Hari-hari berikutnya terasa sureal, seperti hidup di dalam mimpi yang aneh. Krisis finansial yang mencekik mereka selama berbulan-bulan tiba-tiba menguap.
Pagi pertama setelah malam pengakuan itu, Banyu pergi ke sebuah konter HP bekas di ITC Fatmawati. Ia berjalan di antara etalase-etalase kaca yang berkilauan, merasa seperti orang asing.
Dengan lembaran uang dari amplop cokelat yang terasa membakar tangannya, ia membeli ponsel yang layak. Bukan yang paling mahal, tapi layarnya utuh, baterainya tahan lama, dan kameranya jernih.
Memegangnya terasa aneh, seolah ia tidak pantas memiliki benda yang berfungsi dengan baik setelah menghancurkan yang sebelumnya.
Kemudian, ia pergi ke rumah pemilik kontrakan dan membayar sewa untuk tiga bulan ke depan. Ibu pemilik kontrakan, yang biasanya menagih dengan wajah masam, menatapnya dengan heran, lalu tersenyum lebar saat menerima beberapa lembar uang ratusan ribu.
Banyu juga mampir sebentar ke basecamp Blok M, menyerahkan sisa utangnya secara tunai pada Bang Sapto, beserta selembar kertas bertuliskan pesan singkat: “Lunas, Bang. Terima kasih bantuannya.” Banyu pergi sebelum Sapto sempat bertanya dari mana uang sebanyak itu berasal.
Setiap transaksi terasa seperti sebuah langkah menjauh dari jurang, tetapi juga sebuah langkah lebih dalam ke dalam labirin rasa bersalahnya. Uang itu bekerja seperti sihir, menyelesaikan masalah-masalah praktis satu per satu.
Demam Fajar turun setelah minum obat yang ia beli. Lemari es mereka yang sudah lama hanya berisi es batu kini terisi telur, sosis, beberapa potong ayam, dan bahkan buah-buahan.
Dina bisa memasak tanpa harus menghitung setiap butir beras atau menimbang setiap tetes minyak. Ada kelegaan yang nyata di rumah kecil mereka, sebuah kelonggaran pada otot-otot mereka yang selama ini selalu tegang karena cemas.
Namun, di bawah permukaan kelegaan itu, ada sesuatu yang telah berubah secara fundamental. Banyu menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun. Ia akan duduk di teras selama berjam-jam, menatap ponsel barunya tanpa melakukan apa-apa.
Uang itu telah membelikannya waktu luang, tetapi waktu luang itu kini dipenuhi oleh gema dari tindakannya di kafe itu. Ia merasa seperti seorang prajurit yang kembali dari perang dengan luka yang tak terlihat, menderita post-traumatic stress dari pertempurannya dengan moralitasnya sendiri. Ia tidak lagi merasa dikejar oleh penagih utang, tapi kini ia dikejar oleh bayangannya sendiri.
Suatu sore, ia sedang memperhatikan Fajar bermain di lantai. Anaknya itu sedang menggambar dengan krayon baru satu set yang Banyu belikan, bukan lagi sisa-sisa krayon patah yang warnanya sudah pudar.
Fajar menggambar sebuah keluarga: figur ayah yang besar dan tinggi, figur ibu dengan rambut panjang, dan figur anak kecil di tengahnya, bergandengan tangan. Mereka semua tersenyum dengan mulut merah yang lebar.
Di atas mereka, Fajar menggambar matahari yang juga tersenyum, dengan sinar-sinar yang menjulur ke segala arah. Sebuah dunia yang sederhana, murni, dan penuh kebahagiaan tanpa syarat.
Banyu menatap gambar itu, dan hatinya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa. Di dunia Fajar, ayahnya adalah pahlawan. Seorang pria besar dan kuat yang selalu tersenyum, yang bisa menyediakan krayon dan susu cokelat.
Tapi Banyu tahu siapa dirinya sebenarnya. Ia adalah seorang pria yang telah menggunakan ketakutan orang lain untuk membeli krayon itu. Ia telah menukar integritasnya dengan senyum di wajah anaknya. Apakah itu pertukaran yang sepadan? Pertanyaan itu menghantuinya.
Fajar, merasakan ayahnya menatap, mendongak dan tersenyum. Senyumnya begitu tulus, begitu penuh kepercayaan. Ia menyodorkan gambarnya pada Banyu dengan bangga. "Ayah," ucapnya, menunjuk pada figur pria besar itu.
Banyu mengambil gambar itu. Tangannya sedikit gemetar. Ia menatap mata Fajar yang jernih dan polos, mata yang belum ternoda oleh sinisme atau kompromi dunia. Mata itu adalah cermin yang paling jujur dan paling kejam.
Dan di dalam cermin itu, Banyu melihat dirinya sendiri, bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai seorang penipu. Ia telah memberikan Fajar dunia yang lebih nyaman, tetapi ia melakukannya dengan mengotori dunianya sendiri.
Apa yang akan ia katakan pada Fajar sepuluh tahun dari sekarang, jika anaknya itu bertanya tentang masa-masa sulit mereka? Apakah ia akan menceritakan kebenarannya? "Ayah mendapatkan uang ini dengan cara menakut-nakuti orang lain, Nak, karena Ayah terlalu lemah untuk berjuang dengan cara yang benar." Pikiran itu membuatnya ingin muntah.
Saat itulah ia teringat kembali pesan ibunya, sebuah mantra yang selalu ia pegang erat-erat saat pertama kali merantau ke Jakarta. "Harus belajar berani, Nyu."
Selama ini, ia selalu mengartikan "berani" sebagai keberanian fisik. Berani menghadapi kerasnya jalanan Jakarta. Berani menyetir di tengah malam. Berani menghadapi pelanggan yang marah. Berani menjadi Tuli di dunia yang bising.
Ia pikir ia sudah cukup berani. Tapi sekarang, di tengah keheningan rumahnya yang kini tak lagi kekurangan, ia menyadari bahwa ia telah salah mengartikan pesan itu sepenuhnya.
Keberanian yang ibunya maksudkan mungkin bukan keberanian untuk menghadapi dunia luar, melainkan keberanian untuk menghadapi dunia di dalam dirinya sendiri. Keberanian untuk tetap jujur pada diri sendiri ketika dunia memaksamu untuk berbohong.
Keberanian untuk memilih jalan yang sulit namun benar, daripada jalan yang mudah namun salah. Keberanian untuk menjadi miskin tapi terhormat. Keberanian untuk menatap mata anakmu tanpa merasa seperti seorang penipu.
Dan dalam ujian keberanian itu, ia telah gagal total. Tindakannya pada Pak Robert bukanlah sebuah keberanian.
Itu adalah sebuah tindakan kepengecutan yang disamarkan sebagai pragmatisme. Ia mengambil jalan pintas karena ia takut. Takut gagal, takut lapar, takut mengecewakan keluarganya.
Banyu memeluk Fajar dengan erat, menghirup aroma rambut anaknya yang wangi sampo bayi. Ia memejamkan mata.
Sisa lembaran uang di dalam amplop itu terasa seperti kanker. Itu mungkin memberinya kehidupan untuk sementara waktu, tetapi ia tahu itu akan menggerogoti jiwanya secara perlahan hingga tidak ada yang tersisa selain cangkang kosong.
Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa hidup seperti ini. Ia tidak bisa membiarkan Fajar tumbuh dengan seorang ayah yang jiwanya telah ia gadaikan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, tapi ia tahu ia harus menemukan kembali keberanian yang sesungguhnya.
Keberanian untuk menghadapi konsekuensi, bukan hanya dari kesalahannya di jalanan, tapi juga dari kesalahannya di kafe asing itu. Ia harus menemukan cara untuk menebus dirinya, bukan di mata dunia, tapi di mata anaknya, dan yang paling penting, di mata dirinya sendiri yang terpantul di cermin itu.
Banyu perlahan melepaskan pelukannya, membiarkan Fajar kembali tertidur pulas. Ia berdiri, mengambil amplop cokelat berisi sisa uang kotor itu, lalu melipatnya rapat-rapat. Ia memasukkannya ke dalam kaleng biskuit berkarat di dasar lemari pakaian, menguburnya di bawah tumpukan baju lama agar tak lagi terlihat.
Ia kemudian mengambil ponsel bekas yang baru dibelinya. Banyu membuka aplikasi pesan dan mencari kontak Rania. Jempolnya bergerak cepat dan mantap mengetik pesan: "Saya batalkan kesepakatan kita. Jangan pernah menulis cerita tentang keluarga saya."
Ia menekan tombol kirim, lalu langsung memblokir nomor tersebut. Banyu menatap pantulan wajahnya di layar ponsel yang perlahan menggelap. Malam ini, retakan di cermin itu mulai menyatu kembali.