Banyu hidup dalam sebuah pulau pengasingan yang ia ciptakan sendiri. Meskipun krisis finansial telah reda, ia merasa lebih terisolasi dari sebelumnya.
Ia tidak lagi pergi ke basecamp di bawah jembatan layang Blok M. Ia malu bertemu Bang Sapto dan kawan-kawan lainnya.
Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa ia sekarang punya HP baru dan uang yang cukup untuk tidak bekerja selama beberapa bulan, sementara akunnya masih beku?
Kebohongan akan melahirkan kebohongan lain, dan ia sudah terlalu lelah untuk membangun benteng dari dusta.
Jadi, ia menarik diri. Ia menghabiskan hari-harinya di sekitar rumah, melakukan perbaikan-perbaikan kecil yang selama ini ia tunda.
Ia menambal atap yang bocor, mengecat ulang dinding yang kusam dengan sisa cat dari tetangga, dan memperbaiki rantai sepeda Fajar yang berkarat. Ia mencoba menyibukkan tangannya agar pikirannya tidak berkelana ke tempat-tempat gelap.
Hubungannya dengan Dina perlahan membaik, tetapi ada kehati-hatian baru di antara mereka, seperti dua orang yang baru belajar berjalan lagi setelah kecelakaan.
Mereka lebih sering berkomunikasi, berbagi kekhawatiran tentang masa depan Fajar atau sekadar mengomentari sinetron yang ditonton Dina.
Tetapi topik tentang "uang itu" selalu dihindari, tergeletak di antara mereka seperti sebuah benda tak tersentuh yang bisa meledak jika dibicarakan.
Dina tahu Banyu sedang berjuang, ia bisa melihatnya dari cara suaminya menatap kosong ke kejauhan, atau dari caranya yang sering tersentak kaget jika melihat kilatan lampu motor menyapu kaca jendela depan rumah.
Tapi ia tidak tahu bagaimana cara membantunya keluar dari penjara rasa bersalah yang ia bangun di sekelilingnya.
Suatu sore, saat Banyu sedang membongkar dan membersihkan blok CVT motor matic-nya yang sudah lama tidak terpakai—sebuah pekerjaan rumit yang membutuhkan konsentrasi penuh—ponsel barunya bergetar di atas bangku kayu. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor yang tidak ia kenal. Biasanya ia akan mengabaikannya, tapi sesuatu mendorongnya untuk melihat.
"Ini Adi. Teman Bang Sapto. Apa kabar, Nyu?"
Banyu tertegun. Adi. Salah satu driver Tuli yang sering ia lihat di basecamp. Seorang pemuda yang lebih muda darinya, yang selalu terlihat bersemangat dan sedikit pemarah, seolah terus-menerus menantang dunia.
Banyu ragu untuk membalas. Ia merasa seperti seorang desertir yang dihubungi oleh kawan-kawannya dari medan perang. Ia sudah meninggalkan dunia itu, dunia aspal dan poin harian. Ia kini hidup dari "uang damai" yang kotor.
Ia mengetik balasan singkat, mencoba terdengar biasa saja. "Baik. Kamu?"
Balasan dari Adi datang seketika, seolah ia sudah menunggu dengan jari di atas keyboard. "Tidak baik. Akunku di-suspend juga. Permanen."
Jantung Banyu mencelos. Permanen. Itu adalah hukuman mati di dunia ojek online. Sebuah kata yang dingin dan final.
"Kenapa?" balas Banyu, rasa penasarannya mengalahkan rasa malunya.
"Ceritanya panjang. Pelanggan komplain aku tidak mengikuti instruksi. Dia menelepon untuk mengubah alamat, aku tidak angkat. Dia chat, tapi aku sedang di jalan layang, tidak bisa berhenti untuk memeriksa HP. Aku antar ke alamat awal sesuai aplikasi. Dia marah besar, kasih bintang satu, lapor aku tidak kooperatif. Selesai. Mereka tidak mau dengar penjelasanku. Aku kirim bukti tangkapan layar, aku jelaskan aku Tuli. Tidak ada gunanya."
Cerita Adi adalah gema dari mimpi terburuk Banyu. Sebuah kesalahpahaman kecil yang berujung pada kehancuran mata pencaharian.
Banyu merasakan gelombang empati yang kuat, yang untuk sesaat berhasil menembus kabut tebal rasa bersalahnya sendiri. Ia tahu persis bagaimana rasanya, ketidakberdayaan itu, frustrasi karena tidak bisa menjelaskan.
"Aku juga di-suspend," Banyu mengakui, merasa sedikit lega karena bisa berbagi bebannya. "Kasus sampel medis. Belum ada kabar sampai sekarang."
Pesan berikutnya dari Adi mengejutkannya. "Bang Sapto tahu. Dia yang memberiku nomormu. Dia bilang, kamu menghilang. Dia khawatir. Dia juga bilang, bukan cuma kita berdua. Ada Rahmat dan Iwan juga. Empat orang dalam sebulan terakhir. Ini bukan lagi kebetulan, Nyu. Ini pembersihan."
Empat orang. Di dalam komunitas mereka yang sangat kecil—tidak lebih dari sepuluh orang yang aktif di Jakarta Selatan—itu adalah angka yang sangat besar. Itu adalah sebuah wabah.
Sistem yang selama ini mereka coba akali dengan stiker dan kartu laminating kini sepertinya berbalik menyerang mereka secara sistematis. Algoritma baru, atau mungkin kebijakan baru yang tidak tertulis, sedang menyingkirkan mereka.
"Bang Sapto mau kita semua kumpul," lanjut pesan Adi. "Bukan untuk mengeluh atau minum kopi. Tapi untuk melakukan sesuatu. Besok sore. Jam 2. Di basecamp biasa. Kamu harus datang, Nyu. Ini penting. Ini tentang kita semua."
Banyu menatap pesan itu lama. Sebuah undangan. Sebuah panggilan. Selama ini ia merasa sendirian dalam kegagalannya, seolah ia adalah satu-satunya orang yang cacat di dalam sistem yang sempurna.
Tapi ternyata, masalahnya lebih besar dari dirinya. Masalahnya sistemik. Kesadaran itu tidak membuatnya merasa lebih baik tentang kesalahannya sendiri, tetapi itu mengurangi beban kesendiriannya yang menyesakkan.
Pergi ke basecamp berarti harus menghadapi Bang Sapto. Menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul tentang bagaimana ia bertahan hidup tanpa penghasilan.
Tapi tidak pergi berarti memilih untuk tetap berada di dalam pulaunya, membiarkan dirinya tenggelam dalam penyesalan sementara kawan-kawannya mencoba berjuang untuk sesuatu yang juga menjadi masalahnya.
Ia teringat kembali refleksinya tentang keberanian. Mungkin ini adalah langkah pertamanya.
Keberanian bukan hanya tentang menghadapi diri sendiri, tapi juga tentang berani berdiri bersama orang lain. Keberanian untuk menjadi bagian dari sesuatu, bahkan ketika kau merasa tidak pantas.
Ia mengetik balasannya, sebuah komitmen yang terasa lebih berat dari sekadar kata-kata.
"Aku datang."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Banyu menceritakan sesuatu yang penting pada Dina.
Ia menunjukkan seluruh percakapannya dengan Adi. Ia menjelaskan tentang apa yang terjadi pada teman-temannya, tentang pola yang mengerikan itu.
Dina membaca pesan-pesan itu, wajahnya serius. Ia bisa melihat penderitaan orang lain yang tercermin di layar itu, penderitaan yang sama yang telah mereka lalui. Ketika ia selesai, ia menatap Banyu.
"Kamu akan pergi?" isyaratnya.
Banyu mengangguk. "Aku harus."
Dina tidak membantah. Sebaliknya, ia meletakkan tangannya di atas tangan Banyu yang berbau bensin. Sebuah gestur dukungan yang sederhana namun sangat berarti, sebuah jembatan yang kembali terbangun di antara mereka.
"Hati-hati," isyaratnya. Lalu ia menambahkan satu kalimat lagi, yang menusuk langsung ke hati Banyu. "Berjuanglah dengan benar."
Berjuanglah dengan benar. Dua kata itu adalah sebuah pengampunan sekaligus sebuah perintah.
Dina memberinya kesempatan kedua untuk memilih jalan yang benar, untuk menebus kesalahan yang telah ia akui.
Besok, di basecamp itu, Banyu tidak hanya akan bertemu dengan teman-temannya. Ia akan bertemu dengan persimpangan jalan lain dalam hidupnya. Dan kali ini, ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan memilih dengan lebih berani.