"Razia! Ada razia!"
Teriakan Yanti yang melengking membelah malam. Di tengah riuhnya tawa renyah sekelompok anak muda yang menikmati hiburan dadakan, suara Yanti adalah alarm yang mematikan suasana.
Yoyi, yang baru saja melemparkan botol air mineral ke arah pemuda berambut pirang, menoleh. Yanti mendekat dengan napas terengah-engah, menggenggam sepasang sepatu hak tingginya yang kini tak berguna.
"Yi, yuk cabut!" Yanti tanpa basa-basi menarik tangan Yoyi, mendesak. "Aduh, lama banget, sih! Ntar kena razia Satpol PP!"
Yoyi ikut berlari, tangannya sibuk memegangi kecrek dan sumpelan di dada. Dalam kepanikan, ia tersadar bahwa ia memakai sepatu hak tinggi. "Ih, tungguin!" Yoyi melepas sepatu hak tingginya yang terasa menjerat, dan langsung berlari menyusul Yanti.
"Yanti, sumpelan gue jatuh satu," jerit Yoyi sambil memegangi dadanya yang kini kempes sebelah. Tapi Yanti sudah berlari lebih cepat, menjauh.
"Makanya, cepetan dikit, dong!" balas Yanti, suaranya sudah terdengar jauh.
Kekesalan memuncak. Yoyi tak peduli lagi, ia berteriak memanggil nama asli Yanti, "Yanto Sumanto, tungguin gue!"
Yoyi berlari tak tentu arah, sampai akhirnya ia menabrak seorang gadis tomboi yang sedang bersandar di motor sport merahnya. Gadis itu terkejut, kopi panas di tangannya tumpah membasahi kaus putih dan kemeja kotak-kotak yang ia kenakan.
"Anjir, bibir gue panas banget!" Jo, nama gadis itu, mengusap bibirnya. "Untung bibir asli, coba kalau oplas, bisa meleleh ini."
"Maaf, Mbak. Saya nggak sengaja," ucap Yoyi dengan suara dibuat-buat manja. Ia berdiri di belakang Jo, tubuhnya gemetar.
Jo menoleh, dan melihat Yoyi dalam kondisi acak-acakan. Rambut palsu yang miring, riasan wajah yang luntur, dan dada yang kempes sebelah membuat tawa Jo pecah. "Astaga! Cowok setengah matang!" Ia tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. "Itu... wadah susunya jatuh, Bang?"
"Silakan, Mbak, ketawa sampai pagi juga nggak apa-apa, tapi tolong bantu saya dulu!" Yoyi memohon dengan suara lembut. "Ini motor Mbak, kan?" Tanpa menunggu jawaban, Yoyi langsung naik ke motor sport merah itu. "Ayo, Mbak, buruan!" Ia menarik tangan Jo.
Jo merasa kasihan melihat Yoyi yang pucat ketakutan. "Emangnya ada apa?" tanyanya.
"Saya lagi dikejar Satpol PP, Mbak," jawab Yoyi, suaranya bergetar. Keringat membasahi wajahnya dengan riasan yang berantakan, membuat Yoyi terlihat seperti pengantin di film horor.
"Ya udah, turun dulu!" perintah Jo. Setelah Yoyi turun, Jo mengambil alih kemudi. "Ayo, naik lagi!" Yoyi kembali naik, dan Jo langsung tancap gas, melaju kencang membelah jalanan.
"Kita ke mana nih?" tanya Jo setelah merasa aman.
"Nanti di perempatan belok kiri," jawab Yoyi sambil menunjuk.
"Oke," sahut Jo, memacu motornya menuju alamat yang ditunjuk Yoyi.
Setibanya di depan kontrakan, Jo melihat tiga waria sedang duduk di teras.
"Bang, itu temen Abang?" tanya Jo pada Yoyi yang baru turun dari motor.
"Iya," jawab Yoyi pelan sambil tersenyum.
Demi apa pun, senyum Yoyi itu sangat manis. Andai saja ia laki-laki tulen, pasti banyak perempuan yang mengejarnya.
"Bang, saya saranin, mending Abang tobat. Cari kerjaan lain, hidup normal. Menikah dan punya anak, mungkin," usul Jo. Ia menatap wajah tampan Yoyi yang tertutup riasan. "Maaf, cuma sekadar saran."
Yoyi terdiam sejenak, senyumnya berubah kecut. "Menikah?" tanyanya. "Mana ada yang mau menikah sama banci," tambahnya, suaranya terdengar sedih.
Jo menatap Yoyi lekat-lekat, lalu tersenyum manis. "Kalau Abang udah tobat, cari saya. Saya mau menikah dengan mantan banci."
Jo menancap gas, melaju kencang meninggalkan Yoyi yang mematung. Di kaca spion, ia melihat Yoyi yang masih berdiri di sana, di bawah lampu jalan yang temaram. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
Yoyi terdiam, merenungkan perkataan gadis tomboi itu. Kata-katanya menyentil hatinya. "Hei, gadis tomboi! Siapa namamu?" Yoyi berteriak, suaranya serak dan berat, suara asli seorang laki-laki yang baru saja keluar tanpa ia sadari. Ia mematung di tempat, merasakan sumpelan di dadanya yang sudah hilang satu.
"Yi! Ngapain bengong?" Yanti sudah kembali. Ia melihat Yoyi mematung sendirian di depan kontrakan. Yanti menyusul Yoyi dan ikut mematung. "Ada apa?"
"Gue... gue abis teriak," kata Yoyi, pelan. Ia masih memandangi jalanan tempat Jo menghilang.
"Ya, terus kenapa? Lu kan emang suka teriak-teriak. Ayo masuk. Lu mau berdiri terus sampe subuh?" ajak Yanti, menarik tangan Yoyi.
Di dalam, tiga teman mereka sudah menunggu. Ada Maria, Amira, dan Malika.
"Lu pada kemana sih lama banget? Gue kira kalian diangkut Satpol PP," kata Maria.
"Ampir," jawab Yanti. "Untung Yoyi ditolongin sama... cewek tomboi."
"Cewek tomboi?" tanya Maria, keningnya berkerut.
"Iya," jawab Yanti, lalu menoleh ke arah Yoyi. "Siapa, Yi?"
Yoyi tak menjawab. Pikirannya masih melayang pada gadis tomboi itu, pada senyumnya, dan pada kata-kata yang terlontar dari bibirnya. 'Kalau Abang udah tobat, cari saya. Saya mau menikah sama mantan banci.' Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, menghantam pertahanan yang selama ini ia bangun.
"Yi, lu dengerin gue nggak sih?" tanya Malika, menyentuh pundak Yoyi.
"Hah?" Yoyi tersentak.
"Kenapa? Dari tadi lu diem aja. Nggak kayak biasanya," ujar Malika.
"Gapapa," jawab Yoyi singkat.
"Palingan abis kena razia terus dia baper," sindir Amira, disusul tawa dari Maria dan Malika.
Yoyi hanya tersenyum kecut. Ia tahu, di balik lelucon teman-temannya, ada kebenaran yang pahit. Dunia mereka penuh dengan tawa dan candaan, tapi juga penuh dengan luka.
Dunia yang menawarkan kebebasan semu, di mana mereka bisa tertawa lepas di balik riasan tebal, menyembunyikan kerapuhan dan harapan yang tak terucap. Kata-kata Jo, "hidup normal," dan "menikah," bagai sebuah jembatan yang tak pernah ia bayangkan bisa ia lalui.
Ia memandangi bayangannya di cermin usang, merasa asing dengan sosok yang ada di hadapannya. Rambut palsu yang miring dan riasan luntur itu, kini terasa seperti topeng yang tak lagi pas. Di dalam dirinya, ada suara yang berbisik, suara yang sudah lama ia bungkam, suara Satrio.
Satrio, nama yang kini terasa seperti bayangan dari kehidupan lain, kini kembali mengetuk pintu kesadaran. 'Apa yang sedang kau lakukan, Satrio?' bisik suara itu. 'Apakah ini benar-benar jalanmu? Apakah ini kebahagiaan yang kau cari?'
Yoyi menggelengkan kepala, mencoba mengusir bisikan-bisikan itu. Ia memalingkan wajah, tetapi kata-kata Jo terus bergema di benaknya. Kalimat itu bagai cangkul yang mengaduk-aduk jiwanya.
Apakah sebuah "kehidupan normal" itu sungguh bisa ia raih? Selama ini, Yoyi meyakini takdirnya sudah tertulis. Ia adalah Yoyi, dan Yoyi adalah seorang waria. Tapi kini, ada celah yang terbuka, sebuah harapan yang tak pernah ia duga.
"Apakah jalan ini memang takdir gue, atau gue yang harus menciptakan takdir sendiri?"