Urban #Ojol #Taksol

Romansa Tutup Poin

Penulis djoedo
17 February 2026

Hujan menyisakan gerimis tipis yang menusuk tulang. Aspal Jakarta berkilau hitam, memantulkan lampu-lampu gedung pencakar langit yang tampak angkuh dari sudut pandang aspal basah. Honda Beat 2018 di bawah selangkanganku bergetar hebat, batuk-batuk seirama dengan dadaku yang terasa sesak.

Dua poin.

Hanya dua poin lagi.

Di layar ponsel yang retak di sudut kiri atas, bar performa berwarna hijau itu mengejekku. Angka itu bukan sekadar statistik. Itu nyawa. Itu nasi uduk besok pagi. Itu harga diri yang dikuantifikasi oleh algoritma yang tidak punya hati, tidak punya paru-paru, dan tidak pernah merasakan encok di pinggang.

"Ayo, Beat. Jangan manja," bisikku serak, menepuk dasbor plastik yang memudar warnanya karena terjemur matahari dan tergerus hujan bertahun-tahun.

Motor ini sudah seperti perpanjangan tubuhku. Kaki ketigaku. Tapi malam ini, ia terasa seperti binatang tua yang sekarat, memohon untuk ditembak mati agar penderitaannya berakhir. Suara mesinnya kasar, kletek-kletek yang mengkhawatirkan setiap kali gas ditarik. Filter udaranya pasti sudah jadi kolam renang kecil.

Aku menepi sejenak di halte busway yang sepi. Lampu neon halte berkedip-kedip, menciptakan efek stroboskop horor pada genangan air di jalan. Tubuhku menggigil. Jas hujan model ponco yang kupaiki sudah tidak lagi efektif; air merembes masuk lewat leher, menjalar dingin ke punggung, membawa sensasi beku yang membuat gigi gemeretuk.

Paru-paruku terasa berat, seolah ada spons basah yang menyumbat di sana. Uhuk! Batuk itu meledak lagi. Kering, perih, dan berasa logam di tenggorokan. Aku meludah ke selokan. Cairan kental bercampur debu jalanan.

"Tuan Algoritma Digital, kasih gue orderan pendek aja. Gosend kek, Gofood kek. Jangan penumpang gendut yang minta diantar ke Depok," gumamku, menatap layar ponsel dengan mata pedih. Cahaya biru layar itu satu-satunya sumber harapan di tengah kegelapan Jalan Sudirman yang mulai lengang.

Ting!

Suara itu. Bunyi suci yang dinanti jutaan kaum prekariat di seluruh penjuru ibukota.

Notifikasi masuk. GoFood. Martabak Sultan 88. Jarak pengantaran: 2.5 KM.

Aku nyaris bersorak, tapi suaraku tertahan lendir. Martabak. Makanan orang-orang yang punya kelebihan uang dan kelebihan kolesterol. Jarak pendek. Sempurna.

Gas kuputar. Honda Beat meraung-lebih mirip merintih-melawan inersia. Roda membelah genangan, memuncratkan air kotor ke trotoar. Masa bodoh. Fokusku hanya satu: selesaikan ini, dapatkan poin, lalu pulang. Atau lebih tepatnya, lanjut ke babak berikutnya dari drama kehidupan ini.

Jalanan basah memantulkan wajah kota yang lelah. Aroma tanah basah bercampur asap knalpot diesel dan bau sampah lembab menyeruak masuk ke hidung. Ini wangi Jakarta yang jujur. Bukan wangi lavender di lobi mal, bukan wangi kopi artisan di Senopati. Ini wangi perjuangan yang amis.

Sampai di gerai martabak, antrean ojol sudah mengular. Jaket-jaket hijau dan oranye berbaur, membentuk mosaik kelelahan. Wajah-wajah kusam, mata merah kurang tidur, rokok kretek yang mengepul di sela jari yang hitam kena oli.

"Gacor, Bang?" sapa seorang bapak tua di sebelahku. Helmnya kusam, kaca visormya sudah buram total.

"Lumayan, Pak. Kejar tutup poin," jawabku singkat, berusaha tersenyum meski bibirku kaku kedinginan.

"Sama. Kurang satu lagi nih. Demi susu cucu," katanya, lalu menghisap dalam-dalam rokoknya. Asap mengepul, menyatu dengan uap martabak yang manis dan berlemak.

Aku mengangguk. Kami semua sama. Society of the Squeeze. Masyarakat himpitan. Dihimpit aspal di bawah, dihimpit atap langit yang bocor di atas, dan dihimpit tuntutan aplikasi di layar. Kami adalah Firewall Daging yang melindungi kenyamanan kelas menengah dari hujan dan lapar.

Pesanan siap. Aroma mentega wisman dan cokelat meses menusuk hidung, membuat perutku berbunyi protes. Terakhir makan tadi siang, itu pun cuma ketoprak yang bumbunya kurang nendang.

Alamat pengantaran: Sebuah apartemen mewah di Kuningan. Tentu saja.

Perjalanan singkat itu terasa selamanya. Angin malam semakin jahat, menusuk-nusuk sela-sela rusuk. Encok di lutut kiri berdenyut seirama dengan lampu sein yang berkedip. Tik-tok-tik-tok. Waktu habis, Bams. Badan lo udah teriak minta berhenti.

Lobi apartemen itu terang benderang, kontras dengan kegelapan jalanan. Satpam berseragam safari menatapku curiga, seolah aku membawa virus kemiskinan yang bisa menular lewat tatapan mata.

"Titip di meja, Bang," perintahnya tanpa menoleh, sibuk dengan HT-nya.

Aku meletakkan bungkusan martabak itu. Tak lama, seorang pemuda turun. Kaos oblong putih polos (yang harganya pasti bisa buat bayar kontrakan sebulan), celana pendek, dan sandal jepit merek hypebeast. Wajahnya berminyak, mata terpaku pada layar iPhone seri terbaru.

"Atas nama Kevin?" tanyaku.

Dia hanya mengangguk, menyambar bungkusan itu tanpa melihat wajahku. Tidak ada "Terima kasih". Tidak ada "Hati-hati di jalan". Aku hanyalah NPC (Non-Playable Character) dalam hidupnya. Sebuah mekanisme pengantaran biologis yang tidak relevan.

Aku berbalik, melangkah keluar menuju dinginnya malam.

Dan saat itulah, getaran panjang itu datang. Bukan getaran notifikasi biasa. Ini getaran panjang yang orgasmik bagi telinga para mitra.

Aku merogoh saku, menarik ponsel dengan tangan gemetar.

Layar berpendar, menampilkan animasi kembang api digital dan spanduk emas yang menyilaukan mata.

"SELAMAT! ANDA TERPILIH SEBAGAI MITRA JUARA PERIODE FEBRUARI 2026."

Aku tertegun. Berhenti bernapas sejenak di samping pilar beton lobi.

Di bawah tulisan besar itu, rincian hadiah terpampang nyata: * Bonus Saldo Dompet Tunai: Rp 2.000.000,- * Voucher Belanja Mitra: Rp 500.000,- * Status Akun: PLATINUM (Prioritas Order) * Fasilitas Baru: Iuran BPJS Kesehatan Ditanggung Penuh (Mulai Maret 2026).

Dua juta rupiah.

Dua. Juta. Rupiah...

Angka itu menari-nari di retinaku. Di pabrik tekstil dulu, aku harus berdiri 12 jam sehari selama 26 hari, menghirup debu kapas, dimaki-maki atasan, dan kehilangan masa muda untuk mendapatkan nominal itu sebagai upah lembur.

Sekarang, algoritma memberikannya dalam sekejap mata.

Aku tertawa. Tawa yang kering, serak, dan terdengar gila di lobi apartemen yang sunyi. Baudrillard, kau bajingan jenius. Ini Hyperreality paling brutal. Aku merasa kaya mendadak, padahal kakiku masih basah kuyup di dalam sepatu yang solnya sudah tipis. Aku disebut "Juara", tapi tubuhku rontok seperti mesin tua.

"Juara..." desisku, mengeja kata itu. Rasanya pahit di lidah.

Aku juara dalam kompetisi penderitaan. Juara menahan lapar. Juara menahan kencing. Juara menahan rindu pada Gendis karena harus pulang saat dia sudah tidur dan berangkat saat dia belum bangun.

Tapi, persetan dengan filosofi. Dua juta ini nyata. Saldo ini bisa ditarik. Atau lebih tepatnya, saldo ini sudah punya takdirnya sendiri.

Pikiranku langsung melompat ke Mpok Hindun, ke wajah Gendis, ke tunggakan sewa. Tapi tidak. Uang ini tidak boleh untuk menambal lubang masa lalu. Uang ini adalah tiket masa depan. Tiket untuk keluar dari kehujanan ini.

Tiket menuju "Kotak Besi".

Aku menatap Honda Beat-ku yang terparkir miring di ujung lobi. Lampu depannya redup, seolah matanya sayu menatapku.

"Maaf ya, Bro," bisikku pelan. "Kita pisah ranjang dulu."

Aku menekan tombol di aplikasi. Bukan tombol tarik saldo ke rekening bank, melainkan tombol transfer ke fitur dompet deposit.

Konfirmasi Transfer Saldo ke Jaminan Mitra Roda Empat?

Jariku melayang di atas layar. Ragu. Ini uang darah. Uang keringat. Uang lendir batuk. Kalau aku tekan "Ya", uang ini akan terkunci. Menjadi angka mati yang menjamin mobil sewaan. Aku tidak bisa membelikan Gendis tas baru. Aku tidak bisa mengajak Mpok Hindun makan bakso sebagai sogokan damai.

Tapi bayangan kehujanan tadi sore melintas. Menggigil. Sakit. Tulang ngilu.

Aku tidak bisa selamanya jadi Firewall Daging. Aku butuh cangkang.

Klik.

Transisi Berhasil. Saldo Jaminan Terisi.

Selesai. Tidak ada jalan kembali. Aku bukan lagi ojol motor. Secara administratif, aku sekarang adalah calon pengemudi taksol.

Aku menaiki motor itu lagi. Kali ini tujuannya bukan rumah, bukan kontrakan Gang Kelinci. Tujuannya adalah pool Maju Jaya Rent di daerah Pejompongan.

Perjalanan ke sana terasa surealis. Hujan sudah berhenti total, menyisakan aspal yang mulai mengering. Angin malam terasa lebih ramah, seolah tahu aku baru saja naik pangkat sosial. Atau mungkin itu cuma sugesti.

Aku melewati deretan warung tenda pecel lele. Asap bakaran ayam menggoda iman. Voucher belanja 500 ribu itu... ah, besok saja. Mpok Hindun butuh beras dan minyak goreng lebih dari aku butuh ayam bakar.

Sampai di Maju Jaya Rent, suasana kontras menyambutku. Tempat itu bukan gedung kaca seperti kantor pusat aplikasi. Itu hanyalah lahan bekas bengkel yang disulap jadi garasi raksasa. Atap seng, lantai semen retak, dan bau oli yang lebih tajam dari bau keringatku.

Puluhan mobil hitam-Avanza, Xenia, Calya-berjejer rapi seperti tentara yang sedang tidur. Mengilap di bawah sorotan lampu sorot halogen. Mereka tampak angkuh, dingin, dan mahal.

Seorang pria paruh baya duduk di pos jaga, menyeruput kopi hitam dari gelas belimbing. Mas Tono. Admin, penjaga, sekaligus dewa penentu nasib pembagian unit.

"Woi, Bams! Tumben malem bener," sapanya, suaranya berat khas perokok berat.

"Ambil jatah, Mas. Udah approve dari pusat," jawabku, memarkir Beat di sudut area motor.

Aku turun, menepuk jok motor itu sekali lagi. Salam perpisahan.

"Wih, gaya bener. Udah naik kelas nih?" ledek Mas Tono, tapi tangannya cekatan membuka laci, mengeluarkan tablet. "Mana liat notifnya."

Aku menyodorkan ponsel. Dia melihat layar, mengangguk-angguk.

"Mantap. Mitra Juara. Saldo jaminan aman. KTP, SIM ada?"

Aku menyerahkan dokumen-dokumen keramat itu. Dia memindainya cepat. Tidak ada birokrasi berbelit. Di sini, uang dan status aplikasi adalah raja.

"Nih," Mas Tono melempar sebuah kunci ke atas meja. Bunyi klunting logam beradu kaca terdengar nyaring.

Kunci itu memiliki gantungan plastik dengan logo aplikasi. Masih terbungkus plastik tipis.

"Unit B 1998 UY. Calya item. Pojok sana. Bensin satu bar, besok balikin penuh atau potong deposit. Lecet dikit gue denda, ngerokok dalem mobil denda, telat setoran denda. Paham?"

"Siap, Komandan," jawabku otomatis. Refleks buruh pabrik.

Aku mengambil kunci itu. Terasa dingin di tangan. Lebih berat dari kunci motor. Ini bukan sekadar kunci mobil. Ini borgol baru.

Aku berjalan menuju unit yang ditunjuk. Mobil itu terparkir di ujung, di bawah bayangan pohon mangga. Hitam mengilap. Kaca filmnya gelap pekat, menyembunyikan interiornya dari dunia luar.

Tanganku gemetar saat menekan tombol unlock.

Ceklek.

Lampu sein berkedip dua kali. Suara kunci pintu terbuka terdengar renyah. Suara kemewahan. Suara yang tidak pernah terdengar di Gang Kelinci.

Aku membuka pintu pengemudi. Aroma itu langsung menyergap. Bau "mobil baru" yang khas-campuran plastik, lem, dan pengharum ruangan aroma jeruk sintetik yang menyengat. Bau yang asing bagi hidungku yang terbiasa mencium asap knalpot Metro Mini.

Aku menjatuhkan diri ke jok pengemudi. Empuk. Punggungku yang nyeri langsung terasa disangga. Tidak ada angin yang menampar wajah. Tidak ada cipratan air.

Sunyi.

Begitu pintu kututup, suara bising jalanan Pejompongan teredam drastis. Dunia luar menjadi film bisu di balik kaca. Aku berada di dalam kepompong.

Aku menyalakan mesin. Dasbor menyala, menampilkan indikator-indikator digital yang canggih. AC langsung menyembur, dingin menusuk kulitku yang masih lembap.

Aku merinding. Bukan karena dingin, tapi karena asing.

Ponselku bergetar lagi. Pesan masuk. Mpok Hindun.

"Bams! Udah malem! Gendis nyariin. Lu jangan keluyuran mentang-mentang jomblo. Listrik bunyi nit-nit-nit nih!"

Aku tersenyum kecut. Realitas memanggil.

Aku mengetik balasan cepat: "Mpok, saya dapet Mitra Juara. Besok saldo masuk, saya lunasin listrik sama uang titip Gendis. Voucher belanja besok saya kasih Mpok buat beli sembako. Besok saya bawa mobil."

Sent.

Balasan Mpok Hindun datang secepat kilat, seolah dia memang sedang memegang HP menunggu mangsa.

"Juara mah juara aja, Bams. Tapi itu kran air di kamar mandi lo jangan lupa benerin. Juara kok airnya bocor mulu. Bikin lumutan!"

Tawaku pecah. Tawa yang getir.

Benar. Aku duduk di dalam mobil seharga ratusan juta (meski bukan milikku), dengan status "Juara" di aplikasi, tapi di rumah, kran airku masih meneteskan air yang membuat lantai kamar mandi licin dan berlumut.

Aku memegang setir. Lingkaran kemudi itu terasa mantap, namun juga mengintimidasi.

Malam ini aku menang sebagai Mitra Juara. Aku berhasil mengalahkan hujan, mengalahkan batuk, dan mengalahkan keraguan. Tapi saat aku melihat pantulan wajahku di kaca spion tengah-wajah lelah dengan mata cekung dan rambut acak-acakan-aku sadar satu hal.

Aku baru saja menandatangani kontrak baru.

Besok, saat matahari terbit, aku resmi memulai karier sebagai narapidana di dalam kotak besi ber-AC ini.

Dan cicilannya, aku yakin, akan berjalan jauh lebih cepat daripada detak jantungku sendiri.

Mesin menderu halus. Aku memasukkan gigi satu. Mobil bergerak perlahan keluar dari parkiran, meninggalkan motor bututku yang sendirian di pojokan, kehujanan dan kedinginan, seperti kenangan yang perlahan ditinggalkan zaman.

Gaspol. Atau mungkin sekarang istilahnya... injak gas dalam-dalam.