Bab 30 Gang

Penulis Iman-ha
21 February 2026

Gang itu tidak berubah, meski Luna merasa dalam dirinya ada yang berubah. Bahkan tanpa sepengetahuannya, di dalam rumah besar Belanda itu suatu perubahan besar telah terjadi.

Langkahnya kini lebih cepat, bukan karena terburu-buru, melainkan karena tubuhnya telah belajar menghitung waktu dengan ketat. Sejak kuliah, ia tidak lagi berjalan untuk menikmati sore, melainkan untuk menutup celah-celah hari yang bocor antara pekerjaan dan istirahat, yang terakhir ini ia merasa tak pernah benar-benar merasakannya. Kuliah sore baru selesai satu jam lalu. Ia sempat mampir ke minimarket untuk membeli makanan kucing, lalu berjalan kaki melewati jalur yang tidak pernah benar-benar ia pilih karena efisien, melainkan karena sesuatu selalu menahannya untuk tidak mengambil jalan lain.

Benteng itu.

Batu-batunya masih kusam, sebagian terkelupas. Lumutnya bertambah tipis, tergeser hujan dan debu. Di baliknya, rumah Ray berdiri seperti biasa: besar, tertutup, dengan jendela-jendela tinggi yang seolah tidak pernah berkedip. Rumah itu terlalu dekat dengan benteng, nyaris menyatu, seolah salah satunya memang diciptakan untuk menjaga yang lain.

Luna berhenti tanpa sadar.

Ia berdiri sebentar, menyesuaikan napas. Tas kainnya menggantung miring, berat di satu sisi oleh buku-buku fotokopian dan bekal seadanya. Di sisi lain, ada plastik kecil berisi makanan kucing yang aromanya mulai bocor.

“Kalau kau nggak ada,” gumamnya pelan, entah kepada siapa, “aku tetap bakal lewat sini.”

Ia mendekat.

“Durov,” panggilnya pelan, nyaris seperti bicara pada diri sendiri.

Ia tidak bersiul. Tidak bertepuk tangan. Pengalaman mengajarkannya bahwa kucing ini tidak suka dipanggil dengan suara yang berharap balasan cepat.

Durov muncul dari balik bayangan benteng, seperti kesalahan kecil dalam arsitektur sore. Tubuhnya lebih kurus dari yang Luna ingat terakhir kali. Bulu orennya tidak lagi menyala; warnanya seperti dicuci terlalu sering oleh hujan dan debu kota.

Ia menoleh, menatap Luna lama.

Luna jongkok.

“Aku yakin kau masih di sini,” katanya, lega sekaligus kesal. “Aku kira kau pindah wilayah.”

Durov meloncat turun. Gerakannya tidak selincah dulu, tapi masih presisi. Ia mengibas-ngibaskan ekornya, lalu berhenti tepat di jarak aman—jarak yang selama ini disepakati tanpa pernah dibicarakan.

Luna mengeluarkan plastik kecil dari tasnya. Bau ikan menyebar cepat, menabrak tembok gang yang sempit.

“Kau pasti lapar.”

Ia meletakkan makanan di dekat kaki benteng, di titik yang agak tersembunyi dari jalan raya. Tangannya bergerak hati-hati, seolah makanan itu benda rapuh, bukan sekadar pakan murah.

Durov mulai makan.

Pada saat yang hampir bersamaan, tragedi kecil khas kampung kota terjadi.

Seekor ayam jantan tetangga—yang entah bagaimana selalu lolos dari kandangnya—muncul dari ujung gang. Ia berjalan dengan percaya diri yang tidak proporsional dengan ukurannya. Melihat makanan kucing, ayam itu berhenti. Menoleh ke kiri. Ke kanan. Lalu mendekat.

“Eh,” kata Luna refleks. “Bukan buatmu.”

Ayam itu tidak mengerti bahasa manusia, tapi paham peluang. Ia mematuk sekali, cepat.

Durov mendesis.

Ayam jantan itu tersinggung. Ia mengepakkan sayapnya, berisik, seolah memanggil bala bantuan yang tidak pernah datang. Suara itu menggema di gang sempit, memantul ke dinding rumah Belanda yang dingin.

Dari dalam rumah sebelah, terdengar suara batuk seseorang. Pintu tidak terbuka. Tapi keberadaan manusia itu terasa, seperti pengawas tak terlihat.

“Sudah, sudah,” bisik Luna, panik kecil. Ia mencoba menghalau ayam dengan tangan kosong.

Ayam itu berlari dua langkah, lalu kembali. Kepala kecilnya keras kepala.

Durov memutuskan masalah dengan cara kucing: ia meloncat maju, bukan untuk menyerang, melainkan untuk membuat jarak. Ayam itu terkejut, terpeleset di sisa air hujan, dan kabur sambil berkokok protes.

Luna menutup mulutnya, menahan tawa.

“Maaf,” katanya pada Durov. “Hidup di gang itu selalu ramai walau kelihatannya sepi.”

Durov kembali makan, seolah insiden itu tidak layak disimpan sebagai memori.

Luna duduk di tanah, menyandarkan punggungnya ke tembok benteng. Dari posisi ini, rumah Belanda terlihat semakin besar, semakin sunyi. Jendela-jendelanya seperti mata yang tidak mau ikut campur.

“Aku jarang menemuimu,” kata Luna, setelah keheningan kembali. “Kuliah sama kerja bikin hari kependekan.”

Ia mengusap lututnya yang pegal. Duduk di lantai gang selalu mengingatkannya bahwa tubuhnya tidak pernah benar-benar beristirahat.

“Kadang aku lupa hari apa,” lanjutnya. “Yang aku ingat cuma jadwal.”

Durov makan dengan ritme teratur. Setiap beberapa suap, ia berhenti, mengangkat kepala, memeriksa sekitar. Naluri yang selalu hidup.

“Beasiswaku masih jalan,” kata Luna. “Bukan yang besar. Tapi cukup buat bayar semester sama sedikit napas.”

Ia tertawa kecil, getir. “Sedikit napas itu mahal.”

Ia tidak menyebut ibu dan adiknya. Tidak karena lupa, tapi karena keberadaan mereka selalu ada, seperti dinding rumah kontrakan: tidak terlihat setiap saat, tapi menopang segalanya.

Dari kejauhan, suara kereta lewat. Getarnya sampai ke kaki Luna. Stasiun Kiaracondong tidak pernah benar-benar jauh dari hidupnya, bahkan ketika ia tidak berada di sana.

“Kadang aku mikir,” katanya lagi, “kalau aku berhenti sebentar, semuanya bakal ambruk.”

Durov berpindah posisi, mendekat sedikit, lalu berhenti. Jarak itu terasa pas. Ia menjilat sisa makanan di pinggir plastik, lalu duduk.

“Aku pernah iri sama kucing,” kata Luna sambil tersenyum tipis. “Kalian kelihatan sederhana.”

Ia menghela napas. “Tapi ternyata bertahan hidup itu ribet di mana-mana.”

Seolah menjawab, Durov tiba-tiba muntah kecil. Tidak banyak, hanya sedikit, tepat di samping plastik makanan.

Luna refleks berdiri. “Astaga. Kau kenapa?”

Ia panik, memeriksa sekitar. Tidak ada apa-apa selain air minum di botol bekas. Ia menuangkannya sedikit, mencoba membersihkan. Bau amis bercampur tanah.

“Maaf,” katanya, seolah Durov sengaja. “Aku kebanyakan kasih makan.”

Durov menatapnya. Ekspresinya datar. Ia lalu menjilat bibirnya, duduk lagi, seolah insiden itu hanya gangguan kecil dalam jadwal hidupnya.

Luna tertawa pelan, campuran lega dan putus asa.

“Lihat,” katanya pada kucing itu. “Bahkan makan pun bisa bikin drama.”

Ia duduk kembali.

“Aku mau ke tempat lain setelah ini,” katanya, lebih pelan. “Sebentar saja.”

Ia tidak menyebut ke mana. Bahkan pada dirinya sendiri, rencana itu masih cair. Ia hanya tahu ia sedang mencoba membuka diri pada kemungkinan yang belum ia pahami bentuknya.

“Aku nggak yakin,” katanya jujur. “Aku cuma… mengikuti arus.”

Ia menatap rumah Belanda itu sekilas. Jendelanya tetap gelap.

“Akan kuusahakan selalu menemuimu,” lanjutnya. Ia berhenti sejenak.

Kata itu meluncur tanpa janji. Ia tahu janji sering kali terlalu berat untuk hal-hal yang justru ingin ia jaga tetap ringan.

Saat Luna berdiri. Tali sepatu kirinya terinjak sendiri. Ia tersandung, hampir jatuh menimpa Durov. Kucing itu meloncat cepat, mendesis refleks.

“Ya ampun—maaf!” seru Luna, kikuk.

Ia berdiri kaku, menepuk-nepuk celananya. Wajahnya panas. Andai ada orang melihat, ia akan terlihat seperti mahasiswi lelah yang gagal menjaga martabat di gang sempit.

Durov menatapnya dari atas benteng, kini kembali ke posisi semula. Tatapannya seperti berkata: manusia memang ribet.

Luna tertawa, kali ini lebih lepas.

“Tenang,” katanya. “Aku juga sering hampir jatuh di hidup sendiri.”

Ia mengambil tasnya, merapikannya.

Di kejauhan, suara pintu besi berderit. Seseorang berjalan di balik pagar rumah Belanda. Langkahnya pelan, lalu menghilang. Luna tidak menoleh. Ia merasa belum waktunya melihat ke sana.

Ia melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang.

Langkahnya terdengar makin jauh di gang, bercampur suara motor, teriakan anak-anak, dan klakson dari jalan raya.

Durov tetap di atas benteng.

Ia menjilat kakinya, lalu duduk diam. Rumah tua di belakangnya seperti punggung raksasa yang tidak bergerak. Gang itu kembali ke ritme biasa.

Di dunia yang sering mengubah orang tanpa permisi, pertemuan itu selesai tanpa kesimpulan. Tidak ada janji. Tidak ada pelukan. Tidak ada air mata.

Dan di antara gang yang terhalang benteng rumah Belanda, hidup terus berjalan—pelan, kikuk, tapi tidak berhenti.

Luna menyadari dua kebetulan yang paling masuk akal. Di gang itu ia menemukan kembali Durov, kucing oren yang bagaimanapun menjadi bagian dari sejarah hidupnya, dan Ray yang menghuni rumah di balik benteng.