Drama

Buah Beracun

19 February 2026

Banyu meninggalkan kafe itu seperti seorang hantu yang baru saja menyelesaikan urusan duniawinya yang kotor. Ia berjalan keluar dari pintu kaca, dan udara malam yang lembap terasa seperti tamparan di wajah.

Amplop cokelat tebal itu menyembul dari balik jaketnya, terasa mengganjal di dada, namun tidak ada kehangatan yang terpancar darinya. Uang tunai itu terasa dingin, berat, dan asing saat menempel di tubuhnya, seolah-olah itu bukan miliknya, melainkan sebuah benda terkutuk yang ia kutip untuk dibawa.

Ia tidak merasa seperti seorang pemenang yang baru saja mendapatkan apa yang ia inginkan; ia merasa seperti seorang pencuri yang berhasil kabur tapi kini selamanya harus menoleh ke belakang, mewaspadai bayangan yang mungkin mengejarnya.

Ia tidak langsung pulang. Bagaimana ia bisa membawa wajah ini, wajah seorang pemeras, ke hadapan Dina dan Fajar? Ia butuh sebuah alibi, sebuah jembatan untuk menyeberangi jurang antara tindakan kotornya dan kebutuhan keluarganya yang suci.

Maka, ia berhenti di sebuah apotek 24 jam. Lampu neonnya yang putih dan steril terasa menyorot setiap noda di jiwanya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia membeli obat penurun panas untuk anak-anak, sebotol vitamin, dan beberapa plester bergambar kartun.

Ini adalah pembenaran pertamanya, sebuah mantra yang ia bisikkan pada dirinya sendiri: Aku melakukan ini untuk Fajar. Sang apoteker menatapnya dengan tatapan netral, tidak tahu bahwa obat yang ia jual dibeli dengan uang hasil dari rasa takut orang lain.

Selanjutnya, ia berhenti di sebuah warung kelontong yang masih buka, diterangi oleh satu bohlam kuning yang dikerubungi laron. Ia membeli sekarung beras lima kilogram, bukan literan seperti biasa. Berat karung itu di tangannya terasa nyata, sebuah beban yang memuaskan.

Ia membeli satu papan telur, sekotak susu UHT rasa cokelat kesukaan Fajar, beberapa bungkus mi instan, dan sebotol besar minyak goreng. Barang-barang kebutuhan pokok yang selama berbulan-bulan terasa seperti kemewahan luar biasa.

Saat kasir menyebutkan totalnya, sebuah angka yang biasanya akan membuatnya menelan ludah, Banyu merogoh jaketnya dan menarik beberapa lembar uang seratus ribu yang kaku dari dalam amplop cokelat itu.

Sebuah transaksi fisik yang membuatnya mual, tangannya bersentuhan langsung dengan bukti kejatuhan moralnya. Sangat kontras dengan niat suci belanjaan tersebut. Ia memegang uang itu hingga tangannya kotor secara kiasan, dan ia merasa jiwanya telah terperosok ke dalam lumpur hingga ke leher.

Perjalanan pulang adalah sebuah penyiksaan batin. Setiap kali ia melihat lampu rotator mobil polisi di kejauhan, jantungnya berdebar kencang, adrenalin membanjiri tubuhnya. Ia merasa seperti setiap orang di jalan bisa melihat kejahatannya, seolah ada tanda tak terlihat di dahinya yang bertuliskan "pemeras".

Kantong-kantong belanjaan yang tergantung di motornya terasa lebih berat dari seharusnya, seolah diisi dengan batu-batu rasa bersalah yang memberatkannya ke bawah.

Ketika ia akhirnya tiba di gang sempit rumahnya, ia mematikan mesin dari kejauhan dan mendorong motornya di sisa perjalanan. Ia tidak ingin suara mesinnya membangunkan Dina dengan cara yang salah. Ia butuh waktu untuk menyusun topengnya, topeng seorang suami yang berhasil, bukan seorang pria yang hancur.

Ia membuka pintu dengan pelan. Dina sedang duduk di tepi kasur, membelakanginya, bahunya tampak tegang dalam cahaya lampu yang temaram. Fajar sudah tertidur di sampingnya, napasnya teratur, satu-satunya suara damai di dunia Banyu yang kacau. Dina pasti mendengarnya masuk, atau lebih tepatnya, merasakan getaran langkahnya di lantai. Ia tidak menoleh.

Banyu meletakkan kantong-kantong belanjaan itu di atas meja makan kecil mereka. Tumpukan kantong plastik yang bergesekan itu tampak begitu mencolok di ruangan yang statis tersebut, sebuah intrusi visual dari dunia luar yang memaksa masuk. Ia mengeluarkan obat penurun panas dan meletakkannya dengan lembut di atas meja kecil di samping tempat tidur, di dekat Dina.

Gerakan itu akhirnya membuat Dina menoleh. Matanya bengkak dan merah karena menangis. Ia melihat botol sirup obat, lalu matanya beralih ke kantong belanjaan yang penuh sesak. Wajahnya menunjukkan campuran emosi yang rumit: kebingungan, kecurigaan, dan secercah kelegaan yang menyakitkan.

"Dari mana?" isyarat Dina, tangannya bergerak lambat, lelah, seolah mengangkat beban yang sangat berat.

Banyu tahu ia tidak bisa berbohong. Tidak lagi. Kebohongan hanya akan membangun dinding yang lebih tinggi di antara mereka, dan dinding itu sudah nyaris mencapai langit-langit. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

Ia tidak menggunakan bahasa isyarat. Ia mengambil buku tulis Fajar yang tergeletak di lantai dan sebuah pulpen. Menulis terasa lebih jujur, lebih permanen, dan lebih sulit untuk disangkal. Kata-kata yang tertulis tidak bisa ditarik kembali.

Ia mulai menulis, punggungnya menghadap Dina. Ia menceritakan semuanya. Tentang motornya yang mogok di Prapanca. Tentang melihat keluarga Pak Robert yang tampak sempurna. Tentang rasa ketidakadilan yang membakarnya. Tentang ide gelap yang muncul seperti bisikan setan di telinganya. Tentang pesan WhatsApp yang ia kirim. Tentang pertemuan di kafe.

Ia tidak menuliskan kata "memeras". Ia menulis, "Aku memintanya membayar untuk kesalahannya padaku." Sebuah eufemisme, sebuah perisai tipis yang ia ciptakan untuk melindungi dirinya sendiri dari kebenaran yang telanjang.

Ia menyerahkan buku itu pada Dina. Dina membacanya di bawah cahaya lampu bohlam yang temaram. Banyu memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah istrinya. Ia melihat alisnya yang berkerut saat membaca, bibirnya yang sedikit terbuka karena terkejut, dan akhirnya, bahunya yang merosot seolah seluruh udara keluar dari paru-parunya.

Ketika Dina selesai membaca, ia tidak menatap Banyu dengan kemarahan. Itu yang Banyu harapkan, yang ia siapkan untuk dihadapi. Kemarahan lebih mudah dihadapi daripada apa yang Dina berikan padanya: kesedihan yang mendalam dan tak terbatas.

Air mata baru mulai mengalir di pipinya, tapi kali ini bukan air mata amarah atau frustrasi. Itu adalah air mata duka. Seolah ia sedang meratapi kematian sesuatu—kematian kepolosan mereka, mungkin.

"Kenapa, Nyu?" isyarat Dina, tangannya gemetar. "Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu menanggung ini sendirian?"

Banyu tidak mengerti. Ia mengharapkan penghakiman, bukan pertanyaan yang sarat dengan empati. Ia mengharapkan teriakan bisu, bukan kesedihan yang tulus.

Dina mengambil pulpen itu. Tulisannya sedikit kacau karena tangannya yang bergetar. "Aku marah padamu bukan karena kamu gagal. Aku marah karena aku takut. Takut kehilanganmu. Takut kita tidak bisa bertahan. Tapi aku tidak pernah ingin kamu menjadi orang lain untuk menyelamatkan kita. Aku lebih baik kita lapar daripada aku kehilangan suamiku yang kukenal."

Tulisan itu menghancurkan Banyu. Ia telah salah membaca segalanya. Ia pikir Dina meragukan kemampuannya, tapi ternyata Dina hanya takut akan kerapuhannya.

Ia pikir ia harus menjadi kuat dengan cara yang kotor, tapi yang Dina inginkan hanyalah mereka menghadapi semuanya bersama-sama, dalam kejujuran, sekacau apapun itu.

Banyu berlutut di depan Dina. Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran mereka, ia meraih tangan istrinya. Tangan itu terasa dingin. Ia menempelkan tangan Dina ke pipinya. Basah oleh air mata yang akhirnya ia izinkan jatuh, membanjiri pertahanannya.

"Maaf," isyaratnya, sebuah gerakan sederhana yang membawa seluruh beban penyesalannya. "Aku takut. Aku putus asa. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi."

Dina menggeleng. Ia mengusap air mata di wajah Banyu dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang terasa seperti pengampunan. "Kita," isyaratnya, menekankan kata itu dengan menunjuk dirinya lalu Banyu. "Kita takut. Kita putus asa. Bersama."

Malam itu, mereka tidak berbicara banyak lagi. Tapi keheningan di antara mereka telah berubah. Jurang itu masih ada, tapi kini ada sebuah jembatan rapuh yang terbentang di atasnya, dibangun dari pengakuan dan air mata.

Mereka duduk berdampingan untuk waktu yang lama, hanya saling berpegangan tangan, merasakan dengkuran halus Fajar yang damai. Amplop cokelat tebal yang tergeletak di tengah meja makan mereka terasa seperti buah beracun.

Itu telah menyelamatkan mereka dari kelaparan untuk saat ini, tapi mereka berdua tahu, racunnya telah meresap ke dalam fondasi keluarga mereka, dan mereka tidak tahu bagaimana cara membersihkannya.