Fantasi #Mal #Panas

Dengung Monster Sekarat

Penulis djoedo
19 February 2026

Dengung itu tidak pernah berhenti...

Sebuah drone frekuensi rendah, bergetar di tulang selangka, merambat naik ke rahang, hingga menetap di dasar tengkorak. Bagi penghuni Lantai Atas -para eksekutif Gajah Putih-Nexus atau pewaris saham Nusantara NeoForge -suara ini hanyalah "keheningan putih". Bagi mereka, ini suara kenyamanan. Suara yang menjamin bahwa kulit porselen mereka tidak akan melepuh dimakan matahari.

Tapi bagi Reno, ini suara monster yang sedang sekarat.

Reno menyeka peluh yang menetes ke pelupuk mata siber-nya. Lensa ocular sebelah kanannya berkedip merah, memproyeksikan data termal ke retina: Suhu Ambien: 38°C. Kelembapan: 10%. Itu baru suhu di dalam lorong servis, lorong sempit di antara dinding mal yang berlapis marmer Italia palsu dan beton bertulang penahan panas. Di luar sana? Di balik lapisan polycarbonate setebal satu meter yang memisahkan Serpong Nexus dari dunia luar? Neraka mungkin hawanya terasa lebih sejuk.

"Oi, Ren. Bengong lagi lo?"

Suara itu pecah di earpiece Reno, penuh statik dan gangguan sinyal. Itu Jaka, operator pengendali di Basement 4.

"Nggak bengong, Jak. Cuma lagi dengerin si 'Bessie' nyanyi," jawab Reno, suaranya parau karena debu asbes. Ia menepuk pelan dinding logam saluran udara utama—Unit Penanganan Udara Sentral Sektor 7, atau yang mereka sebut 'Bessie'. "Dia agak ngos-ngosan hari ini. Getarannya nggak rata."

"Ya jelas lah ngos-ngosan. Sensor gue bilang beban pendinginan di Atrium Utama lagi puncak. Ada pameran mobil terbang vintage atau apalah itu. Banyak lampu sorot, banyak orang kaya kegerahan. Lo cek katup ekspansinya, buruan. Kalau chiller itu mati, bos besar bakal jadiin kita daging asap."

Reno mendengus, mengencangkan tali harness kumal yang melilit tubuh kurusnya. Rompi kerjanya - sebuah exo-skeleton pudar bekas militer yang dimodifikasi untuk teknisi - mendesis pelan saat hidroliknya bergerak. Ia merangkak maju, menyusuri catwalk sempit yang menggantung di atas kegelapan jurang mesin.

Di bawah kakinya, melalui kisi-kisi lantai baja yang berkarat, ia bisa melihat mereka.

Celah ventilasi raksasa memberikan pemandangan top-down ke Atrium Utama Serpong Nexus. Cahaya neon ungu dan biru memancar menyilaukan. Di sana, ratusan meter di bawah, manusia-manusia "bersih" berjalan-jalan dengan pakaian sutra sintetis yang bisa berubah warna. Mereka tertawa, memegang gelas champagne berisi cairan nutrisi berkarbonasi. Anak-anak berlarian riang mengejar hologram kupu-kupu yang diprogram untuk tidak pernah hinggap.

Pemandangan itu begitu asing, seolah Reno sedang melihat spesies lain.

Ia berhenti sejenak di dekat grille ventilasi. Udara dingin yang dipompa mesin di belakangnya berhembus melewati wajahnya, lalu turun ke bawah, memberikan kehidupan bagi orang-orang di atrium. Bau parfum mahal - campuran lavender sintetis dan ozon - tercium samar-samar, tersedot oleh return air duct.

"Liat tuh, Jak," gumam Reno, matanya memindai kerumunan lewat lensa pembesar. "Mereka bahkan nggak tau udara yang mereka hirup itu hasil daur ulang keringat mereka sendiri minggu lalu."

"Udah, jangan filosofis gitu deh. Bikin mual," sahut Jaka. "Fokus ke katup. Gue dapet pembacaan tekanan aneh di Pipa 4."

Reno kembali merangkak. Lorong ini, yang mereka sebut "Vena", adalah labirin kabel serat optik dan pipa pendingin yang melilit seluruh kompleks Gading Serpong yang kini menjadi satu megastructure. Tidak ada lagi jalan raya aspal. Semua sudah tertutup kubah raksasa sejak "Peristiwa Hangus" dua dekade lalu. Aspal di luar sana sudah meleleh, menjadi sungai tar hitam yang mendidih di siang hari.

Ia sampai di persimpangan Pipa 4. Pipa itu besar, diameternya cukup untuk menelan dua orang dewasa. Permukaannya dilapisi frost - kristal es putih yang kontras dengan udara panas dan berminyak di lorong servis. Tapi ada yang salah. Di sambungan siku pipa, ada tetesan. Bukan air kondensasi biasa. Cairan itu berwarna hijau neon.

Refrigeran bocor.

"Sial," umpat Reno. Ia segera menarik kunci inggris hidrolik dari pinggangnya. "Jak, kita punya kebocoran Glycol di Sektor 7. Pantesan Bessie batuk-batuk."

"Bisa tambal nggak? Jangan bilang harus matiin sistem. Event di bawah baru mulai lima menit lagi."

"Gue coba. Tapi tekanannya tinggi banget. Ini kayak nyoba nyumpel mulut naga pake permen karet."

Reno mendekat. Hawa dingin dari kebocoran itu menusuk, membekukan keringat di dahinya dalam sekejap. Tapi di balik dingin itu, ada bahaya lain. Cairan ini beracun jika terhirup dalam konsentrasi tinggi. Ia menekan tombol di lehernya, dan masker respirator mendesis menutup mulut dan hidungnya. Indikator oksigen menyala hijau.

Tangannya bekerja cepat, gerakan yang sudah dilatih ribuan jam. Kunci inggris mencengkeram baut flensa. Krak. Logam beradu logam. Otot exo-skeleton di lengannya berdengung membantu putaran. Ia menyemprotkan sealant polimer cepat kering ke retakan pipa. Busa abu-abu itu mengembang, mendesis saat bertemu cairan dingin, lalu mengeras menjadi seperti beton.

"Tahan... tahan..." bisiknya pada pipa itu, seolah membujuk binatang buas.

Desisan kebocoran berhenti. Indikator tekanan di wrist-comp miliknya perlahan stabil.

"Aman," lapor Reno, menyeka sisa busa dari sarung tangannya. "Tapi ini cuma sementara. Pipa ini udah tua, Jak. Kayak kita."

"Yang penting tahan sampe besok pagi pas jam maintenance rutin. Good job, Ren. Sekarang geser ke Sektor Utara. Sensor gue nangkep anomali panas di deket Dinding Luar."

"Dinding Luar?" Reno terhenti. Jantungnya memukul rusuk lebih keras. "Itu zona merah, Jak. Radiasi panasnya tembus ke dalem."

"Gue tau. Makanya gue suruh lo. Lo kan tech paling gila yang gue punya. Lagian, bonusnya lumayan buat beli cartridge paru-paru baru buat nyokap lo."

Reno terdiam. Tawaran itu mengunci mulutnya. Ibunya, yang tinggal di unit apartemen subsidi di Sub-Basement 12, memang butuh filter baru. Udara di level bawah tidak sebersih di atrium. Debu berat mengendap di sana, menyumbat alveoli orang-orang miskin.

"Oke," kata Reno akhirnya, suaranya berat. "Gue jalan."

Perjalanan ke Sektor Utara berbeda. Semakin ia menjauh dari pusat mal, semakin sepi dan gelap lorong servisnya. Dinding-dinding di sini tidak lagi tertutup insulasi rapi. Beton telanjang, kabel-kabel terburai seperti usus yang tumpah, dan suara mesin yang lebih kasar.

Dan panasnya...

Setiap sepuluh meter ia melangkah ke arah utara-arah yang langsung menghadap matahari-suhu naik satu derajat. 40°C. 42°C. Kipas pendingin di exo-suit Reno berputar maksimal, berusaha mendinginkan tubuhnya.

Di sini, di perbatasan antara dunia buatan dan kiamat di luar, dinding mal terasa bergetar. Bukan karena mesin, tapi karena angin badai pasir di luar sana yang menghantam struktur bangunan. Angin yang membawa butiran silika panas berkecepatan 100 km/jam.

Reno sampai di ujung lorong. Di depannya ada pintu palka tebal dengan label peringatan pudar: BAHAYA: ZONA TERMAL EKSTREM. DILARANG MASUK TANPA PAKAIAN PELINDUNG KELAS A.

Ia tidak punya pelindung Kelas A. Ia hanya punya baju montir standar dan exo-suit bekas yang dimodifikasi.

"Gue udah di depan palka," lapor Reno. "Panasnya nembus sol sepatu gue, Jak."

"Hati-hati, Ren. Cek panel kontrol kipas Exhaust 9. Data di panel kontrol macet. Kalau itu nggak muter, panas dari luar bakal numpuk di rongga dinding dan bisa ngelelehin kabel utama."

Reno memutar roda besi di pintu palka. Logam itu panas, nyaris melepuhkan tangan meski sudah berlapis sarung tebal. Pintu terbuka dengan erangan engsel yang menyakitkan telinga.

Gelombang panas menghantamnya seperti pukulan fisik.


Di dalam ruang mesin Exhaust 9, udara terasa padat, seperti menghirup bubur panas.

Lampu indikator berkedip merah histeris di seluruh panel. Ruangan ini adalah sebuah rongga raksasa yang menempel langsung pada dinding terluar mal. Di satu sisi adalah turbin kipas raksasa—diameter lima meter-yang seharusnya membuang udara panas dari sistem AC ke luar. Di sisi lain, dinding beton yang memisahkan Reno dari dunia luar. Dinding itu retak-retak rambut, memancarkan rona oranye samar. Panas konduksi.

Reno terengah-engah. Suhu di sini pasti 50 derajat. Suit-nya berbunyi bip bip bip yang memberikan peringatan: Suhu Inti Tubuh Kritis. Dehidrasi Terdeteksi.

"Gila..." desisnya. Ia melangkah tertatih menuju turbin yang diam. Bilah-bilah kipas raksasa itu terbuat dari keramik komposit tahan panas, tapi sekarang diam membatu.

"Jak, turbinnya macet total. Porosnya kayaknya bengkok atau bantalannya leleh," teriak Reno, suaranya tenggelam oleh deru angin di luar dinding yang menghantam seperti palu godam.

"Lo harus puter manual, Ren! Pancing inersianya. Kalau motor utamanya gagal start, kita butuh momentum awal. Ada tuas engkol darurat di samping gearbox."

"Lo gila?! Itu beratnya ton-tonan!"

"Pake override exo-suit lo! Dorong hidroliknya sampe batas. Ren, denger gue. Suhu di casing kabel utama udah 80 derajat. Tiga menit lagi isolatornya leleh, korslet, dan Boom! Atrium Utara gelap gulita. Lift mati, pintu segel mati. Orang-orang bakal terpanggang."

Reno menggeram. Ia benci menjadi pahlawan yang tidak terlihat. Orang-orang di bawah sana sedang makan steak daging kloning, sementara dia di sini bersiap merebus darahnya sendiri. Tapi bayangan ibunya di basement - yang ventilatornya bergantung pada listrik dari jaringan ini—memaksanya bergerak.

Ia memanjat platform menuju pusat turbin. Panasnya kini bukan lagi sensasi, tapi rasa sakit. Kulit lehernya yang tidak tertutup collar terasa perih. Matanya berair, tapi air mata itu langsung menguap.

Di samping poros raksasa itu, ada tuas besi hitam. Tuas manual. Peninggalan zaman ketika mesin masih dirancang untuk dioperasikan manusia, bukan AI.

Reno mencengkeram tuas itu dengan kedua tangan. "Aktifkan Mode Overdrive," perintahnya pada suit-nya.

Suit itu merespons dengan dengungan tinggi. Lampu indikator di lengan berubah dari hijau ke oranye. Piston-piston kecil di punggung dan lengannya menegang.

"Aaaarrrghhh!" Reno berteriak, mengerahkan seluruh tenaga.

Ototnya menjerit. Logam berderit. Poros itu tidak bergerak. Karat dan pemuaian akibat panas telah mengelasnya.

"Nggak gerak, Jak! Keras banget!"

"Coba lagi! Pukul pasaknya pake kunci lo dulu, baru tarik!"

Reno melepas satu tangan, menyambar kunci inggris besarnya, dan menghantam gearbox sekuat tenaga. BANG! BANG! Getaran hantamannya merambat ke tulang lengannya. Serpihan karat rontok.

Ia kembali mencengkeram tuas. Kakinya menjejak lantai besi, mencari tumpuan. Sepatunya mulai terasa lengket - karet solnya yang mulai meleleh menempel di lantai.

"Ayo... gerak... bangsattt!"

Ia menarik napas, menghirup udara yang rasanya seperti pasir panas, dan menarik sekali lagi. Visi termalnya mulai glitch, berkedip-kedip karena overheat.

Krak.

Gerakan kecil. Satu milimeter.

"Dikit lagi, Ren! Grafiknya naik!" teriak Jaka di telinga.

Reno memejamkan mata, memvisualisasikan wajah ibunya, memvisualisasikan gaji minggu ini, memvisualisasikan es batu-sesuatu yang sudah tahunan tidak ia pegang langsung.

Dengan satu hentakan terakhir yang merobek serat otot bahunya, poros itu berputar.

Kreeeek... Wuuung.

Bilah kipas raksasa itu bergerak lambat. Satu putaran. Dua putaran.

Motor listrik utama mendeteksi gerakan, sensor inersia menyala, dan sistem otomatis mengambil alih. WHIRRRRRRR!

Dengungan rendah berubah menjadi raungan jet. Turbin berputar semakin cepat, menciptakan angin siklon di dalam ruangan itu. Udara panas tersedot paksa, dibuang keluar melalui shutter yang terbuka otomatis di sisi luar dinding.

Reno terlempar ke belakang oleh hempasan angin balik, jatuh terduduk di lantai besi. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat dan dangkal.

"Jalan! Turbinnya jalan!" lapor Reno, terbatuk-batuk.

"Mantap! Suhu kabel mulai turun. Lo nyelamatin pantat kita semua, Ren. Sekarang keluar dari situ sebelum lo jadi dendeng."

Reno hendak bangkit, tapi sesuatu menangkap perhatiannya.

Di dinding seberang, tepat di samping shutter pembuangan yang kini terbuka sedikit, ada sebuah celah. Bukan celah mesin. Itu adalah palka perawatan tua, sebuah pintu kecil seukuran jendela, yang digunakan teknisi zaman dulu untuk memeriksa kondisi luar bangunan.

Pintu itu bergetar hebat karena getaran turbin yang baru hidup. Gemboknya sudah lama hancur karena korosi. Dan sekarang, kait penguncinya longgar.

Ada celah selebar jari.

Dan dari celah itu, masuklah sesuatu yang bukan udara daur ulang. Bukan bau ozon, bukan bau pelumas, bukan bau parfum sintetis.

Itu bau debu. Bau matahari. Bau kematian yang murni.

Cahaya yang masuk dari celah itu bukan neon. Itu cahaya putih menyilaukan, begitu tajam hingga menembus filter lensa Reno dan menyakiti mata aslinya. Cahaya Matahari.

"Ren? Lo gerak kan?" suara Jaka terdengar jauh.

Reno tidak menjawab. Kakinya, yang tadi lemas, kini bergerak sendiri. Bukan menjauh, tapi mendekat. Mendekat ke celah itu.

Keinginannya yang selama ini terkubur di bawah tumpukan tugas dan tagihan, kini meruap ke permukaan. Keinginan bodoh. Keinginan bunuh diri.

Ia ingin merasakan angin. Angin asli.


Jaraknya hanya lima langkah, tapi rasanya seperti menyeberangi padang pasir. Radiasi panas di dekat celah itu membuat sensor suit Reno menjerit dengan alarm merah yang konstan.

WARNING: SUHU EKSTERNAL 48°C. RADIASI UV LEVEL EKSTREM. KEMATIAN JARINGAN DALAM 3 MENIT.

Reno mematikan alarm itu. Ia butuh keheningan.

Ia berdiri di depan celah pintu palka kecil itu. Cahaya matahari yang masuk membentuk garis tipis di lantai, memotong kegelapan seperti laser. Debu-debu mikro menari di dalam berkas cahaya itu - debu dari gurun yang dulunya adalah BSD City.

Tangannya gemetar saat terangkat. Bukan karena takut, tapi karena antisipasi yang memabukkan. Ia tahu hukumannya. Membuka segel luar adalah pelanggaran Kelas 1. Hukuman mati atau pembuangan ke Wasteland (yang sama saja dengan mati). Tapi di sini tidak ada kamera. Sensor di area ini sudah lama buta karena panas.

Hanya ada dia, dan dunia luar.

"Ren, woy! Sensor lokasi lo kok malah makin ke pinggir? Mundur, bego!" Jaka berteriak panik.

Reno mencabut earpiece-nya dan membiarkannya menggantung di bahu. Suara Jaka berubah menjadi cicitan nyamuk yang tak berarti.

Ia meletakkan tangannya di gagang pintu palka. Panasnya menembus sarung tangan, membakar kulit telapak tangannya. Rasa sakit itu nyata. Rasa sakit itu hidup. Jauh lebih hidup daripada dinginnya lantai marmer mal yang mati rasa.

Hanya sebentar, batinnya. Cuma mau tau rasanya.

Reno menarik gagang itu. Engsel yang sudah tak berdaya itu menyerah.

Ia mendorong pintu terbuka sedikit lebih lebar. Sekitar sepuluh sentimeter.

WUSSSSS

Tidak ada romantisasi. Tidak ada semilir lembut yang membelai pipi.

Yang masuk adalah tamparan.

Angin itu menderu masuk dengan kekerasan yang brutal. Rasanya seperti seseorang menempelkan setrika uap langsung ke wajahnya. Udara itu kering, sangat kering hingga seketika menyedot kelembapan dari mata, hidung, dan tenggorokannya.

Reno tersentak mundur, mengerang kesakitan. Kulit wajahnya yang terbuka terasa kencang dan perih seketika.

Tapi... ada arusnya.

Ada kekuatan yang kacau di dalamnya. Angin di dalam mal selalu teratur, laminar, dihitung secara matematis oleh komputer untuk kenyamanan maksimal. Angin ini liar. Ia membawa bau belerang, aspal terbakar, dan sejarah dunia yang sudah hancur.

Reno memaksakan diri maju lagi, melawan insting bertahan hidupnya. Ia melepas masker respiratornya.

Napas pertamanya tersedak. Udara panas membakar paru-parunya. Ia batuk hebat, rasanya seperti menelan bara api. Tapi setelah rasa sakit itu, ada sensasi aneh. Kebebasan.

Ia memicingkan mata, mengintip keluar melalui celah sepuluh sentimeter itu.

Pemandangannya menyilaukan. Putih dan kuning. Tidak ada pohon, tidak ada jalan. Hanya lautan pasir dan puing-puing beton yang menyembul seperti tulang belulang raksasa. Di kejauhan, kerangka gedung apartemen tua yang sudah runtuh setengahnya tampak bergetar dalam fatamorgana panas. Langit bukan biru, melainkan putih perak yang menyakitkan.

Ini adalah dunia nyata. Dunia yang membunuh mereka, tapi juga dunia yang jujur. Tidak ada hologram yang menutupi kehancuran.

Angin menderu lagi, kali ini lebih kencang, meniupkan pasir halus masuk ke dalam, mengenai pipi Reno. Pasir itu tajam, menggores kulit. Darah menetes sedikit dari goresan di pipi, tapi langsung mengering.

"Ini..." bisik Reno dengan suara parau yang nyaris hilang. "Ini angin."

Ia merasakannya menyapu rambutnya yang lepek oleh keringat. Untuk satu detik yang abadi, rasa sakit akibat panas itu berubah menjadi ekstasi. Ia tidak merasa sebagai sekrup kecil dalam mesin raksasa korporasi. Ia merasa sebagai manusia yang berdiri di hadapan alam semesta yang ganas.

Kulitnya mulai memerah parah, sunburn instan. Suit-nya memulai proses shutdown karena overheat.

Ia tahu ia harus menutupnya. Satu menit lagi di sini, dia pingsan dan mati terpanggang.

Tapi tangannya menolak bergerak. Ia ingin membuka pintu itu lebar-lebar. Membiarkan badai masuk. Membiarkan kekacauan menghancurkan keteraturan semu di dalam sana. Membiarkan orang-orang kaya di atrium merasakan apa yang dirasakan bumi.

Cukup tarik tuasnya lebih kuat, dan segelnya patah, pikirnya liar. Hancurkan ilusi ini.

Tangannya mencengkeram gagang pintu, siap menyentak hingga terbuka penuh. Otot bisepnya menegang.

Tiba-tiba, suara dering comm yang menggantung di bahunya terdengar samar di antara deru angin. Bukan suara Jaka. Itu suara notifikasi otomatis.

PING. Transfer Masuk: IDR 50.000.000 (Bonus Kinerja Darurat - Nusantara NeoForge Payroll). Pesan Otomatis: Dana cukup untuk pembelian Unit Filter Paru Tipe-C.

Reno membeku.

Filter paru. Ibunya.

Kenyataan menghantamnya lebih keras daripada angin panas itu. Jika dia mati di sini, atau jika dia merusak sistem ini, ibunya mati. Bukan nanti, tapi besok, saat filter lamanya habis masa pakainya.

Pemberontakannya, kerinduannya akan alam, hasratnya untuk menghancurkan kepalsuan... semua itu adalah kemewahan yang tidak mampu ia beli. Kemewahan orang yang tidak punya tanggungan.

Air mata menetes, kali ini karena rasa kalah, dan langsung menguap di pipinya yang terbakar.

"Sialan," rutuknya. "Sialan kalian semua."

Dengan teriakan frustrasi yang tertahan di tenggorokan, Reno membanting pintu palka itu kembali menutup.

BUMMM.

Cahaya putih itu hilang. Deru angin liar itu terpotong. Kegelapan dan dengung mesin buatan kembali menyelimuti.

Reno jatuh berlutut, terengah-engah menghirup udara daur ulang yang terasa hambar, basi, dan aman.


Lima belas menit kemudian, Reno sudah kembali di lorong utama yang lebih dingin.

Ia duduk bersandar pada dinding pipa chiller, menenggak habis jatah air dari kantong hidrasi suit-nya. Wajahnya merah padam, seolah habis berjemur di pantai selama seminggu tanpa pelindung. Kulitnya perih setiap kali tersentuh kain, dan matanya masih melihat bintik-bintik putih akibat flash blindness.

"Ren? Lo masih idup?" suara Jaka terdengar cemas di earpiece yang sudah ia pasang kembali.

"Masih, Jak. Nyaris..." jawab Reno lemah.

"Syukur deh. Gila lo, sensor suhu di sana tadi melonjak sampe 55 derajat sesaat. Gue kira ada ledakan pipa uap. Lo nggak apa-apa?"

"Cuma... maintenance pintu palka tadi agak susah. Udah beres sekarang." Reno berbohong. Kebohongan yang diperlukan untuk tetap hidup.

"Oke. Balik ke base. Bos seneng. Listrik stabil, pesta di atrium lancar jaya. Katanya ada influencer yang lagi live streaming muji-muji betapa dinginnya udara di Serpong Nexus. Lo pahlawan tanpa tanda jasa, kawan."

Reno tertawa kecil, tawa yang hampa. Pahlawan. Ia hanyalah penjaga penjara yang memastikan narapidana di dalamnya tetap nyaman dan tidak sadar mereka dikurung.

Ia bangkit berdiri, lututnya masih goyah. Ia berjalan menuju kisi-kisi ventilasi yang mengarah ke Atrium lagi.

Ia melihat ke bawah. Pesta masih berlangsung. Musik synth-pop terdengar sayup-sayup. Seorang wanita dengan gaun berlian tertawa, kepalanya mendongak, seolah menikmati udara sejuk yang jatuh dari langit-langit.

Reno menyentuh pipinya yang melepuh. Rasa sakit itu berdenyut, sebuah rahasia yang ia bawa sendiri. Bekas luka bakar ini akan membekas. Tanda mata dari "Dunia Luar".

Ia merogoh saku vest-nya, mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi salep luka bakar. Saat ia mengoleskannya, matanya menangkap sesuatu di ujung lorong gelap itu.

Seekor kecoa.

Kecoa itu merayap di atas pipa panas, antenanya bergerak-gerak. Binatang purba itu bertahan hidup, memakan sampah, hidup di celah-celah sempit, beradaptasi dengan panas dan racun.

Reno menatap kecoa itu, lalu menatap bayangannya sendiri di logam pipa yang mengkilap. Wajah kotor, mata merah siber, kulit terkelupas.

"Kita sama aja, sobat," bisiknya pada kecoa itu. "Kita cuma hidup supaya mereka bisa mimpi indah."

Ia berbalik, meninggalkan pemandangan pesta itu, dan berjalan kembali ke dalam kegelapan lorong-lorong beton yang tak berujung. Di luar sana, angin badai masih mengamuk, menanti saatnya dinding-dinding ini runtuh. Dan Reno tahu, suatu hari nanti, angin itu akan menang. Dia hanya berharap dia masih hidup untuk melihatnya, tanpa harus menutup pintu lagi.

Langkah kakinya bergema, hilang ditelan dengung mesin yang tak pernah tidur.