Luna berhenti di depan kamar ayahnya. Pintu itu selalu terkunci. Catnya mulai mengelupas di bagian bawah, bekas lembap yang tak pernah benar-benar kering. Gagang pintunya kusam, seperti disentuh terlalu sering oleh waktu dan terlalu jarang oleh manusia. Waktu berhenti di sana, di hari yang tidak mereka sepakati sebagai hari terakhir. Tidak ada upacara. Tidak ada kesimpulan. Hanya jeda yang memanjang dan dibiarkan menjadi kebiasaan.
Ia berdiri beberapa detik lebih lama dari yang perlu. Seperti biasa, ada dorongan kecil untuk mengetuk. Bukan karena berharap ada jawaban, tapi karena ingin memastikan sunyi itu masih setia pada perannya.
Terra muncul di belakangnya tanpa suara.
“Kau mau mencari sesuatu,” kata Terra. “Wasiat mungkin.”
Nada suaranya datar, tapi bukan netral. Terra tidak pernah benar-benar netral. Ia frontal, terus terang, dan sering kali kalimatnya terasa seperti batu kecil yang dilempar tepat ke tengah genangan.
“Ponsel tua dan buku catatan kumal?” jawab Luna.
Mereka tertawa, singkat. Tawa yang lebih mirip refleks daripada kegembiraan. Lalu berhenti bersamaan. Ada hal-hal yang tidak pantas ditertawakan, dan kesadaran itu selalu datang terlambat, seperti kilat yang menyusul petir.
“Aku mandi dulu,” kata Luna, melangkah ke kamarnya.
“Eh, tunggu.” Terra mengamati Luna dengan tatapan yang terlalu tajam untuk sekadar ingin tahu. “Siapa lelaki tadi?”
“Ray,” kata Luna, terlalu cepat menjawab. Ia menyadari kecepatan itu, tapi tak menariknya kembali. “Rumahnya tua. Kucingnya dua.”
“Kucing lagi.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa intonasi yang jelas. Tapi Luna tahu maksudnya. Terra selalu mengingat pola lebih baik darinya. Kucing, lelaki pendiam, rumah tua—semuanya terdengar seperti pengulangan yang tidak ia sadari sedang ia lakukan.
Ruang kembali sepi. Dari dapur terdengar bunyi piring disusun. Ibunya mungkin baru pulang, atau belum benar-benar pulih dari lelah yang tak pernah selesai.
“Kuliah?” tanya Terra.
“Apa?”
“Ray teman kuliahmu? Atau dosenmu?”
“Tidak. Dia mungkin trader.”
“Mungkin?”
“Aku tidak tahu sedalam itu, Terra. Belum lama aku mengenalnya.”
“Semoga trader beneran,” kata Terra, matanya menatap pintu kamar ayahnya, bukan Luna.
Kalimat itu seperti menyentuh dua arah sekaligus—Ray dan ayah mereka. Luna tahu Terra tidak sekadar meragukan pekerjaan seorang lelaki asing. Terra selalu mencurigai lelaki yang terlalu samar.
“Sudahlah. Aku mandi.”
“Luna.” Terra belum habis. “Sepertinya aku tidak menyukai Ray.”
Luna menatap adiknya. Tidak ada ledakan. Tidak ada pertengkaran. Hanya sesuatu yang mengendap, seperti hujan yang tidak turun, tapi membuat udara berat. Terra tidak pernah mengatakan sesuatu tanpa alasan. Tapi ia juga sering mengatakan sesuatu sebelum alasan itu selesai dipahami.
“Karena apa?” tanya Luna pelan.
“Karena kau terlihat berbeda waktu berduaan tadi.”
“Berbeda bagaimana?”
“Lebih ringan,” kata Terra. “Dan itu membuatku tidak tenang.”
Luna hampir tersenyum. “Itu alasan yang aneh.”
“Justru itu,” jawab Terra. “Aku hafal wajahmu saat kau mulai berharap.”
Kata berharap menggantung di antara mereka. Seperti benda rapuh yang tak boleh disentuh terlalu keras.
Luna masuk ke kamarnya tanpa menutup percakapan itu dengan benar. Ia tidak ingin memperpanjang. Atau mungkin ia memang selalu memilih menunda. Pintu kamarnya tertutup pelan. Suara engselnya lebih jujur daripada dirinya.
Begitu masuk, ia menjatuhkan diri ke ranjang. Tubuhnya tenggelam ke kasur tipis yang sudah lama kehilangan daya pegas. Ia menatap langit-langit yang retaknya membentuk garis tak beraturan. Kata-kata Terra berputar kembali, tajam tanpa teriak.
Lebih ringan.
Sejak kapan ringan menjadi sesuatu yang mencurigakan?
Ia memejamkan mata, tapi yang muncul justru potongan-potongan lama. Terra menyiram Durov dengan segayung air. Durov menghindar, lalu berdiri kaku, wajahnya tak berubah banyak, hanya sedikit terkejut. Luna berdiri di teras, membeku. Ia tak sempat mencegah, tak sempat menyetujui. Ia hanya menyaksikan.
Di hari itu, ayah mereka—Uyan—menghilang. Tidak ada catatan. Tidak ada penjelasan. Seolah-olah satu peristiwa mendorong peristiwa lain jatuh seperti domino, tapi tak ada yang tahu siapa yang pertama menyentuhnya.
Sejak itu, Luna dan Terra semakin berjarak. Bukan karena mereka bertengkar. Justru karena mereka tidak pernah benar-benar membicarakannya.
Terra percaya pada tindakan. Jika marah, ia marah. Jika tak suka, ia bilang. Jika merasa seseorang menyakiti ibunya, ia menyerang. Dunia baginya jelas: ada yang perlu dilawan, ada yang perlu dipertahankan.
Luna berbeda. Ia menimbang. Ia memikirkan kemungkinan. Ia mencari sudut yang lebih tenang. Dan sering kali, dalam proses itu, ia terlihat seperti tidak melakukan apa-apa.
Setelah Uyan menghilang, ibu mereka menjadi lebih pendiam, tapi juga lebih rapuh. Kantung matanya menggelap. Punggungnya semakin sering membungkuk.
Luna dan Terra terpisah dunia. Luna mengambil kerja paruh waktu di sela-sela kuliah. Terra juga bekerja paruh waktu meski dia masih duduk di bangku SMA. Mereka jarang bertemu dalam keadaan benar-benar santai. Jika Luna pulang, Terra sudah mengerjakan tugas. Jika Terra ingin bercerita, Luna sedang mengejar tenggat makalah.
Mereka sama-sama membantu, tapi dari dua dunia yang berbeda. Luna berbicara tentang teori, skripsi, dosen yang sulit ditemui. Terra berbicara tentang pelanggan yang cerewet, guru yang tak adil, dan teman sekelas yang terlalu cepat dewasa.
Kadang Luna merasa ia kehilangan momen-momen kecil dalam hidup Terra. Kadang Terra merasa Luna terlalu sibuk menjadi mahasiswa untuk tetap menjadi kakak.
Di atas ranjangnya, Luna membalikkan tubuh. Ia memikirkan Ray. Cara Ray mendengarkan. Cara Ray tidak mendesak. Cara Ray menanyakan hal-hal kecil seolah itu penting.
Terra mungkin benar. Ia memang merasa lebih ringan tadi. Tapi ringan bukan berarti lengah.
Ia teringat pintu kamar ayahnya lagi. Terkunci. Selalu terkunci. Terra pernah mencoba membuka dengan kunci cadangan yang ditemukan di laci dapur. Tidak berhasil. Terra memukul pintu itu sekali, keras. Luna menarik tangannya.
“Kita tidak perlu masuk,” kata Luna waktu itu.
“Kenapa?” Terra menatapnya. “Karena kau takut menemukan sesuatu?”
Luna tidak menjawab. Ia memang takut. Takut menemukan bukti bahwa ayah mereka sengaja pergi. Takut menemukan alasan yang akan membuat mereka lebih marah atau lebih hancur.
Terra tidak takut seperti itu. Terra takut pada ketidakjelasan.
Mungkin itulah sebabnya ia langsung menilai Ray. Lelaki baru, latar belakang samar, pekerjaan yang belum pasti. Trader, mungkin. Mungkin.
Terra membenci kata mungkin.
Di luar kamar, terdengar langkah kaki. Lalu ketukan pelan.
“Luna.”
“Ya?”
“Aku cuma tidak mau kau terluka lagi,” kata Terra dari balik pintu. Tidak ada nada menantang sekarang. Hanya kelelahan.
Luna menelan sesuatu yang sulit dinamai. “Aku tahu.”
“Durov dulu juga terlihat baik,” lanjut Terra. “Dan Ayah juga.”
Kalimat itu tidak ditujukan untuk melukai, tapi tetap saja terasa seperti goresan.
“Ray bukan mereka,” kata Luna, lebih kepada dirinya sendiri.
“Semua orang bukan siapa-siapa, sampai mereka jadi sesuatu,” jawab Terra.
Hening lagi.
Luna duduk di tepi ranjang. “Kau tidak harus menyukainya sekarang.”
“Aku tidak harus?” Terra terdengar hampir tersenyum tipis. “Aku ini adikmu.”
“Justru itu.”
Langkah kaki Terra menjauh perlahan.
Luna kembali berbaring. Konflik di antara mereka tidak pernah meledak. Tidak ada pintu dibanting. Tidak ada suara meninggi. Tapi ketegangan itu seperti tali yang ditarik dari dua ujung berbeda—tidak putus, tapi tak pernah benar-benar kendur.
Ia memikirkan bagaimana Terra berdiri menghadapi Durov tanpa ragu, sementara ia sendiri lebih memilih diam. Ia memikirkan bagaimana Terra berani membenci, sementara ia selalu mencoba memahami.
Mungkin Terra tidak sekadar tidak menyukai Ray. Mungkin Terra sedang menjaga rumah ini dengan caranya sendiri—dengan sikap curiga, dengan kalimat tajam, dengan penolakan yang datang lebih dulu sebelum kehilangan sempat mengulang.
Dan mungkin Luna, tanpa sadar, sedang mencari sesuatu yang dulu hilang dari kamar yang selalu terkunci itu: kehadiran yang tidak tiba-tiba pergi.
Di luar, suara hujan akhirnya turun, tipis dan merata. Luna mendengarnya seperti tanda yang datang terlambat. Udara yang sejak tadi berat akhirnya menemukan jalannya.
Ia menutup mata, membiarkan suara hujan menutup percakapan yang belum selesai.
Besok, mereka akan kembali pada rutinitas. Terra ke sekolah lalu bekerja. Luna ke kampus lalu bekerja. Ibu mereka bangun lebih pagi dari siapa pun. Untuk bekerja.
Dan pintu kamar ayahnya akan tetap terkunci.
Di antara semua itu, Ray hanya sebuah nama baru. Tapi bagi Terra, nama itu sudah cukup untuk membuat udara berubah.
Bagi Luna, nama itu masih kemungkinan. Dan kemungkinan, seperti pintu yang tak pernah dibuka, selalu mengandung dua hal sekaligus: harapan dan ancaman.