“Bang…” Suara lirih Aretha memecah kesunyian ruangan kantor Satuan Narkoba. Jam dinding menunjukkan pukul 21.30 WIB. Di luar, jantung kota masih berdenyut, suara kendaraan bermotor beradu dengan desiran angin malam. Di dalam ruangan sempit itu, hanya cahaya redup dari lampu meja dan layar komputer yang menerangi wajah-wajah lelah para petugas. Bau kopi dan asap rokok masih tercium samar di udara, menambah kesan berat dan suram. Naufal menoleh pada Aretha, satu-satunya polwan di timnya. Baru enam bulan Aretha bergabung, namun Naufal sudah merasakan ada sesuatu yang berbeda pada polwan muda itu: semangat yang membara, ketekunan yang luar biasa, namun juga keraguan yang tersembunyi di balik senyumnya yang selalu ramah. Ia mengamati Aretha dengan seksama. Ada sesuatu yang berbeda pada polwan muda itu malam ini. Ia tampak gelisah dan ragu-ragu.
“Ya, Aretha?” Naufal meletakkan pena dan berkas laporan penyelidikan kasus pengedaran narkoba di wilayah yang sedang ia periksa. Suaranya lembut, berbeda dengan biasanya saat memimpin operasi di lapangan. Ia tahu ada sesuatu yang mengganggu Aretha, sesuatu yang membuatnya mencari waktu untuk berbicara larut malam begini. Ia merasakan ada beban berat yang dipikul Aretha. Ia ingin memberikan dukungan dan bantuan.
“Aku… aku mau diskusi, Bang. Abang ada waktu?” Aretha tampak ragu-ragu, jari-jarinya memainkan ujung kemeja warna hitam miliknya. Biasanya percaya diri, malam ini ia terlihat begitu gugup. Naufal merasakan ada beban berat yang dipikul Aretha. Ia memberikan isyarat agar Aretha duduk di hadapannya. Ia ingin menciptakan suasana yang nyaman dan aman bagi Aretha untuk berbicara.
“Tentu. Ada apa?” Naufal memberikan isyarat agar Aretha duduk di hadapannya. Ia memperhatikan setiap detail ekspresi wajah Aretha, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Ia berusaha menciptakan suasana yang nyaman dan aman bagi Aretha untuk berbicara. Ia ingin Aretha merasa nyaman dan aman untuk menceritakan semuanya.
Aretha menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang. Ia duduk di kursi di hadapan meja Naufal, jarak mereka cukup dekat, menciptakan suasana yang intim dan nyaman. Ia menatap mata Naufal, mencari dukungan dan kekuatan dari sosok yang selama ini ia hormati sebagai pemimpin dan senior. Ia mempercayai Naufal. Ia tahu Naufal adalah orang yang tepat untuk diajak berbagi.
“Soal… laki-laki, Bang,” kata Aretha, suaranya hampir tak terdengar. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak emosi yang hampir tak terkendali. Ini adalah hal yang sangat pribadi, sesuatu yang selama ini ia pendam sendiri, takut untuk diungkapkan. Ia merasa malu dan ragu untuk menceritakannya. Ia takut akan penilaian orang lain.
Naufal mengangguk pelan. Ia telah menduga hal itu. Ia memahami tekanan yang dihadapi Aretha sebagai seorang polwan di satuan Narkoba, sebuah pekerjaan yang penuh risiko dan tuntutan tinggi. Kesepian, ancaman, dan tekanan psikologis seringkali menjadi bagian dari kehidupan mereka. Dan hal tersebut, seringkali berdampak pada kehidupan pribadi mereka. Ia mengerti apa yang sedang Aretha rasakan. Ia ingin memberikan dukungan dan bantuan.
“Ceritakan saja,” kata Naufal, suaranya lembut dan penuh pengertian. Ia memberikan Aretha waktu untuk mengatur pikirannya, untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Ia ingin Aretha merasa nyaman dan aman untuk menceritakan semuanya. Ia ingin menjadi tempat bercerita bagi Aretha.
Aretha terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian. Ia menatap Naufal, mencari kekuatan. Lalu, ia mulai bercerita tentang seorang laki-laki yang ia temui.
"Dia.. Laki-laki itu selalu bersikap baik dan ramah kepada ku, Bang. Selalu ada untukku, mendukung dan memahamiku. Dia selalu memberikan semangat dan dukungan kepadaku, bahkan di saat-saat aku merasa lelah dan putus asa," ucap Aretha. "Dia selalu membuatku merasa nyaman dan aman, mendengarkan keluh kesahku dan memberikan solusi atas masalah. Pokoknya dia selalu membuatku merasa dicintai dan dihargai."
"Ok. Lalu?"
“Tapi, aku ragu.."
Naufal menunggu kelanjutannya.l, mendengarkan dengan sabar, menatap mata Aretha dengan penuh perhatian. Ia memahami perasaan Aretha. Ia mengerti keraguan dan ketakutan Aretha.
“Lalu, kenapa kamu ragu?” Naufal bertanya, suaranya lembut. Ia ingin membantu Aretha untuk mengatasi keraguannya.
“Aku… aku tidak tahu apakah dia menyukaiku juga, Bang. Dia itu baik kepada semua orang. Perempuan yang kenal dia, pastinya banyak yang suka padanya. Aku takut salah mengartikan kebaikannya.” Aretha mengungkapkan keraguannya.
“Aretha,” Naufal memulai, suaranya serius. “Kadang, kita perlu berani mengambil risiko. Jika kamu memang menyukainya, beranikan diri untuk mengungkapkan perasaanmu. Jangan sampai penyesalan datang belakangan. Tapi, ingat, ungkapkanlah dengan cara yang tepat dan bijak. Jangan sampai mengganggu pekerjaan dan profesionalitas kita.” Naufal memberikan nasihat yang bijak kepada Aretha. Ia ingin Aretha mengambil keputusan yang tepat.
“Tapi sepertinya dia sudah punya pacar, Bang." "Oya? Kalau begitu kamu pastikan dulu. Jangan masuk di sela-sela cinta orang." "Siap, Bang." "Anak mana? Polres sini? Divisi mana?"
Aretha diam sesaat, menundukkan kepala. "Bagaimana aku harus bilang kalau laki laki itu adalah kamu, Bang?" batin Aretha. "Siapa?"
Aretha masih diam Naufal tersenyum. "Tidak mau cerita siapa dia juga tidak apa-apa." "Bukan begitu, Bang. Ya, dia juga polisi di sini. Dia berada di satuan..."
Naufal melirik sebuah panggilan masuk di ponselnya. "Sebentar, Aku terima telepon dulu." "Siap, Bang."
Naufal menerima telepon. "Hallo.."
"Hallo, Bang. Ini aku, tetangganya tante Chintya. Yang tadi kita bicara waktu abang melihat Raisa." "Oh, iya. Siska ya? Ada apa?" "Raisa menangis terus, Bang. Yang biasa dititipin Raisa kan sedang pulang kampung saat kejadian tadi."
Naufal menghela nafas. "Coba berikan teleponnya pada Raisa. Saya mau bicara." "Sebentar, Bang."
Tak lama terdengar suara Raisa menyapa ,"Hallo.." Suaranya masih disertai isak tangis. "Raisa kenapa menangis?" Raisa tak menjawab, tangisnya kembali kencang.
"Tunggu disana, sebentar lagi abang datang," janji Naufal. "Abang selesaikan pekerjaan dulu. Jangan nangis lagi ya?" "Iya." "Sudah makan?" "Belum." "Mau makan apa? Ayam goreng?" "Iya." "Ok, Nanti abang belikan." "Iya." "Sudah ya? Telponnya abang tutup." "Iya."
Naufal meletakkan ponselnya sambil melihat jam dinding. "Abang mau pergi?" tanya Aretha. "Ada sedikit urusan. Kamu masih bisa jika mau melanjutkan cerita." "Lain waktu saja, Bang. Terima kasih atas waktunya, Bang." Naufal mengenakan jacketnya. "Ok, aku duluan ya?" "Hati-hati, Bang."
Naufal bergegas keluar.
Aretha menghela nafas. "Aku harus cari tahu apa lagi? Sudah jelas kalau kau punya pacar, Bang. Meski belum pernah melihat wajah pacarmu yang kau panggil dengan nama Sinta, tapi aku yakin perempuan pilihanmu itu pasti orang pilihan. Aku ini pastinya kalah jauh dari wanitamu.."
Aretha membuka galeri photo di ponselnya. Photo dirinya bersama Naufal usai sebuah penangkapan.
"Ah.. memang susah jika hanya cinta sendiri."