Mentari sore mulai merunduk di ufuk barat, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu. Pukul 18.00 WIB, Naufal memasuki Klinik Clara. Suasana klinik cukup ramai; beberapa pasien duduk menunggu giliran di ruang tunggu, suara obrolan samar terdengar diselingi dering telepon dan langkah kaki petugas medis. Naufal, dengan langkah tegap, menghampiri meja administrasi.
"Dokter Clara ada?" tanyanya, suaranya tenang dan berwibawa.
"Ada, Pak. Sebentar saya panggilkan. Maaf, Bapak siapa?" tanya petugas administrasi, seorang wanita ramah yang mengenakan seragam rapi.
"Naufal."
Petugas administrasi, yang bernama Ani, berjalan menuju ruangan Dokter Clara. Tak lama kemudian, ia kembali.
"Silakan masuk, Pak."
"Terima kasih."
Naufal memasuki ruangan Clara. Ruangan itu terasa hangat dan nyaman, dihiasi beberapa lukisan anak-anak dan tanaman hias. Clara, dengan hijab lilac yang kontras dengan kecantikan wajahnya, sedang asyik mewarnai bersama Raisa. Raisa tampak begitu serius, konsentrasi penuh pada gambar di tangannya.
"Maaf merepotkanmu," ucap Naufal, sedikit canggung.
"Oh, sudah datang?" sapa Clara, tersenyum ramah.
"Ya, bagaimana dia?" tanya Naufal.
"Sudah tidak apa-apa. Kebetulan juga jadwal praktekku sudah selesai dai tadi," jawab Dokter Clara.
Naufal duduk di hadapan Dokter Clara. Ia mengusap lembut kepala Raisa yang masih fokus mewarnai.
"Raisa," panggil Naufal. "Abang," Raisa langsung memeluk Naufal. "Abag kok lama?" "Iya, abang selesaikan pekerjaan dulu." "Lihat, ini Raisa yang gambar," Raisa memamerkan buku gambarnya dengan bangga. "Wah, bagus ya?"
Clara tersenyum.
"Raisa sepertinya dekat denganmu," kata Clara, memulai kembali percakapan. "Siska bilang, sebelum Bu Chintya meninggal, beliau menitipkan surat agar kamu merawat Raisa. Kenapa tidak membawanya ke rumahmu?"
Pertanyaan itu langsung menyentuh inti permasalahan. Naufal menghela napas.
"Aku tidak bisa," jawabnya, suaranya sedikit berat.
"Kenapa? Khawatir istri mengamuk? Berpikir kalau anak ini putri selingkuhanmu?" Clara menyindir, sengaja memancing Naufal untuk mengungkapkan statusnya. Informasi yang ia peroleh dari Diana menyebutkan Naufal masih lajang.
"Aku belum menikah," jawab Naufal, tegas.
"Oh ya? Kupikir sudah. Biasanya anggota sepertimu kan sudah punya 'ibu bhayangkari' di sisinya," Clara terkekeh, nada bicaranya ringan namun tetap tajam, mencoba untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang.
Naufal tersenyum tipis, mencoba untuk meredakan ketegangan. "Amin… Semoga disegerakan," jawabnya, sedikit bergurau, namun ada kesungguhan tersirat dalam ucapannya.
Ia mengalihkan pandangan pada Raisa yang masih asyik mewarnai. "Pamit sama Kak Clara. Kita pulang."
"Aku juga mau pulang," kata Clara, mulai mengemasi tasnya dengan rapi.
"Bawa kendaraan?" tanya Naufal.
"Belum punya. Masih pakai ojek online kemana-mana sampai bertemu ojek pribadi," jawab Clara, tertawa lepas, suaranya riang.
"Aku antar saja," tawar Naufal, ikut tertawa.
"Rumah kita beda arah," tolak Clara, namun suaranya terdengar ragu, seolah-olah ia ingin menerima tawaran Naufal, Pria tampan yang sudah mencuri hatinya sejak pertama bertemu.
"Tidak apa-apa. Jadi sopirnya dokter yang sudah berbaik hati menjaga Raisa," kata Naufal, menggendong Raisa dengan hati-hati dan penuh kasih sayang.
"Seumur hidup boleh?" Clara ikut tertawa, namun ada sesuatu yang berbeda dalam tawanya kali ini, sebuah harapan yang tersirat, sebuah perasaan yang mulai tumbuh di hatinya.
Mereka berjalan beriringan keluar klinik, pamitan pada Ani dan pasien lainnya.
"Itu siapanya Dokter Clara?" tanya seorang pasien, penasaran. "Suaminya?"
"Bukan, walinya pasien Dokter," jawab Ani, tersenyum penuh arti.
"Calon suami," celetuk Diana, tertawa lepas. "Tunggu saja undangannya."
"Kakak ini," Ani ikut tertawa, suasana menjadi lebih ceria.
Di dalam mobil, suasana menjadi hening. Raisa asyik bermain dengan mainannya di jok belakang. Setelah beberapa saat, Clara memecah kesunyian, suaranya lembut namun penuh rasa ingin tahu.
"Sebenarnya, Raisa ini siapa? Kenapa Bu Chintya menitipkan Raisa padamu?" tanyanya. "Maaf, kesannya terdengar kepo. Tapi Raisa tercatat sebagai pasienku. Jadi aku ingin tahu."
Naufal memandang ponselnya. Sebuah panggilan masuk dari Sinta, kekasihnya.
"Sebentar," jawabnya.
Naufal mengangkat telepon dari Sinta.
"Ya… Kenapa, Nta?"
"Lihat foto yang aku kirim!"
"Nanti ya? Aku nyetir."
"Kasih aku penjelasan setelah melihat foto itu!" Sinta memutus sambungan dengan nada kesal dan cemburu.
Naufal menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Wajahnya tampak tegang.
"Ada apa?" tanya Clara, khawatir, melihat perubahan ekspresi Naufal.
Naufal tak menjawab, ia membuka chat dari Sinta. Foto itu… dirinya menggendong Raisa, berjalan berdampingan dengan Clara menuju parkiran. Ia hendak menghubungi Sinta kembali, menjelaskan semuanya, ketika sebuah panggilan masuk dari Razak.
"Hallo."
"Target sudah terkunci di lokasi yang di-share informan," ucap Razak, suaranya serius dan penuh kewaspadaan. "Kami menunggu Pak Naufal."
"Share lok," perintah Naufal, suaranya tegas dan penuh kewibawaan.
"Siap, Dan."
Naufal menoleh pada Clara setelah melihat lokasi yang di-share Razak. "Ada apa?" tanya Clara, cemas.
"Aku harus segera ke TKP. Ini kasus narkoba besar. Tidak bisa mengantar Raisa dan kamu," jawab Naufal, wajahnya serius, aura kewibawaan seorang polisi terpancar jelas.
"Oh…" Clara tersenyum, ia sangat memahami pekerjaan Naufal. "Kalau begitu, biar aku dan Raisa turun di sini saja. Biar kami naik taksi online. Nanti kamu bisa menjemput Raisa di rumahku."
"Tidak. Aku turun di sini. Kamu bawa mobilku ke rumahmu. Nanti setelah selesai urusan pekerjaan, aku ke rumahmu," kata Naufal, membuka aplikasi ojek online. Ia tak mau membiarkan Clara dan Raisa sendirian di tempat yang sepi.
"Oh, oke," Clara mengangguk, mengerti situasi darurat yang dihadapi Naufal.
Ucapan Naufal kembali membuatnya melayang.
"Tapi sekiranya sampai jam 11 malam aku belum datang, titip Raisa ya? Besok pagi aku jemput," pesan Naufal, suaranya terdengar sedikit khawatir.
"Siap," jawab Clara, tersenyum simpatik. Ia memahami tugas dan tanggung jawab Naufal sebagai seorang polisi.
Naufal segera turun setelah ojek online yang ia pesan tiba.
"Hati-hati," ucap Naufal.
"Kamu juga," balas Clara, menunjukkan rasa hormat dan kekagumannya pada Naufal.
Naufal melambaikan tangannya. "Raisa, jangan nakal."
"Iya," jawab Raisa, suaranya polos dan lugu.
"Ipda Naufal Hasbi," panggil Clara, suaranya sedikit lebih keras agar terdengar.
Naufal yang sudah duduk di belakang driver ojek menoleh.
"Pulanglah dengan membawa keberhasilan, Dan. Jaga dirimu baik-baik. Nasib anak muda di kota ini bergantung pada kesuksesan kalian menggulung para pengedar Narkoba," kata Clara, suaranya penuh semangat dan dukungan. Ia memberikan semangat pada Naufal, menunjukkan rasa hormat dan apresiasinya pada pengorbanan Naufal untuk masyarakat.
Naufal tersenyum sembari melambaikan tangan sebelum berlalu. Clara memandangi hingga Naufal hilang dari pandangan. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang penuh kekaguman dan harapan. Belum genap dua minggu mengenal Naufal, namun perkenalan mereka yang terhubung oleh sakitnya Raisa seperti menjadikan mereka sudah kenal lama. Sebuah perasaan baru mulai tumbuh di hatinya, sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sebuah perasaan yang lebih dari sekadar rasa simpati dan kekaguman. Ia berharap Naufal kembali dengan selamat.