalanan. Gemetar halus masih tersisa akibat getaran stang selama satu jam perjalanan.
Bayangan wajah Sandi yang segar di dalam mobil tadi kembali muncul. Dia benar. Paru-paruku tidak terbuat dari asbes. Encok di pinggangku ini nyata, bukan simulasi Baudrillard.
Aku menengadah, menatap puncak gedung pencakar langit yang menusuk langit biru Jakarta. Kaca-kaca gedung itu memantulkan cahaya matahari, menyilaukan mata. Di dalam sana, orang-orang bekerja tanpa menghirup timbal. Di dalam kotak besi seperti milik Sandi, orang-orang bergerak tanpa merasakan panas aspal.
Aku meraba dada kiri, tempat jantungku berdegup-dan tempat dompet tipisku tersimpan.
Ternyata, perbedaan antara prekariat yang kepanasan dan prekariat yang kedinginan hanyalah terletak pada jumlah cicilan dan selembar izin verifikasi dari server pusat.
Kami sama-sama budak algoritma. Bedanya, Sandi adalah budak yang diberi AC. Dan pagi ini, di tengah debu SCBD yang menyesakkan, aku sadar satu hal berbahaya: Aku menginginkan AC itu.
Aku ingin "naik kelas".
Ponselku bergetar lagi. Orderan baru. Tapi kali ini, aku tidak langsung menekan tombol Terima. Jempolku ragu, melayang di atas layar yang retak. Pikiranku melayang ke brosur sewa mobil yang pernah kulihat di pos ronda Mpok Hindun.
Apakah ini jebakan? Atau jalan keluar? Yang jelas, aspal di bawah kakiku terasa semakin panas, seolah mendesakku untuk segera memilih: Tetap jadi daging yang dipanggang, atau menjadi mesin yang didinginkan.