Drama

Tentang Nurani

Penulis sanzfy
20 February 2026

"Ada apa?" Revan memandang Naufal. Sudah 3 hari ini Revan pulang ke kota kelahirannya untuk mengunjungi ayahnya, Ikhwan.

Naufal menundukkan kepala. Pikirannya kacau. Kekhawatiran akan penolakan Revan seperti yang dilakukan kakeknya, Ikhwan. Namun ia mencoba memberanikan diri untuk bicara pada Revan. Setidaknya, kakak nomor dua ibunya itu lebih memiliki kelembutan hati di banding kakak pertama Adelia, Kevin Samudera.

Naufal memandang Revan. Lelaki berpangkat Brigadir Jendral Polisi itu masih menunggu cerita yang ingin diungkapkan oleh keponakannya itu.

"Om, Papa punya anak dengan tante Chintya," cerita Naufal.

Lama Revan terdiam, sesaat setelah ia meneguk kopinya, ia berkata "“Aku tahu,” jawab Revan, suaranya datar, berusaha mengendalikan emosi yang mulai menggejolak. “Setelah hari itu mengurus perceraian dengan ibumu, mereka melangsungkan pernikahan. Aku sempat melihat mereka di sebuah mall. Ingin rasanya hari itu membalas perbuatan mereka, namun ingat akan janjiku, Bang Kevin juga Papa. Janji padamu dan ibumu untuk tak membalas perbuatan jahat mereka.” Ia mengingat janji yang telah ia buat, janji yang kini terasa begitu berat untuk ditepati.

“Ya, aku pun tidak menyalahkan mereka punya anak setelah menikah. Namun yang ingin aku bahas bukan soal itu, Om. Aku bertemu Tante Chintya sekitar dua atau tiga minggu yang lalu. Dia bekerja menjadi cleaning service di hotel tempat Sinta menginap.” Naufal melanjutkan ceritanya, suaranya bergetar.

Revan mengerutkan kening. “Ya, kakekmu sudah cerita tentang pertemuanmu dengan wanita pembawa bencana itu.” Suaranya terdengar menahan amarah, suatu amarah yang terpendam namun begitu terasa.

“Raisa sakit, Om,” cerita Naufal, suaranya semakin lirih.

“Raisa?” Revan bertanya, sedikit terkejut.

“Anak Papa dengan Tante Chintya,” Naufal menjelaskan.

Revan terdiam, pikirannya berputar-putar. Ia membayangkan seorang gadis kecil yang tak berdosa, menderita karena kesalahan orang tuanya.

“Biarkan saja,” ucap Revan datar, berusaha menyembunyikan rasa iba yang mulai muncul. Kata-kata itu terasa begitu kejam, namun ia tak mampu mengungkapkan rasa iba yang sebenarnya terpendam di hatinya.

“Papa entah berada di mana. Dia meninggalkan Tante Chintya dan Raisa yang sakit untuk lari ke pelukan wanita lain."

“Karma yang bagus untuk pengkhianat sahabatnya sendiri,” desis Revan.

Ia masih belum lupa dengan pengkhianatan yang dilakukan Chintya terhadap, Adelia. Adik bungsu Revan yang menjadi harta paling berharga di keluarga besar mereka. Masih diingatnya dengan jelas bagaimana Chintya kabur dengan suami Adelia, menghancurkan rumah tangga adiknya dan meninggalkan luka yang mendalam. Luka itu masih terasa hingga kini, sebuah luka yang tak akan pernah bisa sembuh sepenuhnya. Kenangan pahit itu kembali menghantui, menambah beban di hatinya.

“Raisa sekarang sebatang kara, Om,” ungkap Naufal. “Minggu lalu, Tante Chintya… mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.”

Keheningan menyelimuti mereka, hanya diiringi suara hujan yang mulai turun dengan derasnya, seolah-olah ikut menangis bersama mereka.

Revan terdiam, kata-kata Naufal menusuk hatinya. Ia merasakan beban berat di pundaknya. Ia terbelah antara rasa iba dan amarah yang terpendam. Amarah pada Fatar, mantan suami adiknya yang telah mengkhianati kepercayaan, dan amarah pada Chintya yang telah menyebabkan semua ini terjadi. Namun, di atas semua itu, ada rasa tanggung jawab yang begitu besar.

“Raisa tidak punya salah,” ucap Naufal. “Bagaimanapun… Dia adalah adikku.”

Ia menatap Revan dengan mata yang penuh harap, mencari sedikit simpati dan dukungan. Ia merasa bertanggung jawab atas nasib Raisa, gadis kecil yang tak berdosa.

Revan menatap Naufal, ia melihat keponakannya itu begitu terpukul. Ia mengerti, Naufal merasa bertanggung jawab atas nasib Raisa.

“Lalu kau akan membawa pulang anak itu ke rumah mamamu? Mengoyak lagi lukanya yang sudah mulai sembuh?” tanya Revan, suaranya keras, penuh amarah yang terpendam. Ia masih terluka oleh pengkhianatan Chintya, dan ia tak ingin keluarganya kembali terluka. Ia harus melindungi keluarganya, melindungi adiknya, Adelia, dari bayangan masa lalu yang menyakitkan.

“Tapi Raisa adalah adikku dan Akhzam, Om,” jawab Naufal. Ia merasa terikat dengan Raisa, merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan gadis kecil itu. Ia tak tega meninggalkan Raisa sendirian.

“Letakkan saja di panti asuhan!” Revan hampir berteriak, amarahnya meledak. Ia tak mampu mengendalikan emosinya. Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa ia sadari. Ia merasa ini adalah jalan terbaik, untuk melindungi keluarganya dan juga untuk memberikan Raisa kehidupan yang lebih baik, meskipun jalan itu terasa begitu kejam.

“Apa?” Naufal tampak terkejut. Ia tak menyangka Revan akan mengatakan hal itu. Ia merasa hancur, harapannya sirna. Ia tak menyangka pamannya akan bersikap begitu dingin dan tanpa belas kasihan.

“Lebih baik dia diadopsi oleh siapapun daripada masuk ke dalam rumah ibumu!” Revan menatap Naufal dengan tajam. “Tidak kuizinkan sekali lagi adikku tersakiti!”

Ia merasa harus melindungi Adelia dari luka baru yang mungkin ditimbulkan oleh kehadiran Raisa. Ia masih terluka oleh pengkhianatan Chintya, dan ia tak ingin keluarganya kembali terluka. Ia harus melindungi keluarganya dari bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan. Suaranya meninggi, penuh penekanan. "KAU MENGERTI???"

Naufal terdiam.

“Fokus saja ke dunia pekerjaanmu, jangan pikirkan masalah anak Chintya!” Revan mengalihkan pembicaraan, suaranya sedikit lebih lunak, meskipun masih terdengar dingin. Ia berusaha meredakan ketegangan

“Siap!” jawab Naufal lirih, suaranya hampir tak terdengar.

Mereka tak lagi bicara. Revan mengalihkan percakapannya seputar dunia pekerjaan Naufal, berusaha mengabaikan beban berat yang baru saja mereka bahas.

"Ibumu resah dengan pekerjaanmu saat ini. Ia berharap kau bisa mutasi. Aku pikir, mungkin akan sebaiknya jika kamu pindah."

"Tidak, aku cukup merasa nyaman disini. Tolong, sekalipun om punya power, jangan membuatku jadi manja. Biarkan aku meraih masa depanku tanpa campur tangan dari om ataupun om Kevin."

"Ok.. Kami hanya akan mengawasimu dari jauh," janji Revan.

Naufal memandang ponselnya yang bergetar di atas meja. Sebuah panggilan dari Clara.

"Sebentar, Om.."

"Siapa itu Clara?"

"Teman."

"Bukan pacarmu?"

"Bukan. Om kan sudah kenal dengan Sinta?"

"Siapa tahu LDR membuatmu memilih nama lain untuk menemani hari-harimu disini," Revan tersenyum.

"Tidak," jawab Naufal sambil segera mengangkat telpon dari Clara.

"Hallo.."

"Naufal, maaf mengganggumu."

"Ya, ada apa Clara?"

"Raisa sakit. Siska baru saja mengantarnya ke klinik. Dia bilang, kamu memberikan nomorku untuk berjaga-jaga jika Raisa butuh pertolongan."

"Ya, tolong kamu bantu. Aku belum bisa kesana tapi aku akan mengusahakannya."

"Ok, jangan khawatir. Selesaikan saja pekerjaanmu. Raisa aman bersamaku. Nanti aku telpon lagi ya?"

"Baik, terimakasih."

Naufal meletakkan ponselnya.

"Ada apa?" tanya Revan.

"Tidak apa-apa, masalah pekerjaan.." Nàufal memutuskan untuk berbohong.

Penolakan Revan akan hadirnya Raisa dan demi menjaga hati Adelia, harus ia hormati.

"Makanlah. Kamu harus balik ke kantor," ucap Revan.

"Ya."