Keluarga yang Lain

14 February 2026

Rama punya mainan hidup. Ralat. Lebih tepatnya Rama punya peliharaan hewan yang hidup (ya iyalah hidup). Yang paling tepat dan sederhana, Rama punya kucing. Namanya Pico dan Pici, yang memberi mereka kedua kucing itu adalah si Iki adek sepupunya kelas III SD tanpa memandang jenis kelamin, tanpa memandang ras, tanpa melihat bakat yang mereka miliki, tapi menurut dirinya itu sudah cukup keren untuk nama sebuah kucing. Pico dan Pici adalah anak dari si Pussy, kucing kesayangan Opa Rama selama di Gorontalo.

    Kalo si Pussy, Rama sendiri yang memberi nama. 
    Nama itu sudah cukup keren untuk seekor kucing kampung, berwarna ceria ada putih, ada abu-abu dan kuning, meskipun dirinya kadang berharap ada warna biru atau ungunya biar lebih unyu.
    ....

    Si Pusy adalah kucing yang gak tau muncul dari mana saat itu. Tiba-tiba saja dia ada di rumah dan kini menjadi bagian keluarga mereka. Rama kadang heran kenapa setiap rumah yang jadi tempat tinggalnya selalu ada hewan imut tapi kadang ngeselin kalo pup sembarangan ini.

    Pertama kali dirinya melihat Pusy ada di rumah, IA sempat menanyakan dari mana asalnya. Siapa ayah ibunya. Sekolah dimana. Umurnya berapa. Sudah nikah apa belum.  
    Jawabanya selalu “MEEOOONG”.
            Artinya yang Rama tangkap saat itu adalah Pusy yatim piatu. Dirinya sempat sedih mendengarnya. Sungguh kucing yang malang nasibnya.

    Kadang Rama berpikir. Mungkin keluarga Pusy adalah keluarga *italic text* yang ayah ibunya memutuskan untuk membuangnya, atau bunuh diri, atau juga keluarga mereka adalah korban pembantaian G30SPKI. Mungkin. Bisa Jadi.
    ....

    Si Pusy adalah kucing perempuan yang sering sekali hamil dan beranak. 
    Rama paling benci kalo dirumah, Pusy sudah mulai mual-mual, pusing, kadang juga pingsan. Ia tahu kalo itu tanda-tanda orang hamil seperti di sinetron-sinetron yang pernah Ia tonton.
    Dalam hal ini tanda-tanda kucing hamil.
    Kalo sudah seperti itu, Rama sering bertanya ke Pusy;
    “pusy, kamu hamil yaa? Siapa yang telah melakukan itu kepadamu?”
    Jawabannya selalu sama “meoongg”. 
    Artinya yang dirinya tangkap dan mengerti. 
    “Enggak mas, Cuma masuk angin biasa”. 
    ....

    Si Pusy selalu ngeles. Sampai akhirnya beberapa bulan kemudian dia beranak.

    Alhamdulillah prosesnya normal tanpa operasi cesar. Rama gak bisa bayangin berapa biaya yang harus dirinya tanggung kalo Pusy ngelahirin secara operasi caesar. 
    Tapi setelah lahiran dan sehat, Rama langsung memarahinya.
     “tuh kan? Kamu beranak! Siapa bapak dari anak itu? Ayoo ngaku!”  
    Dan lagi jawabannya sama “MEEOONG”. 
    Artinya yang dirinya tangkap dan mengerti. 
    “Aku gak tahu mas”. Sambil ngeliatin wajah penyesalan. 
    ....

    Si Pussy tidak pernah bisa mengaku siapa kucing jantan yang membuatnya hamil dan sampai beranak. Telalu banyak hubungan gelap yang Ia jalin. 
    Karena teramat sering, akhirnya Rama sering juga membuang anak dari hasil hubungan gelap si Pusy dengan kuncing jantan tak bertanggungjawab itu. Hal ini selalu dirinya lakukan beberapa minggu setelah Pussy melahirkan. 
    Sebab jika dibiarkan tinggal dirumah, Ia takut itu akan jadi bahan gosip tetangga-tetangga dan jadi berita miring tentang keluarganya.  
    SUMPAH ! INI SERIUUSS !
    ....

    Mungkin sudah tak terhitung dosa yang Rama tanggung dalam adegan ini, tapi tak mengapa. Dari pada Ia dan keluarga harus di keluarkan dari perumahan tempat tinggal mereka karena dianggap menjadi mucikari kucing. Uhh. 
    ....

    Kemudian biasanya. Setelah dirinya melakukan adegan yang tidak berperikekucingan itu si Pussy langsung ngambek. 
    Pusy gak bisa di ajak ngobrol. Gak mau makan. Gak mau diajak main PS. Gak mau mandi, Gak mau cuci muka. Kerjaanya mengurung diri terus di kamar ngabisin tisu. 
    Sampi Oma Rama selalu marahi dirinya kenapa tisu di rumah bisa cepat banget habis gara-gara dibawa sembunyi di kamar oleh Pusy. Rama selalu diem. Gak bisa menjawab apa-apa. Karena hal itu semua memang dirinyalah penyebabnya. 
    Jika dirinya tidak membuang anak hubungan gelap si Pussy, si Pussy gak mungkin akan mengurung diri di kamar menangis dan mengabikan tisu dirumah.
    ....

    “Pusyy,,,, Itu anak haram pussy, ANAK HARAM!” Rama mencoba membujuk. 
    “meeoonngg” balas si Pussy.
    Arti yang dirinya tangkap dan mengerti. 
    “Mas gak tau perasaan seorang ibu” 
    Dalem hati Rama.
     “Gila. ternyata kucing juga punya naluri ke ibuan”.
    ....

    “Sudahlah, makanya lain kali kamu harus bawa ayah dari anak kamu itu. Biar kalian aku kawinkan.. gak enak sama tetangga, nanti jadi banyak berita miring ke keluarga kita Pussy..” 
    Rama mencoba ngebujuk kayak orang gila.  
    Mungkin emang udah gila.
    Pusy diem dari balik kamar. 
    Sangat lama diam tak ada suara. 
    Rama mulai panik. 
    Rama takut dia ngelakuin hal yang tidak diinginkan. (dalam hal ini bunuh diri).
    ....

    “PUSY? PUSY? PUSY!” 
    Rama mencoba memanggilnya. Berulang kali panggilannya tetap tak ada balasan. 
    Kampret ! 
    Bahaya !
    Akan ada bangkai kucing mati di kamar.  
    Rama mendobrak pintu.  
    “Crooot!" 
    Ralat. Kok bunyinya kayak mencret. 
    "Bruuuukkk..”
    ....

    Kampret.
    Rama melihat tenyata si Pusy lagi pulas tertidur. Mungkin Pusy lelah menangis dan lelah memikirkan kekejaman yang telah dirinya lakukan. Membuang setiap anak haram yang Pusy lahirkan. 
    ....

    Itu komunikasi terakhir antara Rama dan si Pusy.  Sebelum akhirnya Rama memutuskan kuliah keluar kota. 
    Rama pergi tanpa pamitan ke Pusy. Karena sampai pada saat dirinya akan pergi meninggalkan rumah di Gorontalo itu si Pussy sepertinya masih marah kepada dirinya.
    ....

    Beberapa bulan kemudian Rama pulang kembali ke Gorontalo untuk liburan sekaligus kumpul keluarga. Ada Opa, Oma, Tante, Om, Ramdan, Ain, Iki. Tapi Rama tidak melihat lagi si Pussy.

    Di rumah itu malah ada 2 kucing kecil warna putih abu-abu (si Pico). Dan, warna ceria mirip si Pusy (si Pici). 
    Rama penasaran. Ia menanyakan ke Iki adik sepupunya yang kelas III SD.
     “itu kucing siapa ?” Rama.
    “itu anaknya si Pussy.. Pico dan Pici..” Balas Iki.
    Katanya itu anak dari si pussy. 
    “terus, si Pussy mana ?” Rama lanjut bertanya.
    “tidak tau. sudah tidak ada..” balas Iki.

    Iki memberitahukan bahwa Pusy sudah tak ada lagi dirumah itu. Entah kemana. Tetapi terkadang sesekali bisa datang ke rumah.

    Rama tak tau apa yang Pusy pikirkan hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari rumah itu.

Mungkin Pusy lelah karena umurnya yang sudah makin tua. Dan, dia meninggalkan anak hamil tuanya yang mungkin juga hasil hubungan gelapnya dengan kucing jantan liar di sekitar rumah itu. Atau mungkin juga dia sudah menikah bersama kucing jantan yang bertanggung jawab, dan akhirnya dibawa untuk tinggal bersama keluarga mereka. Semoga saja seperti itu. ....

*CATATAN : INI ADALAH TULISAN GILA. SETELAH MEMBACA TULISAN INI, TOLONG DICERNA BAIK-BAIK. KARENA RAMA KHAWATIR KALIAN JADI GILA ASIK NGOBROL DENGAN KUCING-KUCING DI RUMAH MAUPUN DILUAR.

*Kucing bernama Pussy, Pico, dan Pici adalah benar kucing yang tinggal di rumah bersama Opa Oma, om, tante, dan sepupu Rama di Gorontalo. Dirinya pun pernah tinggal dan bermain bersama mereka. Mereka adalah bagian dari “keluarga yang lain” di keluarga mereka.