Matahari Jakarta pukul sepuluh pagi tidak pernah sopan. Sinar itu menghantam aspal Sudirman, memantul, lalu menusuk balik ke wajah siapa saja yang cukup bodoh untuk tidak berlindung di balik kaca film V-Kool.
Aku salah satu orang bodoh itu.
Di depan lobi Treasury Tower, aku masih berdiri mematung. Punggungku basah. Keringat dingin sisa pertemuan dengan Sandi tadi bercampur dengan uap panas knalpot mobil butut yang entah kenapa masih lolos uji emisi. Di saku celana, ponselku bergetar. Bukan orderan. Hanya notifikasi spam pinjaman online yang menawarkan "Dana Cepat Cair Tanpa Agunan" seolah mereka tahu isi dompetku tinggal 6 lembar rupiah bergambar Pattimura.
Aku menunduk, menatap Honda Beat keluaran 2018 yang terparkir miring di trotoar.
"Breet... breet... uhuk."
Bahkan saat diam pun, motor ini sudah tampak lelah. Cat hitam di bodi sampingnya sudah memudar menjadi abu-abu kusam, penuh baret halus-tanda mata dari kerasnya persaingan di celah kemacetan Gatot Subroto. Spion kirinya retak, distabilkan dengan lilitan karet gelang bekas nasi bungkus. Joknya? Jangan tanya. Busa itu sudah tipis, menyisakan kontur keras yang menghajar tulang ekorku setiap kali roda menghajar lubang.
Ini bukan sekadar kendaraan. Ini perpanjangan tubuhku yang sakit-sakitan.
Guy Standing dalam bukunya mungkin menyebut benda ini sebagai "modal kerja prekariat". Tapi bagiku, Beat ini adalah borgol. Borgol yang memaksaku menghirup timbal, memaksaku merelakan paru-paru menjadi filter udara kota, dan memaksaku tetap berada di kasta terendah dalam piramida rantai makanan aspal.
"Ayo, tua bangka," gumamku, menepuk stang yang terasa lengket oleh daki dan debu. "Kita cari tempat teduh sebelum mesinmu meledak."
Aku memutar kunci kontak. Mesin menderu kasar. Suara cv-belt yang longgar mencicit, protes karena dipaksa bekerja lagi. Getaran mesin merambat naik lewat lengan, mengguncang bahu, hingga gigi-gigiku terasa beradu.
Gas kuputar. Motor melaju tersendat-sendat meninggalkan kemegahan SCBD. Di kaca spion yang retak, gedung-gedung tinggi itu tampak terdistorsi, pecah, seolah menertawakan punggungku yang makin lama makin membungkuk.
Shelter Ojol "Pojok Aspal" di belakang gedung perkantoran itu sebenarnya cuma lahan sisa gusuran yang diberi atap terpal biru. Lantainya cuma tanah merah yang kalau hujan berubah jadi bubur cokelat, dan kalau panas-seperti sekarang-jadi pabrik debu.
Aroma di sini khas. Campuran bau got yang mampet, asap rokok murah, gorengan yang digoreng ulang dengan minyak curah hitam pekat, dan bau keringat lusinan laki-laki yang mulai menyerah pada nasib.
Aku memarkir motor di deretan paling ujung. Di sana, Ucup sedang duduk bersila di atas bale bambu, memegang gelas kopi plastik yang es batunya sudah mencair separuh. Jaket hijaunya digulung sampai siku, memamerkan lengan yang belang terbakar matahari.
"Muka lo kusut amat, Bams. Kayak uang kembalian receh," sapa Ucup tanpa menoleh, matanya masih sibuk memelototi layar ponsel. Jari jempolnya bergerak gesit, menskakmat entah siapa di kolom komentar grup Facebook komunitas ojol.
Aku tidak menjawab. Hanya melempar helm ke atas meja kayu yang penuh lingkaran bekas gelas.
Aku duduk di sebelahnya, menyandarkan punggung ke tiang bambu. Tulang punggungku berbunyi krek. Nikmat sekaligus nyeri.
Kuambil ponsel dari saku. Layar retak seribu itu menyala. Aplikasi "Tuan Algoritma Digital" itu terbuka. Jari telunjukku melayang ragu di atas ikon menu yang selama ini kuhindari: Pendaftaran Mitra Roda Empat (Taksol).
Menu itu bersinar. Menggoda. Seolah berbisik, Klik aku, Bams. Klik aku dan kau akan selamat dari debu.
"Lo abis ketemu si Sandi, kan?" tanya Ucup tiba-tiba. Dia meletakkan ponselnya. Nada suaranya berubah serius.
Aku menoleh. "Tau dari mana lo?"
"Grup WA Paguyuban Aspal ribut. Ada yang liat lo ngobrol sama supir taksol necis di depan Treasury. Siapa lagi kalau bukan si pengkhianat itu."
"Dia bukan pengkhianat, Cup. Dia cuma... pivot karier," jawabku, mencoba terdengar diplomatis, meski hatiku sendiri ragu.
"Pivot karier gundulmu," Ucup mendengus. Asap rokok mengepul dari mulutnya. "Dia itu lupa kulit. Dulu waktu motornya ditarik leasing, siapa yang patungan nebus? Kita. Sekarang? Lewat sini aja kagak pernah nengok. Kaca ditutup rapet. AC dingin. Musik jedag-jedug."
Aku kembali menatap layar ponselku. Tulisan di sana semakin jelas terbaca.
PERSYARATAN UPGRADE LAYANAN: 1. KTP & SIM A Aktif. 2. SKCK Terbaru. 3. Deposit Awal & Biaya Administrasi Transisi: Rp 750.000.
Angka itu sontak memukul-mukul ulu hatiku. Tujuh ratus lima puluh ribu.
Otakku langsung mengonversi angka itu menjadi komoditas nyata. Itu biaya susu Gendis. Itu bayaran tunggakan listrik ke Mpok Hindun. Itu modal makan dua minggu.
"Gue mau nyoba, Cup," kataku pelan.
Hening...
Suara gorengan mendesis di wajan penggorengan tak jauh dari kami terdengar sangat keras. Ucup menatapku tajam. Tatapan seorang veteran perang yang melihat prajurit mudanya hendak melangkah ke ladang ranjau.
"Lo gila," bisiknya. "Lo nggak punya mobil, Bams. Sewa harian itu jebakan. Lo kerja buat bayar sewa doang. Lo pikir enak? Sandi itu hoki. Lo liat statistik. Berapa banyak yang nyewa mobil terus malah nombok? Pulang ke rumah utang nambah, bukan bawa duit."
"Badan gue udah nggak kuat di motor, Cup," potongku. Suaraku serak. "Encok gue makin parah. Kemarin gue batuk keluar dahak item. Gendis butuh bapaknya sehat, bukan bapak yang mati pelan-pelan di pinggir jalan."
Aku menunjuk jalan raya di depan shelter. Sebuah mobil MPV hitam melintas pelan. Kaca riben gelap. Bersih. Mengkilap.
"Gue mau di dalem situ, Cup. Gue mau ada di dalem kotak besi itu. Gue mau ngerasain dinginnya AC. Gue mau terpisah dari aspal ini."
Ucup terdiam. Dia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu membuang puntungnya ke tanah dan menginjaknya.
"Kotak besi itu bukan pelindung, Bams. Itu akuarium. Lo bakal sendirian di sana. Di sini, kalau motor lo mogok, satu shelter turun bantuin. Di mobil? Lo mogok di tol, lo cuma jadi tontonan. Lo bakal terasing."
Alienasi.
Kata itu bergaung di kepalaku. Karl Marx mungkin bicara soal alienasi buruh dari produknya. Tapi di Jakarta 2026, alienasi adalah terpisah dari sesama manusia oleh kaca setebal 5 milimeter.
Dan jujur saja? Aku menginginkan alienasi itu. Aku ingin jeda. Aku ingin hening.
"Gue tetep mau coba," tegasku.
Ucup mengangkat bahu, menyerah. "Terserah lo. Jangan bilang gue nggak ngingetin. Kalau lo butuh duit buat deposit, gue cuma ada gocap. Itu pun jatah rokok seminggu."
Aku tersenyum kecut. "Simpen aja, Cup. Gue ada tabungan dikit. Sisa pesangon pabrik yang gue umpetin di bawah kasur."
Kebohongan kecil. Itu uang celengan Gendis yang kupecahkan tadi pagi diam-diam, dengan janji pada diri sendiri akan kuganti sepuluh kali lipat.
Aku bangkit, berjalan menjauh dari keramaian shelter menuju area parkir yang agak sepi. Cahaya matahari sedang terik-teriknya, tegak lurus di atas kepala. Sempurna untuk foto dokumen. Tidak boleh ada bayangan. Sistem verifikasi AI (Artificial Intelligence) aplikasi ini terkenal rewel. Sedikit blur, tolak. Sedikit gelap, tolak.
Tanganku merogoh dompet kulit imitasi yang sudah mengelupas. Mengeluarkan SIM A yang terselip di balik foto Gendis.
Plastik laminating SIM itu sudah agak buram, tergores gesekan keluar-masuk dompet selama bertahun-tahun. Masa berlakunya... mataku menyipit.
Berlaku s/d: 15-03-2026
Masih aman. Masih ada sebulan lebih. Harusnya sistem menerima.
Aku meletakkan SIM di atas jok motor Beat-ku yang panas. Tangan kiriku memegang ponsel, tangan kananku mengatur fokus kamera.
Jari-jariku gemetar. Bukan karena penyakit, tapi karena harapan. Harapan itu menakutkan. Harapan adalah beban. Jika ini berhasil, aku naik kelas. Jika gagal... aku akan tetap menjadi debu.
Klik.
Layar ponsel menangkap gambar. Sedikit miring.
"Ulang," gumamku.
Klik.
Terlalu silau. Pantulan matahari di plastik SIM membuat huruf 'N' pada namaku hilang.
"Sialan."
Aku menggeser posisi, menutupi cahaya dengan bayangan tubuhku sendiri. Keringat menetes dari dahi, jatuh tepat di layar ponsel. Pluk. Aku mengelapnya kasar dengan lengan baju.
Klik.
Sempurna. Jelas. Terbaca.
Aku menarik napas panjang. Mengisi formulir digital itu.
Nama: Bambang Sulistyo. NIK: Terisi otomatis. Jenis Kendaraan: Sewa (Mitra Rental Resmi). Metode Pembayaran Deposit: Potong Saldo Dompet Tunai (yang baru saja kuisi lewat minimarket sepuluh menit lalu dengan uang celengan Gendis).
Jariku melayang di atas tombol hijau besar bertuliskan: AJUKAN VERIFIKASI.
Jantungku berdegup kencang, menghantam rusuk. Rasanya seperti saat pertama kali melamar kerja di pabrik tekstil dua belas tahun lalu. Rasa mulas yang sama. Rasa takut ditolak yang sama.
Aku menekan tombol itu.
Layar berubah putih. Sebuah lingkaran biru berputar di tengah.
Memproses data...
Aku menahan napas. Suara bising Jakarta-klakson, teriakan kernet, deru mesin-mendadak senyap di telingaku. Fokusku hanya pada lingkaran setan yang berputar itu.
Algoritma sedang bekerja. Di suatu tempat di server raksasa yang dingin, nasibku sedang dihitung oleh barisan kode biner. Apakah Bambang Sulistyo layak naik kelas? Apakah Bambang Sulistyo pantas duduk di balik kemudi dan menikmati AC?
Memvalidasi dokumen...
Satu detik terasa seperti satu jam. Keringat mengucur deras di pelipis. Ayolah. Ayolah.
Ting!
Notifikasi masuk. Layar berkedip sekali. Kotak dialog muncul.
Warnanya... Merah.
VERIFIKASI GAGAL.
Mataku melebar. Napasku tercekat. Aku membaca teks kecil di bawahnya dengan panik.
Alasan Penolakan: Dokumen SIM A tidak terbaca dengan jelas (Blur/Low Resolution) ATAU masa berlaku kurang dari 3 bulan. Sesuai Regulasi Keselamatan Mitra 2026, dokumen wajib memiliki masa aktif minimal 6 bulan sebelum kedaluwarsa.
"Bangsat!"
Umpatan itu meledak begitu saja. Aku menendang ban depan motorku.
Bukkk!
Sakit menjalar di jari kaki, tapi rasa sakit di dada lebih parah.
Kurang dari tiga bulan.
Aturan macam apa ini? SIM-ku masih hidup! Masih legal di mata hukum negara! Kenapa di mata hukum aplikasi ini jadi sampah?!
"Regulasi baru..." desisku, teringat gosip di warung kopi. Aplikasi memperketat syarat untuk mengurangi jumlah mitra mobil yang membludak. Mereka melakukan soft-culling. Pemusnahan halus.
Aku mencoba menekan tombol "Ajukan Ulang", tapi tombol itu abu-abu. Mati.
Akun Anda ditangguhkan sementara dari pendaftaran fitur baru selama 24 jam karena kegagalan verifikasi dokumen.
Lemas.
Lututku goyah. Aku merosot duduk di trotoar panas di samping motor bututku.
Tujuh ratus lima puluh ribu rupiah sudah masuk ke saldo deposit, terkunci, tidak bisa ditarik tunai lagi tanpa potongan administrasi besar. Uang Gendis. Terjebak di dalam awan digital.
Aku menatap gedung verifikasi kantor pusat aplikasi di seberang jalan. Gedung kaca biru yang menjulang angkuh, menusuk langit Jakarta yang polutif. Di dalam sana, mungkin ada anak muda lulusan luar negeri yang sedang menyeruput latte, membuat aturan "minimal 6 bulan" ini sambil mendengarkan podcast motivasi, tanpa tahu bahwa satu baris kode yang dia tulis baru saja menghancurkan harapan seorang bapak di pinggir got.
Ucup benar. Ini bukan sekadar pindah kendaraan. Ini memanjat tembok licin yang dilumuri minyak.
Sebuah mobil mewah melintas lagi. Kali ini Toyota Alphard putih. Kaca jendelanya sedikit terbuka. Aku sekilas melihat penumpangnya: seorang pria dengan jas rapi, sedang tertawa lepas sambil memegang telepon. Wajahnya cerah. Kulitnya bersih.
Spesies: The Backseat Dictator.
Dia tidak melihatku. Tentu saja tidak. Bagi dia, aku hanyalah piksel buram di latar belakang pemandangannya. Bagian dari tekstur kota yang kotor.
Aku menoleh ke arah Beat 2018-ku.
Mesinnya yang panas memancarkan hawa yang membakar paha. Aromanya campur aduk antara oli bocor dan bensin murah. Spionnya yang retak memantulkan wajahku. Kusam. Berminyak. Mata merah kurang tidur.
"Oke," bisikku pada besi tua itu. "Oke. Lo menang."
Aku belum boleh naik kelas. Sistem menolakku. Kotak besi itu masih terkunci rapat.
Kurasakan getaran di saku lagi. Notifikasi aplikasi.
TING!
Bukan soal verifikasi. Orderan masuk.
GO-RIDE Jemput: Lobby Belakang SCBD Tujuan: Stasiun Tebet Tarif: Rp 14.000
Jarak jemput 2 kilometer. Macet total.
Tanganku bergerak otomatis, digerakkan oleh refleks budak algoritma. Terima.
Aku memakai helm yang bau apek itu. Kaca helm penuh baret membuat pandangan menjadi kuning suram.
"Ternyata," gumamku sambil menstarter motor yang kembali batuk-batuk, "pintu masuk menuju 'Kotak Besi' tidak dikunci dengan gembok, melainkan dengan resolusi kamera yang tidak sinkron dengan kemiskinan pemiliknya."
Motor melaju. Menyatu kembali dengan debu. Menjadi satu titik kecil yang tidak berarti di peta digital raksasa.
Dan di atas sana, matahari Jakarta terus bersinar, tanpa rasa belas kasih sedikit pun.