Jarum jam di dasbor digital Toyota Calya B 1998 UY menunjukkan pukul 04.45 WIB. Langit Jakarta masih berupa kanvas abu-abu gelap yang menggantung rendah, sisa-sisa malam yang enggan pergi sebelum diusir oleh polusi pagi.
Aku tidak langsung turun. Diam. Tanganku masih mencengkeram setir kemudi yang terbungkus kulit imitasi licin. Hening. Di dalam kabin ini, dunia terasa steril. Tidak ada suara knalpot bajaj yang sember, tidak ada teriakan pedagang pasar kaget, dan yang paling asing: tidak ada angin yang menampar wajah. AC di pengaturan suhu 24 derajat Celcius mendengung halus, menciptakan selubung dingin yang memisahkan kulitku dari realitas tropis di luar sana.
Pengharum ruangan aroma kopi yang tergantung di spion tengah berayun pelan. Baunya sintetis. Manis yang dipaksakan. Berbeda jauh dengan aroma kopi tubruk di gelas plastik yang biasa kusesap jam segini.
Aku menoleh ke kiri, menatap ke seberang kaca jendela yang gelap karena lapisan film 60 persen. Di sana, di bahu jalan yang memakan separuh trotoar, berdiri sebuah gubuk semi-permanen dengan atap terpal biru yang sudah sobek di beberapa sudut.
Selter "Pojok Aspal".
Markas besarku selama tiga tahun terakhir. Tempat di mana Honda Beat-ku biasanya parkir dengan standar samping yang miring, berdesakan dengan puluhan motor lain seperti sarden dalam kaleng. Tempat di mana kami, para Prekariat roda dua, menertawakan nasib sambil membakar tembakau murah.
Tapi pagi ini, aku datang bukan sebagai salah satu dari mereka. Aku datang membawa monster besi selebar satu koma enam meter yang memakan jatah parkir tiga motor sekaligus.
Rasanya aneh. Seperti pulang ke rumah orang tua setelah lama merantau, tapi kau datang memakai setelan jas mahal hasil curian. Ada rasa bangga yang semu, bercampur dengan rasa malu yang nyata.
Mesin 1.200cc itu kumatikan. Getaran halus di jok punggung menghilang. Sunyi mutlak.
Aku menarik tuas pintu.
Klik.
Pintu terbuka.
Udara subuh Jakarta Selatan langsung menyergap masuk. Lembap. Berat. Aroma got yang meluap semalam, sisa asap pembakaran sampah, dan bau tanah basah-petrikor versi kumuh-menampar lubang hidungku. Dingin AC yang tadi memanjakan pori-pori seketika lenyap, digantikan oleh lengketnya atmosfer kota yang tak pernah tidur.
Kakiku menapak aspal yang becek. Sepatu kets yang kubeli di pasar loak Jatinegara bulan lalu mencipratkan sedikit air keruh ke celana bahan hitamku. Celana "sopir". Bukan jins belel yang biasa kupakai saat ngojek.
Aku menutup pintu mobil. Blep. Suaranya berat dan solid, bukan bunyi cempreng seperti jok motor yang dibanting.
Di bawah naungan terpal biru itu, tiga pasang mata menoleh serentak. Asap rokok mengepul di udara, membentuk naga-naga kecil yang meliuk di bawah cahaya lampu bohlam lima watt yang berayun-ayun tertiup angin.
"Waduh... Tamu agung," suara serak itu memecah keheningan subuh.
Itu Ucup. Dia duduk di atas bangku kayu panjang yang kakinya diganjal batu bata. Jaket hijaunya tampak kusam, kontras dengan matanya yang merah menyala-tanda-tanda The Anyep Club yang begadang menunggu orderan gaib.
"Kirain siapa," sahut Pak Haji, driver paling senior di selter ini. Tangannya sibuk mengelap spion motor Supra X 125 tahun 2010 miliknya dengan kain chamois yang sudah butek. "Mobil kinclong amat, Bams. Silau mata tua gue."
Aku tersenyum canggung. Langkahku terasa berat saat mendekat. Biasanya, aku akan langsung melempar helm ke meja dan menyambar gorengan dingin. Tapi kini, kunci mobil di tanganku terasa seperti granat yang siap meledak jika salah letak.
"Bukan tamu, Cup. Masih warga sini juga," jawabku, berusaha terdengar santai. Tapi suaraku terdengar sumbang di telingaku sendiri.
"Warga sih warga," Ucup mematikan puntung rokoknya di asbak yang terbuat dari kaleng biskuit Khong Guan berkarat. Dia berdiri, berjalan memutari Calya hitamku seolah sedang menginspeksi barang bukti kejahatan. "Tapi tunggangannya udah beda kasta, Bos. Ini mah bukan Bams yang biasa makan nasi uduk karet dua. Ini Bams yang sarapannya roti gandum."
Ia menepuk kap mesin mobilku. Pluk.
Jantungku berdesir. Bukan karena takut mobilnya lecet-ini mobil sewaan, toh sudah banyak baret halusnya-tapi karena tepukan itu terasa berjarak. Ada dinding kaca tebal yang kini berdiri di antara kami, meski kami berdiri di atas aspal yang sama.
"Roti gandum gundulmu," balasku sambil duduk di bangku kayu yang kosong. Kayu itu keras, tidak empuk seperti jok mobil. Tapi anehnya, pantatku terasa lebih familiar di sini. "Gue baru aja narik penumpang mabuk. Muntah hampir kena jok. Duit dua ratus ribu ini rasanya kayak duit tebusan nyawa."
Aku mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari saku kemeja. Uang itu lecek, agak lembap kena keringat. Aku meletakkannya di meja, di samping gelas kopi Ucup yang tinggal ampas.
"Weh, pamer," celetuk seorang anak muda kurus yang duduk di pojok. Namanya Dika, The Newbie. Jaketnya masih hijau terang, helmnya masih mengilap, dan tatapannya masih penuh harap-belum dihancurkan oleh realitas jalanan. "Dua ratus ribu sekali tarik? Gue narik dari jam lima sore baru dapet gocap, Bang."
"Itu bukan duit enak, Dik," potongku cepat. "Itu duit kompensasi stres. Lo kira bawa mobil gampang? Macetnya kerasa di dengkul kiri, belum lagi kalau penumpangnya berasa kayak majikan beli budak."
Pak Haji terkekeh. Suaranya kering. "Namanya juga upgrade, Bams. Resiko naik, gengsi naik, utang juga naik, kan?"
Kalimat itu menohok tepat di ulu hati. Pak Haji selalu punya cara untuk menguliti situasi tanpa perlu pisau.
"Bukan gengsi, Pak Haji. Kepepet," sanggahku, meski dalam hati aku tahu ada sedikit kebenaran di sana. Siapa yang tidak merasa gagah saat menyalip motor di tengah hujan tanpa kebasahan? "Gue cuma nyari cara biar dapur tetep ngebul. Gendis butuh bayaran sekolah."
"Iye, paham," Ucup kembali duduk, kini menyulut rokok baru. Asap kretek berbau cengkeh yang tajam memenuhi rongga selter. Bau yang dulu adalah parfum harianku, kini terasa agak menyengat setelah terbiasa dengan AC mobil. "Tapi ati-ati, Bams. Lo naik mobil, lo masuk kandang macan yang beda. Di motor, musuh kita cuma ujan sama Satpol PP. Di mobil? Musuh lo sistem."
"Maksud lo?" tanyaku, menyambar gorengan bakwan yang sudah dingin dan keras di piring plastik. Minyaknya menempel di langit-langit mulut, rasa tengik yang kurindukan.
Ucup menatapku lekat. Ada sorot serius yang jarang kulihat dari pria yang biasanya hanya bisa melawak soal janda dan gacor itu.
"Lo belum denger?" suaranya merendah, seolah takut didengar oleh tiang listrik.
"Denger apa?"
"Grup Paguyuban Aspal lagi rame," Ucup mengeluarkan ponselnya yang layarnya retak seribu. Dia menggeser layar dengan jempol yang kapalan. "Minggu depan. Ada gerakan. Orang-orang pada mau turun ke jalan. Kantor pusat."
Aku berhenti mengunyah. Bakwan di mulutku terasa seperti karet ban. "Demo lagi? Soal apa kali ini? Suspend massal?"
"Lebih parah," sahut Pak Haji tanpa menoleh, masih asyik mengelap motornya yang sudah bersih. "Mereka mau mainin skema komisi. Katanya sih diturunin potongannya jadi sepuluh persen. Manis, kan? Tapi di belakangnya, ada biaya siluman baru."
"Biaya Layanan Mitra Terpadu," baca Ucup dari layar ponselnya, mengeja dengan nada mengejek. "Lima ribu perak per order. Wajib. Katanya buat asuransi kecelakaan, dana pensiun dini, sama... apa nih... pengembangan fitur keamanan."
Aku mengerutkan kening. Otakku, yang belakangan ini dipaksa membaca kontrak sewa mobil yang tebalnya minta ampun, langsung bekerja.
"Lima ribu per order?" hitungku cepat. "Kalau sehari sepuluh order, berarti gocap. Sebulan satu setengah juta. Itu mah sama aja bohong potong komisi."
"Nah, pinter lo!" Ucup menepuk meja. Gelas kopinya bergetar. "Otak lo belum beku kena AC ternyata."
"Tapi..." aku ragu sejenak. Ingatanku melayang pada notifikasi di aplikasiku kemarin. Status Mitra Juara. Fasilitas BPJS Kesehatan ditanggung penuh. "Bukannya itu bagus buat jangka panjang? Maksud gue, kita kan nggak punya jaminan apa-apa. Kalau sakit, siapa yang nanggung? Kalau mati di jalan, anak bini makan apa?"
Hening.
Suasana di selter tiba-tiba berubah. Angin subuh yang berhembus terasa lebih dingin dari sebelumnya. Dika menunduk, memainkan ritsleting jaketnya. Pak Haji berhenti mengelap motor. Ucup menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Kecewa? Kasihan? Atau marah?
"Lo udah mulai ngomong kayak orang kantor, Bams," kata Ucup pelan. Tajam.
"Gue realistis, Cup," belaku, nadaku meninggi satu oktaf. "Gendis nggak bisa makan solidaritas. Dia butuh kepastian. Kalau sistem nawarin asuransi, meski bayar, ya mungkin itu harga yang harus kita bayar buat jadi manusia yang dianggep."
"Dianggep?" Ucup tertawa sinis. Tawa yang tidak sampai ke mata. "Lo pikir dengan bayar goceng per order, mereka bakal anggep lo manusia? Lo tetep angka, Bams. Cuma bedanya, sekarang lo angka yang diperes lebih banyak."
Dia menunjuk mobil Calya-ku yang terparkir angkuh di pinggir jalan.
"Liat tuh. Mobil lo. Vendornya siapa? Maju Jaya Rent, kan? Itu punya siapa? Orang dalem aplikasi juga. Lo sewa mobil ke mereka, duitnya balik ke mereka. Lo dapet order, potongannya ke mereka. Sekarang lo disuruh bayar asuransi, yang megang duitnya juga pasti perusahaan asuransi kroni mereka. Lo itu tikus yang lari di roda putar, Bams. Cuma sekarang rodanya ada AC-nya."
Kata-kata Ucup seperti peluru yang ditembakkan dari jarak dekat. Menembus logika pertahananku. Aku ingin membantah. Aku ingin bilang bahwa aku berbeda. Bahwa aku punya rencana. Bahwa aku membaca Jean Baudrillard dan Guy Standing, jadi aku sadar posisi kelasku.
Tapi lidahku kelu. Karena jauh di lubuk hati, aku tahu Ucup benar.
Aku adalah Prekariat yang mencoba naik kelas dengan meminjam tangga dari penindasnya sendiri.
"Udah, udah," Pak Haji menengahi, meletakkan kain lapnya. Dia berjalan mendekat, menepuk pundakku. Tangannya berat dan hangat. "Jangan ribut subuh-subuh. Rezeki lari nanti."
Pak Haji menatapku teduh. "Bams, lo mau ikut barisan atau nggak, itu urusan lo. Tapi inget, nyawa lo ada di jalan, bukan di aplikasi. Kalau mobil lo mogok, yang dorong bukan algoritma, tapi anak-anak ini."
Dia menunjuk Ucup dan Dika.
Aku terdiam. Rasa bersalah merayap naik dari perut ke dada. Rasa bersalah karena diam-diam, saat membaca notifikasi tentang "Biaya Layanan Mitra Terpadu" itu kemarin, aku sempat berpikir: Ah, tidak masalah, asal orderan gacor.
Aku telah menukar solidaritas dengan kalkulasi untung-rugi. Aku telah menjadi kapitalis kecil yang gagal.
"Gue... gue harus balik," kataku tiba-tiba, berdiri. Kursi kayu berderit memprotes gerakan tiba-tibaku. "Gendis sendirian di kosan. Mpok Hindun belum bangun."
Itu alasan klise. Tapi tidak ada yang menahan.
"Yoi. Ati-ati, Bos," kata Ucup, kembali menyulut rokoknya. Panggilannya-"Bos"-terdengar lebih menyakitkan daripada makian. Itu adalah gelar kehormatan palsu untuk mengusirku secara halus.
Aku berjalan kembali ke mobil. Langkahku lebih cepat kali ini. Ingin segera kabur dari tatapan mereka.
Sesampainya di pintu mobil, aku berhenti sejenak. Menoleh ke belakang.
Di bawah lampu selter yang remang, Ucup sedang menuangkan kopi sachet ke gelas Dika. Pak Haji sedang membetulkan spion motor Ucup yang kendor. Mereka tertawa kecil. Sebuah ekosistem yang mandiri. Sebuah kehangatan komunal yang tidak membutuhkan validasi sistem bintang lima.
Aku membuka pintu mobil. Masuk.
Blep.
Suara tawa mereka terpotong seketika.
Hening kembali.
Aku menyalakan mesin. Dasbor menyala, menampilkan indikator bensin yang berkedip satu bar. AC mulai menderu pelan, mengusir bau rokok dan keringat yang sempat menempel di bajuku.
Kaca jendela perlahan naik saat aku menekan tombol power window. Pemandangan Ucup dan Pak Haji perlahan terpotong oleh kaca film gelap, lalu tertutup sepenuhnya. Kini, mereka hanya terlihat seperti pantomim bisu di luar sana. Gerak bibir mereka terlihat, tapi suaranya tidak sampai ke sini.
Aku sendirian lagi.
Di dalam kotak besi ini, aku aman dari hujan, debu, dan asap. Tapi aku tidak aman dari kesepian yang menggigit.
Aku memasukkan gear shif ke posisi D. Mobil bergerak dengan perlahan meninggalkan Selter Pojok Aspal. Di spion, kulihat bayangan gubuk itu semakin mengecil, tertelan oleh kabut subuh dan jarak yang kubuat sendiri.
Ponselku yang tertempel di holder magnetik tiba-tiba menyala. Notifikasi masuk. Bukan orderan.
PENGUMUMAN MITRA: Persiapkan diri Anda untuk Skema Insentif Baru! Berlaku mulai Senin depan. Jadilah Pahlawan Jalanan!
Aku mendengus kasar. Pahlawan?
Di jalanan ini, tidak ada pahlawan. Yang ada hanya korban yang belum sadar, dan korban yang sudah pasrah.
Aku menginjak gas, membiarkan Calya ini membelah jalanan Jakarta yang mulai menggeliat bangun. Tujuanku Gang Kelinci. Pulang. Meski aku tahu, "rumah" yang kutuju hanyalah kotak beton lain yang menagih sewa setiap bulannya.
Setidaknya di sana ada Gendis. Satu-satunya manusia yang melihatku sebagai Ayah, bukan sebagai titik GPS yang bergerak lambat di layar peta.
Namun, bayangan wajah Ucup yang kecewa tadi masih menempel di retina, lebih persisten daripada noda aspal di sepatuku. Demo minggu depan...
Apakah aku akan berada di dalam mobil ini, mengunci pintu dan menghindari macet? Atau aku akan turun, berdiri di samping mereka, berteriak pada gedung kaca yang tuli?
Pertanyaan itu menggantung di udara kabin yang dingin, tidak terjawab oleh algoritma manapun.
Perjalanan pulang ke Gang Kelinci terasa lebih panjang dari biasanya. Jalanan Jakarta di jam lima pagi adalah sebuah paradoks. Lengang namun penuh ancaman. Truk-truk tanah berukuran raksasa menguasai jalur kanan, melaju dengan arogansi monster yang tahu bahwa hukum fisika memihak pada yang lebih besar.
Aku mengambil jalur kiri, mengemudi dengan kecepatan konstan 40 kilometer per jam. Mataku terasa berat. Efek adrenalin pasca-insiden penumpang mabuk tadi sudah habis, menyisakan kelelahan yang menusuk-nusuk di belakang bola mata.
Sesekali aku melirik ke jok samping yang kosong. Botol air mineral yang biasanya ada di sana sudah hilang, diambil oleh penumpang sialan itu. Sebagai gantinya, ada remah-remah biskuit yang entah jatuh dari saku siapa.
Aku butuh kopi. Kopi yang benar-benar kopi, bukan air gula aroma kopi.
Di perempatan lampu merah Fatmawati yang sepi, aku melihat seorang Starling-pedagang kopi keliling dengan sepeda-sedang mangkal di trotoar. Termos air panasnya mengepulkan uap tipis.
Aku menepikan mobil. Aksi yang sederhana, tapi rumit. Dengan motor, aku bisa langsung naik ke trotoar. Dengan mobil, aku harus menyalakan lampu hazard, memastikan tidak ada polisi tidur yang terlalu tinggi, dan memarkir bodi bongsor ini agar tidak memakan badan jalan.
Kaca jendela kuturunkan.
"Bang! Kopi item satu. Kapal Api. Gula dikit aja," teriakku dari dalam mobil.
Abang Starling itu menoleh. Dia ragu sejenak. Mungkin aneh melihat sopir taksi online memesan kopi pinggir jalan, biasanya kan kami (dianggap) mampir ke minimarket ber-AC.
"Siap, Bos!" teriaknya, sigap meracik.
Dia berjalan mendekat, menyodorkan gelas plastik transparan berisi cairan hitam pekat yang panas.
"Tiga ribu, Bos," katanya.
Aku merogoh recehan di console box. Menyerahkan uang logam lima ratusan enam keping.
"Makasih, Bang," kataku.
"Ati-ati, Bos. Muka lo kusut amat kayak baju belum disetrika," candanya sambil menerima uang itu.
Aku tersenyum tipis. "Kurang tidur, Bang. Biasa, ngejar setoran."
"Yoi. Semangat. Orang kaya mah bebas, kita mah harus gaspol," sahutnya lalu kembali ke sepedanya.
Aku menaikkan kaca jendela lagi. Menyesap kopi panas itu.
Pahit. Panas. Kasar. Ampasnya langsung terasa di lidah.
Ini rasa yang jujur. Rasa yang sama dengan yang diminum Ucup di selter tadi.
Untuk sesaat, rasa kopi murah ini menghubungkanku kembali dengan realitas yang coba kutinggalkan. Rasa pahit yang mengingatkan bahwa di balik kaca film gelap dan AC dingin ini, kerongkonganku masih kerongkongan kuli.
Ponselku bergetar lagi. Kali ini bukan notifikasi aplikasi. Pesan WhatsApp.
Dari Mpok Hindun.
Bams! Lo pulang jam berapa? Listrik bunyi nit-nit-nit dari tadi malem! Jangan pura-pura budeg lo!
Aku menghela napas panjang. Uap kopi menempel di kaca depan, menciptakan embun tipis yang segera hilang disapu AC.
Realitas kedua menyerang: Utang.
Dua ratus ribu di saku. Listrik mungkin butuh lima puluh ribu. Bensin butuh seratus ribu. Sisa lima puluh ribu buat makan berdua sama Gendis.
Lalu setoran sewa mobil ke Maju Jaya Rent? Deposit yang hangus?
Matematika kemiskinan tidak pernah menyisakan ruang untuk bernapas.
Aku meletakkan gelas kopi di cup holder. Plastik gelas yang ringkih itu berderit saat bergesekan dengan plastik keras mobil.
"Oke, Calya," gumamku pada dasbor yang membisu. "Kita pulang. Hadapi singa betina di Gang Kelinci."
Mobil melaju lagi.
Langit di timur mulai menampakkan semburat oranye. Matahari Jakarta bersiap terbit, siap memanaskan aspal, siap membakar semangat, dan siap melelehkan harapan-harapan yang tidak kuat menahan terik persaingan.
Aku menyalakan radio. Suara penyiar pagi yang terlalu ceria memenuhi kabin.
"Selamat pagi Jakarta! Jangan lupa tersenyum, karena macet itu sudah pasti, tapi bahagia itu pilihan!"
"Bacot," umpatku pelan.
Aku mematikan radio. Membiarkan suara ban beradu dengan aspal menjadi satu-satunya musik pengiring kepulanganku.
Masalahnya bukan macet. Masalahnya adalah, aku sedang mengemudikan "solusi" yang ternyata hanyalah masalah baru dengan kemasan yang lebih mengilap.
Dan minggu depan... demo itu.
Jika aku ikut, aku berisiko diputus mitra (suspend) karena dianggap provokator. Jika aku tidak ikut, aku adalah pengkhianat kelas yang membiarkan lehernya dijerat perlahan.
Pilihan yang sama buruknya.
Seperti memilih antara mati tenggelam atau mati kehausan di tengah laut.
Aku membelokkan setir ke arah pemukiman padat. Gang-gang sempit mulai terlihat. Spanduk pecel lele yang masih terpasang, kucing-kucing liar yang berebut sampah, dan gerobak bubur ayam yang baru keluar kandang.
Inilah duniaku yang asli. Dunia yang bau, berisik, dan semrawut.
Mobilku terasa semakin besar dan canggung saat memasuki mulut gang.
Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari menyeberang jalan mengejar bola plastik.
"Awas!"
Aku menginjak rem dalam-dalam.
Ciiit!
Mobil berhenti mendadak. Jantungku melompat ke tenggorokan. Kopi di cup holder berguncang hebat, tumpah sedikit mengotori gear shift.
Anak itu berhenti tepat di depan bumper. Dia menoleh, matanya bulat menatap moncong mobilku. Dia tidak takut. Dia justru takjub.
Dia menyentuh logo Toyota di grill depan dengan jari telunjuknya yang kotor.
Lalu dia tertawa dan berlari pergi.
Aku lemas. Bersandar di jok. Napasku memburu.
Bukan karena takut menabrak. Tapi karena tatapan anak itu.
Tatapan yang sama seperti tatapan Gendis saat pertama kali aku bilang aku akan jadi sopir mobil. Tatapan yang menganggap mesin ini adalah benda ajaib.
Padahal, mesin ini adalah monster yang butuh makan setiap hari. Dan makanannya adalah hidupku.
Aku mengambil tisu, mengelap tumpahan kopi di dekat tuas persneling. Cairan hitam itu meninggalkan noda kecokelatan di plastik abu-abu.
Noda pertama di mobil sewaan.
Sempurna.
Aku melanjutkan perjalanan, merayap pelan memasuki perut Gang Kelinci, siap menghadapi Mpok Hindun, siap memeluk Gendis, dan siap berpura-pura bahwa hari ini akan baik-baik saja.
Meski aku tahu, badai baru sedang menyusun awan mendung di cakrawala nasibku.