Drama

Musyawarah Tangan-Tangan yang Terluka

19 February 2026

Basecamp di bawah jembatan layang Blok M terlihat sama seperti biasanya—asap rokok yang mengepul dari puntung-puntung yang menyala, aroma kopi gosong yang menyengat dari teko aluminium, dan getaran lalu lintas yang konstan merambat lewat tiang beton di atas mereka, sebuah ritme denyut nadi yang tak pernah berhenti bagi kehidupan mereka.

Namun bagi Banyu, saat ia memarkir motornya di antara motor-motor lain yang lebih kusam, atmosfernya terasa berbeda.

Ada ketegangan yang menggantung di udara yang panas dan lembap itu, sebuah energi yang terpusat di sudut di mana beberapa orang sedang duduk melingkar di bangku-banggu plastik yang sudah reyot.

Ada lima orang di sana. Bang Sapto duduk di tengah, punggungnya sedikit membungkuk, tampak lebih tua dan lebih lelah dari terakhir kali Banyu melihatnya.

Di sampingnya ada Adi, yang wajahnya keras menahan amarah, rahangnya terkatup rapat. Lalu ada dua wajah lain yang Banyu kenali tapi tidak terlalu akrab: Rahmat, seorang pria berperawakan kecil yang selalu tampak gugup, matanya bergerak-gerak gelisah, dan Iwan, pria yang lebih tua dengan uban yang sudah merata, yang biasanya paling pendiam dan hanya mengamati dari kejauhan.

Saat Banyu mendekat, semua percakapan tangan terhenti. Empat pasang mata menatapnya. Banyu mempersiapkan diri untuk tatapan curiga atau pertanyaan sinis, tapi ia tidak menemukan itu.

Di mata mereka, ia hanya melihat pengakuan. Mereka melihat seorang kawan seperjuangan yang juga terluka, seorang prajurit lain yang kembali dari medan perang dengan luka yang sama.

Bang Sapto menepuk bangku kosong di sebelahnya, sebuah undangan tanpa kata untuk bergabung dalam lingkaran yang terluka itu.

Banyu duduk, jantungnya berdebar. Ia merasa seperti sedang menghadiri sebuah dewan perang, atau mungkin lebih tepatnya, sebuah sesi terapi kelompok untuk para penyintas.

Setelah hening sejenak, di mana mereka hanya saling menatap, seolah mengukur kedalaman luka masing-masing, Bang Sapto memulai musyawarah.

Tangannya bergerak dengan otoritas yang tenang, bahasa isyaratnya jelas dan tegas, tidak ada gerakan yang sia-sia.

"Terima kasih sudah datang," isyaratnya, matanya menyapu setiap wajah. "Kita semua tahu kenapa kita di sini. Sistem ini sedang memburu kita. Satu per satu. Kita dianggap sebagai error yang harus dihapus."

Ia kemudian memberikan kesempatan pada Adi untuk bercerita. Tangan Adi bergerak dengan cepat, penuh emosi, setiap gerakannya adalah sebuah ledakan frustrasi.

Ia menceritakan kembali insidennya, bagaimana pelanggan mengubah alamat melalui telepon saat ia sudah di jalan, dan bagaimana laporannya yang singkat dan dingin—"tidak kooperatif"—menghancurkan mata pencahariannya dalam sekejap.

"Aku sudah kirim email banding tiga kali!" isyarat Adi, tangannya hampir bergetar karena marah.

"Jawabannya selalu sama. 'Keputusan kami sudah final'. Final? Mereka bahkan tidak mau mendengar ceritaku! Mereka lebih percaya pada pelanggan yang mungkin berbohong untuk mendapatkan voucher gratis, daripada pada mitra yang sudah bekerja dua tahun tanpa pernah ada masalah!"

Selanjutnya, Rahmat yang berbicara. Gerakan tangannya kecil dan ragu-ragu, seolah ia takut untuk menceritakan kisahnya sendiri yang memalukan.

Ia di-suspend karena laporan "perilaku tidak sopan". Penyebabnya? Seorang penumpang wanita yang duduk terlalu dekat dan sengaja menyentuh punggungnya dengan cara yang tidak pantas.

Rahmat, merasa tidak nyaman dan takut dituduh yang tidak-tidak, sedikit menggeser tubuhnya ke depan untuk menciptakan jarak. Penumpang itu tersinggung, merasa ditolak, dan dalam laporannya ia memutarbalikkan fakta, menuduh Rahmat telah membuatnya merasa tidak nyaman dan tidak profesional.

Tanpa bukti, hanya berdasarkan satu laporan subjektif, akun Rahmat dibekukan. Ia kehilangan pekerjaannya karena mencoba melindungi dirinya sendiri.

Setiap cerita adalah sebuah variasi dari tema yang sama: kesalahpahaman yang lahir dari keheningan, yang kemudian dieksploitasi oleh sistem yang tidak dirancang untuk mereka.

Mereka adalah anomali, glitch dalam algoritma yang harus disingkirkan demi efisiensi dan kepuasan pelanggan yang bersuara.

Akhirnya, giliran Banyu. Dengan berat hati, ia menceritakan insiden sampel medis. Ia tidak menyembunyikan kesalahannya dalam membaca nama jalan, tetapi ia juga menekankan bagaimana hujan deras, GPS yang error, dan ketidakmampuannya untuk menerima panggilan telepon dari seorang ibu yang panik menciptakan badai sempurna yang membuatnya tidak berdaya.

Saat ia menceritakan tentang ulasan bintang satu dan kata-kata "membahayakan keselamatan", ia melihat yang lain mengangguk dalam diam. Mereka mengerti.

Mereka tahu betapa mudahnya seorang driver dicap dengan label terburuk hanya karena satu insiden, dan bagi mereka, label itu menempel lebih lekat.

Ketika semua cerita telah dibagikan, ada keheningan yang panjang. Bukan keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang penuh solidaritas.

Asap rokok Bang Sapto menari-nari di udara, menjadi satu-satunya hal yang bergerak. Mereka semua adalah korban dari pertempuran yang sama.

Beban yang selama ini Banyu pikul sendirian, rasa bahwa ia adalah satu-satunya yang gagal, kini terasa lebih ringan karena dibagi di antara lima orang. Ia tidak sendirian.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" isyarat Iwan, yang paling tua, memecah keheningan.

Gerakannya lambat, penuh kebijaksanaan. "Kita bisa terus begini, menunggu giliran kita dipenggal. Atau kita bisa melawan."

"Melawan bagaimana?" balas Adi, sinis. "Kita ini siapa? Kita bahkan tidak bisa berteriak agar didengar. Kita mengirim surat, mereka membalas dengan robot."

"Kita tidak perlu berteriak," sahut Bang Sapto, matanya menatap tajam ke setiap orang di sana.

"Kita punya cerita. Kita punya bukti. Empat kasus dalam sebulan. Ini bukan lagi keluhan individu. Ini adalah pola diskriminasi. Dan diskriminasi itu ilegal."

Bang Sapto kemudian menguraikan sebuah rencana. Rencana yang sederhana namun radikal.

Mereka tidak akan lagi mengirim surat elektronik banding secara perorangan ke layanan pelanggan tingkat rendah. Mereka akan menyusun sebuah surat formal, sebuah pengaduan kolektif.

Surat itu akan mencantumkan nama dan nomor identitas mitra mereka semua. Di dalamnya, mereka akan melampirkan kronologi setiap kasus, lengkap dengan tangkapan layar, sebagai bukti nyata dari kegagalan sistem aplikasi dalam mengakomodasi dan melindungi mitra difabel.

"Kita akan mengirimkannya langsung ke kantor pusat," lanjut Bang Sapto.

"Bukan lewat email. Kita akan mencetaknya. Kita akan mengirimkannya lewat kurir tercatat ke bagian legal, ke bagian operasional, bahkan kalau perlu ke CEO-nya. Kita akan membuat mereka tidak bisa lagi mengabaikan kita sebagai kasus-kasus terpisah."

Ada secercah harapan di udara. Rencana itu terasa masuk akal. Itu adalah sebuah tindakan perlawanan yang terhormat dan strategis.

Banyu mendengarkan semua itu, dan sebuah pikiran muncul di benaknya.

Sebuah surat mungkin akan dibaca, tapi mungkin juga akan berakhir di tumpukan berkas. Mereka butuh sesuatu yang lebih. Mereka butuh pengeras suara.

Dan ia sadar, ia memilikinya. Atau setidaknya, ia punya akses ke sana, meskipun ia baru saja menutup pintu itu rapat-rapat beberapa hari lalu. Rania. Jurnalis itu menginginkan cerita tentang penderitaan. Banyu harus menelan ludahnya sendiri dan membuka kembali blokir nomor wanita itu. Tapi kali ini, ia tidak akan menjual air mata keluarganya. Ia akan menawarkan sebuah perlawanan.

Dengan jantung yang berdebar, Banyu mengangkat tangannya.

"Aku punya ide," isyaratnya, menarik perhatian semua orang.

"Sebuah surat itu bagus. Tapi itu adalah pertarungan di dalam ruangan tertutup. Bagaimana jika kita membawa pertarungan ini ke luar? Bagaimana jika cerita kita tidak hanya masuk ke email mereka? Bagaimana jika cerita kita... masuk ke berita?"