Tidak ada manusia yang sukses dalam segala hal. Jika kariernya bagus, biasanya kisah cintanya rumit. Sebaliknya, jika kisah cintanya lancar, maka biasanya kariernya akan mengalami pasang surut. Dan kalau pun ada yang sukses dalam keduanya, maka masalahnya pasti dalam hal lain. Keluarga, ataupun keturunan. Hidup tidak semulus itu.
Arini, selain kisah cintanya berantakan, keluarga yang jauh dari kata harmonis, dan sekarang, kariernya pun terancam hancur. Ia yakin, hanya tinggal menunggu waktu, Gibran akan memecatnya.
Arini patah hati. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja. Tidak ada kenyamanan dalam hidupnya. Baik di rumah, maupun di tempat kerja.
Entah berapa lama Arini meratapi nasibnya, sampai kemudian ia merasakan sebuah tepukan di pundaknya.
“Jangan ganggu, Ta, aku lagi patah hati.” Arini sama sekali tidak tertarik untuk mengangkat kepalanya. Ia yakin, itu adalah Dita.
“Saya paling tidak suka mempunyai karyawan yang membawa masalah pribadi ke tempat kerja!”
Arini membeku. Tidak! Itu bukan suara Dita!
Perlahan Arini mengangkat kepalanya, hanya untuk melihat wajah menyeramkan seorang pria yang tengah berdiri di sampingnya. Sepasang mata jahat itu begitu mengintimidasi, menatap langsung ke arah Arini yang kini sudah merasa sesak napas.
“Pak Gibran!” Arini sedikit berteriak. Ia bangun dengan kecepatan tinggi hingga tanpa sadar kakinya membentur ujung meja. Sakit! Tapi ia sama sekali tidak berani untuk mengaduh. Ia takut akan dilempar oleh pria berwajah marah di depannya.
“Sudah saya bilang, lupakan fantasimu tentang saya! Mana laporan yang saya minta!” ucap Gibran.
“Ah itu! Ya … ya … itu ada di sini!” Arini mengambil map di atas meja dengan serampangan. Beberapa alat tulis berjatuhan. Namun begitu, ia berhasil memberikan apa yang Gibran minta.
Gibran berdecak, kemudian mengambil map di tangan Arini, dan berbalik pergi, meninggalkan Arini yang masih terpaku di tempat yang sama. Sepanjang kariernya, untuk pertama kalinya ia mengalami kecanggungan yang parah. Dan ia semakin yakin, surat pemecatannya akan segera dikirim.
Tunggu! Tadi Arini mengatakan sesuatu tentang ‘patah hati’ ‘kan? Gibran tidak akan salah paham tentang itu ‘kan? Siapapun, tolong katakan tidak! Arini melihat sekeliling, hanya untuk melihat wajah rekan-rekan kerjanya yang menatapnya dengan tatapan kasihan. Hatinya semakin tenggelam karenanya.
“Kamu nyari masalah!” ucap Dita.
“Aku tahu!” jawab Arini seraya mengaduk kopi di hadapannya. Mereka tengah makan siang di cafe dekat kantor.
Dita menggelengkan kepalanya, kemudian memakan makanannya. Namun begitu, matanya tetap melirik Arini yang hanya mengaduk kopi di hadapannya.
“Kamu gak makan?” tanya Dita.
Arini menggeleng.
“Biasanya kamu membawa bekal dari rumah. Kenapa sekarang enggak?” tanya Dita lagi.
Arini menatap Dita, namun masih tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik. Sampai kemudian, ia melihat ponselnya menyala di atas meja. Nama ‘ibu’ tertera di atasnya sebagai identitas pemanggil.
Arini mengabaikannya. Dan hal itu juga tertangkap perhatian Dita.
“Ada masalah apa lagi di rumahmu?” Dita menghela napas berat. Ia tahu, Arini banyak mengalami keluhan di rumahnya. Lima tahun bersahabat, ia sedikit banyak tahu apa yang terjadi di rumah Arini. Tentu saja Arini yang bercerita.
“Azril mau nikah. Pacarnya hamil,” jawab Arini seraya mengembuskan napas lelah.
Dita yang sedang minum tersedak seketika. Wajahnya memerah karena terbatuk. Hingga napasnya berangsur stabil, ia bertanya, “aku gak salah denger ‘kan?”
Arini menatap Dita, kemudian menceritakan apa yang keluarga Intan minta dari keluarganya. Juga permintaan ibunya untuk membayar cicilan sertifikat rumah yang digadaikannya.
“Ibu kamu keterlaluan banget sih, Rin! Kamu juga ‘kan anaknya! Kalau aku jadi kamu sih, udah aku biarin aja rumahmu itu di ambil bank! Biar ibumu dan adikmu yang gak tahu diri itu sadar, betapa menderitanya kamu saat ini. Kamu udah jadi staff paling miskin di departemen kita. Saat teman-temanmu ke kantor naik mobil, kamu masih mempertahankan motor lamamu itu. Dan sekarang–” Ucapan Dita tidak bisa dilanjutkan saat pandangannya teralihkan dengan keberadaan seorang wanita paruh baya yang tengah berdiri di belakang Arini. Bola matanya seakan menyala karena amarah.
Arini yang menyadari perubahan wajah Dita mengangkat kepalanya dan berbalik. Wajah sang ibu terpampang nyata di depannya.
“I-bu?” Arini tergagap.
“Jadi kamu masih mengenali ibumu ini, Arini?!” Teriakan Titin membuat seisi cafe yang tengah ramai itu menoleh seketika.
“Bu, tolong jangan membuat keributan di sini, malu.” Arini berbisik.
“Oh … jadi sekarang kamu malu dengan wanita tua yang telah melahirkanmu ini, Arini?” Alih-alih diam, Titin malah semakin meninggikan nada suaranya, seolah ingin semua orang di dunia mendengar suaranya. “Bagaimanapun, aku ini ibumu, Arini! Sebanyak apapun kamu menyangkalnya, aku tetap ibumu!”
Arini panik. Ia berdiri, kemudian mendekati sang ibu. “Bu, apapun yang ingin ibu bicarakan, ayo bicarakan di tempat lain.” Ia mencoba untuk menyentuh tangan sang ibu. Tapi Titin gegas melemparkannya ke samping.
“Apa yang ingin kamu lakukan pada ibumu ini, Arini? Kamu ingin menyiksa ibu seperti apa lagi? Kamu tahu, ibu seorang janda yang tidak berpenghasilan. Ibu hanya meminta sedikit dari gaji kamu untuk ibu makan. Tapi apa? Kamu malah membuat ibumu ini kelaparan! Ya Tuhan … anak macam apa yang aku lahirkan ini.” Titin menangis pilu, membuat semua mata menatap Arini dengan tatapan entah. “Dan kamu … kamu bisa makan dengan enak di cafe. sementara ibu ….”
Jejak pandangan jijik menatap Arini datang dari para pengunjung cafe. Tuduhan ‘anak durhaka’ diam-diam mereka sematkan di hati masing-masing. Ya Tuhan … penampilan gadis itu terlihat seperti anak polos yang baik hati. Tak disangka, ia membiarkan ibu kandungnya sendiri kelaparan di rumah.
Arini menunduk, menutupi kesedihan di hatinya. Mengapa ibunya datang mempermalukannya di tempat umum? Tak pedulikah ia dengan nama baiknya?
“Ibu meneleponmu beberapa kali. Tapi kamu tidak mengangkatnya. Lalu ibu terpaksa datang ke kantormu untuk mencarimu. Dan satpam bilang, kamu sedang makan siang di sini. Oh sungguh kamu ini anak yang kejam, Arini! Bisa-bisanya kamu makan enak di sini, sementara ibu di rumah tidak memiliki sebutir beraspun untuk di makan!” Titin semakin meraung-raung.
Dita yang sedari tadi diam saja langsung berdiri. Ia melangkah dan berdiri di samping Arini. “Bu, ibu salah paham. Arini tidak–”
“Siapa kamu?” sela Titin.
“Saya Dita, teman kantor Arini,” jawab Dita, “dan ya, saya mau menjelaskan kalau Arini tidak seperti yang ibu duga. Lihat, dia bahkan tidak makan siang. Dia di sini hanya minum kopi agar tidak mengantuk saat jam kerja,” lanjutnya.
Titin melirik ke arah meja di belakang Arini, kemudian semakin meraung.