Naufal mengusap lembut rambut Raisa, bocah lima tahun yang tertidur lelap di gendongannya. Bau harum bunga kamboja masih melekat samar di pakaian Raisa, sisa-sisa upacara pemakaman ibunya, Chintya, yang selesai sore tadi. Pipi Raisa masih basah bekas air mata, namun kini ia tenang, tertidur pulas di pelukan Naufal. Keheningan menyelimuti suasana, hanya diiringi suara jangkrik yang bercicit nyaring dari kegelapan.
Siska, tetangga Chintya, menghela napas panjang. Wajahnya tampak lelah dan sayu. "Dari tadi dia tak mau berhenti menangis, Bang," katanya, suaranya serak. "Syukurlah, setelah Abang datang… dia bisa diam, malahq akhirnya tidur. Tapi aku khawatir, kalau nanti Abang pulang, bagaimana kalau dia bangun? Abang tidak bisa membawa dia pulang?"
Naufal menatap Raisa dengan perasaan campur aduk. Rasa iba dan simpati bercampur dengan rasa getir yang sulit dijelaskan. Ia melihat bayangan dirinya sendiri di mata Raisa yang masih polos itu, banyak warga di perumahan itu yang menyebut kemiripan wajah Raisa dengannya.
"Aku harus bicarakan dulu dengan Mama," jawab Naufal pelan. Ia tahu, memberi tahu ibunya tentang kematian Chintya akan menjadi pukulan berat. Ibunya masih menyimpan luka mendalam akibat perselingkuhan ayahnya dengan Chintya bertahun-tahun lalu.
Siska mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Kasihan Raisa, Bang. Pasti bingung karena tiba-tiba kehilangan Mamanya. Dia terus memanggil-manggil Mamanya. Katanya, dia haus, dia lapar, dia ingin Mamanya menyuapinya makan. Hatiku hancur melihatnya." Air matanya menetes membasahi pipinya. "Dia masih sangat kecil, Bang. Belum mengerti apa yang terjadi."
Naufal termenung. Ia tidak bisa memungkiri kenyataan pahit ini. Raisa adalah adik tirinya, anak dari wanita yang telah menghancurkan rumah tangga orang tuanya. Luka itu masih menganga, meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Ia masih mengingat jelas bagaimana ibunya hancur saat ayahnya kabur bersama Chintya dengan membawa uang hasil penjualan rumah mereka berikut uang tabungan pendidikannya.
"Aku titip Raisa di sini dulu," ucap Naufal akhirnya, suaranya berat. Ia meletakkan Raisa dengan hati-hati di tempat tidur. Selimut tipis dirapikannya dengan perlahan. "Besok aku ke sini lagi."
Siska mengangguk lemah. "Ok, Bang." Ia menatap Raisa yang tertidur pulas, lalu menatap Naufal dengan mata yang penuh rasa syukur.
Naufal mengeluarkan uang dari dompetnya. "Buat jajan atau kebutuhan Raisa di sini," katanya. "Buat kamu juga."
"Terimakasih, Bang," ucap Siska, suaranya masih bergetar.
"Kabari kalau ada apa-apa. Aku pulang," kata Naufal, lalu berdiri. Ia menepuk pelan pundak Siska, seakan memberikan dukungan.
"Hati-hati, Bang," jawab Siska.
Naufal keluar dari rumah itu, melangkah menuju mobilnya. Ia duduk di balik kemudi, menarik napas dalam-dalam. Udara malam terasa dingin menusuk kulitnya, namun dinginnya itu tak sebanding dengan dinginnya perasaan yang tengah menghimpit hatinya. Ia menyalakan mesin mobil, lalu melajukan kendaraannya menyusuri jalanan yang mulai sepi.
Sepanjang perjalanan, bayangan masa lalu terus menghantuinya. Wajah ibunya yang sendu, air mata yang tak pernah berhenti mengalir, kata-kata penuh luka yang terucap dari bibirnya. Semua itu kembali terngiang di telinganya. Ia merasa bersalah, merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi, meskipun ia tahu ia tidak sepenuhnya bersalah. Ia merasa harus melakukan sesuatu, harus memperbaiki semuanya, meskipun ia tahu itu tidak akan mudah.
Namun, di sisi lain, ia juga merasa iba kepada Raisa. Bocah kecil itu tidak bersalah. Ia tidak pantas menanggung beban akibat kesalahan orang tuanya. Naufal merasa terpanggil untuk melindungi Raisa, untuk memberikan kasih sayang yang mungkin tidak pernah didapatkan Raisa secara penuh dari ibunya. Ia harus menjadi pelindung bagi Raisa, sebuah tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia tiba di rumah, masuk ke dalam dan meletakkan kunci mobil di atas meja, berjalan menuju kamarnya, melemparkan dirinya ke atas tempat tidur. Namun, tidur tak kunjung datang. Pikirannya masih dipenuhi oleh wajah Raisa, wajah mungil yang penuh dengan kesedihan, dan bayangan Chintya yang telah tiada.
Ia meraih ponselnya, menghubungi Siska. "Bagaimana keadaan Raisa?" tanyanya.
"Dia masih tidur nyenyak, Bang," jawab Siska. "Terimakasih banyak atas bantuan Abang."
"Sama-sama," jawab Naufal. "Kabari aku kalau ada apa-apa."
"Pasti, Bang."
Naufal memutuskan sambungan telepon. Ia kembali menatap langit-langit kamarnya. Bagaimana cara memberi tahu ibunya tentang Raisa? Menitipkan Raisa selamanya pada Siska adalah tidak mungkin. Apa lagi meletakkan Raisa di panti asuhan.
Pintu kamar diketuk sebelum dibuka. Adelia melangkah masuk.
"Mama lihat lampu kamar kamu menyala. Makanya mama lihat."
"Iya, tadi ada sedikit urusan sepulang dari kantor."
"Sudah makan?"
"Sudah, Ma."
"Ya, sudah. Mandi lalu istirahat. Pasti capek sekali kan?"
"Iya. Mama istirahatlah. Besok jadi berangkat ke Jakarta?"
"Jadi," jawab Adelia sambil melangkah ke pintu.
"Ma," panggil Naufal.
"Ya," Adelia menoleh.
Naufal berjalan memghampiri Adelia.
"Ada yang mau abang bilang ke Mama."
"Soal?"
Naufal terdiam sesaat. Rasanya cerita terperangkap di ujung tenggorokannya.
"Soal kamu dengan Sinta?" tebak Adelia.
"Bukan.."
"Lalu?"
Naufal menarik nafas, memeluk tubuh ibunya sambil berkata ,"Sehat selalu ya, Ma. Temani kami hingga sampai sukses."
Adelia tersenyum, menepuk-nepuk punggung Naufal.
"Pasti, Nak."
Pagi itu, Naufal sedang membaca berkas di atas mejanya ketika telpon dari Siska masuk.
"Hallo.."
"Bang, Raisa mengamuk. Dari tadi menangis tidak mau berhenti. Kami bingung."
"Aku masih di kantor. Tidak bisa keluar seenaknya," ucap Naufal.
"Coba abang bicara dengan Raisa," pinta Siska.
"Ya."
Tak menunggu lama telepon sudah tersambung dengan Raisa yang masih menangis.
"Raisa kenapa lagi?" tanya Naufal.
"Mama mana?"
"Kan Raisa lihat kemarin mama sudah dikebumikan? Doain mama ya? Tidak boleh menangis."
"Abang dimana?"
"Abang masih kerja. Raisa sama kak Siska dulu. Nanti pulang kerja abang kesana. Nanti abang belikan boneka untuk teman Raisa tidur," bujuk Naufal.
"Abang bobok sama Raisa? Di rumah Mama?"
Naufal diam tak menjawab.
"Abang bobok sini?"
"Nanti abang lihat Raisa," janji Naufal tanpa menjawab pertanyaan anak itu. "Jangan nangis. Abang kerja dulu."
"Iya."
"Baik baik ya sama kak Siska."
Naufal menutup telpon. Disandarkannya kepalanya di kursi. Rasanya berat sekali. Di satu sisi ia merasa sangat iba akan kondisi Raisa yang terpaksa harus kehilangan ibunya di usia 5 tahun. Sementara keberadaan ayah kandungnya yang juga adalah ayahnya Naufal tidak diketahui dimana. Raisa sebatang kara di tengah ganasnya kota. Ia hanya punya Naufal sebagai tempat bersandarnya saat ini sebagai kakak tertuanya. Namun bagaimana caranya membawa Raisa ke tengah publik. Ini bukan masalah pikiran huruk yang akan dilemparkan orang tentang siapa Raisa padanya. Namun tentang luka adelia yang akan kembali menganga jika Naufal harus mengungkap siapa Raisa agar bisa tinggal di tengah keluarga mereka. Belum lagi menghadapi kerasnya penolakan yang pasti akan dilemparkan oleh kakeknya dan kedua pamannya.
Naufal dalam dilema