Luna berhenti tepat di titik yang tertera di peta yang dikirim Ray. Dugaannya hampir benar—Ray bukan hanya satu arah dengan tempat ia menemukan Durov, melainkan tepat di titik yang sama.
Ia sempat berhenti di ujung gang, menengadah ke arah benteng kecil di bawah pohon jambu batu. Dulu, di sana, Durov pernah menjilat-jilat bulunya dengan santai. Kini, tempat itu kosong. Nihil.
Pandangan Luna lalu tertahan pada sebuah rumah di balik benteng itu. Rumah bergaya kolonial Belanda, berdiri tenang seolah tak terusik oleh waktu. Ia kembali memastikan titik peta di ponselnya. Tidak ada yang keliru.
Rumah Ray jauh lebih besar dari bayangannya. Bangunan itu memanjang ke belakang, dengan dinding tebal berwarna gading yang mulai kusam, jendela-jendela tinggi berdaun kayu, dan atap genteng tua yang menjorok jauh ke depan, menciptakan teras luas. Pilar-pilar kokoh menopang serambi, catnya mengelupas di beberapa bagian, menyisakan jejak usia yang justru terasa berwibawa. Halaman depannya lapang, ditumbuhi rumput liar yang tidak sepenuhnya terurus—seolah rumah itu lebih mementingkan keteduhan daripada kerapian.
Ada sesuatu yang terasa familiar dan asing sekaligus. Seperti rumah yang terbiasa menerima tamu, tapi tidak pernah benar-benar menjadi milik siapa pun sepenuhnya. Di sudut teras, sebuah kursi rotan menghadap ke dalam, dengan bekas bantalan yang sering dipindahkan. Pot tanaman kecil di dekat jendela tampak dirawat dengan cara yang tidak konsisten—kadang rapi, kadang dibiarkan. Luna tidak tahu mengapa detail-detail kecil itu membuatnya berpikir: rumah ini sering didatangi, tapi tidak semua yang datang menetap.
Di hadapan bangunan itu Luna merasa tubuhnya mengecil. Perasaan itu makin kentara ketika ia tanpa sadar membandingkannya dengan rumah kontrakannya yang sempit dan pengap.
Ia memutuskan berhenti mencari Durov untuk sementara; itu bisa dilakukannya setelah pulang nanti. Pagar rumah tidak terkunci. Luna melangkah masuk, mengikuti titik lokasi di GPS yang kini nyaris menyatu dengannya.
Myro menyambut lebih dulu. Kucing itu mengendus kaki Luna, singkat namun mantap—sebuah penilaian cepat, lalu penerimaan. Tanda bahwa Luna telah dicatat sebagai kawan, bukan ancaman.
Ray muncul dari balik pintu kayu kembar berukir sederhana, desainnya jelas berasal dari masa lalu. Pintu itu tebal, tinggi, dan tampak berat. Di belakang Ray, Doge ikut menyusul, matanya tenang, sorotnya dalam, seperti selalu menghitung jarak aman.
“Selamat datang di gubuk kami,” kata Ray. Candanya terasa mengada-ngada.
Luna merasa tubuhnya menciut sedikit lagi, bukan karena takut pada Ray, melainkan pada dirinya sendiri—pada kebiasaan lama yang membuatnya datang setelah ragu, melangkah setelah menunda, seolah keputusan selalu harus dibayar dengan sesal kecil di ujungnya. Di depan pintu itu, ia khawatir kehadirannya hanyalah bentuk lain dari ambiguitas yang ia rawat terlalu lama: datang tanpa sepenuhnya siap, tapi juga tanpa keberanian untuk menolak diri sendiri.
“Itu Myro. Dia langsung menyukaimu. Dan ini Doge,” lanjut Ray, menunjuk kucing yang tadi menyambut, lalu memberi isyarat ke arah kucing yang mengikutinya.
Luna mengangguk. Ia tidak mendekat. Ia tahu, beberapa makhluk membutuhkan jarak untuk merasa aman.
Ray langsung membawa Luna ke tempat favoritnya—setelah kamar: dapur. Ruangannya luas, langit-langitnya tinggi, dengan jendela besar yang membiarkan cahaya kelabu masuk tanpa perlu lampu. Di salah satu sudut meja, ada dua cangkir berbeda model, salah satunya tampak lebih sering dipakai, bibirnya sedikit terkelupas. Luna menangkap detail itu tanpa tahu mengapa ia memperhatikannya.
Ray menyeduh teh. Tidak ada musik. Hanya suara dengkur kecil Myro yang kini tidur di dekat kaki Luna.
Doge berjalan berkeliling lebih dulu, lalu duduk agak jauh. Ia tidak agresif. Tidak pula ramah. Ia hanya memastikan ruangnya tidak terganggu.
“Maaf aku membawamu ke dapur. Di rumah ini, ruangan yang paling kusuka adalah dapur dan kamar. Di dapur kau bisa membuat apa pun, seperti di kedai,” kata Ray, menyodorkan teh panas ke hadapan Luna.
“Aku setuju,” ujar Luna, membayangkan dapurnya yang pengap.
Mereka duduk berhadapan di meja makan. Doge bangkit dan pindah ke dekat pintu, masih menjaga jarak.
“Dia besar,” kata Luna, menatap Doge.
Ray tersenyum. “Iya. Tapi penakut jika berhadapan dengan orang asing.”
Luna memperhatikan interaksi kecil itu. Dua kucing, dua cara berada. Myro yang lentur, Doge yang mapan. Ia tidak tahu mengapa perbandingan itu terasa relevan—seperti dua jenis tamu yang datang dan pergi dengan alasan berbeda.
“Jadi bagaimana?”
“Apanya?” jawab Luna, tak mengerti.
“Dulu kamu pernah mau punya kucing.”
“Oh, ya. Itu dulu,” Luna setengah gelagapan, tak mengira Ray akan langsung menuju ke pertanyaan yang paling ia hindari.
“Kucing itu kami temukan di teras rumah. Aku ingin memberinya makan. Lalu Terra menyiramnya. Kucing itu kabur. Aku menangis. Itu waktu aku masih SMA. Terra SMP. Sekarang Terra masih tidak suka kucing,” cerita Luna, sedikit tersenyum. Tatapannya menembus jendela menuju benteng.
“Terra, adikmu?”
“Ya, karakternya lebih mirip ibu. Sama-sama tidak suka kucing.”
Luna mengembuskan napas panjang, baru menyadari ia bisa bicara sepanjang itu.
“Luna dan Terra. Orang tuamu suka kripto?”
“Dulu. Sekarang tidak lagi,” Luna mulai duduk gelisah. Matanya bertemu dengan mata Ray. “Sekarang giliranku.”
“Apanya?”
“Bagaimana dengan keluargamu?”
“Oh, ya. Biar adil,” Ray tertawa. “Ayah dan ibuku memilih pindah ke Jakarta. Mereka ingin lebih dekat dengan tempat usahanya. Kakak-kakakku memilih dengan urusannya sendiri-sendiri. Sama sepertiku—aku memilih tinggal di sini, ditemani mereka.”
Ray menunjuk Myro dan Doge.
Luna merasa nyaman berbincang dengan Ray. Ada sesuatu pada cara Ray mendengarkan yang tidak tergesa dan tidak ingin mengesankan. Ia tidak memotong, tidak menggurui, tidak pula berlomba menjadi yang paling tahu. Ray seperti memberi ruang pada kalimat-kalimatnya untuk selesai dengan utuh, bahkan ketika kalimat itu berbelok atau ragu. Tatapannya tenang, sesekali disertai senyum kecil yang tidak menuntut balasan. Untuk pertama kalinya ia kerasan ngobrol dengan laki-laki tanpa merasa sedang diuji atau dinilai.
Ray juga tidak berusaha menjadi pusat. Ia bisa bercanda tanpa meremehkan, bisa berbeda pendapat tanpa meninggikan suara. Ada kehangatan yang tidak agresif, kehadiran yang tidak menekan. Luna menyadari ia menyukai cara Ray menimbang kata-kata sebelum mengucapkannya—seolah ia tahu bahwa sesuatu yang sederhana pun bisa meninggalkan bekas. Di dekat Ray, ia tidak merasa harus menjadi versi terbaik atau paling tangguh dari dirinya. Ia cukup menjadi.
Tapi justru di situlah ia waspada. Ia terbiasa curiga pada sesuatu yang membuatnya nyaman—seperti dulu dengan Cavin dan Dewa. Kenyamanan, baginya, sering menjadi pintu masuk kekecewaan. Dan, entah kenapa, ia teringat Durov: sosok yang dingin tapi konsisten, jauh tapi tak pernah menggantung. Ray tidak seperti itu. Ray hadir. Ray nyata. Dan mungkin karena itu pula ia lebih berbahaya.
“Kok diam?” Ray mengamati Luna. Mata mereka bertemu. Luna yang pertama kali berpaling dengan rona merah.
“Tidak apa-apa. Sepertinya aku harus pamit,” gelas yang ia pegang hampir saja tergelincir. Untungnya ia bisa menggenggamnya cukup erat. Kali ini kekonyolan itu sedikit bisa ia kendalikan.
“Aku kita kau bisa lebih lama,” kata Ray.
Luna sempat menangkap raut kecewa di wajah Ray—tipis, tertahan, seperti seseorang yang ingin meminta waktu lebih lama tapi memilih menghormati jarak.
“Mumpung belum hujan,” ujar Luna, berdiri sedikit lebih cepat dari yang diperlukan.
“Terima kasih sudah datang,” akhirnya Ray berkata.
Luna mengangguk. “Terima kasih sudah mengundang.”
Tidak ada janji lanjutan. Namun mereka berdua tahu, setelah ini, pertemuan mereka tak lagi sekadar kebetulan.
Saat Luna pergi, Doge melompat turun dan duduk di dekat pintu. Ray mengelus kepalanya. Myro tetap tidur.
Di seberang gang, Durov lewat cepat, berhenti sebentar, menatap bangunan rumah tua itu, mengendus-ngendus sesuatu yang seperti datang dari masa lalu, lalu menghilang.
Luna tiba di gang. Hatinya ringan. Ia tidak menemukan apa yang ingin ia temui.