Urban #Ojol #Taksol

Gerungan Sunyi di Jalan Raya

Penulis djoedo
17 February 2026

Bzzzzzz...

Suara mesin 1.200cc ini menderu halus, getarannya merambat pelan dari kolong mesin menembus sol sepatu ketsku yang sudah tipis. Berbeda. Sangat berbeda. Tidak ada lagi hentakan kasar piston satu silinder Honda Beat yang biasa menghajar selangkangan setiap kali lampu merah berubah hijau. Di sini, di dalam kabin Toyota Calya hitam bernopol B 1998 UY, dunia terasa diredam oleh karet dan busa peredam suara murahan.

Angka 1998 di pelat nomor itu seolah mengejek. Tahun reformasi. Tahun di mana negara ini konon berubah, namun nasib orang-orang sepertiku tetap jalan di tempat-atau dalam kasusku, jalan merayap di aspal Jakarta.

Aku menyandarkan punggung ke jok kain berwarna beige yang masih terbungkus plastik di bagian sandaran kepala. Baunya khas. Campuran aroma polimer plastik baru, lem pabrikan, dan sedikit jejak pengharum ruangan aroma kopi yang kugantung di spion tengah. AC menyembur di level satu, namun suhu 18 derajat Celsius yang tertera di panel digital sudah cukup membuat bulu kuduk di lenganku meremang. Dingin ini asing. Bertahun-tahun kulitku ditempa matahari Jakarta dan debu Cawang-Grogol, kini mendadak dimanjakan oleh freon.

Rasanya seperti masuk ke dalam kulkas berjalan.

Aku menatap pantulan mataku sendiri di spion tengah. Ada lingkaran hitam di sana, sisa begadang mengejar bonus early bird kemarin lusa. Tapi kali ini, bingkai wajahku bukan lagi helm half-face penuh goresan, melainkan pilar B mobil dan kaca riben yang gelap.

Karl Marx pernah bicara soal alienasi buruh dari hasil kerjanya. Tapi malam ini, di dalam "Kotak Besi" LCGC (Low Cost Green Car) ini, aku merasakan jenis alienasi yang lebih spesifik: alienasi dari kota itu sendiri.

Dulu, di atas motor, aku adalah bagian organik dari jalanan. Aku mencium bau got yang meluap di Bendungan Hilir, merasakan cipratan air genangan di Roxy, dan mendengar sumpah serapah sopir angkot di telingaku tanpa filter. Sekarang? Kaca jendela ini memisahkan segalanya. Jakarta di luar sana terlihat seperti film bisu. Orang-orang yang berjalan kaki, pedagang starling (starbucks keliling) yang mengayuh sepeda, hingga pengamen ondel-ondel, semuanya hanya visual tanpa audio. Aku seperti astronot yang terputus dari kontrol bumi, melayang dalam kapsul vakum seharga sewa harian yang mencekik.

Aku mengelus setir kemudi. Bahannya plastik keras, licin karena keringat telapak tanganku. "Oke, Bams. Ini kantor barumu," bisikku pada diri sendiri. Suaraku memantul di kaca depan, terdengar lebih berat dan lebih kesepian.

Mataku turun ke panel instrumen. Indikator bensin menyala dua strip. Warna kuning digital itu menatapku tajam, seolah menagih janji yang tak bisa kupenuhi.

"Sial," umpatku pelan.

Dua strip. Mungkin cukup untuk lima puluh kilometer jika aku menyetir dengan teknik eco-driving-menahan gas, membiarkan mobil meluncur, dan mematikan AC saat macet parah. Masalahnya, saldo di aplikasi memang menunjukkan angka cantik: Rp2.000.000,- bonus Mitra Juara. Tapi angka itu fana. Itu hanya piksel di layar. Uang itu sudah dibekukan sistem sebagai "Saldo Jaminan Mitra" di vendor Maju Jaya Rent. Tidak bisa ditarik, tidak bisa dipakai beli bensin, tidak bisa dipakai beli nasi uduk.

Dompet di saku celana jinsku terasa ringan. Terlalu ringan. Kubuka perlahan, seolah mengintip kartu remi dalam permainan poker yang mempertaruhkan nyawa. Kosong. Hanya ada selembar uang dua ribu rupiah yang lecek, terselip di antara KTP dan kartu BPJS Kesehatan dari aplikasi-fasilitas baru yang katanya "menjamin kesehatan mitra", tapi jelas tidak menjamin kesehatan dompetku malam ini.

Aku butuh uang tunai. Cash. Kertas bergambar pahlawan yang bisa kuserahkan ke petugas SPBU. Terutama uang tunai itu bisa kuberikan ke Mpok Hindun.

Jika aku mendapat penumpang yang membayar pakai e-wallet atau kartu kredit, tamat riwayatku. Mobil ini akan mati di tengah jalan, dan aku harus mendorong kaleng kerupuk raksasa ini sendirian. Bayangan mendorong mobil di bahu jalan tol dalam kota sambil diklakson truk kontainer membuat perutku mulas seketika.

Ting!

Layar ponsel di holder dasbor menyala. Cahayanya menyilaukan mata yang sudah lelah ini.

Pick Up: SENOPATI. Drop Off: PURI INDAH. Metode Pembayaran: TUNAI. Tarif: Rp145.000,-

Mataku membelalak. Tunai. Seratus empat puluh lima ribu rupiah. Itu cukup untuk mengisi bensin setengah tangki dan makan nasi goreng gila di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, jariku menyambar tombol "Terima".

"Rezeki anak soleh yang terlilit utang," gumamku sambil memutar setir ke kanan, keluar dari pelataran parkir pool.

Mobil meluncur membelah aspal basah. Ban berdecit sedikit saat berbelok. Senopati jam setengah dua pagi adalah dunia lain. Jika Jakarta siang hari adalah neraka kemacetan, Senopati dini hari adalah panggung sandiwara kelas atas.

Aku memperlambat laju Calya saat memasuki kawasan Gunawarman. Di kiri-kanan jalan, mobil-mobil Eropa berjejer parkir valet, memakan separuh badan jalan. Alphard, BMW, Mercy, Rubicon. Calya hitamku terasa seperti tikus got yang menyelinap di pesta singa.

Lampu-lampu kafe dan bar masih menyala redup, memuntahkan manusia-manusia muda yang berjalan sempoyongan. Bau alkohol seolah bisa menembus filter kabin mobilku. Ini adalah habitat The Haves, kaum borjuis muda yang menghabiskan uang setara UMR buruh pabrik hanya untuk satu botol cairan fermentasi yang bikin pusing.

Aku berhenti di titik jemput. Sebuah bar dengan fasad kaca gelap dan penjaga berbadan tegap di pintu depan.

Menunggu. Satu menit. Dua menit.

Aku mengetuk-ngetuk setir. Mesin idling. Bensin terbakar sia-sia. Ayo, keluarlah. Jangan biarkan dua strip bensin ini menjadi satu strip hanya karena kau sibuk cipika-cipiki perpisahan.

Pintu bar terbuka. Dua orang keluar, memapah satu sosok di tengah. Laki-laki muda, kemeja putih slim-fit yang kancing atasnya sudah terbuka, rambut klimis yang kini berantakan jatuh ke dahi. Jalannya seretan, kakinya seolah tidak menapak tanah.

"Itu dia," batinku. Firasat buruk mulai merayap di tengkuk.

Salah satu temannya melambaikan tangan ke arah mobilku. Aku menekan tombol unlock pintu. Suara ceklek mekanisme kunci terdengar nyaring di keheningan kabin.

Pintu belakang kiri dibuka kasar. Brak!

Tubuh laki-laki berkemeja putih itu dihempaskan masuk ke jok belakang seolah melempar karung beras. Temannya-seorang wanita dengan gaun hitam dan wangi parfum yang menyengat tajam-mencondongkan kepala ke dalam.

"Pak, anterin temen saya ya. Puri Indah. Udah sesuai aplikasi kan?" ucapnya cepat. Matanya tidak menatapku, melainkan sibuk mengecek ponsel di tangan kirinya. "Sesuai, Mbak. Tapi kondisinya..." Aku mencoba protes halus, menunjuk penumpang yang kini sudah merosot di jok. "Dia cuma mabok dikit. Aman kok. Udah ya Pak, buruan, kasihan dia." Blam!

Pintu ditutup. Wanita itu berbalik dan masuk kembali ke dalam bar, meninggalkan aku bersama masalah seberat 70 kilogram di jok belakang.

Hening. Hanya suara napas berat dan dengkuran kasar dari belakang.

Aku menelan ludah. Aroma itu langsung menyerbu hidungku. Alkohol. Tajam, menyengat, bercampur dengan bau keringat asam dan rokok mint. Bau ini menodai kesucian kabin Calya yang baru saja kubanggakan. Aku buru-buru menekan tombol power window, menurunkan kaca sedikit untuk membiarkan oksigen masuk, tapi segera kunaikkan lagi saat ingat AC harus bekerja ekstra.

"Jalan... woi... panas nih..." Suara dari belakang terdengar seperti kumur-kumur.

Aku melirik spion tengah. Dia duduk dengan posisi kaki melebar, kepala mendongak menatap langit-langit mobil, mulut sedikit terbuka. Matanya merah, nanar menatap kosong ke arah sandaran kepalaku.

"Baik, Mas. Kita jalan," jawabku. Sopan. Harus sopan. Bintang lima adalah nyawa.

Mobil mulai bergerak merayap meninggalkan kerumunan Senopati. Aku mengemudi sehalus mungkin. Tidak boleh ada rem mendadak. Tidak boleh ada akselerasi spontan. Guncangan sedikit saja bisa memicu bencana vulkanik di perut penumpangku.

Baudrillard, jika kau ada di sini, kau akan tertawa. Lihatlah aku. Seorang mantan mandor pabrik, pembaca teori sosial, kini menjadi babu bagi seorang pemuda mabuk yang mungkin usianya sepuluh tahun di bawahku. Sistem ini tidak membebaskan kita, tapi hanya mengubah bentuk rantainya. Dulu rantai besi mesin pabrik, kini rantai rating bintang dan ketakutan akan muntahan orang kaya.

Kami masuk ke Jalan Jenderal Sudirman. Jalanan lengang. Lampu-lampu gedung pencakar langit memantul di aspal basah, menciptakan lukisan abstrak yang indah sekaligus menyedihkan.

"Mas... bisa cepetan dikit gak?" Tiba-tiba suara itu terdengar lebih jelas, lebih galak. Aku melirik spion lagi. Dia sudah duduk tegak, mencondongkan tubuh ke depan, tepat di antara celah kursi depan. Wajahnya hanya berjarak sejengkal dari telingaku. Bau alkoholnya menampar pipi kiriku.

"Maaf, Mas. Saya bawa santai biar Mas gak mual," jelasku. "Alah... alesaan... mobil lo aja yang lemot... mobil murah..." cemoohnya. Lidahnya pelat. "Lo tau gak... gue abis closing proyek gede... lo mah gak ngerti..."

Aku mencengkeram setir lebih erat. Buku-buku jariku memutih. Sabar, Bams. Sabar. Dia bukan manusia. Dia adalah ATM berjalan yang akan memberikan Rp145.000 tunai.

"Hebat, Mas. Selamat ya," balasku datar. Sarkasme tipis yang mungkin tidak akan ditangkap oleh otak yang sedang terendam etanol. "Iya dong... gue hebat... lo cuma... supir..." Dia tertawa kecil, tawa yang meremehkan, lalu kembali menghempaskan punggung ke sandaran jok.

Mobil ini, Calya B 1998 UY, adalah ruang simulasi yang aneh. Secara fisik, kami berjarak sangat dekat. Kurang dari satu meter. Di angkutan umum, jarak sedekat ini biasanya menciptakan solidaritas sesama penumpang. Tapi di sini, dalam skema taksi online, jarak fisik yang sempit ini justru mempertegas jurang kelas sosial yang menganga lebar.

Dia adalah The Backseat Dictator. Aku adalah The Silent Operator.

Dia membayar untuk hak menghina. Aku dibayar untuk menelan hinaan. Inilah Society of the Spectacle dalam skala mikro. Pertunjukan kekuasaan di dalam kotak besi seluas 2x2 meter.

Saat kami melintas di depan Stadion GBK, indikator bensin masih dua strip, tapi aku tahu itu ilusi. Sebentar lagi dia akan turun.

Tiba-tiba, suara yang paling kutakuti di seluruh dunia ojol terdengar.

Ugh...

Jantungku berhenti berdetak sesaat. Bukan metafora. Benar-benar berhenti, lalu memacu lagi dengan kecepatan dua kali lipat. Suara itu datang dari kerongkongan, suara cairan yang mendesak naik melawan gravitasi.

"Mas?" panggilku, nadaku panik.

Huek...

"Mas! Tahan, Mas! Tahan!" Aku panik. Keringat dingin sebesar biji jagung langsung muncul di pelipis. Jika dia muntah di sini, tamatlah aku. Biaya detailing interior mobil bisa mencapai lima ratus ribu. Belum lagi bau yang akan menempel di busa jok selama berhari-hari, membuatku tidak bisa narik penumpang lain. Dan yang paling parah: depositku. Vendor Maju Jaya Rent pasti akan memotong deposit dua jutaku jika mobil kembali dalam keadaan bau bangkai.

"Minggir... gue mau... uek..."

Aku banting setir ke kiri. Tidak peduli marka jalan. Tidak peduli aturan lalu lintas. Insting survival-ku mengambil alih. Aku langsung menepi di bahu jalan yang sempit, tepat di bawah lampu jalan yang remang.

"Buka pintunya, Mas! Buka!" teriakku.

Dia meraba-raba handle pintu dengan gerakan lambat yang menyebalkan. Aku melepas sabuk pengaman, melompat keluar dari pintu pengemudi, berlari memutari mobil, dan menyentak pintu belakang kiri hingga terbuka lebar.

Tepat pada waktunya.

HOEK!

Cairan kuning berbau menyengat menyembur keluar, tumpah ke aspal jalanan, hanya beberapa sentimeter dari body mobil yang masih mengilap. Dia menunduk, memuntahkan isi perutnya-campuran alkohol mahal dan kacang goreng-ke selokan jalan tol.

Aku berdiri mematung di sampingnya, memegang pintu agar tidak menutup kembali dan menghantam kepalanya. Napasku memburu. Mataku memindai bagian dalam mobil. Karpet? Bersih. Jok? Bersih. Door trim? Bersih.

Alhamdulillah. Gusti Allah masih sayang sama depositku.

Angin malam di Slipi berhembus kencang, membawa debu jalanan yang kasar. Bising kendaraan yang lewat di jalur kanan terasa sangat dekat. Penumpangku masih membungkuk, terbatuk-batuk, mengeluarkan sisa-sisa harga dirinya ke jalanan.

Aku merogoh saku pintu, mengambil botol air mineral 600ml yang kusiapkan untuk diriku sendiri. Segelnya masih utuh. "Nih, Mas. Kumur dulu," sodorku.

Dia mengambil botol itu dengan tangan gemetar, tanpa mengucapkan terima kasih. Berkumur, lalu meludah lagi. Sebagian airnya dia minum dengan rakus. Setelah beberapa menit yang terasa seperti satu jam, dia menyeka mulut dengan lengan kemeja mahalnya.

"Udah?" tanyaku. Kali ini nadaku tidak lagi sesopan tadi. Ada ketegasan di sana. Ketegasan seorang pemilik aset yang baru saja lolos dari bencana. Dia mengangguk lemah. Matanya sayu, kehilangan arogansi yang tadi dia pamerkan di Senopati. Kini dia hanyalah onggokan daging yang lemas dan bau.

"Masuk, Mas. Kita lanjut. Jangan muntah di dalem ya. Denda sejuta," ancamku. Angka itu karangan bebas, tapi aku butuh dia takut. "Iya... sori..." gumamnya pelan.

Kami kembali melaju. Suasana di dalam kabin berubah. Bukan lagi ketegangan antara majikan dan babu, tapi keheningan pasca-bencana. Bau muntahan sedikit tercium dari arah luar-mungkin ada cipratan di ban-tapi interior aman. Aku menyemprotkan pengharum ruangan spray yang kusimpan di laci dasbor. Pssssst. Aroma jeruk nipis sintetik bertarung melawan sisa bau alkohol.

Perjalanan ke Puri Indah terasa sangat lama. Setiap kali dia bergerak sedikit saja di jok belakang, otot leherku menegang, siap untuk mengerem mendadak lagi. Mataku lebih sering melihat spion tengah daripada jalan di depan.

Akhirnya, kami sampai di lobi apartemen mewah di Jakarta Barat. Pilar-pilar marmer raksasa menyambut kami. Satpam berseragam safari biru mendekat dengan curiga melihat mobil Calya butut masuk ke area drop off VIP.

"Udah sampe, Mas. Seratus empat puluh lima ribu," kataku.

Dia merogoh saku celana bahannya. Mengeluarkan dompet kulit tebal. Tangannya yang masih gemetar menarik dua lembar uang seratus ribu rupiah berwarna merah. Dia melempar uang itu ke atas konsol tengah, dekat tuas rem tangan.

"Ambil aja kembaliannya... buat cuci mobil..." katanya dengan suara parau.

Dia membuka pintu, keluar dengan langkah gontai, dan berjalan masuk ke lobi tanpa menoleh lagi. Pintu mobil dibiarkan terbuka menganga.

Aku menghela napas panjang. Panjang sekali. Seolah mengeluarkan semua racun yang terkumpul di paru-paru selama satu jam terakhir. Kuraih dua lembar uang merah itu. Dua ratus ribu rupiah. Cash. Tunai. Nyata.

Aku meremas uang itu. Teksturnya kasar dan nyata. Ini bukan angka di layar aplikasi. Ini bensin. Ini makan. Ini jaminan aku bisa pulang.

Kututup pintu penumpang belakang. Lalu kembali duduk di kursi pengemudi. Kuperiksa lagi jok belakang dengan lampu kabin menyala. Bersih. Hanya ada sedikit bekas botol air mineral yang remuk.

Aku menyandarkan kepala ke setir. Tertawa kecil. Tawa yang getir. Malam ini aku belajar satu hal penting tentang menjadi Mitra Roda Empat. Di dalam kabin Toyota Calya yang sempit ini, keringat dingin yang mengucur karena takut kehilangan uang deposit jauh lebih asin, jauh lebih meneror, daripada keringat karena panas matahari di atas motor Honda Beat.

Mobil ini melindungiku dari hujan dan debu, benar. Tapi ia tidak melindungiku dari rasa takut menjadi miskin mendadak karena ulah orang lain.

Aku melirik indikator bensin lagi. Masih aman satu strip, tapi sekarang aku punya kuasa untuk membuatnya penuh. Kumasukkan gigi satu. Mobil merayap keluar dari apartemen mewah itu, kembali ke jalanan Jakarta yang gelap dan lapar.

"Ayo, Calya. Kita cari SPBU. Jangan manja," bisikku pada dasbor plastik di depanku.

Malam masih panjang. Dan utangku belum lunas hanya dengan dua ratus ribu perak. Tapi setidaknya, untuk satu jam ke depan, aku raja di dalam kotak besi ini. Raja yang baru saja selamat dari kudeta isi perut penumpang.