Urban #Ojol #Taksol

Algoritma yang Tak Pernah Basah

Penulis djoedo
17 February 2026

Tik...

Satu titik air jatuh tepat di kaca spion kiri. Pecah. Membentuk anak sungai mikro yang meliuk di permukaan cermin cembung yang penuh goresan.

Tik. Tik.

Langit di atas Kuningan tidak lagi biru. Sepotong cakrawala yang terhimpit di antara Menara Cyber 2 dan Gedung Bakrie itu kini berwarna abu-abu semen. Warna yang mengingatkanku pada lantai pabrik tekstil di Cikarang lima tahun lalu. Dingin, industrial, dan tidak memiliki belas kasih.

Aroma itu datang lebih dulu sebelum air benar-benar tumpah. Aroma khas tanah kering saat terkena air hujan...

Bagi para penyair senja di kedai kopi Senopati, bau tanah basah adalah romantisasi. Sinyal untuk memesan hot latte dan memotret jendela berembun dengan caption galau. Tapi di sini, di atas aspal Rasuna Said yang memanggang ban botak Honda Beat 2018-ku, petrikor adalah peringatan bahaya. Bau ini bercampur dengan aroma solar busong, debu kampas rem, dan uap panas mesin yang mendadak didinginkan paksa.

Baunya asam. Logam. Seperti bau koin receh yang dikulum.

Aku mendongak. Awan hitam bergulung rendah, seolah perut langit sedang mulas dan siap memuntahkan isinya ke kepala jutaan manusia di bawahnya. Guy Standing benar. Kami, kaum prekariat, tidak punya hak istimewa atas cuaca. Risiko hujan, risiko sakit, risiko kecelakaan-semuanya telah di-outsource oleh sistem aplikasi ke pundak mitra.

Aplikasi tidak pernah basah. Server mereka di Singapura (atau entah di mana) tetap kering dan sejuk dalam suhu 18 derajat Celsius yang stabil. Sementara aku? Aku adalah firewall daging yang harus menahan gempuran air demi mengantar paket pempek atau menjemput karyawan yang takut make-up-nya luntur.

"Sial," umpatku pelan.

Dahak kental terasa menyumbat tenggorokan. Aku terbatuk. Keras. Rasanya seperti ada parutan kelapa kasar yang digesekkan di dinding kerongkongan. Batuk ini sudah minggu kedua. Tidak ada darah, tapi rasanya logam.

Notifikasi di ponsel yang tertempel di holder stang berkedip. Bukan orderan. Hanya peringatan cuaca dari aplikasi: "Area Anda sedang hujan deras. Permintaan tinggi. Pastikan atribut keselamatan terpasang."

Kalimat itu terdengar seperti ejekan sopan. Atribut keselamatan? Maksudnya jas hujan plastik sepuluh ribuan yang tipisnya seperti kondom bekas?


Ritual Zirah Plastik

Aku membelokkan stang ke kiri, memotong jalur Transjakarta secara ilegal demi mencapai tempat perlindungan: kolong Flyover Kuningan.

Di sana, sebuah ritual kolosal sedang berlangsung. Puluhan motor sudah berjejer. Pasukan Jaket Hijau dari berbagai aplikator, kurir paket dengan keranjang goni, hingga bapak-bapak kantoran dengan jas rapi yang panik melindungi laptop inventaris kantor.

Suasana di bawah beton raksasa ini kacau. Klakson bersahutan.

"Woiii! Majuan dikit napa! Buntut motor lo makan jalan!" teriak seorang kurir berjaket oranye.

Aku menyelipkan Beat-ku di celah sempit antara knalpot panas Yamaha NMAX dan tiang beton yang ditempeli stiker sedot WC. Kakiku gemetar saat menstandarkan motor. Lutut kiri terasa ngilu. Encok sialan. Usia 35 tahun dengan punggung 60 tahun.

Aku membuka jok motor. Mengambil bungkusan plastik kresek hitam yang kusimpan di samping tangki bensin.

Sreeet... sreeet...

Suara plastik yang ditarik paksa. Aku mengenakan jas hujan model ponco seharga sepuluh ribu perak. Warnanya hijau mentereng, tapi bahannya meragukan. Saat kepalaku masuk ke lubang leher, bau karet murah dan keringat apek langsung menyergap. Ini adalah aromaterapi kemiskinan.

Di sebelahku, seorang bapak tua-mungkin usianya sudah kepala lima-kesulitan memasukkan kakinya ke celana jas hujan. Ia kehilangan keseimbangan, hampir jatuh menimpa knalpotku.

"Hati-hati, Pak," ujarku refleks, menahan sikunya. Lengannya kurus, hanya tulang dibalut kulit keriput dan jaket partai yang sudah pudar logonya.

"Makasih, Mas. Mata agak siwer kalau gelap begini," jawabnya sambil tersenyum ompong.

Kami berdiri bersisian seperti penguin yang kedinginan, memandang ke arah jalan raya. Hujan mulai turun deras. Bukan lagi rintik, tapi jarum-jarum air yang ditembakkan dari langit.

Wush! Wush!

Sebuah mobil hitam melintas cepat, membelah genangan air. Cipratannya, campuran air hujan dan lumpur jalanan, melompat tinggi dan menampar wajah bapak tua di sebelahku.

"Bajingan!" teriak seseorang di belakang.

Aku menyeka wajahku yang ikut terkena percikan. Rasa asin dan pasir.

Mobil itu, sebuah Toyota Innova hitam dengan kaca film gelap, terus melaju tanpa dosa. Kaca jendelanya tertutup rapat. Di dalamnya, aku membayangkan AC yang sejuk, musik jazz yang mengalun pelan, dan jok empuk yang menopang punggung tanpa rasa sakit.

Mungkin Sandi ada di dalam salah satu mobil itu. Atau mungkin Ucup benar, Sandi sudah jadi orang asing.

Bagi mereka yang di dalam "Kotak Besi", hujan hanyalah visual. Efek sinematik di kaca jendela. Bagi kami yang di luar? Hujan adalah serangan fisik. Inilah Society of the Spectacle dalam bentuk paling basah. Kami adalah tontonan penderitaan yang mereka lewati sambil mengecek feed Instagram.


Taksonomi Penumpang: The Flood Optimist

Ponselku bergetar hebat di stang motor. Layar menyala menembus plastik pembungkus (kondom HP) yang mulai buram.

CETREK!

Satu orderan masuk. Gacor. Jarak penjemputan hanya 200 meter. Di lobi Menara Bakrie.

Aku menatap layar. Tarifnya lumayan karena ada lonjakan harga (Surge Pricing). Tapi, tujuannya ke Setiabudi, daerah yang kalau dikencingi sedikit saja langsung banjir.

Ambil? Tidak? Ambil? Tidak? Ambil? Tidak?

Wajah Gendis langsung melintas di kepala. Biaya daftar ulang sekolah. Uang deposit yang terkunci.

Jari telunjukku bergerak sendiri. TERIMA.

"Bams, lo emang budak algoritma," rutukku pada diri sendiri.

Aku menembus hujan. Air dingin langsung merembes masuk lewat celah leher jas hujan, menjalar turun ke punggung seperti jari hantu es. Dingin. Menggigil.

Sampai di lobi menara, satpam memandangku dengan tatapan mengusir. "Jangan lama-lama di lobi, Mas. Becek."

"Iya, Pak. Cuma jemput," jawabku datar.

Penumpangku keluar. Seorang pria muda, mungkin usia 20-an akhir. Kemeja slim-fit licin, rambut klimis dengan pomade yang mungkin harganya lebih mahal dari kampas remku. Dia menjinjing sepatu pantofel kulit di tangan kanan, sementara kakinya memakai sandal jepit hotel tipis.

Inilah spesies The Flood Optimist.

Dia berlari kecil ke arahku, menggunakan tas laptopnya sebagai payung darurat.

"Mas Bams ya?" tanyanya setengah berteriak mengalahkan suara hujan.

"Siap, Mas. Nih helmnya. Tapi agak basah dikit busanya, nggak apa-apa ya?"

Dia menerima helm itu dengan ujung jari, seolah aku baru saja menyerahkan bangkai tikus. Wajahnya meringis sedikit saat memasang helm yang lembap itu ke kepalanya yang penuh pomade.

"Mas, nanti lewat jalan tikus aja ya. Rasuna macet total tuh map-nya merah darah," perintahnya begitu naik ke jok belakang. Beban suspensi motor langsung naik drastis.

"Lewat belakang banjir, Mas. Setiabudi kalau hujan gini selokan sama jalanan nyatu," jelasku, mencoba rasional.

"Ah, bisa lah, Mas. Motor Mas kan tinggi. Teman saya tadi lewat situ aman kok. Saya buru-buru nih, ada meeting jam lima."

Temannya pasti naik motor trail atau rakit, pikirku. Tapi aku diam saja.

"Oke, pegangan, Mas."

Kami meluncur keluar dari lobi kering menuju neraka air.

Hujan semakin gila. Jarak pandang tidak sampai lima meter. Lampu-lampu gedung pencakar langit berpendar bias di aspal basah, menciptakan lukisan abstrak yang menyilaukan mata. Hyperreality. Kota ini terlihat cantik di foto, tapi terasa mematikan saat disentuh.

Kami masuk ke jalan belakang. Benar dugaanku. Air sudah setinggi betis. Cokelat. Pekat. Mengalir deras membawa sampah plastik, bungkus rokok, dan entah kotoran apa lagi.

"Waduh, tinggi juga ya," komentar penumpangku. Kakinya diangkat tinggi-tinggi, hampir menyentuh paha, persis gaya belalang sembah. "Mas, pelan-pelan ya! Sepatu saya jangan sampai kena ciprat. Ini kulit asli."

Aku ingin tertawa, tapi yang keluar malah batuk. Dia peduli sepatunya. Aku peduli busi motorku. Kalau air masuk ke knalpot, tamat riwayatku hari ini.

"Mas, saya usahain. Tapi kalau ada gelombang dari mobil depan, saya nggak jamin," kataku.

Brummmm...

Mesin Beat-ku menderu berat, melawan resistensi air. Knalpot sudah setengah tenggelam. Suaranya berubah, dari brum yang renyah menjadi blup-blup-blup seperti orang tenggelam.

"Ayo, Sayang... jangan mogok... jangan sekarang..." bisikku pada dashboard motor. Aku mengelus spidometer yang kacanya retak seribu.

Tiba-tiba, dari arah berlawanan, sebuah Fortuner putih melibas genangan dengan kecepatan tinggi.

BYURRR!!!

Ombak cokelat setinggi satu meter menghantam kami.

"Woi! Goblok!" teriakku. Suaraku hilang ditelan guruh.

Air masuk ke mana-mana. Ke mata, ke mulut, dan yang terburuk... ke filter udara motor.

Brebet... brebet...

Jantungku berhenti sejenak.

Brebet... pet. Pet.

Hening.

Mesin mati...

Hanya ada suara hujan yang menghantam helm dan suara napas panikku. Dan tentu saja, suara penumpangku.

"Yah! Kok mogok sih, Mas? Sepatu saya gimana ini?"

Bukan "Mas nggak apa-apa?". Bukan "Mesinnya rusak?". Tapi "Sepatu saya".

Aku menurunkan standar samping dengan kasar. Kaki kiriku langsung terbenam ke dalam air keruh yang dinginnya menusuk tulang. Rasanya seperti mencelupkan kaki ke dalam freezer yang penuh bakteri E. coli.

"Turun, Mas," kataku. Suaraku parau.

"Hah? Turun di sini? Banjir begini?"

"Motornya harus didorong. Kalau Mas duduk di situ, berat. Nggak bakal bisa jalan."

Dia turun dengan wajah bersungut-sungut. Sandal jepit hotelnya langsung hanyut sebelah dibawa arus.

"Sandal saya!" teriaknya.

Aku tidak peduli. Aku memegang stang, mendorong motor seberat 90 kilogram itu melawan arus air. Punggungku menjerit. Rasa nyeri tajam menjalar dari pinggang bawah ke leher. Krek. Ada bunyi di tulang belakangku yang tidak seharusnya ada.

Ini bukan sekadar mogok. Ini adalah Society of the Squeeze. Masyarakat Himpitan. Aku dihimpit oleh air, oleh utang, oleh ekspektasi penumpang, dan oleh mesin yang menyerah.

Lima puluh meter. Seratus meter.

Napasku memburu. Dadaku sesak. Asap knalpot kendaraan lain membuatku mual. Setiap langkah terasa berat karena celana jinsku menyerap air seperti spons raksasa.

"Masih jauh nggak sih bengkel?" tanya penumpangku yang berjalan jinjit di trotoar yang agak tinggi, masih memeluk sepatu kulitnya seperti bayi.

Aku tidak menjawab. Tenagaku habis untuk menjaga motor tidak terguling.

Di kepalaku, aku melihat gambar mesin tenun di pabrik dulu. Dulu, jika mesin macet, lampu indikator merah menyala. Mekanik datang. Aku tinggal bikin laporan.

Sekarang? Akulah mesinnya. Akulah indikator merahnya. Dan tidak ada mekanik yang akan datang.


Centang Hijau di Ujung Neraka

Kami akhirnya menemukan tempat yang agak kering di depan sebuah ruko tutup. Air di sini hanya setinggi mata kaki.

Aku mencoba menyalakan motor.

Cklek. Nguk... nguk...

Starter elektrik mati. Aki terendam.

Aku beralih ke kickstarter. Engkol kaki. Senjata terakhir motor tua.

Satu hentakan. Blep. Tidak ada kompresi.

Dua hentakan. Pahaku perih.

Tiga hentakan. "Ayo dong, bangsat!" teriakku pada besi tua ini.

Penumpangku mundur selangkah, mungkin takut aku mengamuk dan melemparnya dengan helm.

Empat. Lima. Enam.

Keringat dingin bercampur air hujan mengalir di pelipis. Mataku panas. Bukan karena air hujan, tapi karena marah. Marah pada nasib. Marah pada birokrasi aplikasi tadi pagi. Marah pada Mpok Hindun. Marah pada diriku yang tidak punya pilihan lain.

Tujuh.

Brum!

Asap putih tebal mengepul dari knalpot. Mesin menyala, meski suaranya pincang. Tersengal-sengal seperti penderita asma akut.

"Alhamdulillah," desis penumpangku. "Ayo Mas, buruan. Saya udah telat 15 menit."

Aku menatapnya tajam. Ingin sekali kutinggalkan dia di sini biar dia berenang bersama tikus got. Tapi, rating. Bintang satu darinya bisa membuat akunku suspend. Dan suspend berarti dapur di kontrakan tidak ngebul.

"Naik," perintahku singkat.


Perjalanan sisa dua kilometer itu terasa seperti siksaan abadi. Motor berjalan tersendat-sendat. Setiap kali aku menarik gas, mesin seperti mau mati. Aku harus memainkan gas dengan ritme tertentu-sebuah keahlian yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa merawat barang rongsokan.

Sampai di lobi gedung tujuan, dia turun. Sepatunya selamat. Kering.

"Makasih ya, Mas. Nih, buat nambah angin," ujarnya sambil menyodorkan selembar uang dua ribu rupiah yang lecek.

Dua ribu. Untuk motor yang hampir turun mesin. Untuk pinggang yang rasanya mau patah. Untuk harga diri yang digerus banjir.

Aku menerimanya. Bukan karena butuh, tapi karena menolak rezeki itu pamali, kata almarhumah Ibu.

"Makasih, Mas. Bintang limanya tolong ya," ujarku otomatis. Kalimat itu sudah jadi mantra. Refleks Pavlov.

Dia mengangguk dan menghilang di balik pintu kaca otomatis yang menyemburkan udara AC dingin.

Aku menepi ke halte busway terdekat untuk berteduh sebentar. Tubuhku menggigil hebat. Gigiku beradu. Kemeletuk.

Aku merogoh saku, mengeluarkan ponsel. Layarnya basah, tapi masih menyala.

Baterai tinggal 15%. Pendapatan hari ini: Rp 45.000. Bensin: Rp 20.000. Makan: Belum. Obat encok: Harus beli nanti.

Minus. Hari ini aku kerja bakti untuk aspal Jakarta.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar. Ikon lonceng bergetar.

Ting!

Bukan orderan. Bukan keluhan pelanggan.

Aku menyeka layar dengan ujung lengan baju yang basah untuk membaca lebih jelas.

[SISTEM]: Verifikasi Dokumen Berhasil.

Jantungku berhenti sedetik.

"Selamat, Mitra Bambang Sulistyo. Akun Anda telah di-upgrade ke layanan Roda Empat (Taksol). Deposit Anda telah dikonversi menjadi Saldo Jaminan Mitra. Silakan hubungi Vendor 'Maju Jaya Rent' untuk pengambilan unit armada mulai besok pagi."

Ada tanda centang hijau besar di sana. Berkedip-kedip.

Aku menatapnya lama. Hujan di luar masih deras, menciptakan tirai air yang memisahkan halte ini dari dunia.

Seharusnya aku senang. Ini yang kukejar dari kemarin. Ini tiketku untuk "Naik Kelas". Ini jalan keluar dari hujan, dari debu, dari penghinaan recehan dua ribu perak.

Tapi kenapa rasanya perutku mulas?

Di layar itu, aku tidak melihat kebebasan. Aku melihat borgol baru.

Deposit Gendis sudah hilang, dikonversi jadi "Jaminan". Artinya uang itu tidak bisa diambil. Aku sudah terikat. Aku harus menyewa mobil. Aku harus bayar setoran harian. Aku harus beli bensin Pertalite-bukan lagi eceran botolan.

Centang hijau itu bukan pintu keluar. Itu adalah pintu masuk ke labirin yang lebih besar.

Aku menatap motor Beat di depanku. Mesinnya masih mengepulkan asap tipis, seolah sedang merokok pasrah.

"Maaf ya, Beat," bisikku. "Mulai besok, lo istirahat."

Aku tertawa kecil. Tawa yang hambar. Getir.

Hujan sore ini mengajarkanku satu hal: di Jakarta, menjadi basah adalah nasib, tapi memilih untuk berutang demi tetap kering adalah strategi bertahan hidup yang paling masuk akal.

Aku menekan tombol "Konfirmasi".

Layar berkedip sekali. Profilku berubah. Ikon motor kecil itu hilang, berganti menjadi gambar mobil sedan yang mengilap.

Sempurna. Sekarang aku resmi menjadi sopir. Sopir bagi impian orang lain, dan penumpang bagi nasibku sendiri.

Aku menyalakan mesin motor lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih sedih dari sebelumnya.

"Ayo pulang, Gendis nunggu," kataku pada angin.

Motor melaju pelan, membelah genangan, meninggalkan jejak riak air yang segera dihapus oleh hujan yang tak kunjung reda.