27 Tiga Blok

Penulis Iman-ha
21 February 2026

Kampus sore itu basah oleh hujan yang tidak pernah benar-benar pergi dari Bandung. Awan rendah menggantung. Gedung-gedung tua berdiri dengan cat kusam yang dibiarkan begitu saja, seolah usia adalah bentuk otoritas. Di sela pepohonan trembesi, mahasiswa berlalu-lalang dengan payung, jaket almamater, dan wajah yang tampak sibuk menunda masa depan.

Luna duduk di sudut kampus, di bangku panjang dekat koridor fakultas. Bangku itu dingin, besinya menyimpan sisa hujan pagi. Ia membuka ponsel, lebih karena refleks daripada niat. Tanpa sadar, jarinya menuju aplikasi pesan, mencari nama yang sudah ia simpan dengan hati-hati—seperti menyimpan pisau di laci paling bawah.

Ia mengetik satu kata. Menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi.

Ia merasa bodoh.

Bodoh karena tahu persis bagaimana cerita semacam ini sering berakhir. Bodoh karena tetap ingin mencoba memulai. Bodoh karena tubuhnya bergerak lebih dulu sebelum pikirannya selesai menimbang. Ia menutup ponsel, menyelipkannya ke tas, lalu menatap halaman kampus yang licin. Mahasiswa baru berlarian menghindari hujan, beberapa dosen berjalan santai, seolah cuaca buruk adalah hak istimewa yang sudah mereka bayar lunas dengan usia.

Di kejauhan, Luna melihat Cavin.

Ia tidak berniat melihat, tapi tubuhnya selalu lebih cepat mengenali pola lama. Cavin berdiri di bawah kanopi gedung, tertawa. Di sampingnya, seorang perempuan baru—rambutnya rapi, tawa ringan, tangan Cavin bertengger di bahunya dengan percaya diri orang yang sudah mempelajari gestur kepemilikan. Luna tidak mengenal perempuan itu. Itu tidak perlu. Ia sudah mengenal perannya.

Ia tidak merasa cemburu. Tidak lagi. Yang muncul justru semacam kelelahan retrospektif—capek yang datang belakangan, seperti pegal setelah demam turun. Cavin selalu begitu: cepat pulih, cepat menemukan pengganti, cepat merasa baik-baik saja. Luka hanya bagian dari transisi.

Luna mengalihkan pandangan.

Di lantai lain gedung itu, Dewa lewat bersama mahasiswi yang berbeda dari semester lalu. Luna tidak melihat wajahnya dengan jelas, tapi ia mengenali ritmenya. Cara Dewa berjalan sedikit di depan, seolah dunia harus menyesuaikan langkahnya. Cara ia berbicara, condong ke telinga lawan bicaranya, menciptakan ruang eksklusif yang terasa istimewa sampai disadari terlalu sempit.

Calon baru, pikir Luna.

Ia tidak lagi marah pada Dewa. Ia sudah melewati fase itu. Yang tersisa hanya rasa dingin, seperti menyentuh logam yang lama terendam hujan. Dewa bekerja dengan pola. Cavin dengan impuls. Keduanya berbeda, tapi hasilnya serupa: perempuan yang harus belajar mengurai diri sendiri setelahnya.

Luna menarik napas panjang.

Lalu, tanpa alasan jelas, wajah Ray muncul di kepalanya.

Wajah yang tidak menjanjikan apa-apa. Dingin, tapi tidak menutup. Diam, tapi tidak menghilang. Lelaki dengan rumah tua yang terasa agung tanpa pamer, dengan kucing-kucing yang hidup berdampingan tanpa perlu drama hierarki. Ray yang tidak mengejar, tidak merayu, tidak mengatur tempo.

Perbandingan itu datang begitu saja, dan Luna tidak yakin apakah ia sedang jatuh cinta atau hanya menemukan jeda yang lama ia cari.

Hujan kini tinggal rintik. Sore berubah menjadi abu-abu yang berat.

Luna berdiri. Ia menembus hujan dengan payung barunya, pemberian ibunya yang kesekian kalinya. Ia tersenyum sendiri saat ibunya memberikan payung itu. “Seharusnya aku punya pabrik payung,” kata ibunya, sebagai sindiran halus atas kecerobohan-kecerobohan kecil yang selalu melekat pada Luna—payung yang tertinggal di kelas, di angkot, di kedai, di hidup orang lain.

Jalan kota Bandung sore itu ramai oleh orang-orang muda seusianya. Mereka berjalan cepat, setengah berlari, setengah ragu, dengan tas punggung basah dan kepala penuh rencana. Sebagian tampak yakin akan masa depan, seolah garis hidup sudah digambar rapi. Sebagian lain berjalan tanpa arah yang jelas, hanya mengikuti arus agar tidak terlihat berhenti. Luna tidak yakin ia berada di kelompok yang mana.

Di balik payung, ia mengingat ibunya yang bekerja terlalu keras, tubuhnya selalu lelah tapi jarang mengeluh. Ia juga mengingat ayahnya—yang menghilang, atau mungkin berubah menjadi sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa ia pahami. Kadang Luna setengah percaya ayahnya pergi. Kadang setengah yakin ia masih ada, menyusuri kota sebagai makhluk lain, diam-diam mengamati.

Hujan menipis. Kota tetap bergerak. Luna berjalan, membawa ragu-ragu itu bersamanya, menuju kedai yang nyaris bangkrut, tempat kemungkinan dan kebetulan sering bertabrakan. Tubuhnya mengingat tempat itu sebagai ruang antara—tidak sepenuhnya kerja, tidak sepenuhnya rumah. Tempat orang-orang singgah tanpa perlu menjelaskan diri.

Dan di sanalah Ray sudah duduk.

Ia berada di meja yang sama seperti biasanya, sendirian. Kopi di depannya sudah dingin. Laptop tertutup. Ponsel terbalik. Seolah ia sengaja menata benda-benda agar tidak ada yang menuntut perhatiannya lebih dulu.

Luna berhenti di pintu. Ragu sejenak. Lalu masuk.

Ia duduk tanpa izin formal, seperti seseorang yang lelah meminta.

“Sudah lama?” tanyanya.

Ray mengangkat kepala, sedikit terkejut, lalu tersenyum kecil. “Eh, hai. Baru beberapa menit lalu.”

Mereka diam. Hujan memukul kaca jendela dengan ritme tidak sabar.

“Capek?” tanya Ray.

“Iya,” jawab Luna. “Tapi capek yang beda.”

Ray mengangguk. Ia tahu jenis capek itu. Capek karena harus terus waspada, bukan karena bekerja, tapi karena hidup terasa seperti medan evaluasi.

“Kerjaan?” tanya Ray.

“Hidup,” jawab Luna, lalu terkejut dengan jawabannya sendiri.

Ray tersenyum kecil. “Iya.”

Mereka minum kopi masing-masing. Tidak ada yang menawari. Tidak ada yang menolak. Jarak di antara mereka terjaga, tapi tidak dingin.

“Kau kelihatan lagi mikir berat,” kata Luna.

Ray menatap ponselnya. “Pasar lagi aneh.”

“Oh.” Luna tahu sedikit. Cukup untuk tidak terlalu penasaran. “Kau ikut?”

“Lagi berhenti dulu. Mengamati,” jawab Ray.

Luna mengangguk. Ia tidak bertanya kenapa. Ia hanya berkata, “Bagus.”

Ray tertawa pelan. “Kedengarannya kayak ibu aku.”

Mereka tertawa singkat, lalu diam lagi.

Hujan kini deras. Listrik padam. Kedai tidak ribut. Para pelanggan yang itu-itu saja sudah tahu penyebabnya. Lilin dinyalakan. Cahaya oranye membuat ruangan terasa lebih kecil, lebih dekat. Orang-orang bicara pelan, seolah gelap adalah kesepakatan tak tertulis untuk menurunkan volume.

“Lucu ya,” kata Luna, “gelap bikin orang lebih jujur.”

Ray memandangnya. “Atau lebih hati-hati.”

Luna mengangguk. “Aku tipe yang kedua.”

Ray menghela napas. “Aku juga.”

Luna menanyakan kabar Myro. Mereka bicara tentang kucing. Tentang jarak. Tentang kebiasaan mengendus sebelum percaya. Hal-hal kecil yang terasa aman untuk dibicarakan.

Ketika Luna menyebut deadline dan menolak datang ke rumah Ray malam itu, Ray tidak memaksa. Kekecewaannya hanya lewat sebagai jeda pendek. Luna mencatat itu.

Mereka pulang bersama, menyusuri jalan basah. Gang-gang semakin sempit. Lampu jalan redup. Rumah-rumah berdempetan seperti ingin saling menopang agar tidak rubuh.

Luna berhenti di depan pagar kontrakannya. Ray membeku seperti menunggu sesuatu, mengamati rumah yang sepi. Luna tidak mungkin mengajaknya mampir meski sekadar berbasa-basi.

Tubuh Luna menciut pelan-pelan.

Ia membandingkan—tanpa berniat jahat—rumah Ray yang lapang dan agung dengan kontrakannya yang rapat, pengap, dan selalu berisik oleh kehidupan orang lain. Gang ini padat, penuh suara televisi, tangisan anak, suara piring, lalu dilintasi kereta api. Suara kehidupan hidup yang tidak pernah benar-benar selesai.

“Selama ini kita cuma terhalang dua blok.”

“Tiga blok.”

“Ya. Tiga blok. Sampai bertemu lagi.”

Di ambang pintu, Terra berdiri.

Tatapan adiknya itu tajam, terlalu tenang. Ia tidak ramah, tidak pula memusuhi. Hanya menilai. Seperti kucing yang mencium bau asing dan memutuskan untuk mundur satu langkah.

Luna salah tingkah. Ray mengangguk sopan. Terra membalas dengan anggukan tipis. Tidak senyum. Tidak marah. Tapi sesuatu menggantung.

Lalu Terra masuk kembali ke rumah.

“Adikku biasa begitu. Tapi dia baik,” ujar Luna, seakan-akan kata ‘begitu’ bisa menjelaskan segalanya.

Ray kembali tersenyum kecil. “Kapan-kapan aku kenalkan dia pada Doge.”

Mereka tertawa spontan.

“Sampai nanti,” kata Ray.