Gedung pencakar langit itu membelah awan hitam Jakarta yang menggantung rendah. Di luar, hujan asam mengguyur kaca tebal, menyisakan jejak berminyak yang membiaskan cahaya neon kota di bawah sana menjadi ribuan lintah cahaya yang menggeliat. Namun, di dalam Lantai 14, cuaca tidak berlaku. Waktu tidak berlaku.
Hanya ada putih.
Putih yang menyakitkan mata. Putih dinding, putih meja, putih lantai marmer buatan yang memantulkan bayangan tubuh-tubuh bungkuk di atasnya. Dan dengung. Suara rendah, konstan, menyusup ke sela-sela tulang tengkorak. Dengung server, dengung air purifier, dengung ribuan jari yang menari di atas papan ketik mekanikal.
Satria berdiri di depan meja kerjanya. Tangan kanannya mencengkeram plakat akrilik bening. Ujung-ujung jarinya memutih karena tekanan.
Employee of the Year 2046.
Tulisan itu terukir dengan laser presisi. Runcing. Tajam. Tanpa cacat.
Seharusnya, dada ini membusung. Seharusnya, bibir ini melengkung membentuk senyum kemenangan. Itu protokol standarnya. Itu respons biologis yang diharapkan dari seorang primata yang baru saja memenangkan kompetisi bertahan hidup di hutan beton Sudirman.
Namun, Satria tidak merasakan apa-apa.
Kosong. Hampa...
Hampa yang dingin menjalar dari ulu hati, merambat naik ke kerongkongan, menyisakan rasa logam di lidah. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan plakat itu. Wajah itu... asing.
Kulitnya terlalu licin. Pori-porinya tampak samar, seolah terhapus oleh filter kamera yang dipasang permanen. Matanya, yang dulu ia ingat berwarna cokelat hangat seperti tanah basah di kampung halaman ibunya, kini tampak kelabu. Datar. Seperti layar monitor yang dimatikan.
"Selamat, Pak Satria. Efisiensi Anda naik 14,5% kuartal ini."
Suara itu muncul dari belakang. Satria menoleh. Siska. Manajer HRD. Wanita itu berdiri tegak, kedua tangannya terlipat rapi di depan perut. Setelan jas abu-abunya tidak memiliki satu pun kerutan, seakan kain itu dijahit langsung menyatu dengan kulitnya.
"Terima kasih, Bu," jawab Satria. Suaranya keluar secara otomatis. Tanpa dipikirkan. Tanpa diproses oleh otak bagian emosi. Itu adalah respons default.
Siska tersenyum. Senyum yang simetris. Terlalu simetris. Sudut bibir kiri dan kanannya terangkat dengan derajat yang sama persis, memperlihatkan deretan gigi yang putihnya menyamai warna dinding. Tapi matanya tidak ikut tersenyum. Mata itu tetap diam, merekam, menghitung, mengevaluasi.
"Perusahaan menghargai fungsi yang optimal," kata Siska lagi. Nada bicaranya datar, namun ada penekanan halus pada kata 'fungsi'. "Pertahankan performanya. Jangan biarkan... bug emosional mengganggu output."
"Siap, Bu. Saya akan melakukan kalibrasi ulang jadwal istirahat untuk memaksimalkan uptime."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Satria ingin menampar mulutnya sendiri. Kenapa ia bicara seperti chatbot AI untuk layanan pelanggan? Di mana Satria yang dulu suka mengeluh soal macetnya Bundaran HI? Di mana Satria yang dulu diam-diam menyelundupkan keripik pedas ke laci meja karena tidak tahan dengan makanan kantin yang hambar?
Siska mengangguk, puas dengan jawaban itu. Ia berbalik, tumit sepatunya mengetuk lantai dengan irama metronom. Tak. Tak. Tak. Suara itu menjauh, lalu hilang ditelan dengung ruangan.
Satria kembali duduk. Kursi ergonomisnya mendesis pelan, menyesuaikan diri dengan lekuk tulang belakangnya. Sempurna. Terlalu nyaman. Seolah kursi ini tahu persis berapa berat badannya hingga ke satuan gram.
Ia meletakkan plakat itu di sudut meja. Di samping monitor lengkung yang kini menampilkan deretan angka dan grafik batang yang berkedip-kedip. Hijau. Merah. Biru. Data. Hanya itu yang ada di sini. Kehidupan manusia yang direduksi menjadi byte.
Tiba-tiba, kepalanya berdenyut-denyut.
Sakit itu datang seperti tusukan jarum es di belakang mata. Satria memejamkan mata, menekan pelipisnya.
Visual error. System overload.
Bukan. Ini migrain. Satria mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ini hanya migrain biasa karena kurang tidur. Ia merogoh saku celananya, mencari botol kecil berisi pil Neuro-Focus jatah kantor. Pil biru muda yang wajib dikonsumsi setiap jam 10 pagi dan jam 3 sore. Untuk "kejernihan pikiran", kata memo internal.
Ia menelan pil itu kering-kering. Pahitnya kimiawi langsung menyebar di tenggorokan.
Tunggu.
Gerakan tangannya terhenti di udara. Matanya menangkap sesuatu di bawah meja. Di bagian dalam laci sorong paling bawah, ada celah tipis yang tidak seharusnya ada. Panel logam itu sedikit bengkok, seolah pernah dicungkil paksa.
Satria menunduk. Jantungnya-organ daging yang memompa darah merah itu-berdegup sedikit lebih kencang. Ini anomali. Di Lantai 14, tidak boleh ada cacat fisik. Meja harus mulus. Kursi harus bersih. Cacat sekecil apa pun akan langsung dideteksi oleh drone pembersih yang berpatroli setiap malam.
Rasa penasaran, sebuah insting naluri yang belum sepenuhnya terhapus, menggelitik sarafnya.
Ia meraba celah itu. Dingin. Kasar. Ada sesuatu yang terselip di balik panel ganda laci tersebut. Kuku jarinya mengait pinggiran logam, menariknya dengan sentakan pelan.
Krekk.
Panel itu terlepas. Debu halus, abu-abu seperti sisa kremasi, mengepul tipis.
Satria terbatuk pelan. Ia mengibas-ngibaskan tangan, menghalau partikel debu yang menari-nari di bawah sorot lampu LED. Di dalam rongga gelap itu, tergeletak sebuah benda yang tampak asing di dunia yang serba digital ini.
Sebuah buku tulis.
Buku tulis kertas. Sampulnya hitam, terbuat dari kulit sintetis murahan yang sudah mengelupas di sana-sini. Pinggiran kertasnya menguning, dimakan lembap dan waktu.
Satria menoleh ke kiri dan kanan. Rekan kerjanya di Meja 13, seorang pria bernama Budi-atau setidaknya ID card-nya bertuliskan Budi-sedang menatap layar dengan mata tak berkedip. Jari-jarinya mengetik dengan kecepatan tidak manusiawi. Tidak ada yang memperhatikan Satria.
Dengan tangan gemetar, Satria menarik buku itu keluar. Teksturnya kasar di kulit tangannya yang halus. Baunya... apek. Bau kertas tua. Bau jamur. Bau manusia.
Ia membuka halaman pertama.
Tulisan tangan itu berantakan. Cakar ayam yang ditulis dengan tinta pulpen hitam yang kadang tebal, kadang tipis.
Milik: Andi. Posisi: Senior Data Analyst (Meja 14). Mulai: 12 Februari 2043.
Andi?
Satria mengerutkan kening. Ia sudah bekerja di meja ini selama dua tahun. HR bilang meja ini kosong selama enam bulan sebelum ia masuk karena "renovasi sistem". Tidak pernah ada yang menyebut nama Andi.
Ia membalik halaman.
Hari ke-100. Mereka mengganti lampu ruangan hari ini. Lebih terang. Mataku perih. Tapi Siska bilang ini spektrum cahaya yang bisa memicu gelombang beta di otak. Agar kita lebih fokus. Aku rindu matahari sore. Rindu melihat bayangan yang memanjang di aspal.
Satria menelan ludah. Ia ingat saat lampu diganti minggu lalu. Ia tidak merasa perih. Ia justru merasa... terkalibrasi. Apakah matanya sudah rusak?
Ia membalik halaman lagi. Semakin ke belakang, tulisan Andi semakin kacau. Huruf-hurufnya miring, menabrak garis margin, seolah ditulis dalam keadaan panik atau setengah sadar.
Hari ke-350. Aku lupa resep nasi goreng ibu. Aku ingat rumusnya. Nasi + Kecap + Bawang. Tapi aku lupa rasanya. Lidahku terasa tumpul. Kopi kantor rasanya seperti air aki, tapi aku tetap meminumnya karena itu satu-satunya cara untuk merasakan sesuatu.
Satria meraba lidahnya sendiri dengan ujung gigi. Kebas. Kapan terakhir kali ia makan sesuatu yang benar-benar ia nikmati? Tadi siang ia makan nutrient-bar rasa cokelat. Rasanya? Manis. Hanya itu. Manis artifisial.
Hari ke-480. Siska memanggilku lagi. Evaluasi performa. Dia bilang aku 'tidak efisien'. Dia bilang aku terlalu banyak 'jeda'. Jeda untuk bernapas. Jeda untuk berpikir. Jeda untuk menjadi manusia. Mereka tidak butuh manusia di sini. Mereka butuh prosesor daging.
Napas Satria mulai memburu. Jantungnya memukul-mukul rusuk. Kalimat-kalimat ini... ini bukan sekadar keluhan kerja. Ini adalah dokumentasi sebuah kematian. Kematian jiwa.
Halaman terakhir.
Tidak ada tanggal. Hanya ada satu paragraf pendek, ditulis dengan tekanan pena yang begitu kuat hingga kertasnya hampir robek.
Jangan biarkan mereka melakukan 'Optimasi Tahap Akhir'. Jika kau membaca ini, kau adalah penggantiku. Lari. Sebelum kau lupa namamu sendiri. Sebelum darahmu berubah menjadi tinta.
Darah berubah menjadi tinta.
Satria menutup buku itu dengan kasar. Jantungnya berpacu liar, ritmenya kacau, tidak sinkron dengan dengung ruangan yang teratur. Keringat dingin merembes di punggungnya, membuat kemeja putih mahalnya lengket.
Ia harus tahu. Ia harus memastikan ini hanya bualan orang gila.
Satria membuka tab baru di peramban internal perusahaan. Jari-jarinya, yang biasanya lincah menari di atas keyboard, kini terasa kaku. Seperti kayu.
SEARCH: KARYAWAN. NAMA: ANDI. STATUS: ALL.
Enter.
Lingkaran loading berputar. Satu detik. Dua detik.
HASIL: 0 DITEMUKAN.
Satria mengetik lagi. Mungkin nama lengkap? Ia tidak tahu nama lengkapnya. Ia mencoba mencari log aktivitas Meja 14 sebelum tahun 2044.
AKSES DITOLAK. DATA TERENKRIPSI LEVEL 5. HUBUNGI ADMINISTRATOR.
"Sial," desisnya pelan.
Ia menoleh ke Meja 13. "Bud," panggilnya. Suaranya serak.
Budi tidak menoleh. Matanya masih terkunci pada layar. "Sedang dalam mode Deep Work, Satria. Jangan menginterupsi jika bukan Urgent Priority."
"Ini penting," desis Satria, setengah berbisik. Ia mencondongkan tubuh. "Siapa yang duduk di mejaku sebelum aku? Siapa Andi?"
Jari-jari Budi berhenti bergerak. Hening sejenak. Hanya sedetik, tapi terasa seperti satu jam.
Kepala Budi menoleh pelan-pelan. Gerakannya patah-patah, seperti servo motor yang kurang pelumas. Wajah Budi pucat, nyaris transparan di bawah lampu neon. Matanya... kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada pupil yang membesar atau mengecil. Hanya hitam pekat yang menyerap cahaya.
"Meja 14 selalu diisi oleh Satria," jawab Budi. Nada suaranya monoton. Datar. Tanpa intonasi.
"Tidak, Bud. Aku baru dua tahun di sini. Sebelumnya pasti ada orang lain."
"Meja 14 adalah Satria," ulang Budi. Kali ini lebih keras. Beberapa kepala dari meja lain mulai menoleh. Gerakan mereka serempak, seperti boneka yang ditarik tali yang sama. "Kau adalah Satria. Satria adalah fungsi Meja 14."
Bulu kuduk Satria meremang. Rasa dingin yang tidak wajar menyergap tengkuknya.
"Kembalilah bekerja, Satria," kata Budi, lalu kepalanya berputar kembali menghadap layar. Jari-jarinya kembali mengetik. Tak-tak-tak-tak. Irama yang sama. Tempo yang sama.
Satria mundur. Kursinya berderit nyaring, memecah kesunyian lantai itu. Ia berdiri, kakinya goyah. Ia butuh udara. Ia butuh melihat wajahnya sendiri. Memastikan ia masih ada.
Ia berjalan cepat menuju toilet di ujung koridor. Langkahnya bergema di lantai marmer. Koridor itu terasa memanjang, meregang seperti karet. Pintu-pintu kaca di kiri kanannya menampilkan ruangan-ruangan rapat yang berisi orang-orang yang duduk diam, mengangguk serempak pada presentasi hologram yang melayang di udara.
Satria mendorong pintu toilet.
Bau sitrus yang tajam langsung menusuk hidung. Di sini, baunya lebih kuat. Menutupi bau amonia dan... bau tembaga?
Ia menghambur ke wastafel. Mencengkeram pinggiran keramik yang dingin. Ia mengangkat wajah, menatap cermin besar di depannya.
Bayangan itu menatap balik.
Satria menyentuh pipinya. Kulitnya terasa... sintetis. Dingin. Kenyal seperti silikon. Ia mencubit pipinya keras-keras. Sakit. Masih ada rasa sakit. Syukurlah.
Tapi ada yang salah dengan matanya.
Bagian putih matanya tidak lagi putih susu. Ada guratan-guratan halus berwarna kebiruan, seperti sirkuit mikro yang mulai tumbuh menjalar dari saraf optiknya.
"Tidak mungkin," bisiknya. Suaranya gemetar, memantul di dinding keramik.
"Masalah hardware?"
Satria tersentak. Ia berbalik.
Siska berdiri di ambang pintu toilet pria. Ia tidak seharusnya ada di sini. Tapi di Lantai 14, Siska ada di mana-mana.
Wanita itu melangkah masuk. Hak sepatunya tidak mengeluarkan suara kali ini. Senyumnya masih terpasang sempurna, tapi matanya menatap tajam ke arah mata Satria yang mulai berubah warna.
"Bu Siska," Satria mundur selangkah hingga punggungnya menabrak wastafel. "Saya... mata saya..."
"Efek samping dari upgrade persepsi visual," potong Siska tenang. Ia berjalan mendekat, seolah sedang menginspeksi mesin fotokopi yang macet. "Kau mulai bisa melihat spektrum data secara langsung, Satria. Itu anugerah. Kebanyakan karyawan butuh implan kacamata. Kau? Tubuhmu beradaptasi secara alami."
"Siapa Andi?" tanya Satria tiba-tiba. Pertanyaan itu meluncur keluar seperti muntahan.
Langkah Siska terhenti. Senyumnya sedikit memudar, digantikan oleh ekspresi lempeng yang jauh lebih mengerikan.
"Andi adalah versi 1.0," jawab Siska. "Banyak bug. Banyak error. Sering melamun. Sering menangis di kamar mandi. Tidak efisien. Kami harus melakukan... decommissioning."
"Decommissioning?" Satria merasakan perutnya mulas. "Kau memecatnya?"
"Kami mendaur ulang fungsinya," koreksi Siska. Ia memiringkan kepala, menatap Satria dengan rasa ingin tahu klinis. "Sama seperti kami akan melakukan update padamu. Kau sudah mencapai batas kapasitas memori organikmu, Satria. Kenangan masa kecil, rasa makanan, nama teman SD... itu semua junk files. Sampah. Memenuhi ruang penyimpanan yang seharusnya bisa dipakai untuk database klien."
"Aku bukan komputer!" teriak Satria. Suaranya pecah. "Aku manusia! Aku punya nama!"
"Namamu adalah aset perusahaan," balas Siska dingin. "Dan aset harus dirawat. Dioptimasi."
Siska maju selangkah lagi. Tangannya terulur, hendak menyentuh bahu Satria. Jari-jari wanita itu lentik, kukunya dicat warna beige netral.
"Jangan sentuh!" Satria menepis tangan Siska.
Gerakan itu kasar. Tangannya membentur dispenser tisu berbahan logam di dinding. Ujung logam yang tajam menggores punggung tangannya. Luka panjang menganga.
"Ah!" Satria meringis, memegangi tangannya.
Ia menunggu darah merah mengucur. Ia menunggu cairan hangat yang amis itu menetes ke lantai keramik putih. Simbol kehidupannya. Bukti kemanusiaannya.
Namun, yang keluar bukan merah.
Dari luka yang menganga itu, merembes cairan kental. Biru. Biru tua yang berkilau metalik di bawah lampu neon. Warnanya persis seperti tinta cartridge printer di ruang arsip. Cairan itu tidak menetes, melainkan meleleh lambat, lengket, berbau bahan kimia pelarut yang menyengat.
Satria terbelalak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Dunia seakan berhenti berputar.
"Apa... apa ini?"
Ia menatap Siska dengan horor.
Siska tidak terkejut. Ia justru mengangguk pelan, seolah baru saja mengonfirmasi hipotesis penelitian.
"Cairan pendingin berbasis graphene," jelas Siska. Nadanya informatif, seperti guru biologi yang menjelaskan anatomi katak. "Jauh lebih efisien dalam menghantarkan panas daripada hemoglobin. Otakmu bekerja terlalu keras untuk standar manusia biasa, Satria. Darah merah akan mendidih jika kau memproses data sebanyak yang kau lakukan bulan ini. Tubuhmu... berevolusi. Mengikuti instruksi yang kami tanamkan lewat Neuro-Focus dan udara yang kau hirup."
"Tidak..." Satria mundur, kakinya lemas. Ia merosot, jatuh terduduk di lantai toilet yang basah. Ia menatap tangannya sendiri. Cairan biru itu terus meleleh, menodai kemeja putihnya. Indah, sekaligus menjijikkan.
"Jangan takut," kata Siska lembut. Kali ini suaranya terdengar seperti ibu yang menenangkan anak. "Rasa sakit itu hanya sisa-sisa saraf lama yang sedang mati. Sebentar lagi kau tidak akan merasakan apa-apa. Hanya ketenangan. Hanya efisiensi."
Siska menyentuh earpiece di telinganya. "Unit 14 siap untuk penggantian hardware. Kirim kandidat baru."
"Tunggu!" Satria mencoba bangkit, tapi kakinya tidak mau merespons. Lututnya terkunci. Bukan karena takut, tapi seolah ada perintah override dari sistem pusat yang mematikan motorik kakinya.
"Diamlah, Satria," perintah Siska. Dan anehnya, tubuh Satria menurut. Mulutnya terkatup rapat meski otaknya berteriak ingin melawan.
Siska berbalik dan berjalan keluar toilet, meninggalkan Satria yang terduduk tak berdaya dengan darah biru yang mulai menggenang di sekitarnya.
Satria menyeret tubuhnya. Ia harus kembali ke meja. Buku itu. Pesan Andi. Ia harus menulis pesan baru. Ia harus memperingatkan... siapa pun yang datang setelahnya.
Dengan sisa tenaga, ia merangkak keluar toilet. Koridor itu tampak semakin panjang. Pandangannya mulai terganggu. Bukan buram, tapi... pixelated. Tepi-tepi objek terlihat bergerigi. Warna-warna mulai tereduksi menjadi kode biner. Lantai bukan lagi marmer, melainkan kumpulan poligon abu-abu.
Ia sampai di area kerja.
Semua orang masih mengetik. Tidak ada yang peduli ada pria yang sedang merangkak kesakitan dengan darah biru berceceran.
Satria mencapai Meja 14. Ia menarik dirinya naik ke kursi. Napasnya berat, terdengar seperti kipas prosesor yang penuh debu. Whirrr... hhh... whirrr...
Ia meraih buku tulis Andi. Tangannya yang berlumuran tinta biru menodai sampul hitam itu.
Ia mengambil pena. Ia ingin menulis: LARI. JANGAN MINUM OBATNYA.
Tapi tangannya kaku. Jemarinya tidak bisa membentuk huruf. Otot-otot halusnya telah digantikan oleh sirkuit hidrolik yang hanya mengenal gerakan mengetik, bukan menulis tangan.
Pena itu patah dalam genggamannya.
Ting.
Suara lift terbuka.
Satria menoleh lambat. Lehernya mengeluarkan bunyi klik-klik mekanis.
Dari lift, keluar seorang pemuda. Usianya mungkin 20-an awal. Wajahnya segar, pipinya merona merah-darah merah asli. Matanya berbinar penuh harap. Ia mengenakan kemeja putih yang sedikit kebesaran dan celana bahan yang belum disetrika sempurna. Di tangannya, ia memeluk sebuah kotak kardus cokelat berisi barang-barang pribadi.
Pemuda itu berjalan ragu-ragu menyusuri koridor, membaca nomor di setiap meja.
Ia berhenti di depan Meja 14.
Ia melihat Satria yang terduduk miring di kursi, dengan wajah pucat pasif dan cairan biru menetes dari tangan. Namun, pemuda itu sepertinya tidak melihat horor itu. Di mata pemuda itu-mungkin karena filter persepsi yang dipasang di gedung ini-Satria hanyalah karyawan senior yang sedang lelah.
"Permisi, Pak," sapa pemuda itu sopan. Ia tersenyum canggung. "Saya karyawan baru. HR bilang saya ditempatkan di sini. Nama saya..."
Satria ingin berteriak. Lari, Nak! Lari!
Tapi tenggorokannya terkunci. Pita suaranya tidak bergetar.
"Nama saya Satria," lanjut pemuda itu. "Satria Wiguna."
Satria-yang lama-terbelalak. Satria? Namanya juga Satria?
Tidak. Itu bukan kebetulan. Itu adalah branding. Itu adalah kode aset.
Pemuda itu meletakkan kotak kardusnya di atas meja, tepat di samping buku harian Andi yang kini tertutup noda biru.
"Bapak... Pak Satria yang lama ya?" tanya pemuda itu polos. "Bu Siska bilang Bapak akan dipromosikan ke... backend? Dan saya akan mengambil alih frontend di meja ini."
Promosi ke backend. Bahasa halus untuk dibuang ke tempat sampah daur ulang. Atau mungkin dijadikan server hidup di ruang bawah tanah.
Satria mencoba menggerakkan bibirnya. Ia memaksakan satu kata terakhir. Satu peringatan.
"Ja... ngan..."
Suara yang keluar bukan bahasa manusia.
"Zzzzt... 01001010... krrrt..."
Suara statis. Suara modem dial-up yang rusak.
Pemuda itu mengerutkan kening, tampak bingung tapi tetap sopan. "Maaf, Pak? Suaranya kurang jelas. Mungkin Bapak butuh air?"
Pandangan Satria mulai gelap. Sebuah jendela pop-up merah muncul di visi retinasnya, menutupi wajah pemuda itu.
CRITICAL SYSTEM FAILURE. INITIATING SHUTDOWN SEQUENCE. MEMORY WIPE IN 3... 2... 1...
Dalam detik terakhir kesadarannya, Satria melihat pemuda itu-Satria yang baru-menggeser plakat Employee of the Year miliknya ke tepi meja untuk memberi ruang bagi bingkai foto wisudanya.
Plakat itu tersenggol. Jatuh.
Prak.
Pecah di lantai.
Satria tidak bisa mendengarnya. Telinganya sudah mati. Dunia menjadi hitam. Sunyi. Damai.
Akhirnya, efisien.
Dan di Lantai 14, dengung itu berlanjut. Hujan asam di luar masih mengguyur, tapi di dalam sini, semuanya kering, putih, dan abadi.
Si anak baru duduk di kursi yang masih hangat. Ia merasakan kenyamanan yang aneh saat punggungnya menyentuh sandaran. Tangannya meraba laci bawah, menemukan buku tulis tua yang kotor.
"Apa ini?" gumamnya.
Ia hendak membuangnya ke tempat sampah, tapi entah kenapa, ia justru menyelipkannya kembali ke celah tersembunyi di bawah laci.
Mungkin nanti. Mungkin suatu hari nanti ia akan membacanya.
Sekarang, ia harus bekerja. Lampu indikator di teleponnya berkedip. Siska memanggil.
"Selamat datang, Satria," suara Siska terdengar dari intercom, jernih dan tanpa emosi.
"Terima kasih, Bu," jawab si anak baru.
Ia tersenyum. Senyumnya masih milik manusia.
Untuk saat ini.